
🌹
🌹
Rania tertegun di tangga paling bawah setelah membersihkan tubuh beberapa saat sebelumnya. Menatap pria itu yang tidur dengan damai di sofa ruang tengah villanya. Setelah percakapan mereka berakhir pada lewat tengah malam. Di selangi perselisihan, lalu perdebatan, kemudian tangisan dan penyesalan. Yang di akhiri dengan pelukan perdamaian yang menguras emosi. Dan Dimitri membiarkanya istirahat dalam dekapannya. Tanpa s*x, ataupun pergumulan panas seperti biasanya. Yang kata orang, hal itulah yang dapat menyelesaikan masalah rumah tangga dengan mudah. Namun kali ini, bagi mereka hal itu tidaklah berlaku. Karena buktinya, dengan saling mengungkapkan beban perasaan pun keduanya bisa berdamai. Setidaknya kata maaf telah terucap dan kemarahan telah menguap dengan tepat.
Kemudian Rania memutuskan untuk membuat sarapan. Perutnya sudah keroncongan minta di isi, dan dia meyakini jika Dimitri pun demikian seandainya dia sudah terbangun. Diingatnya pria itu tak memakan apa pun sejak dia tiba di tempat tersebut. Mereka hanya membicarakan banyak hal tanpa mengingat hal lainnya.
Hanya bicara dan saling mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu.
***
Dua buah roti selai yang dia panggang di atas wajan anti lengket, menguarkan aroma khas yang menyenangkan. Juga wangi teh melati asli yang akhir-akhir ini Rania konsumsi setelah mendapatkannya dari sang penjaga villa.
Dimitri terjaga ketika indera penciumannya menangkap aroma asing namun menyenangkan tersebut. Sehingga membuatnya segera bangkit dari posisi berbaringnya.
Dia berdiri di ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan yang menyatu dengan dapur yamg cukup luas itu. Memperhatikan Rania dalam diam.
"Kamu bawa baju ganti?" perempuan itu membuyarkan lamunannya.
"Yang, kamu bawa baju ganti?" panggilannya pun kini kembali ke semula, dan itu membuat Dimitri tersenyum. Itu artinya jika mereka telah baik-baik saja sekarang.
"Bawa." pria itu menjawab.
"Mandi dulu gih di atas, habis itu sarapan." ucap Rania yang meletakan roti bakarnya di atas piring.
Tanpa banyak kata Dimitri menuruti apa yang di minta. Setelah dia mengambil pakaian gantinya di mobil kemudian naik ke lantai atas dan membersihkan diri.
***
"Sarapannya ini dulu ya, tadi pak Hamdan ngechat kalau ngantar makanannya agak siang." Rania menggeser piring sarapan ke depan Dimitri setelah mereka sama-sama duduk di ruang makan.
Pria itu menganggukkan kepala.
"Tapi aku nggak punya latte, adanya teh melati doang." sambung Rania yang menyeruput teh panasnya.
"Nggak apa-apa, teh melati juga bagus. Dari wanginya sepertinya enak."
"Ya udah, ...
"Lagi pula aku jadi tidak suka latte sekarang." Dimitri kemudian melahap roti bakar dengan isian selai coklat tersebut, lalu menyesap teh tawar yang masih mengepulkan uap panas tersebut.
"Lho, kenapa?"
"Karena itu yang menyebabkan kamu marah kepadaku." dia ingat percakapan mereka semalam.
Rania baru saja membuka mulutnya untuk menyanggah, namun Dimitri sudah mendahuluinya.
"Jangan di bahas, nanti kita bertengkar lagi. Dan itu rasanya sangat tidak enak." katanya, yang kembali menggigit sarapannya, lalu mereka makan dalam diam.
Hingga akhirnya suara ketukan di pintu depan menjeda kegiatan mereka.
"Ohayogozaimasu. ( selamat pagi)" pemuda itu membungkukkan tubuh tingginya dengan sopan begitu Rania membuka pintu. Kemudian tersenyum ceria memamerkan gigi gingsulnya yang membuatnya terlihat manis.
"Oh, hai ..."
"Aku mengantarkan ini." Gaza mengangkat sebuah tote bag yang dia bawa, tampaknya berisi kotak makan yang seperti biasanya di bawakan oleh Hamdan.
"Oh, ..." Rania melihat ke sekitar, hanya ada motor bebek sang penjaga villa di halaman yang sepertinya di gunakan oleh Gaza.
"Abah tidak bisa mengantar, sepulangnya dari sini subuh tadi langsung tidur." lanjut pemuda itu diikuti dengan tawa yang renyah.
"Apa abah kamu sakit?"
"Tidak, hanya tidur."
"Oh, ... oke."
"Apa kamu tidak mau mengambil ini? karena tanganku rasanya pegal." keluh Gaza yang masih memegangi totebag di tangannya.
"Oh, ya ampun! aku malah kelupaan." Rania tergelak, kemudian segera meraih benda itu dari tangannya.
"Apa kamu mau masuk, Gaza?" tawar Rania kepada pemuda itu yang masih berdiri di teras.
"Umm ..." Gaza melirik mobil mengkilat yang terparkir di depan villa.
"Siapa?" Dimitri tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Setelah menunggu beberapa saat dan perempuan itu tak kunjung kembali ke ruang makan.
"Ada Gaza." Rania menjawab.
"Gaza?" pria itu menatap sosok yang hampir setinggi dirinya, yang berdiri di depan mereka dengan senyum yang semula mengembang.
"Iya, cucunya pak Hamdan, yang jaga villa ini." Rania menerangkan.
Dimitri menatapnya dari atas ke bawah, memindai keadaannya yang tak seperti pemuda kampung pada umumnya.
"Ogenki desuka? watashinonamaeha Gazadesu. ( apa kabar? namaku Gaza.)" pemuda itu kembali membungkukkan tubuhnya, sementara Dimitri terdiam sambil mengerutkan dahinya.
"Dia baru datang dari Jepang, orang tuanya tinggal di sana." jelas Rania.
Gaza pun menganggukkan kepala.
"Saya di suruh abah antar makanan." sahut pemuda itu, diikuti Rania yang mengangkat totebag berisi kotak makanan di tangannya.
"Kalau begitu, aku pulang. Ambu bilang jangan lama-lama." ucap Gaza kemudian.
"Oh, oke."
"Sumimasen. ( permisi)" katanya seraya kembali membungkuk, dan kemudian segera pergi.
"Kamu mau makan sekarang?" tawar Rania saat mereka kembali ke dalam rumah.
"Tidak, aku masih kenyang." Dimitri mengikutinya yang berjalan ke dapur meletakan kantong makanannya di meja.
"Oke."
"Akrab sekali kamu dengan dia?" pria itu bersedekap di depannya.
"Apaan?"
"Dia, anak Jepang itu?" Dimitri menggendikkan kepalanya.
"Gaza?"
"Whatever!" pria itu dengan nada kesal.
"Dia kan cucunya pak Hamdan."
"So?"
"Emangnya ada larangan nggak boleh akrab sama keluarganya penjaga villa ini ya? kakeknya udah jaga villa sejak sebelum aku lahir, dan itu bikin dia kayak keluarga kami."
Dimitri terdiam.
"Kayak kamu yang dekat sama Ara." sindirnya kemudian.
"What?"
"Kan kamu bilang jangan mempermasalahkan hal-hal kecil yang nggak penting? jadi kenapa juga hal itu bikin kamu pusing? dia cuma Gaza, cucunya pak Hamdan." Rania melenggang ke tuang tengah.
Dimitri menghembuskan napas pelan.
"Oh ya, hari ini kamu nggak kerja?" Rania bertanya. "Bukannya masih hari kerja ya?" dia melihat jam dindingnya yang berdetak cukup nyaring.
"Aku sudah menyerahkannya kepada Clarra dan Om Andra." mereka duduk di sofa yang sama.
"Kebiasaan." Rania bergumam.
"Aku harus melakukannya agar bisa menemukanmu." ucap Dimitri.
"Dan sekarang kamu sudah menemukan aku." Rania menjawab.
"Yeah, ... jadi?"
"Apa?"
"Ayo kita pulang?"
Rania menoleh kepadanya.
"Ayo kita pulang," ulang Dimitri.
Namun Rania menggelengkan kepala.
"Are you seriouse?"
"Aku masih mau di sinilah." jawab perempuan itu seraya merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Why? kamu masih marah?" Dimitri menatapnya dengan raut kecewa.
"Nggak. Kamu tahu, marahku cuma sebentar. Kalau itu udah aku ungkapkan, apalagi udah aku lampiaskan ya udah."
"Terus, kenapa masih tidak mau pulang?"
"Aku pikir aku mau di sini dulu."
"Tapi sampai kapan?"
"Nggak tahu."
"Lalu bagaimana denganku?" protes Dimitri.
"Kamu mendingan pulang aja, kamu banyak kerjaan di Jakarta. Nggak mungkin juga kan kamu tinggalin?"
"Aku mau di sini,"
"Zai, ...
"Kamu bisa pulang ke sini di akhir minggu, atau akhir bulan. Terserah."
"Jadi kamu mau kita berjauhan?"
"Mungkin itu lebih baik. Kamu akan konsentrasi bekerja, lembur atau apa pun itu tanpa gangguan atau keharusan menemani aku di saat kamu nggak bisa. Sementara aku di sini, menunggu kamu tanpa merasa kesepian."
"What?" pria itu mengerutkan dahi.
"Aku senang di sini, banyak orang, banyak teman juga."
"Teman yang mana? anak dari Jepang itu?" Dimitri meninggikan suaranya.
"Gaza?"
"Terserah siapa namanya, aku nggak mau tahu!" pria itu dengan kesal.
"Kamu lebay!"
"Lebay sebelah mananya? istriku akrab dengan pria lain dan aku harus biasa saja? apa kamu gila?" ucap Dimitri dengan gusar.
"Nah, padahal aku ngobrol sama Gaza di depan kamu. Aku udah mengenalkan kalian dan cerita siapa dia. Tapi reaksi kamu kayak gitu, lalu apa kabar hati aku pas tahu kamu udah ketemu sama Ara, tapi kamu berusaha menutupinya seolah ada apa-apa di antara kalian? apa lagi setelah tahu kalian pernah punya perasaan yang sama?"
Dimitri terdiam.
"Dia cuma Gaza, cucunya pak Hamdan yang baru dua hari di sini. Aku bahkan belum mengenal dia dengan baik selain tahu kalau dia salah satu penggemar aku." lanjut Rania dengan suara yang tenang namun terasa menikam.
"Nggak ada hubungannya, Zai."
"Sama aja. Konteksnya sama-sama ngobrol tapi bedanya aku ngobrolnya di depan kamu, dan kamu tahu aku nggak berusaha menutupi apa pun. Tapi kamu?"
"Jangan bahas itu, atau kita akan bertengkar lagi."
"Aku nggak bahas itu untuk bikin kita bertengkar, hanya saja aku mau kamu ngerti dan nggak menerapkan standar ganda dalam hubungan kita."
"Standar ganda apanya?"
"Kamu bisa seenaknya ngobrol dengan siapa pun tanpa aku tahu, dan aku nggak boleh kesal soal itu, sementara aku nggak boleh akrab dengan siap pun. Padahal aku punya batasan sendiri setelah kita menikah."
Dimitri kembali terdiam. Hebat sekali semua ucapan perempuan itu, dan dia kini bahkan bisa membalikan kata-katanya dengan mudah dan masuk akal.
"Jadi, aku akan memilih untuk tinggal di sini dulu sementara waktu, biar aku nggak harus tahu semua urusan kamu yang mungkin seharusnya nggak tahu."
"Hhh ...." Dimitri menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia tak percaya ini, semua yang Rania katakan benar-benar menohok egonya. Namun dia tak mampu berbuat apapun soal itu. Dia bahkan tidak bisa menyangkalnya sedikitpun.
"Jadi jangan paksa aku untuk pulang sekarang, karena aku belum mau pulang untuk sekarang ini. Aku nyaman di sini."
"Zai, ...
"Kayak aku bilang, kamu bisa pulang ke sini di akhir minggu, atau di awal bulan terserah kamu. Aku akan ada di sini, nggak ke mana-mana."
"Tapi aku kan, ...
"Serius. Aku nggak akan ke mana-masa asal kamu jangan memaksa aku untuk pulang ke tempat yang aku nggak mau. Se nggaknya untuk sekarang."
Kemudia Rania bangkit dan kepalanya terdongak saat kembali terdengar suara di depan villa. Dia beranjak untuk melihat lewat jendela dan segera membuka pintu.
"Kalian ngapain di sini? nggak sekolah?" katanya saat mendapati beberapa anak berkumpul di pekarangan.
Anak-anak itu terdiam.
"Kenapa?"
Salah satu di antara mereka maju karena dorongan teman di belakangnya.
"Mmm ...
"Kenapa? ada masalah?"
"Boleh tanya sesuatu nggak teh?" bocah itu berujar.
"Tanya apa?"
"Teteh pembalap yang itu bukan?"
"Hah?"
"Afif bilang teteh itu teh Rania yang suka balapan di tivi."
"Beneran mirip tahu!"
"Iya, Didit bilang cuma mirip." sahut yang lainnya.
"Nggak, itu kayaknya beneran."
"Mana ada pembalap hamil?"
"Emangnya kenapa?"
Mereka terus berdebat.
"Ssstt! kalian tahu soal balapan itu?" Rania menghentikan perdebatan tersebut.
"Tahu, setiap minggu suka nonton. Tapi kok sekarang teh Rania nggak ada? kemarin aku nonton kan nggak ada?"
"Ish, udah aku bilang teh Ranianya ada di sini."
"Kamu nggak denger abah waktu itu bilang kalau yang punya villa ini papanya teh Rania?"
"Ah, ... abah mah suka bohong!"
"Tapi beneran mirip tahu!"
"Cuma mirip."
"Eh, ... malah berdebat lagi?" Rania menginterupsi.
"Coba, teteh jawab dulu."
"Apaan?"
"Teteh ini teh Rania bukan?"
"Iya." jawab Rania dengan ringan.
"Nah kan?"
"Beneran?"
"Iya."
"Juara dunia superbike?"
"Iya."
"Aku bilang juga apa!"
Lalu kehebohan pun terjadi.
"Tapi jangan bilang-bilang!!" Rania akhirnya berteriak.
"Kenapa?"
"Nanti orang-orang pada tahu."
"Emangnya kenapa kalau orang-orang pada tahu?"
"Nanti banyak yang datang ke sini, terus abah marah-marah. jadinya kalian aka di larang main lagi ke sini." Rania memperingatkan.
"Oh iya."
"Makanya."
"Kalau gitu, kita main layangan aja?" tawar si bocah seraya menunjukan layangan yang di bawanya.
"Wah!!! asik!" Rania bertepuk dengan riang. "Ayo kita kebelakag lagi?"
"Siaaapp!" anak-anak itu secara serentak.
"Yang, aku main dulu ke belakang!" perempuan itu berteriak, kemudian menggiring anak-anak tersebut ke belakang villanya.
Sementara Dimitri tertegun di ambang pintu.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
selamat hari vote
like komen dan hadiahnya jangan lupa
ada yang kangen?