All About You

All About You
New Parents



*


*


"Pokoknya hari ini kita pulang!" Rania memperingatkan Dimitri setelah percakapan mereka yang panjang lebar di telefon tadi.


"Kenapa sih kamu memaksa pulang? bukankah jika tinggal di sini tugasmu lebih ringan?" Dimitri melepaskan jasnya, sementara Rania melepaskan dasi. Dia baru saja tiba dari luar kota setelah mengunjungi beberapa cabang bersama Andra.


"Iya, tapi aku nggak enak. Sejak aqiqahan kita belum pulang." Rania menjawab seraya meletakan jas dan dasi di pegangan sofa.


"Tidak apa-apa Zai, sepertinya Mama da Papi senang kita tinggal di sini, lihat?" Pria itu mengintip lewat jendela, di mana kedua orang tuanya tengah asyik bercengkerama bersama bayi kembarnya di taman belakang.


Dan keduanya tampak selalu tertawa ketika mengasuh mereka.


"Tapi aku jadinya nggak ada kerjaan, setiap hari diem aja di rumah. Sementara anak-anak dipegang sama Mama dan Papi. Cuma kalau mau nyusu sama tidur aja mereka di kasih ke aku." keluh Rania.


"Bagus dong, kamu jadi santai?" Dimitri menanggapi.


"Santai apanya? malah bosen tahu?"


Pria itu tergelak.


"Lagian apa bagusnya punya anak tapi nggak kita asuh? malah ngandelin nenek kakeknya. Mending kalau aku juga kerja, nah ini?"


"Tidak apa-apa Zai, biar mereka terbiasa. Bukankah kamu mau kembali balapan?"


"Tapi kan masih lama, ..." Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Musim tahun ini kan baru aja mulai? dan aku punya waktu se nggaknya sepuluh bulan ke depan. Kan lumayan?"


Dimitri duduk di tepi ranjang.


"Kalau kita pulang, kamu yakin bisa mengasuh mereka?" Pria itu mencondongkan tubuhnya.


"Kan sambil belajar." Rania menjawab.


"Dua bayi lho Zai. Atau mau aku sewakan pengasuh untuk membantumu?"


"Nggak usah, kayaknya aku bisa. Cuma ngurus bayi doang kan? mandiin aku udah bisa, gantiin baju sama popoknya juga udah di ajarin sama Mama. Lagian adikku tiga, jadi kayaknya aku bisa."


"Benar?"


"Beneran." Perempuan itu menganggukkan kepala. "Biar aku terbiasa juga. Kan kalau beres-beres rumah sama yang lainnya ada yang ngerjain? jadi aku cuma ngasuh anak-anak doang."


"Baiklah, ..." Namun Dimitri masih menunduk di atasnya. Menatap wajah istrinya yang pipinya masih tampak tembem. Efek kehamilan yang belum sepenuhnya hilang pasca melahirkan empat minggu yang lalu. Tapi dia tampak menggemaskan.


"Umm, ... sudah berapa hari kamu melahirkan?" Dia kemudian bertanya.


"Empat minggu, ..." Rania mengingat. "28 hari kalau nggak salah." katanya lagi.


"Ah, masih lama!" Dimitri pun menjatuhkan tubuhnya di samping Rania.


"Apaan? emang udah lama kan? hampir sebulan."


"Astaga!!" Perempuan itu segera saja bangkit.


"Ada apa?" Dimitri pun ikut bangkit.


"Kita udah sebulan jadi orang tua!" Rania dengan ekspresi terkejut sekaligus bersemangat.


"Astaga! aku kira apa?" Pria itu kembali merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidur.


"Luar biasa bukan? nikah di umur segini aja aku nggak nyangka, eh tahu-tahu punya anak aja, kembar lagi. Ah, ... " Rania kembali ke sisi suaminya.


"Umm, ... kalau 28 hari kamu masih berdarah tidak?" Dimitri dengan pikirannya yang sudah berkelana.


"Udah nggak. Dari kemarin juga udah bersih." Rania menjawab.


"Serius?" Pria itu mengangkat kepalanya.


Rania mengangguk.


"Jadi, apa sudah bisa ...


"Eh, jangan!" Rania menyilangkan kedua tanganya di dada, dengan kaki yang dia tekuk.


"Belum boleh anuan, kan baru 28 hari."


"Kan sudah tidak berdarah, Zai!" Dimitri menyentuh tangannya.


"Jangan ih, belum 40 hari!"


"Haih, ... kenapa sih harus 40 hari segala? apa tidak kurang lama itu? sekalian saja seratus hari!" Dimitri kembali pada posisinya.


"Oh, ... kalau begitu lebih baik. Aku bisa tenang." Rania juga melepaskan kedua tangan dari dadanya.


"Apa?"


"Eh, nggak! maksud aku ... bagus kan, bisa memulihkan badan lebih lama, dan aku lebih sehat. Kamu tahu, ngeluarin dua bayi dari dalam kita itu berat."


"Lebih berat aku Zai, harus menahan diri selama itu." Dimitri menyurukkan wajah di ceruk lehernya, dan dia terdengar frustasi.


"Sabar ya Papi, 12 hari lagi." Dan Rania menepuk-nepuk punggungnya.


"Nggak boleh ish! udah aturannya kayak gitu!"


"Siapa yang membuat aturan seperti itu?"


"Udah dari dulunya. Dari agama sama kedokteran juga kan gitu. Masa kamu nggak tahu sih?"


"Tapi tetap saja ah, ..." Dimitri meraup tubuh Rania yang kini lebih berisi, lalu dia memeluknya dengan erat. Sementara perempuan itu hanya tertawa.


"Cup cup sayang, ... nanti kalau udah waktunya juga aku kasih." katanya, sambil kembali menepuk-nepuk kepala suaminya.


"Atau ..." lalu Rania menggantung kata-katanya.


"What?" Dimitri mengangkat kepala.


"Mungkin bisa dengan cara lain." lanjut perempuan itu, dan sebuah seringaian muncul di wajahnya.


"Apa?"


Rania mendorong Dimitri sehingga dia terlentang, kemudian segera naik ke atasnya. Dia melepaskan satu persatu kancing kemejanya, lalu menunduk untuk menciumnya.


"Umm, ... Zai?"


"Ssstt." Rania menempelkan telunjuknya di bibir Dimitri.


"Diamlah, atau nanti aku berubah pikiran." katanya, yang kembali mendaratkan ciuman di bibir suaminya.


Mereka saling memagut untuk waktu yang cukup lama, dan Dimitri membiarkannya berbuat sesuka hati. Dia tak tahu apa yang akan di lakukan oleh perempuan itu, tapi tetap menikmati setiap cumbuannya.


Hasratnya menanjak dengan mudah ketika Rania menyentuhnya, dan dia sangat menyukai caranya seperti itu. Apa lagi ketika tubuh Rania turun ke bawah.


"Oh, Zai ..." Dimitri mendes*h ketika tangan Rania bergerak turun menyentuh naga ajaibnya yang masih berada di balik celananya. Yang sejak tadi sudah begitu menegang.


"Uuhh, ... si toothless udah bangun." bisik Rania, kemudian terkekeh.


Namun Dimitri menariknya agar kembali, dan membungkamnya dengan cumbuan yang lebih ganas seperti sebelumnya.


Napas Dimitri semakin menderu-deru seiring sentuhan Rania di naga ajaibnya. Dia bahkan menarik celananya sehingga kini pria itu sudah tak berpakaian, dengan alat tempurnya yang sudah tegak berdiri.


"Hai tootless, kamu merindukan aku?" katanya, ketika si naga ajaib sudah di depan wajah, dan dia menggenggamnya dengan lembut.


"Jangan di tanya Zai, setiap hari juga dia merindukanmu." Dimitri menjawab dengan suata parau. Dadanya naik turun dengan cepat seiring hasrat yang terus menanjak, dan hal itu tak bisa dia tahan lagi.


Dimitri mendongak kemudian memejamkan mata ketika Rania menaik turunkan tangannya.


"Ah, Zai ..." pria itu menggeram.


Namun Dimitri segera membuka mata ketika merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh miliknya. Dan mulutnya menganga ketika melihat perempuam itu sudah mengulum naga ajaibnya.


"Zaichik!" Dia mendes*h.


Rania menyesap alat tempurnya dengan penuh penghayatan, namun tak melepaskan genggaman tangannya dari benda itu. Dia terus bergerak seiring kedua matanya yang tertutup dan terbuka perlahan.


Dia memperdalam kulumannya, dan mempercepat gerakan tangannya ketika Dimitri sudah tampak kehilangan akal. Pria itu bahkan meremat rambut panjangnya agar tak menghalangi pandangannya pada wajah Rania yang terlihat begitu menggairahkan.


"Oh Zaichik, you are soo good!" racaunya, dan dia semakin tak bisa menahan diri.


Dimitri menekan kepala Rania agar perempuan itu mempercepat blowjobnya ketika dia rasakan bahwa pelepasan sudah hampir tiba. Segala hal sudah bergulung di pusat tubuh dan dia hampir meledak ketika panggilan dari luar kamar menginterupsi.


"Ran? Zenya menangis, sepertinya dia mau menyusu." Sofia berteriak.


"Apa?" Rania melepaskan kulumannya dari si naga ajaib.


"Zai!" Dimitri segera menahannya ketika dia hampir turun dari tempat tidur.


"Anya juga. Mungkin sudah terlalu lama di luar. Mama tidak bisa membuat mereka berhenti menangis." Sofia berteriak lagi.


"Umm, ....


"Zai! Fisnish it!" Dimitri menarik tangannya.


"Tapi ...


Lalu terdengar suara tangisan dua bayinya diluar.


"Iya Mama." Perempuan itu segera berlari ke pintu sambil membenahi pakaiannya.


"Ini mommy sayang!" Katanya, dan dia segera keluar dari kamar mereka.


Sementara Dimitri tertegun dengan hasrat yang masih bergejolak di dada.


*


*


*


Duh, kentang Bang 🤣🤣🤣