All About You

All About You
Om Dan Ponakan



🌹


🌹


"Kamu mau pergi?" Angga mengerutkan dahi saat putrinya yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya berjalan keluar sambil mengenakan jaket kulitnya.


"Iya."


"Kemana?"


"Makanlah, udah siang gini." jawab Rania sekenanya.


"Biasanya juga nunggu yang nganter?"


"Kelamaan, keburu laper." gadis itu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mengoleskan sedikit krim pelembab di wajahnya. Tak lupa juga lipbalm untuk melembabkan bibirnya.


"Sejak kapan kamu dandan?" kening Angga kembali berjengit saat dia melihat hal berbeda dilakukan anak gadisnya.


"Bukam dandan, cuma pelembab doang." Rania menatap dirinya di cermin, merasa cukup puas dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Tetep aja dandan." gumam Angga, merasa tak suka.


Anak gadis gue mulai berubah. batinnya.


"Dedek, ada yang nyari." seseorang memanggilnya dari luar.


"Siapa?" Angga menoleh.


"Tuh, ...


Dan Dimitri terlihat berdiri di depan etalase, tanpa mengenakan jas dan dasinya, hanya celana panjang dan kemeja hitam yang bagian lengannya dia gulung hingga ke sikut. Pria itu tersenyum sambil menganggukan kepala kepada Angga yang menatap tak suka kepada arahnya.


"Biasa aja ngelihatinnya, jangan kayak singa mau nerkam gitu." gumam Rania yang menangkap raut tak suka di wajah ayahnya.


"Apaan?"


"Sudah siap?" Dimitri berjalan mendekat.


"Udah." Rania menganggukan kepala, lalu dia melirik ke samping dimana ayahnya berada, memberi isyarat kepada Dimitri untuk meminta ijin. Dan sepertinya pria itu mengerti syaratnya.


"Ehm, ..." Dimitri berdeham, "Ijin bawa Zai, eh... Rania keluar sebentar pak?" katanya, agak gugup.


"Kemana lagi sekarang?" Angga dengan suara datar.


"Mau makan, seperti biasa."


"Kemarin makan siang, kemarinnya lagi makan juga, terus kemarin-kemarinnya lagi juga. Makan terus? mau bikin si oneng gendut ya ngajak dia makan melulu? Berapa lama?" dia melipat kedua tangannya di dada.


"Satu atau dua jam mungkin."


"Dua jam kelamaan, satu jam aja."


"Mm...


"Memangnya mau makan apa sampai dua jam? kambing guling yang gulinginnya sendiri?" jawabnya ketus.


"Mmm...


"Apaan sih? papa ngawur. Udah ah, ..." Rania berjalan menghampiri Dimitri. "Ayo," dia meraih tangan pria itu kemudian menariknya menjauh.


"Permisi pak, pamit dulu." ucap Dimitri yang berjalan tersaruk-saruk mengikuti langkah kekasihnya.


"Jaketnya dirapatin, Oneng!" teriak Angga, membuat putrinya menoleh lalu mendelik sebelum akhirnya keduanya masuk kedalam mobil Dimitri, kemudian pergi. Dan Rania tampak menaikan relsleting jaketnya hingga ke pangkal lehernya.


Anak gadis gue udah gede, duh. Pria itu menekan dadanya yang terasa ngilu, dan perasaan tak rela lagi-lagi menguasai hatinya. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa, karena putrinya memang sudah dewasa, dan dia berhak menentukan keinginannya sendiri.


Seorang pemuda dengan motorcrossnya masuk ke area bengkel dan berhenti tepat di depan Angga yang masih berdiri menatap kepergian putrinya bersama pria asing itu.


"Om lagi Lihatin apa sih serius amat?" Galang mendekat lalu memutar kepalanya dan melihat ke arah pandangan Angga tertuju.


"Hhh... anak gue udah gede Lang." pria itu bergumam.


"Apaan?"


"Si oneng udah gede." jawab Angga.


"Lah emang udah gede, kan seumuran aku om?"


"Gue masih ngerasa kalau dia masih TK, yang setiap hari gue anter sekolah, megang tangan dia sampai masuk kelas. Kadang gue nungguin dia di depan pintu, cuma Lihatin doang dia lagi ngapain." Angga dengan nada sendu, seperti pria patah hati yang ditinggal kekasihnya pergi.


Galang berjengit, dengan satu sudut bibirnya yang tertarik keatas. "Om aneh deh?" ucap pemuda itu, lalu melihat ke area dalam.


"Si oneng ada om?" dia melirik motor meras yang terparkir di sudut halaman bengkel.


"Kagak ada, dia pan pergi." jawab Angga, dan pandangannya masih tertuju ke jalan raya dimana mobil dimitri menghilang membawa putrinya pergi.


"Kemana? tumben banget jam segini pergi?"


"Katanya sih makan."


"Makan? bukannya biasa ada yang kirim?"


"Kagak tahu, dia sekarang Ikut aja kalau ada yang ngajakin."


"Ngajakin? Dia pergi sama orang?"


"Iya."


"Tumben-tumbenan ada yang ngajakin dia pergi?"


"Makanya."


"Terus dia perginya sama siapa?"


"Sponsor."


"Sponsor?"


"Si Dimi." jawab Angga dengan nada kesal, dan segera saja membuat Galang tertegun.


"Gue kesel lah kalau ingat itu." Angga kembali ke tempat biasa dia berdiam diri mengawasi para pekerjanya di dalam bengkel.


"Jadi itu beneran ya om?" Galang mengikutinya.


"Apaan?"


"Rania Ada hubungan sama pak Dimitri?"


"Kayaknya gitu."


"Udah resmi?"


"Resmi apaan pea! mereka baru aja pacaran." Angga semakin kesal mendengar kata-kata anak tetangganya itu.


"Iya itu maksudnya, resmi pacaran."


"Lah, kamu udah tahu aja? si oneng ngomong? kok ke om nggak? baru-baru aja setelah dua bulan mereka jadian."


"Apa??" Galang berteriak.


"Biasa aja dudul!" Angga melemparnya dengan kertas bekas yang dia gulung hingga menjadi bulatan sebesar kepalan tangan.


"Mereka pacarannya udah selama itu?"


"Iya, sembunyi-sembunyi."


"Pantesan selama ini.. " pemuda itu teringat saat beberapa kali dia memergoki Rania dan Dimitri yang bercumbu mesra di beberapa kesempatan.


Yaiyalah, masa cium-ciuman tanpa hubungan? batinnya.


"Apaan?"


"Nggak om."


"Kamu baru tahu juga?"


"Iyalah, makanya kaget."


"Dih, biasanya apa-apa tahu?"


"Yang ini nggak om."


Angga mencebik.


"Nah kamu mau ngapain kesini? mau service?" Angga kemudian bertanya.


"Nggak. Tadinya mau ketemu Si oneng."


"Mau apa?"


"Mau ngasih tiket ini." Galang menyerahkan dua tiket kepada Angga. "Kalau om mau nonton juga boleh."


"Tiket apaan?"


"Tiket turnamen om."


"Turnamen?"


"Balapan?"


"Bukan sih, semacam kompetisi freestyle arena gitu."


"Oh, ... yang lompat-lompat gitu?"


"Semacam itulah. Aku harap Om mau nonton kalau nggak sibuk. Ayah sama ibu juga nanti pergi."


"Nggak, nanti om datang."


"Si oneng juga kalau bisa."


"Nggak yakin, soalnya dia ada syuting iklan akhir pekan ini."


"Wow, jadi juga?"


"Iya, udah dibilangin jangan diambil tapi dia tetep aja."


"Gitu ya?"


"Hmm... tapi nanti di bilangin lah."


"Oya om, tapi aku harap sih bisa."


"Iya, siapa tahu bisa."


Galang mengangguk-angggukkan kepalanya.


"Terus balapannya Rania gimana setelah kamu ikut kompetisi ini?"


"Tenang om, yang aku ikutin cuma kalau lagi libur balapan aja. Yang sekarang kan kebetulan libur balapannya agak lama."


"Iya juga, baru tadi ada email balapannya diundur lagi dua minggu, cuaca ekstrim di Eropa masih lanjut."


"Emang kita ke Eropa lagi?"


"Iya, ke Jeres sama Le Mans. Sisanya Qatar lanjut ke Amerika."


"Lumayan ya Om?"


"Iya."


"Terus gimana kuliah kamu? mana balapan, ditambah Ikut turnamen lagi? nggak ganggu kegiatan kamu?"


"Nggak. Bisa diatur lah. Masalah kuliah bisa dikondisikan juga. Ya, kejar-kejaran sama tugas tambahan juga sih." Galang tertawa.


"Nggak pusing?"


"Pusing sih. Tapi mumpung ada kesempatan lah, terus untungnya dosen sama pihak kampus ngasih keringanan juga. Gara-gara nama oneng melejit di kancah internasional tuh, aku dapat preevilage dari kampus, kan mereka tahu kalau aku jadi tim mekaniknya si oneng. Jadinya ya udah, Jalanin aja. Kerjaan beres, kuliah jalan. Dapet duit juga kan."


"Dih, ujung-ujungnya duit."


"Ya apalagi om? bisa kuliah pakai duit sendiri, kan asik. Nggak terlalu ngeberatin orang tua. Cuma numpang hidup doang."


"Ya udah, bagus kalau gitu."


"Ya om. Ya udahlah aku pergi dulu, mau latihan sama cek track." pamit Galang.


"Oke."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania menyesap minuman dingin favoritnya itu dengan cepat, rasa haus memang sangat terasa, terutama karena cuaca memang sangat panas hari itu.


"Papa Kamu, memang selalu seperti itu ya kepada laki-laki yang mendekati kamu?" Dimitri melahap makan siangnya. Satu porsi pasta carbonara dengan bola-bola daging sebagai pendampingnya, juga orange jus sebagai minumannya.


"Cowok yang mana? paling si Galang. Kalau dia emang sering kena getok papa."


"Kenapa?"


"Karena terlalu deket."


"Kalian sedekat itu?"


"Siapa? Galang?" Rania menyuapkan nasi goreng super pedas pesanannnya.


"Iya."


"Dia temen aku sejak TK."


"Oh iya, sempat nembak kamu juga kan ya?"


"Iya."


"Sekarang bagaimana?"


"Apanya?"


"Hubungan kalian."


"Hubungan apaan? kam cuma teman."


"Oh, ...


"Emangnya kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuma ingin tahu. Dan nggak ada bahan obrolan juga." Dimitri tergelak.


"Dih?"


"Semakin sering aku menemui kamu Sepertinya semakin terlihat juga kalau papa kamu nggak suka aku ya?" pria itu mengalihkan pembicaraan.


"Cuma perasaan kamu aja."


"Tapi jelas."


"Papa nggak mudah akrab sama orang, apalagi mengingat kamu awalnya sponsor kami. Jadi ya, ... mungkin merasa ada kesenjangan yang cukup jauh."


"Kesenjangan apa? kita sama dalam hal ini tahu?"


"Tapi papaku mikirnya beda. Sama saudaranya aja dia sungkan, apalagi sama orang lain. Kamu misalnya. Walaupun kita masih ada hubungan saudara padahal."


"Iya ya, jadi silsilahnya kita ini bagaimana ya? Papa kamu keponakan papi aku gitu?"


"Nggak ngerti deh kalau masalah itu."


"Jadinya kamu keponakan aku dong?"


"Hmm... jadi kalau yang bener aku manggil kamu apa? om gitu? hahaha... " Rania tertawa terbahak-bahak. "Dih, aku pacaran sama om-om."


Dimitri ikut tertawa.


"Tapi nggak apa-apa, kalau om-omnya kayak kamu, masih enak dipacarin."


"Ada-ada saja kamu ini."


"Eh, serius. Kalau silsilahnya gitu emang nggak apa-apa ya? kita kan masih saudara."


"Mungkin nggak apa-apa, buktinya papi dan mamaku mendukung. Kalau misalnya nggak boleh ya sudah pasti melarang dari awal."


"Masa?" Rania menahan senyum dengan pipinya yang merona.


"Iya, ponakan." pria itu tersenyum.


"Baiklah, Om. Itu lumayan bikin lega." Rania tergelak, kepalanya bahkan hingga terdongak ke atas hingga lehernya terekspos dengan jelas.


"Iya, ... mm... sepertinya nanti papi dan mama juga mau berkunjung ke rumah kamu?"


"Apa?" Rania terbatuk, hampir saja dia menyemburkan makanan yang barusaja masuk ke mulutnya.


"Semalam papi aku menelfon."


"Mau ngapain?"


"Cuma berkunjung."


"Serius?"


"Hu'um." Dimitri menyesap minumannya hingga habis setengahnya sambil menatap ekspresi gadis di depannya.


"So, keponakan, apa kamu siap menerima kedatangan orang tua om mu ini kerumah?" pria itu menarik kedua alisnya keatas.


Mati gue! batin Rania.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


siap-siap Om, Ayok aku tunggu 🤣🤣