All About You

All About You
Hari Jadian



🌹


🌹


Dimitri menatap gadis itu yang masih terlelap begitu dalam disofa ruang tengah apartemennya. Tampaknya dia tidak akan bangun cepat karena terlalu mengantuk, setelah percakapan panjang lebar mereka yang selesai pada dini hari tadi. Percakapan yang benar-benar serius diantara keduanya, setelah dia memaksanya untuk menginap karena kekhawatirannya kepada Rania yang mungkin saja masih dalam pengejaran polisi.


Pria itu tersenyum, menatapnya dalam keadaan seperti ini membuat hatinya menghangat. Wajah polosnya semakin membuat perasaannya membuncah bahagia, apalagi setelah gadis itu setuju menjadi kekasihnya dini hari tadi, meski harus berdebat dulu sebelumnya.


Hari jadian yang aneh. batinnya, dan dia tertawa karenanya.


Dan yang lebih aneh lagi adalah dia mampu menahan perasaan walau hatinya terus bergejolak. Mengingat seorang gadis menginap di apartemennya, tanpa berbuat sesuatu yang lebih selain mengobrol dan berdebat. Biasanya dia akan mampu menerjang siapapun yang bersedia berduaan dengannya tanpa memikirkan bagaimana hubungan selanjutnya, atau bagaimana situasinya setelah ini. Hanya memikirkan kesenangan saja dan itu sudah cukup baginya.


Tapi gadis ini merubah cara berpikir dan perasaannya. Entah bagaimana Rania telah membuatnya merasa ingin memiliki, dan lebih dari itu, dia membuatnya merasa takut kehilangan. Terutama setelah kejadian semalam.


Suara ponsel Rania berdering nyaring diatas meja. Membuyarkan lamunan Dimitri dan mengalihkan perhatiannya.


Dia melirik layar, dan nomor kontak Angga lah yang menelfon. Tidak mungkin dia yang mengangkat, bisa-bisa ada kesalah Fahaman yang menyebabkan perang dunia ketiga, dan itu berbahaya. Mengingat permintaan Rania yang menginginkan hubungan yang sejak dinihari tadi terjalin itu dirahasiakan terlebih dahulu. Dengan alasan yang masuk akal tentang psrjalanan karir balapannya yang baru saja dimulai dan sikap Angga yang tak mudah dihadapi jika berhubungan dengan pergaulannya dengan lawan jenis.


Gadis itu terbangun, dan dia segera meraih ponselnya, kemudian bangkit dengan raut terkejut mendapati sang ayah yang menghubunginya.


"Duh." dia mengerjap, kemudian mengusap kayar ponsel keatas.


"Ha-halo Pah?" ragu-ragu Rania menjawab.


"Baru bangun oneng? matahari udah nongol kamu masih tidur?" Angga berteriak dari seberang sana.


"Mmm...


"Pasti nggak lari ya? kebiasaan."


"Papa masih dirumah kakek?" gadis itu bertanya.


"Nggak."


Deg!!


"Papa semalam ke Ciater, om Gara juga." jawab Angga, membuat Rania merasa sedikit lega.


"Oh, Kirain."


"Bangun gih, cepet lari, mumpung masih pagi."


"Iya Pah."


"Yaudah, paling papa pulang siang atau sore, baek-baek dirumah, jangan keluyuran."


"I-iya."


Bukan lagi, gue malah nginep di tempat cowok. batinnya, seraya melirik ke arah Dimitri yang terdiam di seberangnya.


Kemudian sambungan telfonpun diakhiri.


Rania terdiam ssbentar, mengusap wajahnya menyugar rambutnya yang berantakan, Sementara Dimitri mati-matian menahan senyum.


"Pagi Zai." ucap pria itu akhirnya.


Rania hanya menoleh, kemudian berdiri dan melipat selimut yang semalam membungkus tubuhnya.


"Apa badanmu nggak sakit tidur di sofa seperti itu?"


"Udah biasa, dirumah kalau ketiduran di sofa nggak ada yang mindahin." jawab Rania.


"Tadinya mau aku pindahin ke kamar, tapi takutnya kamu bangun terus salah faham, terus aku dihajar lagi." Dimitri tergelak.


"Aku mau ke kamar mandi." Rania menggulung rambutnya keatas, dan menyelipkan ujungnya dalam gulungan.


"Mau mandi?"


"Nggak. Cuci muka doang."


"Dikamar aku."


"Apa?"


"Kamar mandinya dikamar aku."


"Hmm... " Rania membeliak.


"Mau mandi juga boleh," Dimitri mengekorinya yang berjalan kr arah kamarnya.


"Nggak usah, cuci muka aja. Kalau mandi nggak ada baju ganti." ucapnya, yang segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat. Namun membuat Dimitri tergelak karena gemas dengan sikapnya.


Haih, ... sikap manisnya sungguh mengerikan. batin Rania, dan dia segera membasuh wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku tadi pakai sikat gigi yang ada di wastafel." Rania muncul stelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi.


"Yang baru?" Dimitri mendongak, dan dia sudah siap di meja makan dengan berbagai jenis makanan yang sudah terhidang.


"Hu'um."


"Nggak apa-apa, nanti aku simpan disana khusus buat kamu. Siapa tahu menginap lagi." katanya, diikuti dengan senyuman.


"Dih, mimpi." cibir Rania.


"Sarapan?" tawar pria itu kemudian.


"Kayaknya harus pulang sekarang deh."


"Boleh, tapi sarapan dulu ya? aku sudah pesan ini dari subuh tadi." Dimitri berujar.


Dan tanpa banyak bicara Rania pun menurut, itu adalah sarapan bersama pertama mereka setelah resmi berhubungan.


"Aku pulang ya?" ucap Rania setelah sarapannya selesai.


"Hu'um. Tapi nggak aku antar?"


"Nggak usah, aku kan bawa motor."


"Baiklah."


"Mobil kamu gimana?"


"Aku sudah suruh orang untuk ambil nanti."


"Ya udah." Rania mengenakan jaket kulitnya, dan bersiap pergi.


"Zai?" pria itu memanggil.


"Ish, dari subuh tadi manggilnya gitu melulu?" protes Rania, yang lagi-lagi membuat Dimitri tertawa.


"Memangnya kenapa? aku suka memanggilmu seperti itu." Dimitri terkekeh.


Dimitri tertawa lagi.


"Aku pulang lah," gadis itu meraih helmnya di sisi sofa.


"Kamu nggak mau...


"Nggak! jangan minta macam-macam, kamu udah janji."


"Maksud aku, pulangnya ngga nunggu agak siangan dikit gitu?" Dimitri melanjutkan kalimatnya.


"Mm... harus pulang, nanti orang rumah keburu pulang, bisa kena masalah lagi." dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Begitu, baiklah."


"Dah lah." Rania segera berlari keluar dengan wajah yang memanas.


"Baiklah, hati-hati Zai." kemudian Dimitri tertawa saat mendengar gadis itu menggeram sebelum membanting pintu dengan keras.


🌹


🌹


Amara meletakan tasnya dikamar yang telah Lita rapikan. Menatap sekeliling ruangan bekas kamar ibu sambungnya semasa kecil.


"Uyut cuma bisa repikan segini saja, selebihnya Ara yang atur ya?" ucap Lita.


"Iya uyut, makasih."


"Lemarinnya sudah uyut kosongkan, Ara bisa simpan baju-bajunya disini saja." dia membuka pintu lemari yang sudah kosong melonpong.


"Iya."


"Mommy mu dulu cuma punya baju sedikit, kebanyakan tinggal di Jakarta, jadi tidak terlalu banyak barang simpanannya disini. Jadi sangat mudah merapikannya lagi."


"Di sebelah kamar siapa? kayak ada bekas orang tidur?" gadis itu bertanya, saat melewati kamar sebelah dan sekilas melirik kedalam yang tampak berantakan.


"Dimitri. Semalam dia menginap, tapi pergi lagi."


"Kak Dim sering menginap disini?"


"Kadang-kadang, kalau akhir minggu atau libur. Tapi hari biasa juga kadang dia tiba-tiba datang."


"Begitu ya?"


"Iya."


"Sudah kak? apa saja yang kamu butuhkan? sekalian kita beli sebentar lagi." Dygta muncul sesaat kemudian.


"Udah Mom, Mungkin selain alat tulis ya alat mandi. Yang lainnya nanti nyusul, aku aja yang beli."


"Baju gimana?"


"Sementara kayaknya masih cukup. Nanti beli seragam hitam putih aja buat ospek. Sama pita warna warni gitu."


"Baiklah, sama kebutuhan ospek juga kan ya?"


"Kalau itu kan belum tahu, nunggu diumumin aja nanti."


"Baiklah."


"Apa kalian sudah selesai? kemana dulu kita hari ini?" Arfan juga muncul kemudian.


"Belanja kebutuhan kak Ara, biar nanti dia nggak terlalu keteteran kalaupun belanja sendiri."


"Baik, cepatlah. Dimitri sudah menunggu di Braga." Arfan berujar.


"Cepetan Mom, kita belanja!!" Ara melesat keluar dari kamar, tiba-tiba saja dia bersemangat, padahal sebelumnya dia menolak karena harus tinggal dirumah masa kecil Dygta, dengan dalih terlalu jauh ke kampus tempatnya kuliah nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri melambai-lambaikan tangannya dari sudut kafe, salah satu tempat favorit di Braga, sebuah kawasan yang cukup terkenal di kota Bandung.


"Anak-anak mana?" Dimitri mencari keberadaan empat keponakannya yang tak terlihat dibawa seperti saat-saat biasanya.


"Mereka tidak mau ikut," jawab Arfan.


"Tumben?"


"Abah sedang panen kentang, jadi anak-anak ikut ke kebun." Dygta menimpali.


"Wah?" mereka duduk bersamaan.


"Ara nggak ikut panen?" Dimitri beralih kepada gadis yang duduk disampingnya, yang belum mengucapkan sepatah katapun.


"Nggak." Amara menggelengkan kepala.


"Kita mau belanja buat kebutuhan ospek sama kuliahnya Ara. Biar nanti kalau sudah mulai kuliah Ara nggak terlalu repot kalaupun harus belanja sendiri."


"Kenapa sendiri? kan ada kak Dim?" ucap Dimitri.


"Kak Dim kan kerja?"


"Sabtu minggu libur. Bisa lah kalau cuma antar Ara." pria itu menjawab.


"Beneran?"


"Iyalah."


"Itu nanti saja, kalau darurat." sergah Dygta.


"Mm... iya kak, kalau nggak repot-repot amat aku masih bisa."


"Oke, tapi kalau butuh bantuan tinggal telfon aja ya?"


"Oke. Paling nanti aku butuh diantar hari pertama ospek aja, kan belum tahu jalan-jalan disini."


"Ada ojek online Ara." tukas Arfan.


"Nggak apa-apa. Nanti aku antar, namanya juga baru disini kan?" sergah Dimitri, yang membuat gadis belia itu merasa telah memenangkan hari.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


udah waktunya vote gaess