
🌹
🌹
Dimitri melepaskan tautan bibir mereka berdua saat telinganya menangkap suara di kejauhan. Dengan napas menderu-deru dan wajahnya memerah menahan hasrat yang sudah memenuhi perasaan. Begitu juga gadis dibawah yang mengerjap-ngerjap untuk menarik kesadarannya yang telah melanglang buana entah kemana.
"RANIAAAA!!!"
"Dimitriiii!!"
Suara-suara beberapa orang terdengar memanggil.
"RANIAAAA!!"
"Dimitriiiiii!!"
"Ada yang mencari kita." Dimitri berbisik, lalu bangkit dan menarik tangannya yang sempat menjelajahi lekukan tubuh gadis itu.
Dia menarik Rania untuk bangkit kemudian membenahi pakaian mereka yang berantakan.
"Rania!" Galang berlari mendekat saat menemukan dua sosok yang mereka cari berada di dekat danau yang sudah membeku.
"Kamu bukannya diam di mobil, malah berkeliaran?" katanya, setelah jarak mereka sudah cukup dekat. Lalu dia melirik sekilas ke arah Dimitri.
"Cu-cuma jalan-jalan." Rania mencoba untuk setenang mungkin. Walau detak jantungnya belum sepenuhnya normal, dan pikirannya masih berceceran dialam khayalan tadi.
"Jalan-jalan? orang-orang khawatir nyari, dan jawaban kamu cuma jalan-jalan? emang bener-bener ya?" sahut Angga yang tiba selanjutnya.
"Habisnya nunggu di mobil aku pegel." Rania menjawab.
"Ya nunggunya nggak sejauh ini kek? nyusahin orang aja?" ucap Angga lagi, dengan raut kesal.
"Salah saya pak." Dimitri segera menyahut melakukan pembelaan, seketika tak ada yang berbicara lagi setelahnya.
"Maaf." lanjut sang sponsor dengan suara rendahnya.
"Saya cuma khawatir, anak gadis saya berada diluar dalam keadaan badai salju. Di negri orang lagi, kalau hilang gimana? saya nggak tahu harus bagaimana memberikan jawaban kepada ibunya." ucap Angga yang merasa panik setelah hampir dua jam putrinya tak kunjung tiba. Dan dia hampir saja memaksa melakukan pencaraian saat badai menjelang.
"Iya, saya minta maaf. Ini ... kesalahan saya pak. Kami sama-sama bosan menunggu, sedangkan untuk berjalan menuju hotel rasanya tidak mungkin. Kami tidak tahu jalan mana yang harus dilewati." ulang Dimitri.
"Orang hotelnya ada di balik taman ini." Galang bergumam dengan nada sinis.
"Apa?" Rania bereaksi.
"Kalau tadi nggak ada badai, jalanya pasti kelihatan, cuma karena saljunya tebel bener, jadinya bikin semuanya kelihatam sama. Aku juga baru tahu pas lewat jalan pintas barusan. Dan selain karena badai juga emang susah mau lewat kesini karena saljunya, makanya kita lama nemuin kalian."
"Begitu ya?"
"Iya."
"Ya sudah, Sekarang kita kembali ke hotel." ucap Angga, yang segera menarik putrinya dari sana. Diikuti Dimitri dan beberapa orang yang mencari.
"Lagian, ngapain aja sih nih mantelnya sampai penuh salju gini? kamu guling-guling di salju ya?" Angga menepuk-nepuk bagian belakang tubuh Rania yang memang dipenuhi oelh salju.
"Mmm...
Dan Dimitri langsung saja terbatuk karena mendengar pertanyaan Angga. Hal itu tentu saja membuatnya teringat kejadian sebelumnya, dimana mereka berdua hampir saja kehilangan kendali diatas tumpukan salju di pinggir danau yang membeku.
"Eee... itu... tadi kan hujan salju, terus aku lihat kesini, kan jadinya aku kena saljunya deh." gadis itu mengalihkan perhatian saat tatapan hampir semua orang tertuju kepada mereka.
"Lagian lebay amat? mentang-mentang baru lihat salju beneran?" Angga masih berusaha menyingkirkan salju dari pakaian putrinya.
"Iya papa, habisnya bagus banget. Aku kan penasaran." jawab Rania, seperti biasa.
"Rasa penasaran seperti ini bisa membunuh kamu tahu?" tukas pria itu dengan nada tidak suka.
"Nggak lah, ...
"Lain kali janga gitu lagi Oneng! udah mah tadi siang kamu bikin papa senewen di sirkuit, eh sekarang juga gitu. Bayangin kalau terjadi sesuatu sama kamu, mau bilang apa papa sama mama kamu? bisa habis papa di hajar mama." keluh Angga, sambil merangkul pundak sang putri.
"Ah, ... papa lebay. Lagian badan segede gini masa kalah sama mama?" akhirnya dia bisa mengalihkan perhatian ayahnya.
"Kamu nggak tahu, kecil-kecil gitu mama kamu kalau udah marah nakutin." jelas Angga.
"Masa?"
"Iya. Ngeriiii." Angga bergidik, seolah tengah mengingat hal paling menakutkan di dunia.
"Sengeri apa?" Rania mendongak ke arahnya.
"Kamu nggak akan bisa bayangin."
"Dih, ... papa lemah!"
"Bukan lemah Oneng!"
"Buka masalah menang atau kalah, berani atau takut, tapi orang rumah tangga itu ada yang namanya harus saling menghargai."
"Apanya yang menghargai, jelas-jelas papa takut sama mama." cibir gadis itu kepada ayahnya, kemudian tertawa.
"Buka takut ih, tapi meng-har-ga-i." Angga melafalkan kata-katanya dengan pelan, namun Rania mencebikan mulutnya.
Sementara dua pria di belakang mendengarkan percakapan itu dalam diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania menyesap cokelat panas di sudut sofa, dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Dibawah pengawasan Angga yang tak sedikitpun melepaskan pandangan darinya.
Sementara Dimitri telah kembali ke kamarnya setelah percakapan panjang lebar mereka, juga menjalani pemeriksaan dokter setempat. Pria itu hampir saja mengalami hypothermia karena berada di luar ruangan dengan udara dingin yang ekstrim.
Sesekali gadis itu melirik ke arah ayahnya, namun kembali fokus pada mug berisi coklat cair yang masih mengepulkan uap tipis itu.
"Curiga nih, ada sesuatu antara kamu sama Dimitri?" Angga memulai percakapan, setelah mendapati putrinya berduaan di tengah taman kota setelah badai salju melanda.
"Apaan?" Rania mendongak.
"Sikap kalian aneh."
"Pikiran papa yang aneh."
"Papa cuma...
"Udah ah, ... aku mau tidur." Rania memotong kalimat yang hampir saja meluncur dari mulut sang ayah, setelah menenggak habis coklat panas dari mug miliknya.
"Papa mau ngomong nih....
"Nggak mau, aku ngantuk. Dingin juga. Kalau maksa nanti aku kena hypothermia juga kaya Dimitri. Kan bahaya?" katanya, kemudian berlari kedalam kamarnya.
"Hah? kayaknya Ada yang aneh deh?" Angga berpikir keras.
🌹
🌹
"Net, ya ne mogu zayti. ( tidak, aku tidak bisa mampir)" Dimitri tengah menerima panggilan telfon di sela waktunya menunggu semua crew memasuki pesawat khusus yang akan membawa mereka pulang ke Indonesia, beberapa detik setelah dia menyalakan ponsel.
"Khotya by na mgnovenie? (walau hanya sebentar?)" jawab si penelfon dari seberang.
"Da. ( ya)" jawabnya, singkat.
"V poryadke. Ya budu tam pozzhe. ( baiklah, nanti aku yang kesana.)" kemudian sambunganpun terputus, dan Dimitri menatap layar ponselnya dengan raut terkejut.
BRUUKK!
Rania melemparkan tas selempangnya diatas kursi di samping Dimitri, saat dilihatnya semua kursi hampir terisi penuh.
"Heh, duduknya disini." Angga memanggilnya saat dia menemukan tempat duduknya.
"Ee... "
"Disana biar si Galang." ucap Angga, yang melirik ke arah Galang yang juga baru masuk seperti dirinya.
"Apaan?"
"Cepetan, Udah kangen rumah nih." pria itu berujar.
"Kangen rumah apa kangen yang ada di rumah?" Rania segera menghampiri sang ayah.
"Dua-duanya."
"Dih?"
"Cepet Lang, gimana pesawatnya mau lepas landas kalau kamu berdiri terus disana?" Angga melirik pramugari yang sudah muncul dari kabin.
Dan pemuda itu tak ada pilihan lain selain menurut. Galang duduk di kursi yang sama di sebelah sponsor mereka yang terdiam dengan raut tak senang.
"Oh Tuhan, ini akan jadi perjalanan yang lama." Dimitri bergumam.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
like komen sama hadiahnya terus dong, aku butuh support kalian nih... 😁😁