
🌹
🌹
Satria tidak bisa berhenti tertawa, dia bahkan sampai menitikan air mata saking merasa lucunya melihat sikap sang putra. Sementara Sofia mengompres wajah Dimitri dengan kantung es yang dia dapat dari office boy.
"Hentikan!!" Sofia menepuk pundak suaminya yang masih saja menertawakan kebodohan putra mereka.
"Oh, astaga!! ini bahkan lebih lucu dari pada tingkah dia sebelumnya." pria itu menyeka sudut matanya yang berair.
"Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan?" Sofia menahan kempresan di bawah mata Dimitri untuk mengurangi bengkak dan sakitnya.
"Tidak ada." pria muda itu meringis kesakitan. Sepertinya Rania tadi memukul wajahnya dengan keras.
"Bohong, kamu pasti membuatnya sangat marah sehingga dia berani memukulmu." sela Satria.
"Benarkah?" Sofia menatap wajah putra kesayangannya itu.
Dimitri tak menjawab.
"Sudah pasti benar. Perempuan akan melakukan hal paling ekstrim kalau dia merasa tersudut, atau merasa dalam bahaya. Tidak mungkin jika dia tidak macam-macam." ujar Satria lagi.
"Memangnya apa yang kamu lakuka sehingga dia berani memukulmu?"
"Hanya bicara Ma."
"Tidak mungkin hanya bicara bisa membuatnya marah, kamu pasti mengatakan yang tidak-tidak."
"Mungkin juga melakukan yang tidak-tidak." Satria bergumam.
"Pih!!!" protes Dimitri, yang lagi-lagi membuat sang ayah tertawa terbahak-bahak.
"Benarkah? apa yang kamu lakukan kepadanya?"
"Tidak ada."
"Bohong."
"Tidak ma. Hanya... ng ... sedikit menciumnya tadi." jawab Dimitri, dangan kedua wajah yang memerah.
"Apa?" Sofia bereaksi.
"Nah kan, apa kataku?" Satria tertawa lagi, dan kini lebih keras dari sebelumnya.
"Rasakan! semua karena ulahmu sendiri, makanya jangan berbuat sembarangan." Sofia menekan kompresan pada lebam di wajah Dimitri dengan keras.
"Aww, pelan-pelan Ma. sakit!!" protes sang putra.
"Rasakan!!" dia menekannya lagi. "Kamu membuat Mama malu!!" katanya lagi.
"Aduh, ampun!! ini sakit!! cukup dia saja yang memukul aku, jangan juga mama."
"Ini tidak akan terjadi jika saja kamu bersikap baik." Sofia dengan gemasnya, dan hal itu lagi-lagi membuat Satria tertawa.
"Papi kenapa tidak membela aku?" keluh Dimitri yang bisa membebaskan diri dari ibunya.
"Apa yang harus di bela? kalau kamu melakukan hal benar papi aka bela, Tapi ini? ckckckck!" Satria menggelengkan kepala.
"Jangan pernah menyemaratakan semua perempuan seperti yang pernah kamu kenal, karena pada kenyataannya setiap orang itu berbeda. Dan jangan samakan disini dengan di Moscow, karena tempat dan kebiasaan juga berbeda." Sofia berujar.
"Ingat nak, dapatkanlah sesuatu dengan cara yang layak, bukan dengan cara yang tidak baik, karena semua akan kembali kepada dirimu sendiri. Jika kamu memulai sesuatu dengan tidak baik, maka jangan harap semuanya akan berjalan baik pula. Itu adalah tanam tuai."
Dimitri terdiam.
"Pantaskan dulu dirimu sebelum memulai suatu hubungan, bukan hanya karena kamu menginginkannya, atau merasa bisa mendapatkannya. Tapi layakkah kamu untuk memilikinya?" Satria bangkit dan membenahi pakaiannya.
"Kamu tahu, tidak semua hal harus seperti keinginanmu, tapi jika kamu memang benar-benar menginginkannya, maka berusahalah lebih keras dengan cara yang benar." dia menepuk pundak putranya.
"Belajarlah, karena kamu seorang Nikolai. Sesuatu yang besar tengah menunggumu."
"Ayo sayang? Dimitri harus bekerja," Satria mengulurkan tangan kepada istrinya.
"Kalian mau pergi sekarang?"
"Mau mengunjungi nenekmu." Sofia memeluk putranya.
"Nanti kamu kesana kan?"
"Kita lihat saja nanti."
"Baik, bekerjalah yang baik Nak. Jangan hanya mengandalkan statusmu sebagai putra pemilik perusahaan, tapi karena kamu memang harus."
"Iya pih."
Lalu kedua orang tuanya itu pergi.
🌹
🌹
Rania terdiam menatap sang ayah yang sedang memberi pengarahan kepada para crew, bagaimana dia berbicara dan mengatur segalanya agar sejalan dengan rencananya, dan bagaimana dia menentukan apa yang baik dan tidak baik, jelas pria itu sangat berpengalaman soal hal tersebut.
Tentu saja dia sangat berpengalaman tentang segala hal, karena mereka memang telah mengalami banyak peristiwa. Dan dia masih mengingatnya dengan jelas.
Bagaimana Angga bertindak saat menghadapi sesuatu, dan bagaimana dia menangani suatu masalah.
Yang paling diingatnya adalah saat dirinya masih SMP, saat seorang guru olahraga hampir saja melakukan pelecehan kepadanya. Dengan dalih memeriksa fisik siswa, yang dilakukannya di ruang kesehatan secara tertutup.
Rania yang terbiasa diajari cara mempertahankan diri oleh sang ayah, dan sering dijejali dengan pendidikan s*x sejak usia dini membuatnya waspada, sehingga mampu melakukan perlawanan ketika guru tersebut berbuat hal mencurigakan, yang hampir saja menyentuh bagian terlarang di tubuhnya.
Membuat gadis itu segera bereaksi dan melakukan tindakan diluar batas, seperti yang pernah diajarkan oleh ayahnya. Hingga membuat sang guru olahraga harus masuk rumah sakit karena tindakannya.
🍁 Flashback On 🍁
"Papa percaya kepadamu, apapun yang mereka katakan, tidak akan membuat papa menghakimimu." ucap Angga pada saat mereka berada di kantor polisi setelah sang guru olahraga dibawa kerumah sakit. Dan setelahnya membuat laporan akan tindakan kekerasan yang dilakukan Rania.
"Kamu anak yang baik, tapi baik saja tidak cukup. Kita memang harus bertindak ketika ada sesuatu yang tidak seharusnya. Tidak apa-apa." Angga menguatkannya ketika menghadapi tuntutan dari guru tersebut.
"Tapi dia memang melakukan itu Pah, kalau aku nggak lawan dia pasti nggak akan berhenti."
"Papa tahu."
"Tapi mereka nggak percaya. Mereka bilang aku yang nakal dan cari perhatian."
"Itu biasa. Semua orang akan memandang dari tampilan luar. Mereka nggak akan percaya dengan orang-orang seperti kita."
"Jadi aku harus gimana?"
"Tetap pada pendirianmu itu lebih baik."
"Tapi mereka jadinya menyudutkan papa?" dia mengingat ketika dewan sekolah menyalahkan sang ayah, dan menyudutkan pria itu karena tindakannya.
"Tidak apa-apa, papa sudah terbiasa." Angga terkekeh, dan dia merangkul pundak putrinya.
"Papa tidak bisa selalu ada untuk melindungimu. Jadi kamu memang harus bisa mempertahankan diri sendiri. Dan yang kamu lakukan tadi itu bagus."
"Beneran?"
"Iya."
"Nggak. Tapi lain kali jangan terlalu keras sampai masuk rumah sakit. sedikit aja biar dia kapok."
"Baiklah, ...
"Dan tetaplah bersikap seperti ini, agar orang-orang seperti gurumu itu tidak mau mendekat."
🍁 Flashback Off 🍁
Dan sejak saat itu, jadilah dia seperti Rania yang sekarang. Yang tak peduli banyak hal, yang cuek dan tidak pernah bersikap manis kepada siapapun. Karena dalam pemikirannya, bersikap manis kepada semua orang tidak akan membuat orang lain berbuat baik kepadanya. Dan itu terbukti, kejadian dua minggu yang lalu di dalam lift gedung Nikolai Grup memperkuat pendiriannya.
"Bengong aja?" tepukan Galang dia kepalanya membuyarkan lamunannya.
"Siap-siap! balapan bentar lagi mau mulai." katanya, dan dia menyerahkan helm milik gadis itu.
Rania menerimanya tanpa banyak bicara.
"Ayo Ran." Angga memberi isyarat dengan menyentakan kepalanya, dan gadis itu segera datang menghampirinya.
"Ingat, fokuslah. Jangan pikirkan apapun, hanya balapan, dan lintasannya."
"Iya." Rania menaiki motor besarnya
"Hanya dengarkan papa, dan kamu mengikuti."
"Iya." dia mengenakan helmnya.
"Posisi kita bagus, dan ini menguntungkan. Hanya stabilkan saja kecepatannya, sisanya biarkan mengalir dengan sendirinya."
Rania menganggukan kepala.
"Baiklah. Hati-hati disana." Angga memeriksa segala yang ada pada putrinya. Dia pastikan helm terkunci dengan benar. Suitnya dan segala alat keamanan yang ada padanya tak luput dari pemeriksaannya.
"Kamu sudah siap,.. ingat untuk selalu berjalan di jalur yang benar, dan hindari kecelakan. Papa percaya kepadamu." Angga menempelkan keningnya dengan helm di kepada Rania.
Dan balapan pun dimulai setelah seorang petugas lintasan mengibarkan bendera kotak-kotak di depan. Sekitar tiga puluh motor melaju dan perlahan saling mendahului.
Pertarungan di lintasan berlangsung sengit, terutama karena para pembalap terdepan tidak bisa dengan mudah di dahului. Mereka bekerja keras dan dengan sungguh-sungguh untuk mempertahankan posisi.
"Pah?" suara Rania terdengar memanggil dari headphone.
"Bertahan Ran. Sabar sedikit lagi."
Rania menurut, dia mempertahankan kecepatan dan mengamankan posisinya di urutan ke tujuh, naik satu langkah dari sesi kualifikasi kemarin sore.
Sorakan menggema dari bangku penonton yang penuh sesak di sirkuit Mugello Italia. Bendera-bendera bertuliska nomor pembalap wanita terkenal berkibar di beberapa bagian. Jelas sekali mereka penggemar fanatik yang sengaja datang untuk memberikan dukungan.
Sirkuit dengan nama asli Autodromo Internazionale Del Mugello itu yang berkapasitas 50 ribu penonton, dengan panjang 5.245 kilo meter dan memiliki 15 tikungan tajam yang menjadi tantangan tersendiri bagi para pembalap profesional terutama di ajang grand prix dunia. Terletak di kota Scarperia E Sanpiero, Toscana Italia. Salah satu kota indah nan menakjubkan di negara Italia. Menjadi salah satu tujuan utama para pembalap untuk mendapatkan gelar juara secara lengkap.
"Pah!!" Rania memanggil lagi saat dia melihat celah di depannya cukup untuk dirinya menyelinap.
"Oke, kamu bisa masuk Ran?"
"Aku coba." gadis itu menambah kecepatan sehingga dia bisa menyusul pembalap di depan, dan dengan perlahan menyalip kemudian menambah lagi kecepatannya untuk mendahului, sambil menyeimbangkan laju motornya di tikungan.
"Yeah!!" Angga dan crewnya bersorak saat gadis itu berhasil melakukannya. Kini posisinya naik ke urutan ke enam.
"Bertahan Ran." ucap Angga di seberang sana.
Rania kembali menstabilkan kecepatan. Lima pembalap di depannya cukup rapat untuk dia tembus, dan itu bukanlah perkara mudah untuk dilakukan.
"Berapa lap lagi?" gadis itu berteriak.
"Lima lagi." jawab Angga.
"Apa aku punya kesempatan?"
"Kamu pasti bisa, tapi tunggulah. Jangan terburu-buru."
Sebenarnya gadis itu ingin segera melesat untuk mendahului pembalap di depannya. Rania yakin bahwa dirinya bisa, dan mampu. Tapi dia teringat kejadian terakhir yang menyebabkannya melebar kesamping dan membuat pembalap di belakang dapat menyusulnya dengan mudah.
Sabar Rania! batinnya, dan dia memutuskan untuk menunggu.
"Sekarang Ran!" ucap Angga saat dia melihat kesempatan itu, dan Rania segera berakselerasi, kembali menambah kecepatan dan melesat mendahului dua pembalap di kadepan.
"Yeah!! kamu berhasil. Tiga lap lagi Ran." terdengar sorakan dari belakang.
Dan gadis itu merasa semangatnya terbakar.
"Ayo Rania!!!"
Dua lap lagi, dan putrinya sudah menyalip satu lagi pembalap lainnya. Semakin membuatnya meninggalkan jauh pembalap di belakang. Dan pada saat Rania hampir menyusul pembalap kedua, keadaan langsung memanas dengan sendirinya.
Pembalap asal Italia tersebut tak menyerah begitu saja. Dia menambah kecepatan dan tak membiarkan Rania mendahuhuinya.
Tentu saja tidak, ini negaranya, dan dia tidak akan membiarkan seorang pembalap baru yang tidak dikenal memenangkan pertandingan. Setidaknya dia tidak akan membiarkan anak ini merebut posisinya.
"Papa!!"
"Tidak apa-apa. Hanya satu lap lagi, dan pertahankan posisi tiga." teriak angga.
"Nggak Pah, aku bisa ke nomer dua."
"Jangan Ran!!" namun gadis itu menambah kecepatannya untuk yang terakhir kalinya. Dan dia berhasil melewati pembalap Itali itu dengan susah payah disaat jaraknya hanya belasan meter lagi dari garis finish.
"Rania!!"
"Papa percaya aku kan?" ucapnya, dan dia terdengar meyakinkan.
"Hanya sedikit Ran. Ini sudah cukup. Posisi dua juga bagus."
"Aku tanya, apa papa percaya aku?"
"Pah? papa percaya aku?" Rania berteriak ketika jaraknya hanya sedikit lagi dari garis finish.
"Ya, papa percaya kamu. Lakukanlah jika kamu yakin, Rania." akhirnya Angga menyerah, putrinya tidak akan bisa dihentikan sebelum dia mencobanya sendiri.
"Hanya itu yang aku perlukan." dan gadis itu memutar gas dengan keras, lalu dalam hitungan detik dia kembali melesat. Rania melewati pembalap pertama dengan cepat di detik terakhir, dan dia melewati garis finish hanya tiga puluh senti di depan pembalap itu. Membuatnya menduduki posisi pertama tanpa diduga, dan dia menyelesaikannya dengan sempurna.
"RANIAAAA!!!" Angga berteriak, dan dia melompat ke lintasan. Sungguh hal ini ya ada yang menduga sama sekali. Tidak dia, tidak orang-orang di sekelilingnya, dan bahkan mereka yang berjuang di lintasan tersebut. Apalagi penonton yang menyaksikan, baik di sekitar sirkuit maupun di depan tivi, di rumah mereka hampir di seluruh dunia.
Rania berhasil menaklukan lintasan tersebut dengan tangguh. Dan usahanya di detik terakhir itu lagsung menjadi trending topik di seluruh dunia. Tanda pagar bertebaran di jagat maya tentang gadis dari Indonesia yang tak dikenal sama sekali menjuarai balapan pada hari itu.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Huh... tegang!!
udah waktunya vote gaess. tapi jangan lupa like komen sama hadiahnya ya
lope lope se Italia 😘😘😘