All About You

All About You
Latihan



🌹


🌹


Mereka tiba pada pagi hari di sebuah kawasan sirkuit terkenal di kota Bogor. Salah satu yang terbaik di kancah internasional dan menjadi andalan dalam setiap pertandimgan adu cepat baik motor ataupun mobil.


Angga dan rombongannya ditempatkan di sebuah guesthouse tak jauh dari area sirkuit. Agar memudahkan Rania dan tim itu untuk menjalani sesi latihan mulai hari ini.


"Kamu siap Ran?" Angga bersama dua kru lainnya memindahkan Ducati Panigale V4 berwarna merah ke arean landasan.


Gadis itu terdiam dengan mulut menganga, demi menatap motor super di depan matanya.


"Serius aku pakai ini?" gadis itu mengelilingi mesin beroda dua yang terlihat luar biasa indah. Dengan tampilan garang namun elegan. Jangan lupakan warna merahnya yang mencolok, membuat siapapun dapat mengenalnya dengan mudah.


Rania menyentuh body motor yang begitu mengkilap. Dari tampilam dan wangi joknya saja terlihat benda tersebut masih sangat baru.


"Coba dulu, kalau cocok ya pakai ini. Atau kamu mau yang warrna hitamnya?" Angga meneoleh ke belakang dimana tiga kru lainnya tengah menurunkan satu motor cadangan dengan merk dan jenis yang sama namun warnanya berbeda.


"Oh my God!!" gadis itu melompat kegirangan.


"Dua duanya boleh nggak?"


"Maruk!"


"Kan buat cadangan?"


"Pokoknya coba dulu lah, nanti bisa diputuskan kamu mau pilih pakai yang mana."


"Oke Papa. Tapi sebentar ..." dia menarik dan menghembuskan napasnya berkali-kali, sekedar untuk menenangkan dirinya yang hampir tak bisa menahan rasa gembira. Adrenalin ditubuhnya langsung saja terpacu dengan keras.


Angga mulai menghidupkan mesinnnya untuk pertama kali. Terdengar dengungan yang sangat indah ditelinganya, juga Rania yang tak bisa berhenti tersenyum karena gembiranya.


"Oh,... suaranya indah... " gadis itu menundukan kepalanya. Apalagi saat angga memutar gas, suaranya meraung-raung bagai monster dari antah berantah yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya.


Rania semakin kegirangan, dan dengan tidak sabaran gadis itu segera menaikinya. Berlagak seperti akan mengendarainya saat itu juga.


"Bawanya kayak biasa kan?"


"Hmm... tapi ini lebih dari si merah punya kita."


"Iyalah, Itumah udah tua."


"Tua-tua juga itu legenda."


"Asli." gadis itu memutar gas lagi sehingga suara raungannya kembali terdengar menggema memenuhi area. Menarik perhatian beberapa pembalap yang juga sudah hadir disana untuk melakukan hal yag sama seperti dirinya.


"Giliran kita sebentar lagi." Gani muncul dari belakang setelah mendapatkan informasi dari headphone di telinganya.


"Siap Ran." Angga menyerahkan helm yang juga masih baru itu kepada putrinya.


"Oke pah. "


"Kalau kamu berhasil disini, papa yakin di kualifikasi besok kamu juga akan berhasil." Angga membesarkan hati anak gadisnya.


Rania mengangguka kepala kemudian merapatkan helmnya.


"Ayo nak, kamu bisa." Angga menepuk pundak putrinya.


Para kru bersiap melepaskan pengaman ban dari bagian belakang motor tersebut untuk membiarkan Rania melaju.


Mereka perlahan melepaskan Rania, saat motornya mulai melaju. Yang dalam hitungan detik kecepatannya bertambah sepuluh kali lipat. Dan terus meningkat seiring semakin jauh juga dia melaju.


Rania mengingat setiap kata yang diucapkan sang ayah setiap kali mereka menjalani sesi latihan. Caranya memindahkan, menambah atau mengurangi kecepatan diwaktu yang tepat.


Atau mengambl posisi saat dia melewati tikungan tajam. Dan kesemuanya sudah di prediksi oleh pria itu, yang menjadikan putrinya waspada dan dengan mudah menguasai lintasan dalam waktu sekejap.


Sebanyak 11 tikungan dari mulai sedang sampai ke tajam Rania lewati tanpa kendala, dan dia menyelesaikan satu lap sesi latihan itu tak lebih dari tiga menit saja.


"Yeah!!!" Angga menghentikan stopwatch ditangannya.


"Dua menit empat puluh detik." ucapnya, dan Galang mencatatnya.


"Masih kelebihan empat puluh detik Ran." ucapnya saat putrinya kembali dan berhenti di depan mereka.


"Dua menit nggak kecepatan?" Rania membuka helmnya.


"Sebenarnya tiga menit aja juga udah bagus, tapi kamu akan finish di urutan lima belas. Itupun kalau pembalap lain ada yag jatuh, atau kamu selamat dari kecelakaan."


"Papa Doain aku kecelakaan?"


"Ya nggak lah, cuma itu memang faktanya."


"Jadi tiga menit masih lambat ya?"


"Untuk superbike iya."


"Oke, ..." gadis itu kembali bersiap.


"Mau coba lagi?"


"Yeah... " Rania kembali merapatkan helmnya.


Kemudian gadis itu mengulangi latihannya hingga beberapa kali. Hingga dia menemukan kecepatan yang pas agar dia bisa mencapai garis finish dalam waktu tak lebih dari dua menit saja.


🌹


🌹


Dimitri melepaskan pengaman dari alat tempurnya begitu dia dan perempuan dibawahnya mencapai kepuasan. Walau napas mereka masih menderu-deru tapi dia paksakan untuk pergi ke kamar mandi. Keringat yang bercucuran hasil pergumulan beberapa saat yang lalu membuatnya merasa tak nyaman.


Sepasang tangan indah merayap di tubuh tela*jangnya yang dialiri air hangat dari shower diatas kepala. Menyusuri setiap lekuk tubuh berototnya yang menggiurkan bagi siapa saja yang menatapnya.


Tubuh setinggi 190 senti meter dengan pahatan bak patung dewa yunani itu memang selalu menjadi daya tarik bagi gadis-gadis sejak pertama kali mereka menatapnya. Ototnya dalam porsi proporsional, tidak terlalu kekar namun terlihat menggoda. Ditambah wajah rupawan yang diwariskan oleh kedua orang tuanya, campuran kaukasia dan mojang Bandung membuat pemuda berusia 24 tahun itu memiliki nilai plus yang mengagumkan.


"Why? you don't like it?" gadis seksi bermata biru yang beberapa saat sebelumnya dia jemput di bandara itu menempelkan tubuhnya di punggung kokoh Dimitri begitu erat. Sehingga kulit tela*jang mereka saling bergesekan setiap kali pemuda itu bergerak untuk membersihkan dirinya.


"Stop Irina! uberi ot menya ruki! ( lepaskan tanganmu dariku!) Dimitri berusaha melepaskan tangan gadis itu dari alat tempurnya yang hampir terbangun lagi karena sentuhannya.


"No ya lyublyu trogat' eto. ( tapi aku senang menyentuhnya.)" gadis itu meneruskan tindakannya.


"Stop it! Kau akan membuat naga ajaib ini terbangun lagi!" Dimitri tertawa.


"Tidak apa-apa. Biarkan dia terbangun. Aku suka saat dia terbangun seperti itu." Irina terus menggodanya.


"Oh, ... tidak nona. Akan sangat berbahaya jika itu terjadi."


"Why?"


"Karena aku akan kembali menerjangmu dan kau takan bisa menahannya."


"Lakukan saja, apa masalahnya?"


"Stok pengamanku habis baby!"


"Tidak usah pakai pengaman juga bisa. Aku memakai kontrasepsi sendiri."


"No!"


"Why?"


"Tidak ada yang pernah bersentuhan denganku secara langsung, darling. Dan aku tidak mau ambil resiko."


Irina terkekeh.


"Aku serius."


Namun gadis itu tak menghentikan kegiatannya.


"Irina!"


Dia terus saja menggoda Dimitri hingga membuat pemuda itu hampir kehilangan akal. Namun sesuatu membuatnya tersadar ketika sekelebat wajah seoramg gadis yang menurutnya sangat menyebalkan muncul dalam bayangannya.


"Irina!!" Dimitri menarik lengan gadis itu dan mendorongnya ke samping. "Perestan', ya govoryu! ( lepaskan kataku!!)"


"Dimitri! kau...


Dimitri segera menghambur keluar seraya menarik handuk di capstock belakang pintu untuk mengeringkan tubuhnya, dan bergegas mengenakan kembali pakaiannya.


***


"Kau mau pergi?" Irina yang mengenakan bathrobenya duduk di tepi ranjang.


"Yeah, ...


"Pulang?"


"Hmm...


.


"Kenapa tidak menginap disini saja? aku masih rindu padamu." Irina bergelayut pada lengannya.


"Kalau aku tetap disini, bukannya tidur. Tapi malah menidurimu." Dimitri tergelak.


"Aku tidak keberatan." Irina nerbisik di telinganya.


Pemuda itu terdiam sebentar dan menghentikan kegiatannya untuk menatap gadis berambut pirang itu.


"Tapi bukankah malam nanti kau ada pertunjukan?"


"Ah, ... iya aku lupa. Untuk itu aku datang ke negara ini. Kau memang membuatku lupa segalanya Dim." Irina terkekeh.


"Memang... I'm irresistible." Dimitri dengan percaya dirinya.


"Aku pergi."


"Kau datang ke klub nanti malam?" gadis itu menahan langkahnya.


"Kita lihat nanti. Kalau Jacob dan Nick mau pergi maka aku akan pergi bersama mereka."


"Hmmm...


"Bye Irina." pemuda itu hampir membuka pintu.


"Dimitri?"


"Ya?"


"Won't you kiss me? (tidak maukah kau menciumku?)


"Hmm... just kiss Huh?" Dimitri kembali dengan lalangkahnya yang panjang-panjang, dan dengan cepat meraup tubuh seksi Irina kemudian menundukan wajahnya untuk meraih bibir sensual perempuan itu. Lalu memagut dan menyesapnya untuk beberapa saat.


"Aku pergi." lalu dia melepaskannya sebelum segala hal menjadi kembali tak terkendali lagi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


kalo Rania mah sibuk latihan.