All About You

All About You
Jamuan Makan Siang



🌹


🌹


Dimitri turun dari kamarnya dengan keadaan yang sudah segar. Berpakaian santai namun serasi, seperti biasa.


"Kopi?" tawar sang ibu ketika putra pertamanya itu duduk di kursinya.


"Boleh."


"Hari Ini kamu langsung ke Bandung?" tanya Satria yang meletakan ponsel setelah melihat pergerakan saham dan perkembangan perusahaannya yang terus melesat seiring dengan banyaknya isyu positif menerpa mereka. Terutama soal keberhasilan tim balapan yang dikendarainya yang menjadi juara dalam satu bulan terakhir. Tentu saja hal itu sangat menguntungkan baginya.


Nilai saham terus merangkak naik hingga poin tertinggi, dan popularitas perusahaannya semakin tak tertandingi. Apalagi di bidang otomotif. Perusahaan kendaraannya telah menerima banyak penawaran kerjasama dari perusahaan lain, dan itu benar-benar tak di duga sama sekali.


"Mungkin." Dimitri menyesapnya kopi yang dituangkan ibunya. "Thanks Mom." katanya, lalu melahap sarapannya.


Sesekali dia melirik ponselnya yang tergeletak di meja, seperti menunggu pesan dari seseorang, atau panggilan yang mungkin sudah dia harapkan sejak pagi tadi.


"Ded menelfon, kamu tidak mampir ke Moskow." Satria melanjutkan percakapan.


"Perjalanan dari Grozny ke Moscow itu jauh pih, mana sempat? apalagi disana badai salju, jangankan pesawat, mobil saja nggak bisa lewat. Kalau kemarin pagi aku memaksa mampir dulu, kasihan timnya Rania, mereka sudah tidak sabar untuk pulang."


"Iya, tapi Ded mu mengomel sejak semalam. Dia sangat ingin bertemu denganmu, Dim." sergah Sofia.


"Well, aku rasa Ded cuma basa basi, kalau sudah ketemu pasti aku hanya akan diomeli sampai telingaku sakit."


"Dim, ded itu kakekmu!"


"Memang, tapi itu juga kenyataan."


"Sudah lama kamu tidak bertemu ded."


"Ya, seperti yang aku bilang tadi, kalau sudah ketemu pasti hanya mengomel. Aku heran, kenapa hanya kepadaku saja ded begitu, sementara kepada Darryl dan Darren sepertinya tidak pernah. Aku bahkan sampai terkejut waktu kemarin ded menelfon, aku pikir ded sedang tidak sadar?"


Satria tertawa terbahak-bahak, "Kamu teman bertengkarnya ded yang sepadan berarti. Tidak seperti adik-adikmu yang sangat penurut."


"Mungkin." pria itu menghabiskan sarapannya.


"Oh iya, kapan Rania dan crewnya pulang?"


"Mungkin sebentar lagi, sepertinya mereka masih di hotel. Semalam aku nggak tega membiarkan mereka langsung pulang ke Bandung, jadinya aku biarkan mereka menginap dulu di hotel kita."


"Begitu ya?"


"Hmm...


"Jangan dulu dibiarkan pulang. Sepertinya aku ingin mengundang mereka untuk makan, sebagai sambutan kepulangan dan karena telah menjadi juara lagi. Bagaimana menurutmu sayang?" Satria menoleh kepada Sofia.


"Itu bagus, sekalian aku mau bertemu Rania. Mau membicarakan soal majalah dan pemotretannya." jawab Sofia.


"Baiklah, kalau semuanya sudah siap kita undang mereka sebelum kembali ke Bandung?"


"Baik sayang, kita undang kesini atau di restoran saja?"


"Restoran saja dulu." Satria tersenyum.


"Baiklah, padahal tadinya aku ingin mengundang mereka kesini saja. Kan bagus, sekalian mengenal Rania lebih dekat."


"Nanti saja, kalau mereka sudah resmi."


"Resmi apa?"


"Hubungannya, sekarang kan masih sembunyi-sembunyi." sindir Satria.


"Sebentar-sebentar," Dimitri meletakan cangkir kopinya yang hampir tandas. "Maksud mama dan Papi apa sih aku nggak ngerti? Resmi apanya?"


"Menurutmu apanya yang resmi?" Satria malah balik bertanya. "Bukankah hubungan sembunyi-sembunyi itu terasa agak kekanak-kanakan? menurut papi, kenapa kalian tidak terbuka saja?"


"Papi tahu soal itu?"


"Menurutmu?"


"Papi mengawasiku sampai Chechnya?"


"Hah, ..." Dimitri bernapas lega, kemudan dia meraih air putih yang masih utuh di dekatnya.


"Memangnya apa yang terjadi di Chechnya? sepertinya mencurigakan?" sahut Sofia, membuat sang putra terbatuk dan hampir saja menyemburkan air yang sedang dia minum.


"Ish, ... benar-benar mencurigakan!" perempuam itu menepuk-nepuk punggung sang putra, "Kamu aneh!"


"Jadi, aku harus mengundang mereka kemana? ke sini atau ke restoran?" Dimitri mengalihkan topik pembicaraan.


"Restoran saja, di dekat hotel ada restoran yang sangat bagus. Sebelum mereka pulang ke Bandung." jawab Satria.


"Baik, aku telfon mereka sekarang." Dimitri dengan bersemangatnya.


🌹


🌹


Dan disinilah mereka, berada di sebuah restoran tak jauh dari hotel tempat Rania dan crewnya menginap, sesaat setelah mendarat dari pesawat. Tengah malam mereka baru tiba di Jakarta karena harus transit terlebih dahulu di salah satu bandara di Eropa karena badai salju yang kembali menerjang wilayah itu. Menjadikan mereka harus rela kepulangan hari itu diundur selama beberapa jam hingga badai mereda.


Dan setelah berada di Jakarta pun, mereka tak bisa langsung pulang ke rumah masing-masing karena harus menjalani wawancara dengan media lokal seperti biasa. Terutama bagi Rania, yang kini mulai terbiasa dengan hal tersebut. Bertemu dan bicara dengan banyak orang, lampu blitz dan lensa kamera yang menyoroti kepadanya. Apalagi yang bisa lebih hebat dari pada itu?


Dan siang ini mereka menerima jamuan makan dari sponsor utama itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan Satria Nikolai, sang pemilik Nikolai Grup tempat tim mereka bernaung. Bersama Sofia Anna istrinya, yang tak pernah beranjak dari sisinya sedikitpun. Begitu juga dengan Dimitri, yang tentu saja merasa senang dengan perjamuan pada siang itu.


"Jadi Rania, bagaimana? kamu setuju untuk memulai pemotretannya minggu depan?" Sofia kembali membuka percakapan, disaat para pria juga membahas banyak hal.


Gadis itu menoleh kepada ayahnya yang tetap bersamanya sejak mereka masuk ke restoran tersebut. Dan Angga menganggukan kepala.


"Bisa bu. Kebetulan kita libur dua minggu kan Pah?" katanya.


"Iya. Kalau tidak mengganggu latihan tidak apa-apa." jawab Angga, dia berusaha untuk se formal mungkin. Walau keluarga Satria masih merupakan kerabatnya sendiri, namun perbedaan yang signifikan masih dia rasakan. Dan hal itu membuatnya merasa segan.


"Nanti akan ada orang yang menyesuaikannya dengan jadwal latihan Rania, agar bisa tetap selaras dengan kegiatannya. Jangan terlalu serius, ini cuma selingan." ucap Sofia dengan suara dan senyum yang ramah, juga enak di dengar. Membuat yang menyimaknya juga merasa nyaman berbicara dengannya.


"Baik bu."


"Nanti kalau ada kesulitan bisa tanya Dimitri langsung. Atau ada Andra juga."


"Baik."


"Nanti saya yag turun tangan sendiri untuk produk ini, jadi kita akan sering bertemu." ucap Sofia lagi dengan bersemangat.


"Iya bu, jadi nggak sabar." Rania menjawab dengan sedikit Rasa canggung.


"Benarkah? saya juga. Ini pertama kalinya majalah kami membahas soal Girl Power. Kamu tahu, biasanya tentang kehidupan selebriti, artis-artis remaja, sinetron, tapi kemunculan kamu membawa dampak lain, dan itu bagus untuk diangkat karena memberikan warna tersendiri di dunia fashion. Perempuan muda dengan kendaraannya tidak terlalu banyak dibahas dimanapun. Tapi feeling saya bagus soal ini." Sofia Dengan berapi-api.


"Benarkan? saya nggak nyangka bisa begitu. Cuma balapan, rasanya nggak terlalu istimewa bu." Rania berusaha membuat dirinya senyaman mungkin.


"Serius, mungkin bagi sebagian orang tidak ada artinya. Tapi buat yang lainnya, itu bisa menjadi motivasi."


"Bagus kalau begitu."


"Baik bu. Sepertinya sudah terlalu siang, dan kami harus segera pulang." Angga menyela percakapan.


"Oh iya, benar. Apa semuanya sudah selesai?" Sofia menatap sekeliling, juga kepada suaminya.


"Sudah bu, Terimakasih." jawab yang lainnya.


"Baik, terimakasih juga kalian sudah bekerja keras. Semuanya bisa terwujud karena kerja sama kalian juga. Semoga bisa tetap seperti ini." ucap Satria, dan semua orang mengangguk-anggukan kepala.


"Dan Rania, tetaplah seperti ini. Pertahankan prestasi, dan tingkatkan kemampuan. Semua orang mendukungmu." ucap Satria kepada gadis itu.


"Iya pak." Raniapun menganggukan kepala.


"Baik pak, bu, kami pamit." ucap Angga lagi, yang kemudian bersama yang lainnya keluar secara berurutan.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...