
🌹
🌹
"Kamu mau pergi?" Dimitri memperhatikan saat Rania keluar dari kamar mereka. Tak biasanya gadis itu bangun pagi-pagi sekali dan bergegas membersihkan diri.
"Iya, udah mulai latihan." jawab Rania yang telah mengenakan jogger pants dan hoodie dengan warna senada.
"Latihan?" Dimitri membeo.
"Iya. Jum'at depan kan aku harus terbang ke Jeres, soalnya mulai Gp lagi dari sana."
"Oh ya?" Dimitri menghentikan kegiatan sarapannya.
"Hu'um." Rania duduk di sampingnya. "Jeres, Le Mans, Argentina, Amerika. Habis itu Mandalika, ingat?" dia mengambil beberapa macam makanan yang seperti biasa sudah tersedia sejak pagi, diantar seorang pesuruh apartemen sejak beberapa hari yang lalu.
"Iya. Jadwalnya padat ya?"
"Gitu deh. Jadi mulai minggu ini harus udah latihan. Berapa minggu libur ya? agak kaku rasanya." gadis itu tertawa.
"Lumayan." lalu mereka mulai makan.
"Kamu nanti kerjanya pulang jam berapa?"
"Biasa, sampai sini jam lima an."
"Oke. Sebelum kamu sampai aku udah pulang kok."
"Iya."
"Ruang gym yang diatas itu jarang kamu pakai ya?" Rania mengingat saat kemarin melihat-lihat ke ruangan di atas. Dia menemukan sebuah ruangan dengan beberapa jenis alat olah raga. Juga kolam renang dengan ukuran cukup besar dibagian luarnya.
"Jarang. Kenapa?"
"Mungkin nanti akan sering aku pakai, instruktur bilang aku harus rajin olah raga. Biar aku terbiasa. Medan lintasan yang beda-beda butuh stamina yang kuat."
"Memang, selain lintasan, yang lainnya juga butuh stamina yang kuat." Dimitri menyesap capucino panasnya dengan perlahan.
"Apaan?"
"Apa saja lah."
"Terus besok juga kayaknya aku harus ke Sentul."
"Sentul? Ngapain?"
"Kata papa sponsor kita nambah. Selain perusahaan kamu, ada yang lainnya juga yang ikut gabung. Minuman kaleng itu udah pasti, terus nambah perusahaan sparepart, juga oli." Rania tertawa. "Mereka nawarin kerjasama yang harganya lumayan."
"Wow, aku baru tahu?"
"Aku juga, barusan papa telfon. Dan kesepakatannya di adain di Sentul, barengan sama pembalap lain yang lagi balapan disana."
"Hmm...
"Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa. Tapi kamu masih pulang kan?"
"Pulang lah, masa nggak?"
"Ya sudah."
"Kita berangkat barengan?" mereka telah menyelesaikan acara sarapannya.
"Oke."
Kemudian keduanya berjalan bersamaan keluar dari unit apartemen.
"Hati-hati, nggak usah ngebut." Dimitri membantu gadis itu mengenakan helmnya.
"Apa enaknya bawa motor tapi nggak ngebut?"
"Santai saja Ran."
"Nggak janji deh."
"Rania!" Dimitri berseru.
"Iya iya." dia tertawa, dan akhirnya mereka keluar dari gedung apartemen itu beriringan, Rania melaju di depan dengan Ducati hitamnya, dan Dimitri dengan mobilnya sendiri. Kemudian berpisah di persimpangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Si Dimi nggak ada masalah kan, sama balapan kamu?" Angga meletakan botol air mineralnya di samping saat mereka beristirahat setelah menyelesaikan sesi latihan pada siang itu.
"Nggak." jawab Rania, sambil membalas pesan kepada suaminya.
"Kamu pergi paling nggak dua minggu sekali selama beberapa bulan ke depan. Dalam tiga atau empat hari harus ninggalin dia."
"Iya, udah tahu."
"Yakin?"
"Iya, kan dia emang udah tahu daru awal. Kenapa emangnya?"
"Nggak apa-apa, cuma memastikan."
"Hmm...
"Dia baik kan, sama kamu?" Angga tiba-tiba bertanya, setelah mereka terdiam cukup lama.
"Baik."
"Nggak aneh-aneh kan?" tanyanya lagi, mengingat track record menantunya itu dimatanya sebelum mereka menikah.
"Nggak. Aneh-aneh apanya?"
"Sehari-hari dia normal?" Angga bertanya lebih jauh.
"Normal apanya?"
"Hidup kalian, sehari-harinya normal?"
"Normal." Rania mengerutkan dahi. "Dia bangun pagi, kerja seharian, terus pulangnya sore. Sementara aku, bangun siang, rebaha seharian, makan, terus tidur lagi malamnya." dia tertawa.
"Hh... Bukan itu. Kamu mah udah bakatnya gitu, oneng!" Dia menepuk kening putrinya.
"Maksud papa, apa dia memperlakukan kamu dengan baik?" Angga memperjelas maksud pertanyaannya.
"Baik kok. Dia nggak aneh-aneh. Apa maksud papa kayak yang ditanyain sama mama ya?"
"Emangnya mama tanya apa?"
"Soal itu."
"Soal apa?"
"Ituuu."
"Iya, itu apa?"
"Ish, ... masa papa nggak ngerti? kan udah berapa tahun nikah, anaknya aja udah empat."
Angga terdiam.
"Aneh deh, masa ngomongin ini sama papa." gadis itu terkekeh.
"Cuma tanya. Papa khawatir dia akan memperlakukan kamu dengan buruk. Mengingat... " Angga hampir saja membuka aib menantunya, tapi dia urungkan. Tidak tega jika putrinya harus mengetahui hal tersebut. Apalagi mereka baru saja menikah.
"Jangan khawatir, aku nggak apa-apa. Dia nggak aneh-aneh. Dimitri malahan sabar nungguin aku."
"Nungguin apaan?'' Angga tergelak. Menggelikan sekali rasanya, seorang ayah dan putrinya membicarakan masalah pribadi seperti ini.
"Nungguin itu."
"Itu?" Angga tertawa lagi. Dia mengerti apa yang dimaksud putrinya yang bar-bar tapi polos itu.
"Hu'um."
"Dia se sayang itu, atau takut kamu hajar sampai-sampai bersabar menghadapi kamu?"
"Nggak tahu, yang jelas kan sejak nikah datang bulannya baru beres tadi pagi."
"Apa?"
"Ish, ... biasa aja, cuma ngomongin datang bulan doang!" protesnya, sambil menggosok telinganya.
"Datang bulan sejak menikah?"
"Hu'um, kasihan deh. Awalnya dia ngambek, semalaman nggak mau tidur sama aku. Tapi lama-lama biasa aja. Atau mungkin terpaksa biasa." Rania tertawa, yang kemudian diikuti oleh sang ayah hingga dia terbahak-bahak dengan keras.
"Ish, ... puas banget kayaknya?"
"Bagus, bagus. Pertahankan. Kalau bisa yang lama. Jangan di kasihin dulu."
"Ish, ... kasihan papa. Masa udah punya suami aku masih perawan?"
"Astaga!!" Angga menepuk kening, lalu tertawa lagi.
***
"Ran, kayaknya kita harus ke Sentul sekarang nih." Angga kembali menghampiri Rania saat mereka baru saja akan pulang pada lewat tengah hari.
"Kenapa? bukannya besok?"
"Promotor kita dapat kabar Kalau para sponsor maunya hari ini. Sekalian pembukaan balapan lokal."
"Padahal aku bilangnya besok sama Dimitri."
"Ya udah, tinggal bilang lagi. Mau berangkat sekarang. Sebentar, nanti sore juga pulang. Cuma ketemu sponsor doang disana."
"Ya udah."
"Kita pergi dari rumah papa aja, biar kamu nggak usah bolak-balik, kelamaan."
"Oke."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dim, aku ke sentulnya hari ini." pesan yang masuk kira-kira dua jam yang lalu baru saja dia buka setelah berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang cepat sore itu.
Dimitri tertegun menatap layar ponselnya, dimana sebuah pesan masuk dari nomor kontak istrinya.
"Kamu bilang besok?" dia segera membalas.
"Perubahan rencana. Sponsornya mau sekarang, sekalian sama pembukaan balapan sore ini." jawaban dari Rania.
"Nggak bisa besok aja ya?" Dimitri membalas lagi.
"Nggak bisa, papa bilang emang harus sekarang juga. Lagian akunya juga udah pergi. Nih baru sampai di depan sentul." masuk pesan lagi diikuti dengan kiriman foto sirkuit di kota Bogor itu.
"*Apa?"
"Tadi aku langsung pergi dari rumah papa sekalian soalnya*."
"Aku pulang kok, tapi paling sampainya malem banget."
Dimitri tak berniat membalas lagi, dia malah melemparkan ponselnya keatas sofa. Baru saja dirinya akan segera pulang setelah bersusah payah menyelesaikan pekerjaannya hari itu agar bisa menghabiskan waktu bersama, tapi kenyataannya tak sesuai rencana.
Pria itu, memang tak bisa melihat orang lain bahagia! geramnya, dan dia yakin Angga ada dibalik keputusan mendadak ini.
Bagaimana tidak? sejak awal pria itu memang secara terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya kepada dirnya. Walaupun dia menikahkan mereka, tapi sikapnya tetap seperti itu.
Ah, ... dia mertua yang kejam! gerutunya, dan Dimitri menjatuhkan tubuh tingginya diatas sofa.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
uluh uluh, ... kang soang ngambek. 😂😂
cup cup... nanti juga pulang,
mending klik like, komen, sama Kirim hadiah dulu yang banyak. Biar nanti up lagi. siapa tau part edannya muncul ya kan. 😜