All About You

All About You
Dimitri Airlines



🌹


🌹


Rania berjalan dengan hati berdebar, pasalnya dia tak menyangka jika pagi itu akan bertemu lagi dengan Dimitri, si sponsor yang juga kini telah menjadi kekasihnya. Begitu mereka tiba di bandara Soekarno-Hatta pada pagi hari. Menyongsong keberangkatannya bersama tim ke Barcelona, Spanyol untuk menjalani Woman Superbike esok harinya di sirkuit Catalunya, Barcelona.


Dimitri terlihat menunggu di pintu keberangkatan bersama beberapa orang, termasuk ayahnya, yang Rania kenali saat dia mendatangi Nikolai Grup beberapa minggu yang lalu.


"Tumben mereka ngantar ya?" Angga berbisik.


"Hu'um." gadis itu hanya mengangguk.


"Tapi bagus juga sih, biar tahu sebanyak apa orang yang kita bawa."


"Iya."


"Pak?" sapa Angga kepada dua orang ayah dan anak ini yang berdiri di dekat pintu keberangkatan, lalu dia bergantian menyalami keduanya.


"Selamat datang, semoga balapan besok lancar." Satria berucap, yang kemudian menerima uluran salam dari Rania sambil menepuk lembut punggung gadis itu.


"Terimakasih, sudah datang untuk mengantar kami." ucap Angga lagi.


"Tidak apa-apa, kami juga berniat pergi ke Barcelona bersama tim untuk memberikan dukungan." jawab Satria.


"Apa?" Rania bergumam, seraya menatap wajah Dimitri yang terus mengembangkan senyuman. Pria itu bahkan manaikan kedua alisnya memberi isyarat.


"Oh, terimakasih pak sudah repot-repot." Angga berujar.


"Maaf pak, silahkan pesawatnya sudah siap berangkat." seorang petugas bandara memberi tahu.


"Baik." Satria menjawab. "Silahkan Angga," pria itu membiarkan Angga mendahuluinya berjalan menuju pesawat.


"Kamu ngapain?" Rania berbisik. Dimitri berjalan bersamanya, sementara Angga dan Satria juga beberapa anggota crew berjalan di depan.


"Papiku sudah bilang 'kan mau memberikan dukungan kepada kalian? Dan aku akan memberikan dukungan kepada pembalapku." jawab Dimitri dengan cueknya.


"Iya, tapi ngapain kamu juga ikut?"


"Aku kan sponsor kamu, ya ikut lah."


"Kamu bilang banyak kerjaan?"


"Ada Aline, lagipula besok akhir pekan."


Masuk akal juga sih. batin Rania.


"Tapi kan...


"Jangan bicara terus, nanti papa kamu dengar, ketahuan deh kita pacaran. Atau kamu sengaja ya biar ketahuan, terus biar nanti kita dinikahkan?" goda pria itu sambil menusuk-nusuk pundak Rania dengan ujung jarinya, kemudian tertawa.


"Ish, ...


Kemudian Angga berhenti berjalan, menatap sekeliling lorong yang mereka lewati, sepertinya ini bukan jalan yang biasa dilewatinya ketika menuju pesawat. Dan semua crewnya juga Rania pun ikut berhenti.


"Ada yang tertinggal?" Satria bertanya.


"Maaf pak, apa kita tidak salah jalan? biasanya kami tidak lewat sini." tanya Angga.


"Kita menggunakan akomodasi khusus. Mari?" jawab Satria, yang melanjutkan langkahnya menuju pintu pesawat yang sudah terbuka. Dimana seorang pramugari cantik sudah menunggu dengan senyum ramahnya.


"Selamat datang. Selamat bergabung dengan Nikolai Airlines." ucap sang pramugari yang telah menerima dokumen lengkap para penumpang pesawat.


Kemudian mereka semua memasuki pesawat, masih dengan raut heran. Yang kemudian berubah menjadi raut takjub ketika mereka susah berada di dalam pesawat.


Ruangan yang tak seperti pesawat pada umumnya, setiap kursinya terlihat sangat nyaman dengan jaraknya tak serapat pesawat biasanya. Dengan fasilitas persis di hotel bintang lima. Rania bahkan sampai menjatuhkan tas selempang dari genggamannya karena saking terkejutnya.


"Selamat datang di Nikolai Airlines, atau kamu juga bisa menyebutnya sebagai Dimitri Airlines?" pria itu dengan senyum bangganya.


"Dih, sombong... " cibir Rania.


"Silahkan." seorang pramugari lainnya menyambut, dan menunjukan tempat duduk bagi setiap orang.


Seperti yang memang sudah diatur sebelumnya, dimana Satria duduk berdampingan bersama Angga, dan Dimitri yang duduk dengan Rania. Semenatara Galang dan crew yang lainnya duduk di belakang mereka.


Angga bahkan tak berhenti memeriksa keadaan, setiap detik dia menoleh kepada putrinya yang duduk bersama Dimitri. Memastikan Rania berada di tempat yang aman di samping sponsor mereka.


"Kamu baik-baik aja?" dia berbisik kepada Rania dari jarak dua meter dari kursinya.


Gadis itu menjawab dengan anggukan.


"Oke." maka Angga merasa tenang.


"Posesif sekali papamu itu?" gumam Dimitri yang menyandarkan kepalanya.


"Memang, makanya jangan macam-macam, karena pukulannya akan lebih menyakitkan dari pada aku." Rania sedikit tertawa karenanya.


"Mengerikan sekali, nggak heran anaknya suka memukul? ayahnya juga begitu." ucap Dimitri.


"Jadi, masih mau pacaran dengan tukang pukul kayak aku?" cibir Rania, sambil menunjukam kepalan tangannya, setengah mengancam.


"Masih." jawab Dimitri. "Nikah juga lebih bagus, aku bicara pada papamu sekarang, kebetulan papiku juga ada." pria itu menoleh ke arah Angga, dan membuka mulutnya hampir berbicara.


"Aku serius Ran."


"Nggak!" gadis itu sedikit menghentakan kakinya.


"Kalau kamu gitu aku nggak mau ngomong sama kamu lagi!" Rania mengancam.


Dimitri mengulum senyum.


"Aku serius Dim!"


"Baklah, baiklah." pria itu terkekeh.


Pramugari kembali muncul untuk memberikan pengarahan saat pesawat sudah siap lepas landas. Memberitahukan soal tanda-tanda keselamatan, peringatan-peringatan, dan segala yang biasa mereka dapatkan di pesawat pada umumnya.


Semua orang telah mengenakam safetybelt mereka, dan bersiap untuk lepas landas ketika pesawat terasa bergerak.


Tangan Dimitri merayap dan menemukan tangan kecil Rania, kemudian menautkan jari-jari mereka berdua.


"Dim!"


"Diamlah, atau aku bicara pada papamu." bisik Dimitri.


"Dih, ngancam?"


"Tidak percaya?" pria itu memalingkan pandangan ke arah kanan dimana Angga dan Satria berada.


"Iya iya, ish, ... gitu aja ngambek." Rania mengeratkan tautan jari mereka.


"Begitu kan manis." Dimitri kembali merapatkan kepalanya pada sandaran kursi, sementara Rania merengut sebal.


"Santailah, Zaichik. 16 jam itu lama." ucap Dimitri kemudian, seraya memejamkan matanya.


🌹


🌹


Dan tibalah mereka sekitar 16 jam kemudian di Bandara El Prat yang terletak sekitar 12 kilo meter barat daya kota Catalonia, Barcelona, Spanyol waktu setempat, hampir menjelang jam 7 malam.


"Hey, " Dimitri menusuk-nusuk pipi Rania yamg masih terlelap ketika pesawat telah mendarat. Yang kepalanya miring bersandar pada kaca disamping kirinya.


"Hey, Zaichik. Kita sudah sampai. Bangunlah." katanya, yang menunduk dan berbisik di telinganya.


"Hey, Zai..."


"Nghh ..." Rania membuka mata, dan tiba-tiba saja kepalanya bergerak sehingga mengarah tepat kepada Dimitri. Dan seketika saja bibir mereka bertemu tanpa sengaja.


Dimitri tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, segera saja dia mel*matnya dengan cepat. Dan Menyesapnya untuk beberapa detik sebelum melepaskan dan menarik kepalanya kembali.


Kedua bola mata Rania tentu saja langsung membulat, dan napasnya tiba-tiba saja berhenti. Mendapat serangan tiba-tiba dan tanpa diduga membuatnya kehilangan fokus.


Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari, bahwa lagi-lagi pria itu mencuri ciuman darinya.


"Euhh... Dimi!!" Rania berteriak sambil menghentakan kakinya.


"Kamu kenapa Ran?" Angga sudah bersiap turun, begitu juga dengan yang lainnya.


"Ngg...


"Mimpi ya? cuci muka dulu sana!" lanjut Angga yang telah menarik tas selempangnya dari bawah kursi.


"Mm..


Sementara si penjahat hanya terdiam sambil mengulum senyum.


Pramugari muncul dari kabin kemudian membukakan pintu pesawat dan mempersilahkan semua orang untuk turun.


"Terimakasih sudah bergabung dengan Nikolai Airlines, sampai bertemu lagi." ucap pramugari cantik yang mengenakan seragam batik itu.


"Sampai jumpa lagi di penerbangan berikutnya dengan Dimitri Airlines, Zaichik." ucap Dimitri sambil tergelak, yang kemudian bergegas mengejar sang ayah yang sudah lebih dulu keluar dari pesawat pribadi miliknya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Hadeh, Dimi nyari kesempatan mulu 🤭🤭


Ayo ayo...ritualnya dibiasakan. klik like, komen sama kirim hadiah yang banyak ya?


lope lope se Barcelona 😘😘😘


mampir jiga dong ke karyanya otor satu ini. Ceritanya seru dan bikin berdebar-debar 😁😁