
🌹
🌹
Galang memperhatikan gadis berkuncir pita warna warni itu yang duduk sendirian ditaman kampus. Dengan tas dan totebag bawaannya yang isinya sudah berkurang. Dan sesekali menyesap minuman di botol miliknya. Pemuda itu melihat jam di layar ponselnya, sudah waktunya makan siang tapi Amara tidak makan seperti anak baru lainnya.
Eh, benar itu namanya kan? dia kembali melihat daftar nama dan nomor pada catatannya.
"Hey?" Galang mendekat.
Amara sedikit terkejut.
"Kenapa sendirian disini?" dia bertanya.
"Istirahat." jawab Amara.
"Tahu, tapi kenapa nggak kumpul sama yang lain?" Galang memutar bola matanya.
"Nggak apa-apa, masih belum kenal aja." jawab Amara.
"Ck! gimana mau kenal, kamunya terpisah gini?"
"Mm... nggak biasa aja."
"Belum, lama-lama juga biasa."
Gadis itu kebali menyesap minumannya.
"Kamu udah makan siang?"
Amara menggelengkan kepala. "Bekal aku jatuh tadi."
"Kenapa nggak beli di kantin?"
"Lupa nggak bawa uang, soalnya tadi pagi buru-buru dianterin om aku."
Galang terdiam sebentar.
"Ya udah, ikut aku ke kantin." ucapnya kemudian.
"Mau apa?"
"Makan. Kamu kan belum makan gara-gara bekalnya jatuh tadi pagi kena tas aku kan?"
"Nggak apa-apa kak,"
"Ospeknya sebentar lagi lanjut. Jangan sampai kamu pingsan gara-gara nggak makan, nanti panitia yang disalahin."
"Nggak apa-apa, aku...
"Udah, ayo ikut." pemuda itu segera menarik pergelangan tangan Amara.
"Tapi kak?"
"Udah, jangan banyak protes. Salah aku jadinya kamu nggak makan." Galang dengan tergesa menarik gadis itu kedalam kantin.
🌹
🌹
"Si oneng belum beres Ping?" Angga membereskan pekerjaannya. Tumpukan nota dan kwitansi pembayaran dia masukan ke dalam sebuah tas untuk dia bawa pulang.
"Belum kayaknya beh."
"Yaelah, udah waktunya pulang juga?" pria itu melihat jam tangannya.
"Ran?" beberapa saat kemudian dia menghampiri putrinya yang masih disibukan memperbaiki mesin mobil yang sudah tiga hari ini ditanganinya.
"Hmm... " Rania hanya menjawab dengan gumaman.
"Udah sore, beresin besok lagi aja."
"Tanggung Pah, tinggal masang aki sama karburatornya. Lagian ini mau diambil sama yang punya sebentar lagi."
"Lah, masih lama dong?"
"Bentaran doang. Papa kalau mau pulang ya duluan aja. Aku sekalian nunggu yang punya ngambil. Kalau nggak aku beresin Sekarang mau kapan? besok udah siap-siap mau pergi lagi kan?"
"Iya juga. Ya udah, papa duluan deh. Nanti kuncinya kasih ke si Aping di kosannya. Dia juga udah pulag duluan."
"Oke papa." jawab Rania sebelum sang ayah pergi meninggalkannya sendirian di dalam bengkel pada sore itu.
***
Dimitri melewati bengkel yang hampir tutup setelah pertemuannya dengan klien di restoran sekitar. Melihat hanya CBR merah saja yang terparkir disana, tanpa ada yang lain. Dan dia hafal milik siapa motor tersebut. Maka pria itu memutuskan untuk berhenti. Melirik dua cup capucino cincau dan makanan di kursi penumpang yang dia beli pada saat perjalanan tadi.
Dia bisa marah kalau aku datang tiba-tiba kan? Dimitri melihat sekeliling. Tapi tempat itu tampak lengang, tak ada kendaraan lain selain motor merah yang biasa Rania kendarai.
Kemudian Dimitri turun dan mengambil minuman tersebut. Dia berjalan masuk, meski ragu tapi tetap melangkahkan kakinya kedalam bengkel yang rolling doornya terbuka sedikit.
Terdengar suara peralatan berdenting di ujung sana. Dan sebuah mobil yang kap depannya terbuka. Dimitri terus berjalan masuk tanpa suara, mengantisipasi keadaan jika saja bukan gadis itu yang berada disana.
Namun pria itu tertegun saat jaraknya sudah dekat, dan tampak seseorang yang berdiri membelakanginya. Tampak tengah memperbaiki sesuatu. Terkadang dia menunduk dan membungkuk untuk melihat benda di depannya agar lebih jelas.
Dimitri hafal persis hanya melihat bagian belakangnya saja. Meskipun gadis itu mengenakan jumpsuit khusus untuknya bekerja.
"Haaaaahhhh!!" Rania tampak menghembuskan napas seraya merentangkan kedua tangannya keatas. Sepertinya dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Hal itu tampak saat gadis itu menutup kap mobil dan membereskan peralatan kerjanya.
Dimitri mendekat bersamaan dengan Rania yang memutar tubuh. Dan hal tersebut membuat gadis itu terkejut sehingga berteriak dan menjatuhkan peralatan yang dibawanya.
"Bikin kaget!" dia melemparkan kain lap dalam genggamannya hingga mengenai kemeja Dimitri dan jatuh ke lantai.
"Kamu berlebihan." pria itu terkekeh.
"Aku tahunya sendirian disini, tahu-tabu ada orang, ya kaget lah." Rania bersungut-sungut.
"Maaf." Dimitri terkekeh lagi.
"Lagian dari mana kamu?"
"Habis ada pertemuan di sekitar sini. Sekalian saja aku mampir."
"Kamu ish, ... kalau ada papa gimana?" Rania setengah berlari ke arah pintu dan melihat keluar, kalau-kalau ada orang disana.
"Aku tahu jam segini papamu sudah pulang, makanya aku datang." Dimitri mengikuti langkahnya.
"Tapi tetap aja." Rania dengan raut tak senang.
"Aku hanya ingat kamu pas tadi lewat di mini market dan lihat ini." Dimitri mengangkat minumam yang dibawanya.
"Capucino cincau!!" tiba-tiba saja raut wajah gadis itu berubah.
"Sebentar aku bersih-bersih dulu." Rania segera menghambur ke bagian dalam bengkel untuk membersihkan diri.
***
"Selain servis, bengkel ini juga melayani custom?" Dimitri melihat sekeliling ruangan yag cukup besar itu. Ada beberapa mobil dan motor yang sudah selesai perbaikan, dan ada juga mobil dalam proses modifikasi.
"Custom?" Rania menyesap minuman dingin kesukaannya itu dengan gembira. Dia duduk diatas kap mobil yang baru selesai di perbaiki.
"Seperti itu." pria itu menunjuk sebuah mobil yang proses pengerjaan belum selesai.
"Oh, modifikasi? iya."
"Personal atau perusahaan?"
"Kadang ada juga dari perusahaan. Banyaksn sih dari tim balap."
"Jadi tim balapan kamu bukan yang pertama ya?"
"Bukan. Sebelum ini papa udah menangangani modifikasi dari tim balap mobil. Katanya di sponsori juga sama perusahaan kamu ya?"
"Oh ya? Aku nggak tahu soal itu. Mungkin itu om Andra yang urus."
"Iya, emang sama om Andra."
"Hmm... pantas."
"Kenapa?"
"Nggak heran kamu kayak gini." dia mengarahkan tangannya pada gadis itu. "Kerjaan orang tua kamu berpengaruh juga ternyata ya?"
"Hmm... aku dari kecil main disini, udah akrab sama semua yang papa kerjain."
"Apakah papamu juga pembalap?"
"Bukan."
"Ini lucu sekali, aku pikir papamu juga pembalap."
"Nggak, cuma gara-gara lihat balapan di tivi dan bebebrapa kali diajak papa nonton di sirkuit."
"Hmm... dan dampaknya sangat besar untuk kamu ya?"
"Ju'mat besok kamu berangkat ke Catalunya 'Kan?" Dimitri berhenti saat jarak mereka hanya dua langkah saja.
"Iya, besok pagi." jawab Rania, yang masih menggenggam cup yang berisi es batu, dan mengguncang-guncangnya sehingga timbul suara yang cukup mengganggu.
"Balapannya Sabtu?"
"Iya, babak kualifikasinya sabtu sore waktu setempat."
"Berarti balapan aslinya hari Minggu?"
"Iya."
"Setelah itu?"
"Ke Jerman, Belanda, langsung ke Cheznya."
"Nggak pulang dulu?"
"Nggak, soalnya waktunya cuma seminggu. Nggak akan ada waktu pulang pergi plus latihan."
"Hmmm...
"Kenapa?"
"Berarti kamu pergi sebulanan ya?"
"Ngg ... kira-kira begitu lah."
"Lama ya?"
"Lumayan."
"Aku nggak bisa ngikutin kamu kesana, kerjaan aku ...
"Nggak usah, jauh juga. Doain aja aku biar jadi juara terus." sergah Rania.
"Itu sudah pasti." Dimitri tertawa.
Lalu mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Aku pasti kesepian." Dimitri tertawa lagi.
"Nggak akan."
"Nggak ada yang bisa aku ganggu seperti sekarang. Kalau aku keluyuran malam-malam pasti ketemu kamu dijalan."
"Ya keluyuran aja, nanti ketemu orang lain."
"Nggak mungkin."
"Kenapa nggak mungkin?"
"Rasanya beda."
Rania mencebikan mulutnya.
"Serius. Padahal aku sering keluar malam, tapi setelah ketemu kamu jadi malas."
"Masa?"
"Beneran."
"Kenapa?"
"Nggak tahu."
"Aku sebelum dan setelah ketemu kamu tetep aja gini."
"Itu bedanya kamu dan aku."
"Bedanya apa?"
"Bedanya aku punya perasaan ke kamu, tapi kamu nggak."
Rani terdiam.
"Karena kalau pakai perasaan itu semuanya jadi berbeda."
"Masa?"
"Iya."
"Contohnya?"
"Aku dan kamu." Dimitri semakin mendekat, dan jarak mereka semakin menghilang. Kini dia berada tepat di depan gadis itu dalam jarak beberapa jengkal saja.
"Perasaanku besar kepadamu, tapi kamu nggak sebesar itu, bahkan mungkin tidak ada." ulang Dimitri, dan dengan perlahan dia terus mengikis jarak diantara mereka.
"Kan aku udah bilang...
"Just tell me, apa yang sekiranya bisa membuat perasanmu berubah kepadaku Rania? Bagaimana caranya aku bisa membuatmu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasaka kepadamu? just tell me."
"Nggak ada, dan aku nggak tahu. Aku belum pernah merasakan hal yang kamu sebutkan tadi." meskipun dia kembali merasakan desiran-desiran halus itu lagi saay menapat wajah tampa dihadapannya yang terus mendekat.
Dimitri terdiam lagi, namun pandangan mereka tak teralihkan satu sama lainnya. Dengan desiran-desiran halus di dalam hati. Rania bahkan mengerutkan dahi demi perasaan yang saat ini tak dia mengerti.
"What?"
"Rasanya aneh."
"Apa?"
"Hatiku... " dia merasa dadanya berdebar tak karuan.
"Kamu merasakan sesuatu?"
"Mungkin."
"Apa?"
"Aku nggak tahu."
"Mungkinkah seperti yang aku rasa?"
"Mungkin."
Dan jarak itu semakin menghilang seiring dengan tubuh Dimitri yang semakin merapat. Kemudian dia agak menunduk untuk mencapai wajah yang jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja.
"Jadi kenapa kita tidak mencoba sesuatu untuk membuktikannya?" bisiknya, walau dengan ragu-ragu dan dia membayangkan gadis itu akan menendangnya seperti yang dia katakan tempo hari.
Rania terdiam, entah menantang ataukah menunggu, tapi dia tak membuat pergerakan seperti biasanya.
Dan Dimitri meneruskan aksinya, dia hampir saja meraih bibir menggoda milik Rania saat tangan gadis itu membekap mulutnya.
"Kenapa harus ada pembuktian? apakah jika kita memiliki perasaan kepada seseorang harus selalu dibuktikan dengan perbuatan?"
Pria itu mengerutkan dahi.
"Aku bahkan masih mencoba memahami apa yang aku rasakan. Apakah ini benar atau salah, apakah tepat atau tidak."
"Karena aku takut ini hanya perasaan sesaat yang singgah kemudian pergi begitu saja hanya karena sebuah keterpaksaan." lalu dia melepaskan tangannya dari mulut Dimitri.
"Aku lupa kalau kamu nggak seperti gadis-gadis yang pernah aku temui?" Dimitri kemudian terkekeh dan segera menarik kepalanya.
"Memangnya gimana biasanya?"
Pria itu menggelengkan kepala sambil menahan senyum.
"Lebih dari aku ya?"
"Jangan dibahas." dia kemudian tertawa.
"Dih, ... pantesan nyosor-nyosor melulu?"
"Diamlah, nanti aku merasa tidak tahan dan malah membuatmu memukulku lagi."
"Dasar!"
Dimitri kemudian tertawa terbahak-bahak.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Ayo ayo, like komen dan hadiahnya dikencengin lagi, biar makin semangat update. ðŸ¤ðŸ¤