
🌹
🌹
Amara berlari keluar dari kamarnya saat mendengar suara mesin mobil yang sangat dia hafal. Mercedes-Benz s600 pullman berwarna hitam yang dia kenali sebagai milik Dimitri sudah terparkir di depan rumah bertingkat dua tempatnya tinggal.
Dimitri turun setelah mematikan mesin mobilnya, dengan penampilan tak serapi tadi pagi. Dasinya sudah melonggar, dan kemejanya agak berantakan. Rambutnya pun tak se klimis saat dia berangkat untuk memulai hari. Tampak sekali dia mengerjakan banyak hal, hingga terlihat berantakan karena kelelahan seperti itu.
Sudah hampir satu bulan lamanya dia disibukan dengan pekerjaan. Beberapa pertemuan dengan klien untuk urusan kesepakatan kerja bahkan datang silih berganti, dan berakhir pada Jum'at sore itu. Dia bahkan tak sempat melakukan hal lain selain bekerja.
"Kakak dari kantor?" Amara langsung menyambutnya diambang pintu.
"Hmm... " Dimitri menarik Dasi dan menggulungnya dalam kepalan tangan, sambil berjalan masuk kedalam rumah. Lalu dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa pertama yang dia lihat.
"Nenek sama abah kemana?" dia melihat sekeliling yang sepi.
"Nggak tahu, katanya ada undangan."
"Pergi ke undangan?"
"Iya."
"Kamu nggak ikut?"
"Nggak. Malu." Amara tertawa.
"Malu." Dimitri mengulang kata-katanya.
"Kakak mau minum?" tawar gadis itu kepadanya.
"Boleh, makan juga kalau ada. Lapar."
"Aku masakin mau?"
"Boleh kalau nggak repot."
"Nggak."
"Oke."
Dengan riang gadis itu melenggang kedapur, setelah memberikan Dimitri sejelas air minum. Mengeluarkan beberapa jenis bahan makanan dari dalam kulkas. Kemudian mengolahnya seperti yang dia bisa.
"Bagaimana kuliahmu Ra?" Dimitri mengikutinya ke dapur, kemudian duduk di kursi makan tak jauh dari Amara.
"Lancar."
"Sudah dapat teman baru?"
"Udah."
"Pacar baru?" Dimitri tergelak.
"Nggak ada."
"Masa?"
"Hu'um. Nggak ada."
"Masa nggak ada kakak kelas yang naksir?"
"Kalau itu aku nggak tahu."
Dimitri tertawa.
"Kakak sendiri Gimana?"
"Apanya?"
"Sekarang kakak udah punya pacar?" dia meletakan piring diatas meja, berisi sayuran yang sudah matang hasil olahannya.
"Kamu selalu tanya itu kalau kita ketemu." pria itu tergelak.
"Habisnya aku penasaran,"
"Kenapa penasaran?"
"Nggak apa-apa, cuma ingin tahu." Ara kembali pada pekerjaannya.
Agar aku bisa mengendalikan perasaanku. batinnya.
"Kakak mau cobain?" dia mengambil satu sendok ayam dalam potongan kecil-kecil dari dalam wajan.
"Apa yang kamu masak?" Dimitri bangkit dari kursinya, kemudian menghampiri gadis itu.
"Ayam paprika. Resep papa yang aku pelajari dirumah."
"Resep papa?" Dimitri menaham senyum.
"Iya," gadis itu mengangguk.
"Papamu masih suka masak kalau dirumah?"
"Masih, eh... sekarang nggak tahu deh, kan aku udah tinggal disini. Tapi kayaknya masih, ini juga masakan favoritnya Mommy kan, adik-adik juga. Mereka nggak mau ayam paprika buatan orang lain selain buatan papa, karena rasanya beda." Amara menyodorkan sendok berisi potongan ayam bercampur paprika berwarna warni itu ke depan mulut Dimitri.
"Masa? seenak itu ya masakan om Arfan?"
"Pastinya."
"Bangga sekali kamu itu."
"Memang."
Dimitri menatap wajah manis Amara yang dia kenal sejak bayi. Si anak papa tapi mandiri dengan segala yang dia bisa. Hasil didikan Arfan yang membuatnya mampu menguasai banyak hal, yang kini kuliah mengambil jurusan tata boga dan perhotelan. Persis sepeti bisnis yang dipilih oleh sang ayah.
"Ayo, cobain." gadis itu mendekatkan sendok ke mulut Dimitri, lalu menjejalkannya ketika pria itu membuka mulutnya perlahan.
Dimitri mengunyahnya dengan perlahan, dan matanya berbinar seketika saat cita rasa masakan gadis itu di cecap oleh lidahnya.
"Enak." katanya, sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Masa?"
"Iya."
"Beneran? ini aku berimprovisasi. Aku tambah bahan lain yang nggak papa pakai. Hasil eksperimen aku di kampus." jelas Amara.
"Hmm... kamu akan jadi koki yang hebat nanti." puni Dimitri kepadanya.
"Masa?" Amara dengan kedua pipinya yang merona.
"Serius."
Gadis itu tersenyum malu-malu.
"Apa sudah matang? kakak lapar." ucap Dimitri kemudian.
"Udah. Mau makan sekarang?" tawar Amara kemudian.
"Iyalah, perut ini sudah keroncongan dari tadi. Makanya pulang kesini, maksudnya mau minta makan." jawab Dimitri.
"Tiap sore juga kakak pulangnya kesini kan?"
"Memang, kan minta makan." lalu mereka tertawa saat memulai acara makannya. Dengamln gelak tawa yang memenuhi fuang makan pada rumah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dimitri menunggu dengan gelisah di depan televisi yang mulai menayangkan acara kompetisi balapan sepeda motor wanita di sebuah negara Eropa, berdekatan dengan negara kakeknya. Menunggu saat-saat paling mendebarkan ketika motor dan sosok yang sangat dia kenali terlihat memacu kendaraannya dengan serius, di lintasan motorsport Benteng Grozny Autrodom, Chechnya.
"Camilan?" Amara menawarinya sekitar makanan ringan untuk menemani pria itu menonton.
"Minumnya mau apa?" gadis itu bertanya lagi.
"Apa aja boleh." Dimitri tanpa menoleh. Jelas sekali perhatiannya tersita seluruhnya oleh balapan di televisi.
"Baiklah." Amara kembali ke dapur untuk mengambil dua minuman kaleng dari dalam lemari pendingin, lalu kembali dengan cepat.
Mendapati pria itu yang serius menonton balapan, dan sesekali berteriak tak sabar.
"Ini balapan perempuan ya?" Amara kembali mengajaknya berbicara.
"Iya."
"Superbike?" Tanya Amara lagi.
"Hmm...
"Aku ingat, ini yang sering papa bicarakan sama mommy."
"Yeah, semua orang sepertinya sering membicarakan soal balapan ini akhir-akhir ini." pria itu dengan bangganya.
"Ini yang kakak sponsori itu kan?"
"Iya."
"Yang mana orangnya? aku belum tahu."
"Serius?" Dimitri menoleh sebentar.
"Asli."
"Yang ini." pria itu memperbesar tampilan layar televisi, dan tampaklah pembalap dengan suit khas yang di dominasi warna merah dan putih. Dan seketika rasa rindu menyeruak dalam dada.
"Itu...
"Ayo Ran, kamu pasti bisa. Harusnya kualifikasi ini lebih mudah." gumam Dimitri.
"Kualifikasi?"
"Iya, ini baru kuakifikasi untuk menentukan posisi balapannya besok."
"Jadi belum ya?"
"Belum. Tapi ini juga penting, soalnya akan menentukan posisinya akan menguntungkan atau tidak. Dan ini juga bisa menambah nilai untuk di akumulasikan di balapan terakhir nanti."
"Kakak hafal bener soal balapan?"
"Harus. Kan kakak sponsornya."
"Oh, iya juga ya."
"Ayolah Ran, sedikit lagi!" katanya dengan gemas saat gadis itu melesat di lintasan.
"Yah!!" pria itu kemudian bereaksi, dan dia hampir saja meloncat dari tempat duduknya saat Rania bersama pembalap lainnya melewati garis finish.
Kemudian tampak daftar di layar yang menunjukan posisi semua pembalap, dan gadis itu menduduki urutan ke lima.
Tidak terlalu mengecewakan, tapi mengingat di dua balapan terakhir Rania di Jerman dan Belanda finish di posisi dua, seharusnya gadis itu bisa lebih baik lagi.
"Ada apa denganmu?" Dimitri bergumam lagi.
Dia mengira terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu. Dan ingatannya kembali pada saat terakhir mereka berpisah.
Dia tertegun.
Apa itu masih berpengaruh kepadanya? padahal kejadiannya sudah dua minggu, seharusnya tidak menjadi masalah kan? Masa segitu saja dia bisa terpengaruh? batinnya, dan matanya masih tertuju pada layar televisi.
Tidak mungkin seperti itu kan?
Eh tapi, bagaiamana kalau iya? duh, batinnya lagi, dan dia berpikir keras.
Tiba-tiba saja Dimitri merasa bersalah.
Kalau benar-benar gara-gara itu, ... bagaimana ya? hatinya bergumam lagi.
Ah, ...
Pikirannya kacau dan dia tak dapat menahan diri. Dimitri kemudian bangkit dan meraih kunci mobilnya.
"Kakak mau pergi?"
"Iya."
"Kemana?"
"Ada urusan."
"Nggak nunggu abah sama uyut dulu?"
"Nggak, bilang aja tadi kakak kesini."
"Oke."
Dan pria itu segera pergi dengan mobilnya.
🌹
🌹
"Cukup bagus Ran." Angga menyerahkan catatannya kepada Galang, yang segera membereskan segala hal bersama crew lainnya. Sesi kualifikasi pada tengah hari itu memang agak berat. Selain lintasan yang belum dia kenal juga karena cuaca sedang sangat dingin. Akibat musim dingin ekstrim yang sedang dialami negara Chechnya, yang membuat semua orang harus sedikit berhati-hati melakukan persiapan.
"Tapi itu di posisi lima Pah." Rania turun dari motornya.
"Nggak apa-apa, posisinya cukup untuk membuat yang lain lengah. Jadi mereka mengurangi kewaspadaan terhadap kamu. Ini strategi."
"Serius, papa yakin strategi itu akan berhasil?"
"Iyalah, dua balapan terakhir kemarin kita pakai strategi lama, dan itu membuat mereka lebih waspada kepada kamu. Tapi dengan posisi ini mereka juga akan merubah strategi dan memilih mewaspadai pembalap lain dari pada kamu. Dan itu menguntungkan, sorotan terhadap kita akan berkurang."
Rania mengangguk-anggukan kepalanya. Ide-ide sang ayah memang sangat brilian, dan itu terbukti selalu berhasil. Contohnya saja dua balapan Jerman dan Belanda, yang keduanya dia menangkan dengan mudah setelah memantapkan posisi startnya di urutan terdepan. Tapi bukan tidak mungkin pembalap lain akan mulai mewaspadainya juga jika hal itu tetap dia lakukan.
Dan perubahan yang dilakukan Angga memang ada benarnya juga. Posisi ini akan membuatnya sedikit santai sambil menunggu kelengahan rival-rivalnya yang semakin hari semakin tangguh saja.
"Baiklah, kita harus cepat kembali ke hotel." ucap Angga kemudian yang kembali mengenakan mantel musim dinginnya.
"Oke." Rania menurut, namun sebelum itu dia menatap sekeliling sirkuit, juga ke arah bangku penonton, kalau-kalau dia akan menemukan sosok yang di kenalnya tiba-tiba berada disana.
Tapi nihil, bahkan di balapan terakhir ini, Dimitri sepertinya tak akan muncul, sama seperti dua balapan sebelumnya. Yang dikiranya pria itu akan hadir untuk memberinya dukungan. Tapi tidak, dia bahkan tak menghubunginya sekedar untuk memberi semangat.
Rania mendengus kasar. Sepertinya dia mulai mengharapkan kehadiran pria itu? kedatangannya yang tiba-tiba, dan setiap reaksi yang ditunjukan membuatnya merasa berarti. Walaupun keberadaan sang ayah dan crew juga sahabatnya membuat dia bersemangat, tapi kini dia mulai merasa ada yang kurang tanpa Kehadiran pria asing itu.
Halah, ... gue emang udah gila nih kayaknya. Rania terkekeh sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
nah Lu.... mulai butuh. 🤣🤣🤣
like komen sama hadiahnya masih aku tunggu gaess.
lope lope se Autrodom 😘😘