
🌹
🌹
Amara menatap puas dua kotak makan yang baru selesai dia siapkan. Berisi nasi, selada dan semacam ayam goreng yang di bubuhi sambal. Bukan sambal dalam arti yang sesungguhnya, tapi hanya bumbu bawang yang di goreng dan dihaluskan.
"Kalau uyut mau udah aku pisahin disini ya?" gadis itu menunjukan piring di sisi lainnya.
"Iya, rajin bener." puji Lita kepada Amara. "Kok bawanya dua?"
"Iya, siang ini mau ketemu kak Dim, sambil istirahat aja katanya. Kebetulan aku masuk siang, ya udah." dia menutup kotak makan lalu memasukannya kedalam totebag.
"Mau pergi sekarang?" Lita bertanya.
"Iya. Sebentar lagi kak Dim istirahat. Biar dia nggak Nunggu lama."
"Oke. Hati-hati."
"Siap." gadis itu mencium punggung tangannya sebelum pergi.
***
Taman kota di dekat kampus menjadi pilihan Amara untuk menunggu Dimitri. Sesekali dia melihat layar ponselnya untuk memastikan bahwa dirinya tak terlambat. Atau sesekali juga memeriksa kotak makan yang dibawanya, memastikan juga keadaan dan isinya sebaik tadi.
Dadanya berdebar tak karuan, dan dia begitu bersemangat. Menunggu kak Dimnya seperti menunggu sebuah keajaiban.
Ah, ... rasanya dia sudah tak sabar. Ingin membicarakan banyak hal kepada pria itu, terutama tentang perasaannya, yang telah dia pendam selama bertahun-tahun.
Kak Dim marah nggak kalau aku bilang? aku harap nggak ya? gadis itu tersipu-sipu. Dia berjalan mondar-mandir di dekat bangku taman dengan senyum yang sesekali tersungging.
"Ugh!!" hampir saja Amara menabrak seseorang.
Pria dengan kemeja fitt in berwarna hitam dengan bagian tangannya yang digulung hingga ke sikut. Dengan aroma tubuh yag sangat dia hafal sejak kecil.
"Kakak?" matanya berbinar ceria.
"Lama menunggu?" Dimitri dengan senyuman khasnya. Memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Nggak, baru aja." jawab Amara.
"Oke." mereka duduk di kursi terdekat.
"Kakak nggak lagi sibuk? pas aku telfon tadi kayaknya lagi ngerjain sesuatu?"
"Sudah beres. Kebetulan sore ini mau ke Jakarta."
"Oh ya? mau apa?"
"Ada pekerjaan."
"Kan weekend?"
"Ada kerjaan denga mama."
"Mama Fia?"
"Iya."
"Kerjaan apa?"
"Di Fia's Secret."
"Oh, ... majalah ya?"
"Iya."
Amara mengeluarkan dua kotak nasi yang dia bawa.
"Banyak amat?" Dimitri terkekeh.
"Kan sama aku."
"Tapi nggak pedas kan?"
"Nggak. Sesuai permintaan kakak."
"Siip." kemudian mereka mulai makan.
"Jadi kakak sekarang ikut kerja di Fia's Secret juga?"
"Nggak, cuma mengantar seseorang."
Amara menelan makanannya dengan cepat.
"Siapa?"
"Rania."
"Rania?"
"Iya."
"Rania yang pembalap itu?" gadis itu bertanya.
"Iya."
"Mau apa?"
"Pemotretan."
"Untuk majalah?"
"Iya."
"Dia jadi model?"
"Hmm.. " Dimitri hanya mengangguk karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
Amara terdiam sebentar.
"Kenapa kakak yang antar?"
"Sengaja."
"Kenapa sengaja?"
"Nggak apa-apa. Sengaja aja."
"Mmm..
"Ayo makan lagi? bukanya kamu harus kuliah sebentar lagi?"
"Kakak kenal deket sama dia?" Amara kemudian bertanya lagi.
"Dekat."
"Sedekat apa?"
"Lumayan." pria itu tersenyum.
Amara merasakan dadanya bergemuruh, melihat senyum bahagia Dimitri membuatnya tiba-tiba saja hilang selera.
"Sebentar lagi dia kesini." pria itu menatap jam di pergelangan tangannya. "Nanti kakak kenalkan ya?"
Tubuh Amara menegang seketika.
"Kakak, aku mau bilang sesuatu." gadis itu segera berbicara.
"Apa? Bicaralah."
"Aku, ... aku suka sama kakak." ucapnya, yang seketika menghentikan kegiatan makan Dimitri.
"Apa?"
"Aku suka sama kak Dim." Amara mengulangi ucapannya.
"Oh ya?"
Gadis itu menganggukan kepala.
"Kakak juga suka kamu. Habisnya kamu lucu." Dimitri mencubit pipi gadis itu seperti biasanya, sambil tertawa.
"Bukan suka yang itu." Amara menepis tangan pria itu.
"Terus apa?"
"Ng ...
Lalu deru suara mesin terdengar mendekat, dan berhenti tak jauh dari tempat mereka bercakap-cakap.
Dimitri segera melirik karena hafal dengan suara mesin tersebut. Kemudian tersenyum saat Rania membuka helmnya lalu berjalan mendekat.
"Udah lama?" gadis itu menyapa terlebih dahulu.
"Tidak juga." senyum Dimitri semakin lebar.
"Oke." Rania balas tersenyum, kemudian melirik ke arah gadis di seberang kekasihnya.
"Oh, Kenalkan. Rania, ini Ara." Dimitri mengenalkan mereka berdua.
"Hai. Aku Rania." dia segera mengulurkan tangannya. Sementara Amara terdiam menatapnya dari atas kebawah.
Gadis dengan rambut kecokelatan berpenampilan berbeda. Mengenakan skinny jeans dan jaket kulit berwarna hitam, dengan sepatu kets berwarna putih.
Rania melirik ke arah Dimitri, dia tahu hari ini pria itu akan membawanya bertemu dengan seseorang, tapi ini terasa agak canggung.
Dan sesaat kemudian Amara menyambut uluran tangannya.
"Aku Ara, ...
"Dia keponakan aku, Zai. Anaknya om Arfan, ingat?" timpal Dimitri saat Amara hampir meneruskan kalimatnya.
"Om Arfan suami kakak kamu?" ucap Rania.
"Benar."
Gadis itu mengangguk-angggukkkan kepalanya.
"Ara, ini pacar kakak. Kamu pernah tanya kan? Ini orang nya." Dimitri dengan senyuman manisnya, seraya merangkul pundak Rania.
Cinta pertama.
Yang dia kenal sejak kecil, yang selalu mengajaknya bermain, dan memperlakukannya dengan manis. Yang Amara nantikan kedatangannya selama bertahun-tahun, selama dia menempuh pendidikan di Rusia.
Gadis itu menggigit bibirnya keras-keras untuk menahan air mata yang hampir berkumpul di pelupuk matanya.
Sementara Rania dan Dimitri saling berpandangan.
Namun suara dering ponsel dalam saku jaket Rania menginterupsi.
"Ya?"
"Kakak dimana? sebelum ke Jakarta mau nonton Kak Ega dulu nggak?" tampaknya Amel yang menelfon.
"Iya, sebentar."
"Buruan. Sebentar lagi kita berangkat!" terdengar Adel berteriak dari belakang.
"Iya, bawel!!" kemudian percakapan diakhiri.
"Amel sama Adel ngajak nonton Ega dulu." ucap Rania kepada Dimitri.
"Nonton apa?"
"Sekarang Ega ada pertandingan bola."
"Oh ya?"
Rania menganggukan kepala.
"Kalau begitu, ayo kita menonton dulu? sebelum berangkat ke Jakarta."
"Mau nonton?"
"Iya."
"Yakin?"
"Yakin."
"Ya udah."
"Oke. Ara, kakak pegi dulu ya? Makasih makan siangnya enak!" pria itu mengusap puncak kepalanya dengan lembut seperti biasa.
Amara tak menjawab, tenggorokannya terasa seperti tercekat dan dia tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun.
"Pergi dulu ya? kuliah yang rajin." pamit Dimitri kepadanya.
"Bye Ara." dan Rania melambaikan tangan.
Kemudian kedua orang itu meninggalkan Amara dengan langkah bergandengan dan sesekali terdengar gelak tawa diantara keduanya. Hingga akhirnya mereka pergi, dengan Rania yang mengendarai motornya dan Dimitri mengikuti dari belakang dengan mobil mengkilatnya.
Gadis itu merasakan dadanya sesak, lututnya bergetar dan kakinya lemas. Dia hampir saja ambruk dengan tangisan lirih keluar dari mulutnya.
🌹
🌹
"Oke, kita ketemu disana ya? Jangan lupa, motornya lu service dulu." seorang temannya hampir saja berpamitan, setelah menerima pembayaran untuk pendaftaran turnamen motorcross yang akan diikuti Galang.
"Lu kayak lagi ngomong sama amatiran." Galang menjawab.
"Eh, gue lupa. Lu crosser profesional yang lagi facum untuk ngedukung sahabatnya balapan di laga internasional." pemuda itu terkekeh.
"Sa aja lu."
"Ya udah, sampai ketemu disana ya?"
"Oke." Galang menghidupkan motornya, lalu keuar dari kampus.
***
Dia berhenti saat lampu merah menyala di prapatan sebuah taman kota. Menunggu beberapa detik hingga lampu tersebut kembali berubah hijau. Kemudian dia kembali melajukan motornya, namun dalam kecepatan pelan. Hingga ekor matanya menangkap pemandamgan tak lazim di taman kota yang dia lewati.
Ketika melihat seorang gadis yang berjongkok memeluk lututnya sendiri.
Galang mengerutkan dahi. Sepertinya dia kenal gadis itu, dan kemudian memutuskan untuk berhenti.
"Ara?" Galang manggil saat jaraknya hanya dua meter saja. Dia meyakinkan pandangannya, kemudian ikut berjongkok.
Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan.
"Kamu kenapa?" Galang memberanikan diri untuk bertanya.
Namun gadis itu malah terisak.
"Kamu nangis? ada yang jahatin kamu?" pemuda itu mendekat.
Amara malah semakin terisak, kemudian tangisan pecah begitu saja.
"Eh?"
"Kakaaaaakkkk!!! aku patah hati!!!" katanya, yang tiba-tiba saja menjatuhkan kepalanya di pundak Galang.
"Apaan?" pemuda itu tentu saja terkejut, mendapati adik kelasnya yang bersikap demikian. Karena selama ini tak ada yang berani sedekat itu kepadanya selain Rania. Galang selalu menciptakan benteng yang kokoh diantara dirinya dengan siapapun, kecuali dengan sahabatnya seja kecil.
"Huhu... cintaku ditolak mentah-mentah, padahal aku udah berusaha keras. Aku suka dia dari kecil. Huaaaaaa...." tangis Amara semakin menjadi.
"Mmm...
"Tapi ternyata dia udah punya pacar, aku terlambat. Huwaaaaaa.... " lanjut Amara, dan semakin menyurukan wajah di pundak kakak kelasnya itu.
Galang terpaksa memeluknya untuk menenangkannya. Sementara orang-orang yang lewat menatap curiga. Melihat dua sejoli yang sama-sama berjongkok dan si gadis menangis.
***
"Jadi kamu habis nembak cowok?" Galang bertanya saat keadaannya sudah tenang. Kini mereka duduk bersila siatas rumput taman kota yang rindang.
Amara menganggukan kepala, lalu meneguk air mineral yang dibawakan pemuda itu untuknya.
"Ditolak?"
Amara mengangguk lagi. "Dia udah punya pacar. Padahal aku udah nunggu dia dari kecil." adanya, masih terisak.
"Duh," keluh Galang. "Perih tuh pasti. Ditolak sahabat sendiri aja perih, apalagi ditolak orang yang udah ditunggu sejak keci."
"Eh, sama aja ya? hahaha." Galang tergelak.
"Kakak pernah?"
"Uh, ... kamu nggak sendirian."
"Masa?"
"Iya."
"Terus gimana?"
"Nggak gimana-gimana, biasa aja."
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah. Masa harus ngamuk-ngamuk? nggak level banget."
"Emang kakak nggak sedih?"
"Sedih lah, mana ada ceritanya ditolak cinta bisa happy aja."
"Terus kenapa kakak ngomongnya gitu?"
"Ya habisnya, masa mau maksa? kalau dia nggak suka sama kita ya udah. Ngapain dipikirin? Di dunia ini ada banyak hal penting dari pada cuma mikirin rasa sakit hati karena di tolak cinta."
Amara terdiam.
"Banyak hal positif yang bisa kamu kerjain. Terus lama-lama juga nanti lupa sama sakitnya."
"Emang kakak bisa lupa?"
"Belum. Masih proses. Tapi harus tetap semangat, karena kita lebih berarti daripada sekedar mencintai seseorang yang nggak mencintai kita."
Gadis itu menatapnya lekat-lekat. Isakannya bahkan sudah terhenti seiring percakapan mereka yang telah berlangsung.
"Jadi, Semangatlah. Karena hidup kamu masih panjang. Akan ada kisah-kisah lain yang menunggu untuk kamu eksplorasi. Jatuh cinta, patah hati, bahagia juga sedih. Terus jatuh cinta lagi. Gitu aja terus sampai kamu menemukan orang yang tepat, dan akhirnya kamu bisa lupa sama sakitnya waktu ditolak cinta." Galang tertawa terbahak-bahak, dia tak menyangka bisa mengatakan hal semacam itu kepada gadis patah hati yang baru dia kenal. Sementara dirinya pun tengah memulihkan hati setelah mengalami penolakan cinta dari sahabatnya.
Ah, ... sungguh membagongkan. gumamnya dalam hati.
"Ya udah, kamu mau kukiah kan?" Galang bangkit.
"Aku jadi males." jawab Amara.
"Jangan males. Masa depan kamu di tentukan hari ini."
Gadis itu mendongak kepadanya.
"Ayo, aku antar ke kampus." dia mengulurkan tangannya.
"Kakak sendiri?"
"Aku kuliah pagi. Niatnya mau pulang. Tapi Karena ketemu kamu, jadi kayaknya aku batalin pulangnya."
"Kenapa?"
"Aku antar kamu ke kampus. Aku tungguin disana sambil ngumpul sama teman-teman. Khawatir juga kamu akan bunuh diri kalau nggak ditungguin." dia menuntun gadis itu ke dekat motornya di parkiran.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
ini lagi, lihat yang patah hati harus senang atau sedih ya? bingung lagi 🤣🤣🤣
cus lah like komen sama hadiahnya kirim yang banyak.
lope lope sa Bandungeun 😘😘