All About You

All About You
Pilihan



🌹


🌹


"Manis sekali, kamu membuat sarapan." Dimitri mengusak puncak kepala Rania saat dia menemukannya di ruang makan. Tengah membuat sarapan berupa roti selai dan secangkir latte panas yang sudah terhidang di meja.


Pagi pertama mereka di Jakarta, dan rumah baru, tak biasanya perempuan itu bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan beberapa hal untuknya. Padahal mereka tiba pads tengah malam tadi.


"Aku pikir kamu pergi kemana," dia menyesap latte panasnya pada sarapan mereka.


"Emangnya kemana? belum kenal daerah ini juga." jawab Rania.


"Kamu yang menyiapkan ini tadi?" Dimitri menyentuh kemeja dan dasinya yang dia temukan di meja aksesoris, juga jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi.


"Hmm ..." Rania meletakan dua piring berisi roti selai buatannya di masing-masing sisi meja. "Apa pilihan aku cocok?"


"Cocok sekali, aku suka. Terimakasih, Zai." pria itu tersenyum dengan begitu manisnya.


"Hmm ...


"Hari ini kamu akan latihan?"


"Nggak tahu, mungkin nyobain track di belakang aja." perempuan itu mengunyah roti selai kedua yang dia buat setelah roti pertama berpindah ke dalam perutnya barusan.


"Besok?"


"Nggak juga kayaknya. Papa nyuruh aku istirahat aja sebelum pergi. Latihan terakhirnya nanti aja sambil jajal track di Argentina."


"Begitu ya?"


"Hmm." Rania menganggukan kepala, sambil mengunyah potongan terakhir roti selainya, kemudian menelannya dengan cepat diikuti tegukan susu coklat hingga hampir habis setenghanya.


"Lapar bu?" Dimitri memperhatikan hal tersebut dengan raut heran. Pasalnya, tidak biasanya perempuan itu makan dengan cepat seperti barusan. Apalagi porsinya yang memang banyak seperti biasanya, namun hal tersebut cukup mengherankan juga baginya.


"Hu'um, ... kayaknya dua roti masih kurang untuk aku. Tetep harus makan nasi, nih." Rania tertawa.


"Hmm ... lalu, kenapa tidak memasak nasi saja?"


"Kan belum sempat belanja, lagian aku trauma." dia tergelak.


"Trauma?"


"Takut pas aku buka nasinya masih berupa beras." Rania kembali tertawa saat mengingat hal tersebut.


"Cek dua kali, Zai."


"Aku tahu, mungkin nanti sore."


"Its good. Kamu mau belajar masak juga akhirnya?" Dimitri mencubit pipi perempuan itu dengan gemas.


"Hmm ... karena pada akhirnya semua perempuan harus masuk dapur juga kan? nggak terkecuali seorang pembalap kayak aku. Apa jadinya kalau kita beli terus setiap mau makan? apalagi aku makannya banyak, bisa jebol dompet kita."


Dimitri mendengarkan dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


"Dan lagi... mmm ... gimana kalau misal nanti kita punya anak? Masa pas dia mau makan, aku harus beli dulu? kan nggak lucu."


"Anak?"


"Hmm ...


"Kamu sudah berpikir ke arah sana?"


"Ng ... gitu deh. Mau nggak mau ya jadi kepikiran juga, kan aku ...


"Yeah, memang. Nanti kalau hamil berhenti dulu bapalannya, ya?"


"Mm ...


"Mungkin jika selesai musim ini ya?"


"Begitu? nggak apa-apa?"


"Ya, selesai musim ini kita rencanakan lagi, oke?"


"Oke."


"Good girl!" Dimitri menyentuh pipi Rania dengan punggung tangannya. "Dan mungkin besok akan ada pegawai dari rumahnya mama." Dimitri meneruskan.


"Oh ya?"


"Ya, sementara dia yang akan menemani kamu disini. Kalau mau, nanti kita bisa cari yang lainnya."


"Oke."


"Baik, kalau begitu aku pergi dulu ya? ada beberapa hal yang aku urus." ucap Dimitri setelah menghabiskan sarapannya.


"Iya."


"Aku pergi." pamit Dimitri sambil mengecup puncak kepala Rania.


🌹


🌹


Rania selesai membereskan beberapa hal pada sore hari. Semua pakaian yang dia bawa dipipindahkan dari koper ke lemari di ruang ganti khusus di ujung kamar. Yang hanya mengisi beberapa kotak saja dari sekian banyak tempat yang tersedia.


Dia memang sengaja membawa pakaian seperlunya saja agar tak terlalu banyak membereskan barang. Lagipula, nanti juga akan sering membeli lagi sepertinya.


Lalu perhatiannya tertuju pada tas selempangnya diatas meja aksesoris. Rania meraih dan membuka benda tersebut, dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Tiga alat tes kehamilan yang dia gunakan sehari sebelumnya, yang masih menyisakan dua garis merah yang kentara.


Rania menghela napas berat. Ingin jujur, dan memberitahukan berita gembira ini, tapi rasanya sulit. Bukan karena dirinya tak menginginkan kehadiran janin dalam kandungannya, tapi lebih ke takut bahwa mimpinya akan terherhenti.


Dia tahu, karena kehamilan ini semua orang akan menyuruhnya berhenti balapan, terutama Dimitri. Seperti yang beberapa kali dikatakannya pada beberapa kesempatan dilain waktu tentang kehamilan dan kehadiran anak diantara mereka.


Padahal tinggal tiga balapan lagi, dan dia semakin dekat pada gelar juara. Mengingat prestasinya yang begitu cemerlang. Dan dia hanya berjarak tiga kesempatan lagi untuk mewujudkan mimpinya sejak kecil.


Apa dirinya egois?


Mungkin.


Tapi akan senang rasanya jika dia bisa mewujudkan mimpi, dan meraih cita-cita. Apalagi membuat kedua orang tuanya bangga padanya.


Tapi dia tahu, dan perasaannya kuat. Raniapun yakin dengan kemampuannya sendiri. Bahwa dia bisa melakukannya, dan mampu menjalani ini dengan baik.


"Testpack punya siapa itu?" lamunanya dibuyarkan oleh suara Dimitri yang tanpa disadari sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.


Rania terhenyak, dan dia segera menoleh.


"Kamu kapan datang? kenapa aku nggak tahu?" wajah Rania memucat seketika.


"Lumayan lama untuk memperhatikan kamu melamun disini, dan ternyata kamu sedang memperhatikan ini." pria itu menyentakan kepalanya ke arah alat tes kehamilan ditangan Rania.


"Punya siapa itu?" Dimitri bertanya lagi.


"Ini mm ... punya ...


Dimitri meraih benda tersebut walaupun Rania berusaha mejauhkannya. Namun tangan panjang pria itu berhasil merebutnya dan dia segera menatapnya lekat-lakat bendan kecil dengan dua garis merah yang sangat jelas itu.


Kedua matanya berbinar, dan wajahnya berubah sumringah. Kedua sudut bibirnya bahkan membentuk sebuah lengkungan senyum yang begitu ceria.


"Kamu hamil?" katanya, dengan jantungnya yang berdegup kencang. Rasa bahagia menyeruak begitu saja dari dalam hatinya dan segera menyebar ke segala arah saat menatap wajah pucat Rania.


"Ee ...


"Kamu hamil!" katanya lagi, dan dia segera meraih pinggang perempuan itu untuk memeluknya. Reaksi Rania yang terbata-bata menjadi jawaban paling membahagiakan bagi Dimitri.


"Benarkah?" tanyanya, dengan rasa bahagia yang membuncah.


Tanpa banyak kata, Raniapun menganggukan kepala. Dia tak punya alasan lain lagi selain mengakui kehamilannya kepada suaminya.


"God!!" pria itu memeluk tubuhnya semakin erat. "Kerja kerasku membuahkan hasil ya?" dia tergelak kemudian mengecupi kepala istrinya yang terdiam. Antara merasa bahagia karena melihat ekspresi Dimitri, dan sedih karena mengingat pesan ayahnya.


"How? ... maksudku, aku tidak menyangka sama sekali. Jadi kemarin kamu kerumah sakit bukan untuk kb, melainkan memeriksakan kehamilan?" Dimitri dengan raut begitu ceria.


Sementara Rania menganggukan kepala dengan raut wajah yang tak biasa.


Pria itu tertawa dan kembali menyurukan wajahnya di kepala Rania. Menciuminya dengan penuh perasaan.


Tangannya kemudian menyentuh perut perempuan itu dengan lembut.


"Berapa minggu?" Dimitri bertanya lagi.


"Dua minggu." jawab Rania dengan suara pelan.


"What? dua minggu?"


Perempuan yang tingginya hanya sedadanya itu kembali menganggukan kepala.


"Oh, ... dia masih sangat kecil ya?" Dimitri terus mengusap-usap perut Rania.


"Nggak apa-apa aku hamil?" Rania mendongak.


"Tentu saja, memangnya kenapa?"


"Aku cuma ...


"Aku harus menelfon orang tuaku untuk memberitahu kalau mereka akan jadi oma dan opa lagi." pria itu merogoh ponselnya di dalam saku jasnya.


"Dan kamu juga harus menelfon orang tuamu. Mereka pasti bahagia, akan dapat cucu secepat ini." ucap Dimitri dengan semangat.


"Mmm ...


"Ayolah, ... kenapa tidak ada seorangpun yang mengangkat telfonku?" dia dengan tidak sabar.


"Ayo Zai, kenapa kamu tidak menelfon papamu?"


"Papa?" tiba-tiba saja terbayang wajah tidak senang Angga jika mendengar kabar ini. Bagaimana pria itu akan merasa kecewa, dan sudah tentu ayahnya itu akan marah kepada suaminya.


"Oh, ... ayolah, kemana kalian ini?!" Dimitri dengan kesal karena tak ada seorangpun yang menjawab telfonnya.


"Yang?" Rania memanggil.


"Papi, angkatlah!!" Dimitri bergumam.


"Yang, ..." perempuan itu menarik lengannya untuk menghentika apa yang tengah dia lakukan.


"Yang!!"


"Hum. apa?"


"Jangan dulu." ucap Rania.


"Jangan dulu ngasih tahu orang-orang." Rania memberanikan diri.


"Apa?"


"Jangan dulu ngasih tahu orang-orang kalau aku hamil."


"What? why?"


Rania menatap wajahnya lekat-lekat.


"Aku belum siap berhenti balapan." kayanya, ragu-ragu.


Dimitri membeku.


"Kamu ngerti nggak maksud aku? kalau orang-orang udah tahu, apalagi papa, nanti aku disuruh berhenti balapan."


"Jangankan papa kamu, akupun akan melakukan hal yang sama kalau memang benar kamu hamil."


Rania menggigit bibirnya keras-keras.


"Benar kan kamu hamil?" Dimitri memegangi kedua bahunya, kemudian mengguncangnya sedikit keras.


"Rania!! apa benar kamu hami?"


"I-iya, bener."


"Terus kenapa? kamu tidak menginginkan bayi ini?"


"Nggak gitu yang."


"Terus kenapa kamu tidak mau memberi tahu semua orang kalau kamu hamil? apa alasannya?"


"Udah aku bilang tadi kan?"


Dimitri mengerutkan dahi.


"Nanti aku harus berhenti balapan kan?"


"Ya memang."


"Nggak!!"


"Kenapa? kamu hamil Zai!! kamu nggak sadar itu?"


"Tapi aku nggak mau berhenti balapan." ucap Rania.


Dimitri terdiam lagi.


"Aku nggak mau berhenti balapan, se nggaknya, nggak sekarang."


"Apa maksud kamu nggak sekarang? kandungan kamu masih sangat muda!" Dimitri berujar.


"Tinggal tiga balapan lagi, yang. Aku udah dekat. Hampir sampai di akhir musim kompetisi."


"Kamu gila!!"


"Please!!"


"No!"


"Dim??"


"Aku nggak bisa ambil resiko itu! kehamilan kamu sangat beresiko untuk aku biarkan!"


"Aku bisa."


"No!" Dimitri menggelengkan kepala.


"Aku sehat, kata dokter kami sehat." Rania memegangi tangan pria itu untuk membujuknya.


"Aku bilang nggak, tetap nggak. Anakku yang ssdang kamu bawa, dan aku nggak akan membiarkan kamu membahayakan diri kalian."


"Percaya sama aku, nggak apa-apa. Aku akan hati-hati."


"Rania!!" bentak Dimitri.


"Ini bukan jalan raya biasa! ini lintasan balap. Kamu akan ada dalam posisi sama untuk waktu yang cukup lama, apa kamu bisa menjamin itu akan aman? dengan usia kehamilan semuda itu!!" pria itu berteriak.


"Justru karena masih muda makanya aku berani. Dia nggak akan menghalangi aku."


"Jangan pernah sekalipun untuk mencoba ...


"Aku yakin aku bisa. Aku selalu tahu."


"I said no!!" Dimitri berteriak lagi.


Dan hari itu adalah pertama kalinya mereka berselisih faham. Bentakan pertama, dan teriakan pertama sebagai suami istri.


"Dim, aku mohon. Balapan ini adalah mimpiku, dan jadi juara adalah cita-cita aku. Kamu tega mau memutuskan mimpi aku?"


"Tega katamu? lalu apa yang kamu lakukan dengan merahasiakan kehamilan ini agar papamu tidak menyuruhmu berhenti balapan? apa bukan tega namanya, ketika kamu memilih membahayakan keselamatan diri kamu sendiri dan anak kita?"


"Dia aman didalam sini, aku sehat, dia sehat."


"Apa kamu bisa menjamin tidak akan membahayakan dia?"


"Nggak akan aku janji."


"You out of your mind!!" geram Dimitri.


"Please. Aku nggak mau orang-orang kecewa."


"Kecewa? kamu tidak mau membuat orang-orang kecewa?"


Rania menganggukan kepala.


"Atau kamu tidak mau membuat papamu kecewa?"


Rania kini terdiam.


"Dia yang menjadi alasan utamanya kan?"


"Dim ...


"Aku yang akan bicara kepadanya, tidak akan ada yang terjadi. Aku jamin, dia tidak akan apa-apa."


"Nanti papa akan marah kalau tahu ...


"Aku lebih baik dia marah dan membenciku dari pada harus mengambil resiko membiarkanmu dan anak kita ada di lintasan."


"Aku nggak bisa."


"Kamu takut?"


"Aku takut papa kecewa, aku nggak tega. setelah semua yang papa usahakan, terus harus melihat dia kecewa, rasanya aku nggak tega."


"Dan kamu tega melihat aku kecewa, dan ketakutan melihat istriku di lintasan dengan bayi dalam kandungan?"


Rania terdiam lagi.


"Kamu tidak tega kepada papamu, tapi tega kepada aku, suamimu."


Kemudian ponsel Dimitri berdering.


"Papi menelfon." katanya sambil menatap layar.


"Please!!" Rania terus dengan pendiriannya.


Dan ponsel terus berdering, memunculkan kebingungan diantara keduanya.


"Dim, aku mohon ..


"Ya pih?" pria itu menjawab panggilan.


"Apa ada sesuatu? papi sedang dibawah dan tidak membawa ponsel. Ada apa Dim?" Satria bertanya, pasalnya terdapat beberapa kali panggilan tak terjawab dari putranya.


"E ... " pria itu melirik Rania yang matanya berkaca-kaca.


"Ada apa nak? apa ada masalah?"


"Soal ...


"Please!!" Rania berbisik.


Dimitri memejamkan mata, dan meremat ponselnya dengan kuat hingga benda pipih tersebut hampir retak.


"Dim?" suara Satria terdengar lagi.


"Mmm ... tidak apa pih, tadi Rania tidak ada. Aku pikir kerumah papi." jawab Dimitri akhirnya.


"Terus sekarang?"


"Ada. Dia hanya jalan-jalan keluar." bohongnya kepada sang ayah."


"Oh, syukurlah. Mamamu sempat khawatir karena kamu menelfon kami sampai berkali-kali. Kami kira terjadi sesuatu."


"Iya pih, maaf."


"Tidak apa-apa, nak. Jangan sungkan memberi tahu kami kalau ada masalah." suara dari seberang sana terdengar begitu tenang.


"Iya, ... pih." kemudian panggilan pun berakhir.


"Are you happy now?" ucap Dimitri kepada Rania, kemudian dia keluar dari kamar mereka.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


maaf mungkin beberapa hari ini akan telat up, karena lagi ada urusan di dunia nyata. Tapi semoga bisa tetep up ya. Minta doanya aja.


jangan lupa like komen dan kirim hadiahnya yang banyak.


lope lope sekebon cabe.😘😘