
🌹
🌹
Rania menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Bukan lelah yang dia rasakan, setelah menyelesaikan pekerjaannya di bengkel, melainkan penat dan perasaannya yang mulai kacau.
Benarkah yang Dimitri Katakam jika dirinya kini tengah bimbang? entahlah, dia tak mengerti.
Baru saja dia mengalami hubungan seperti ini, yang langsung saja naik ke jenjang serius bahkan disaat hubungannya baru saja terjalin. Dan ini cukup mengejutkan baginya.
Bagaimana seorang Rania yang tidak tahu apa-apa mengenai bubungan dengan lawan jenis tiba-tiba saja dihadapkan dengan urusan seserius pernikahan. Padahal dirinya baru saja mengenal sosok pria selain Ayahnya dan Galang sahabatnya.
Ah, Galang. Apa selama ini aku terlalu cuek sehingga tidak menyadari jika seseorang memiliki perasaan lebih kepadaku?
Lalu apa aku salah jika tak memiliki perasaan yang sama? terlebih lagi tidak bisa membalas apa yang dia rasakan kepadaku?
Ini kan masalah hati, dan aku belum pernah merasakan apa yang sekarang aku rasakan kepada Dimitri.
Benarkah?
Lalu perhatiannya teralihkan saat telinganya mendengar suara motor meraung-raung dari arah rumah sebelah.
Rania bangkit dan berlari keluar, segera menuju kerumah tetangga sebelah tempat Galang dan orang tuanya tinggal.
"Lang?" gadis itu menerobos pintu pagar yang tak terkunci saat melihat sahabatnya itu berada di depan garasi. Mengecek motor trailnya dengan teliti.
Galang hanya melirik tanpa menjawab sapaannya.
"Kamu baru pulang?" Rania bertanya setelah jarak mereka hanya sekitar satu meter saja.
"Lang? Kamu kemana aja? aku dari kemarin nyari kamu kesini tapi kamunya nggak ada."
Galang bergeming.
"Galang!" Rania maju lalu menyentuh stang motor untuk menarik perhatian sahabatnya itu.
"Apa sih? Emangnya kenapa kalau aku nggak pulang? apa urusannya sama kamu? ada masalah? kenapa tiba-tiba jadi perhatian?" racau Galang dengan nada kesal.
"Kamu kok jadi gitu?"
Pemuda itu mematikan mesin motornya lalu memalingkan pandangan ke arah lain.
"Kamu marah?"
"Nggak, untuk apa aku marah? hak apa aku marah? aku bukan siapa-siapa kamu, hanya temen sejak kecil yang terlalu berharap lebih." jawab Galang, lalu dia menyandarkan bokongnya pada jok motor dengan tangan yang bersedekap.
"Sekarang aku tahu Galang yang sebenarnya. Selama ini aku pikir aku sangat mengenal kamu, sehingga menyangka kalau kamu akan tetap bersamaku apapun yang terjadi. Tapi ternyata aku salah. Bahkan hal kayak gini bisa membuat kamu menjauh dari aku. Karena aku nggak bisa membalas perasaan kamu. Hanya sebatas itu persahabatan kita, yang bisa rusak karena aku nggak punya perasaan yang sama."
Galang terdiam.
"Maaf Lang, kalau aku nggak bisa membalas perasaan kamu, bukan karena ada Dimitri, apalagi karena dia lebih dari kamu. Tapi perasaanku sama kamu hanya sebatas itu. Kamu sahabat aku selamanya, meskipun kamu akan membenci aku setelah ini. Itu hak kamu, dan hak aku juga untuk nggak membalas perasaan kamu karena hatiku memang kayak gitu."
"Makasih, sudah mendampingi aku selama ini. Kamu selau menemani aku kapanpun aku butuh, terimakasih udah jadi sahabat terbaik aku." gadis itu kemudian memutuskan untuk pergi.
"Dari kemaren Dia nanyain Kamu terus loh." sang Ibu muncul setelah beberapa saat.
"Bukan salah kamu punya perasaan lebih kepada Rania, tapi bukan salahnya juga kalau dia tak memiliki perasaan yang sama. Tapi mungkin memang kenyataannya seperti itu."
"Ibu inget nggak, waktu pertama kali mereka pindah kesini?" Galang masih menatap kepergian sahabat masa kecilnya itu.
"Masih. Gimana ibu bisa lupa, waktu pertama kali kamu melihat Rania turun dari mobilnya di depan sana. Kamu bilang, 'Bu lihat, ada anak cantik baru pindah ke rumah sebelah." perempuan itu memperagakan saat dia mengingat reaksi bocah lima tahun yang bertemu dengan anak tetangga baru mereka.
Galang terkekeh getir. Dia juga mengingat dengan baik kenangan itu, disaat pertama kali meihat Rania kecil yang sebaya dengannya.
Anak perempuan imut berkulit putih yang pipi tembemnya selalu merona kemerahan apalagi jika ditimpa cahaya matahari.
"Dia cantik ya bu?" kata pertamanya waktu itu.
"Aku boleh temenan sama dia?"
"Nanti kalau sudah besar, aku mau menikah sama dia."
Maya hanya tertawa saat itu, tak menyangka hal tersebut bisa terbawa hingga dia dewasa.
"Mungkin itu yang disebut Jagain jodoh orang?" Maya terkekeh. "Tidak apa-apa, kamu kan masih muda. siapa tahu, jodoh kamu juga ternyata lagi dijagain orang?"
"Hum?"
"Kalau beneran sayang, kamu harus merelakan dia bahagia dengan orang lain, bukannya malah marah-marah seperti ini."
"Aku nggak marah-marah, aku cuma kesel."
"Cuma kesel tapi cuekin Rania, ah... cemen."
"Ibu nggak tahu sih gimana rasanya."
"Ya emang. Kamu juga nggak tahu rasanya jadi Rania."
"Kok ibu bilangnya gitu?"
"Iyalah, gimana dia harus menghadapi temannya yang kekanakan gara-gara cintanya nggak terbalas."
"Apaan sih bu?"
"Masa sih anak ibu selemah itu? sayang banget waktu kamu terbuang sia-sia."
"Ah, ... ibu bikin aku tambah kesel aja deh." Galang menaiki motornya yang sudah dia hidupkan sebelumnya.
"Mau kemana? kabur lagi? pulangnya kapan?"
"Mana ada yang kabur bilang-bilang?"
"Ya siapa tahu?"
"Haaaahhh!" pemuda itu pergi membawa motornya pergi ke suatu tempat.
🌹
🌹
Rania menatap layar ponselnya untuk ke sekian kalinya. Biasanya Dimitri sudah tiba untuk mengajaknya makan siang, tapi ini bahkan sudah lewat dari jam dua namun pria itu bahkan tak mengirimkan pesan sekedar untuk mengabarinya selama dua hari ini.
Dia benar-benar marah. batinnya.
"Kamu hari ini nggak keluar?" Angga memperhatikan gerak-gerik putrinya sejak tadi.
"Ya nggak, makanya ada disini."
"Biasanya makan diluar sama Aa Dimi, tumben-tumbenan hari ini nggak datang?" Angga menyindir.
Rania hanya mendelik tanpa memberikan jawaban.
"Setelah ini aku ada kerjaan lagi nggak?" tanya Rania kemudian setelah dia terdiam cukup lama.
"Nggak kayaknya," jawab Angga yang juga melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku mau pergi ya?"
"Kemana?"
"Ada urusan."
"Urusan apa janjian?"
"Dua-duanya." Rania mengenakan jaket kulitnya.
"Awas nanti sore papa sama mama mau ke rumah kakek."
"Ngapain?" Rania menghentikan langkahnya.
"Mau rundingan."
"Rundingan apa?"
"Buat nikahan kamu lah."
"Serius ini mau langsung?"
"Ya apa lagi? dari mereka udah sanggup, lagian kalian udah sedekat itu."
"Beneran?"
"Ya makanya harus rundingan sama kakek."
"Nginep nggak disana?"
"Kayaknya iya, males kalau bolak-balik."
"Ya udah, nanti aku nyusul." Rania mengendarai motornya, kemudian keluar dari area bengkel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sore mbak?" sekertaris di depan ruangan Dimitri menyambut begitu melihat Rania tiba pada sore hari.
"Sore, pak Dimitri ada?"
"Baru saja pak Dimitri turun mbak. Ada pertemuan di hotel Hilton."
"Hotel Hilton?" pikiran Rania langsung saja teringat percakapan mereka tempo hari tentang pria itu yang sering berkencan dan berakhir di hotel.
"Iya, ada klien dari Qatar yang kebetulan mampir untuk liburan di kota Bandung." jawab Aline.
"Oh, ...
"Sebelumnya ada janji? apa pak Dimitri lupa memberi tahu saya kalau harus bertemu mbak Rania ya?" sang sekertaris menerka-nerka. Pasalnya dia memang belum tahu mengenai hubungan atasannya dengan sang pembalap.
"Oh, ... Mmm nggak juga sih. Eh, maksudnya iya. Mungkin pak Dimi lupa."
"Mau saya telfon? karena kalau nunggu nggak mungkin. Sepertinya pak Dimi langsung pulang kalau pertemuannya selesai."
"Oh, ... nggak usah. Mungkin lagi sibuk."
"Kalau gitu saya pamit ya?" ucap Rania kemudian.
"Oh, baik mbak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Thank you sir, senang sekali bekerja sama dengan perusahaan anda, saya harap banyak keuntungan yang akan kita dapat setelah ini." ucapnya dalam bahasa Inggris. Seorang pria bergamis putih yang mengenakan sorban hitam di kepalanya itu, seorang pengusaha minyak dari Qatar yang bertemu langsung dengan Dimitri.
"Sayang sekali tidak bisa bertemu dengan pembalapnya langsung ya? padahal saya akan senang sekali jika bisa bertemu dengan dia. Gadis yang hebat. Putri saya sangat mengidolakannya sejak dia menonton balapan di Catalunya."
"Mungkin lain kali pak, saya janji akan membawanya bertemu."
"Saya harap begitu. Kita bertemu lagi di GP Qatar bulan depan?"
"Baik pak. Saya masukan ke agenda tim untuk bertemu."
"Baik, sekali lagi terimakasih." mereka pun berpisah setelah bersalaman.
***
"Dimitri?" seseorang memanggilnya saat dia memutuskan untuk tetap berada di tempat itu. Sebuah ruang pertemuan yang cukup nyaman untuk keperluan perusahaan.
Pria itu mengerutkan dahi mengingat-ingat orang yang menyapanya tersebut.
"Dimitri Alexei?" ucap pria sebayanya yang berjalan mendekat.
"Sean?" ucap Dimitri saat dia mengingatnya.
"Benar ini kamu?"
"Ya, Sean Felix? Kenapa ada disini?" dia baru ingat kepada teman semasa SMP kelas satunya itu.
"Ada meeting dengan klien. Kamu sendiri?"
"Sama. Tapi sudah selesai. Kamu kerja di Bandung juga?"
"Tidak, hanya saja klien sangat suka kota ini. Jadi ya ketemunya disini. Kamu sendiri?"
"Aku pegang cabang disini, jadi ya ... begitulah."
"Wow, hebat!"
"Ya, ...
"Setelah ini ada kegiatan lagi?"
"Tidak. Sepertinya langsung pulang." jawab Dimitri.
"Oh, Ayolah... mumpung kita ketemu, kita bersenang-senang dulu. Kebetulan ada teman yang lainnya juga."
"Benarkah? dari kelas kita?"
"Yeah ...
"Mmm... " Dimitri berpikir sejenak.
"Ayolah, jarang sekali kita bertemu. Teman-teman pasti akan sangat senang dengan kedatanganmu."
"Eee...
"Ayolah Dim."
"Baiklah... hanya sebentar kan?"
***
Dan Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam ketika entah botol ke berapa minuman memabukan yang sudah mereka habiskan, di sebuah klub besar terkenal di Bandung. Pertemuan hari itu cukup menyenangkan bagi mereka yang telah bertahun-tahun tak bertemu sejak Dimitri menempuh pendidikan di Rusia.
Ada sekitar empat laki-laki selain Dimitri yang merupakan teman satu tim sepak bola sekaligus satu kelasnya saat di SMP. Menikmati hingar-bingar suasana pesta yang menyenangkan.
"Kalian sudah dapat?" seorang teman lain kembali dari toilet.
"Apa?"
"Gadis-gadis ...
"Belum ada yang cocok."
"Aku sudah dua, ada yang mau?"
"Apa bagus?"
"Cukup lah. Mungkin bisa minta mereka mengajak beberapa teman untuk kalian."
"Boleh kalau bisa seperti itu."
"Aku nggak ikut ah, harus pulang." Dimitri menenggak minuman di gelas terakhirnya hingga habis.
"Lah, kok gitu?"
"Iya, besok pagi harus ke Jakarta."
"Sebentar lagi lah." bujuk yang lainnya.
"Sayangnya tidak bisa."
"Sudah di carikan teman kencan lho Dim." seorang dari mereka menunjuk beberapa gadis berpakaian super seksi yang muncul kemudian.
"Hhh ...
"Ayo, sebentar saja."
"Maaf, nggak bisa. Lain kali saja." tolak Dimitri.
"Yakin?"
"Yakin."
"Baiklah pak Direktur, lain kali kita ketemu lagi." Sean menepuk pundak Dimitri yang sudah siap pergi.
"Yeah, ... baik. lain kali."
"Oke."
***
Rania memutuskan untuk menunggu di depan unit di lantai paling atas gedung Landmark apartemen. Setelah tak bisa menghubungi nomor ponsel Dimitri sejak petang tadi, dan mencoba berkeliling di jalan raya, dengan harapan bertemu pria itu di jalan.
Hal sama pun dia dapati ketika dirinya tiba di Landmark dan mendapatka info jika pria itu belum kembali ke apartemen miliknya bahkan hingga menjelang tengah malam. Namun Rania tak bisa melepaskan pikirannya dari Dimitri, nyatanya pria itu juga telah menguasai dunianya sedemikian rupa sehingga dia tak mampu beralih.
Namun waktu sudah larut, dan dia tak mungkin terus berada disana. Rania akhirnya menyerah dan dengan malas dia menggeraka kakinya menuju lift, dengan bungkusan kantong kresek berisi ricebowl dan capucino cincau yang sudah mencair.
Langkahnya terhenti saat pintu lift terbuka, dan wajah kusut Dimitri yang pertama dia lihat. Keduanya sama-sama tertegun dengan perasaan terkejut. Tentu saja bagi Dimitri, keterkejutannya lebih lagi.
"Kamu dari mana?" Rania langsung bertanya.
"Kamu sedang apa disini?" Dimitri balik bertanya.
"Nunggu kamu."
"Kenapa nunggu aku?" dia keluar dari dalam lift.
"Kamu nggak bisa dihubungi, nggak ngabarin aku, dua hari menghilang tanpa kabar. Ya aku cari lah." jawan Rania.
"Aku banyak kerjaan, harus selesai hari ini."
"Sampai tengah malam gini?"
"Mmm... itu...
"Tadi sore aku ke kantor kamu nggak ada."
"Benarkah?"
"Iya, kamunya udah keburu pergi ke Hilton."
"Kenapa nggak susul aku kesana?"
"Kan kamunya lagi kerja, nanti aku ganggu."
"Hhh... " pria itu membuang napas dengan keras.
"Terus kenapa malam-malam begini masih disini?"
"Udah aku bilang nunggu kamu."
"Nanti papa kamu mencari." dia mencekal pergelangan tangan Rania, bermaksud menariknya ke dalam lift. "Ayo pulang."
"Nggak ada siapa-siapa dirumah, papa nginep di rumah kakek." Rania mengikutinya.
"Apa?"
"Papa, mama sama adik-adik nginep di rumah kakek. Makanya aku bisa keluar."
"Mm...
"Aku nyari kamu dari magrib."
"Itu... aku tadi...
"Abis beli makanan aku langsung kesini, Kirain kamu udah pulang, tahunya belum. Makanya aku nugguin." dia menunjukan bungkusan yang dibawanya.
"Ck!!" Dimitri berdecak. "Ya sudah, ..." kemudian pria itu menarik Rania ke unit miliknya.
"Kirain mau antar aku pulang?" Rania tersaruk-saruk mengikuti langkahnya.
"Menginap saja, keluarga kamu tidak ada dirumah kan?"
"Ap-apa?"
"Tanggung, kamu sudah datang kesini."
"Tapi Dim...
"Besok kan kita ke Jakarta lagi, jadi sekalian berangkat dari sini sajalah."
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
Nah lu ...malah nginep?