
🌹
🌹
"Oui monsieur, nous devons rentrer 'a la maison. Notre avion est arrive. ( ya tuan, kami harus pulang. Pesawat kami sudah tiba.)" Dimitri menyalami si pengelola villa yang sangat meyayangkan rencana kepulangan mereka setelah dua hari. Padahal tamunya itu sudah menyewa villa yang dia kelola untuk satu minggu. Dia takut karena ketidak puasan Dimitri atas pelayanan mereka yang membuatnya memutuskan untuk mengakhiri acara bulan madu pengantin baru tersebut.
"J'espere que vous n'etes pas decu de notre service. ( saya harap anda tidak kecewa dengan pelayanan kami.)" pria itu menjawab.
"Non. ( tidak. )" Dimitri menggelengkan kepala. "Tu es tres bon. Et nous sommes heureux ici ( anda sangat baik, dan kami senang selama disini.)" ucap Dimitri lagi kepada pria Prancis itu.
"Je vous remercie. ( terimakasih.)" katanya, yang kemudian segera pergi sebelum perempuan yang dia gandeng tangannya kembali merengek ingin pulang karena kangen berat dengan ayam geprek.
"Yakin mau pulang?" tanya Dimitri sekali lagi kepadanya, dan Rania pun mengangguk.
"Nggak akan menyesal?"
Perempuan itu mengangguk lagi.
"Serius? mumpung kita masih di Prancis nih, kalau sudah take off nanti susah lagi." pria itu meyakinkan.
" Iya serius, aku mau ayam geprek Gedung Sate." jawab Rania, masih sama seperti semalam.
"Haih, ... makanan itu terus yang diingat." Dimitri memutar bola matanya.
"Hampir dua minggu aku disini, belum nemu ayam geprek. Adanya ayam goreng biasa. Aku bosen."
"Mana ada makanan seperti itu?"
"Ah, ... negara apaan ini? nggak asik. Mendingan Cimahi."
"Eh, jangan sembarangan kalau bicara, nanti kalau Piere dengar dan dia mengerti apa yang kamu ucapkan, bisa kena masalah kita."
"Hmmm ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandara internasional Charles de Gaulle tampak cukup ramai saat mereka baru saja tiba pada lewat tengah hari, dimana pesawat pribadi sudah tiba sejak beberapa jam yang lalu.
Mereka harus menunggu beberapa saat hingga para petugas selesai melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Untuk memastikan keamaan dan keselamatan dalam perjalanan.
"Dimitri?" seseorang menepuk bahu pria itu untuk memastikan.
Dan Dimitri segera menoleh. Matanya membulat seketika, dan dia menahan napasnya sebentar.
"Kak dela? ( apa kabar?)." Seorang gadis berambut pirang berdiri dibelakangnya dengan senyum mengembang.
"Irina?" wajah pria itu memucat seketika.
"Ochen' rad vstretit tebya. ( senang sekali bertemu denganmu.)"
"What are you doing?" terkejut sudah pasti, namun dia mencoba untuk setenang mungkin.
"Siapa?" Rania menoleh, kemudian memutar tubuhnya.
Mereka bertiga sama-sama terdiam.
"Yang?" Rania dengan nada tanya.
"Mm ... ini Irina." jawab Dimitri, dan dia menoleh kepada istrinya dengan dada yang berdebar cukup keras.
"Oh, ... hai. I'm Rania." perempuan itu mengulurkan tangannya.
Irina menatap wajah dan tangan Rania secara bergantian.
"She's my wife." tiba-tiba saja Dimitri merangkul pundak Rania dengan posesif, seolah ingin menegaskan statusnya kini.
"Oh, ...thar rider."
"What are you doing here, Irina?" pria itu bertanya lagi.
"Just doing my job around here." jawab si gadis pirang dan sekarang dia menatap pasangan tersebut secara bergantian.
"Oke."
"Maaf pak, pesawatnya sudah siap, kita bisa take off sekarang juga." seorang petugas datang menghampiri.
"Baik." Dimitri menganggukan kepala.
"We got to go, Irina." katanya kemudian.
"Yeah, sure."
"See you." Dimitri menarik Rania menuju pintu keberangkatan. Sementara Irina menatap kepergian mereka hingga keduanya mengilang dibalik gerbang.
"Dia itu siapa?" Rania pasrah saja ketika Dimitri memasangkan savety belt pada pinggangnya.
"Hanya seorang teman." jawab pria itu, yang pandangannya tak dia tujukan pada Rania. Rasanya seperti dipergoki tengah berselingkuh, padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Just have funn!!
"Temen kamu banyak ya? ada dimana-mana kayaknya?"
"Begitulah." lalu dia memasangkan savety belt pada dirinya sendiri.
Seorang pramugari memeriksa untuk memastikan semuanya telah siap agar mereka bisa segera lepas landas.
"Apa dia mantan pacar kamu?" Rania berbicara lagi setelah terdiam cukup lama, dan pesawat sudah mengudara.
"Bukan." Dimitri segera menjawab.
"Masa? kok reaksi kamu beda pas ngomong sama dia?"
"Apa? reaksi apa?" pria itu terkekeh.
"Nggak tahu, rasanya beda aja."
"Kamu ngaco." dia berusaha untuk meredam degupan jantungnya yang mengencang.
"Nggak, feelingku nggak pernah ngaco. Apalagi dia nggak mau salaman sama aku. Kalau cuma teman kan seharusnya tadi dia balas salam aku." Rania dengan keningnya yang menjengit.
Dimitri menggigit bibirnya keras-keras. Dia berpikir apakah ini juga harus dia katakan kepada Rania atau tidak? atau sebaiknya dia tutup saja rapat-rapat untuk menghindari percekcokan tidak penting di kemudian hari? toh dia memang tidak pernah memiliki hubungam serius dengan gadis asal Rusia itu, selain hanya bersenang-senang tentunya.
"Bobo ah, kita terbangnya lama kan?" lanjutnya, setelah menemukan posisi yang nyaman pada pundak Dimitri.
"Hu'um." pria itu mengangguk. "Kamu mau kita pindah ke tempat tidur di belakang agar lebih nyaman?" tawar pria itu.
"Nggak. Nanti bukannya tidur kalau di belakang. Malah kamu tidurin." Rania tertawa lagi.
"Hmm ..." Dimitri hanya bergumam.
Dan tanpa menunggu lama, perempuan itu sudah terlelap dengan mudah.
"Tidurlah, Zai. Jangan pikirkan macam-macam." Dimitri mengusap kepalanya dengan lembut, lalu diapun melakukan hal yag sama. Merebahkan kepalanya pada sandaran kursi yang sudah dia atur sedemikian rupa agar terasa nyaman baginya menempuh perjalanan 16 jam di udara.
🌹
🌹
"Ara?" Galang menghampiri saat Amara baru saja keluar dari kelas prakteknya. Hampir dua jam dia menunggu gadis itu hingga dia selesai dengan kegiatannya.
"Kak Galang ngapain?"
"Ng ..."
Iya juga, gue ngapain ya? padahal tadi niatnya cuma mau ngecek dia ada atau nggak. tapi kok malah nunggu disini? batin Galang bermonolog.
"Kakak nunggu aku?"
"Mm ... cuma ngecek." jawab Galang sekenanya.
"Ngecek?" Amara mengerutkan dahi.
"Iya, cuma ngecek."
"Ngecek apa?"
Galang berpikir.
iya. Ngecek apa ya? Makin ngaco nih pikiran gue?
"Itu, ... mmm ...
"Ara? kamu jadi ikut nggak?" seorang temannya manggil.
"Sebentar." Amara menjawab.
"Kalau jadi, ayo kita bareng. Biar nggak pisah-pisah." ucap temannya lagi.
"Iya iya."
"Kamu mau kemana?" Galang melirik teman laki-laki satu kelas Amara.
"Ada acara pesta."
"Pesta apa?"
"Di kelas ada yang ulang tahun, dan aku di undang."
"Kamu biasanya jarang ikut acara kayak gitu?"
"Setelah aku pikir-pikir, kayaknya butuh juga untuk pergi keluar. Selain nambah taman, nambah pengalaman juga." Amara berujar.
"Pengalaman apa?" Galang menjengit.
"Pengalaman kenal macam-macam orang."
"Hah?"
"Bagus untuk riset juga. Siapa tahu aku butuh."
"Nggak ngerti."
"Nggak bakalan ngerti, kakak ngertinya cuma benerin mesin sama nemenin sahabat kakak. Eh, ..."
"Apa?"
"Ara!!" teman laki-lakinya kembali memanggil.
"Iya iya, bawel!" dia sedikit berteriak. "Aku pergi dulu ya? males juga kalau datang sendirian kesana. Bye kak." ucap gadis itu, yang pergi tanpa menunggu jawaban dari kakak kelasnya tersebut.
"Kamu nggak ajak kak Galang?" samar-samar teman laki-lakinya Amara berbicara saat gadis itu berlari.
"Nggak usah." gadis itu menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, dia terlalu sibuk ngurusin mesin sama temen pembalapnya untuk begabung sama kita."
"Hmm ...
"Cepetan, nanti pestanya keburu mulai." Amara mendorong taman sekelasnya itu hingga mereka masuk kedalam mobil dimana teman lainnya sudah menunggu. Sementara Galang masih berdiri disana dengan perasaan sedikit kecewa.
Entah kecewa karena apa.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
oops, ... rankingnya turun. Nggak apa-apa kalau vote nya udah abis. minta kirim hadiah aja seadanya.
lope-lope sekebon cabe. 🤣🤣
kalo ini kang galau ðŸ¤