
🌹
🌹
"Kamu nanti bisa kan pulang sendiri?" Dimitri membelokan mobilnya ke arah kampus dimana Amara akan menjalani kuliahnya.
"Bisa. Naik angkot kan?" jawab gadis 18 tahun itu yang mengenakan seragam hitam putih dan kunciran rambut dengan pita warna warni. Tak lupa juga kaus kaki berwarna mencolok juga dia kenakan sebagai seragam untuk masa ospeknya satu minggu kedepan.
"Kalau nggak naik angkot juga bisa order ojek online kan? lebih aman. Lebih nyaman juga nggak desak-desakan kayak angkot." jawab Dimitri.
"Masa? kak Dim emang pernah naik angkot sampai tahu desak-desakannya?" gadis itu menoleh kepadanya.
"Pernah. Angkot hijau yang itu tuh." pria itu menunjuk sebuah angkot yang parkir di dekat trotoar. Ingat kejadian saat pertama kali pergi bersama Rania, yang membuatnya tersenyum mengingat kekonyolan gadis itu. Dan tentu saja dia ingat jika selanjutnya hubungan mereka kini dalah sebagai pasangan kekasih.
"Beneran? Ngapain?"
"Cuma iseng." Dimitri tertawa.
"Iseng?"
"Yeah...
Mobil kemudian berhenti di depan sebuah kampus ternama di kota Kembang. Suasana sudah tampak ramai pada pagi itu, yang sebagia besar diisi oleh mahasiswa baru yang akan menjalani masa orientasi awal.
"Kakak langsung ke kantor pagi-pagi begini?" dia melihat jam yang masih menunjukan pukul 6.30 pagi.
"Nggak. Mau ketemu orang dulu."
"Siapa?"
"Ada lah."
"Pacar?"
Dimitri tersenyum.
"Kakak udah punya pacar?" Amara dengan antusias bertanya.
"Kamu masih kecil sudah bicara soal pacar?" pria itu tertawa.
"Serius kak."
"Udah, sana kuliah."
"Belum kak, baru mau ospek."
"Ya udah, sana masuk. Kalau terlambat bisa dihukum kamu."
"Mmm... kak,"
"Sudah, sana. Nanti ngobrol lagi."
"Kapan?"
"Kapan-kapan. Besok pagi kakak jemput lagi kan?"
"Besok?"
"Iya, dan besoknya lagi, besoknya lagi. Seminggu ini kakak jemput kamu deh."
"Beneran?"
"Beneran."
"Maksih kak."
"Hmm... makanya, cepet turun, jangan sampai hari pertama ospek kamu sudah kena hukuman."
"Oke." Amara kemudian turun dari mobil.
"Pergi dulu ya?" dan Dimitri melambaikan tangan, yang kemudian dibalas lambaian pula. oleh Amara.
🌹
🌹
Rania menghentikan laju motornya ketika melihat mobil hitam mengkilat yang sepertinya dia kenal. Yang kemudian kacanya terbuka dan sebuah tangan melambai ke arahnya.
"Mau ngapain tuh cowok pagi-pagi udah ada disini?" gumamnya saat dia menaikan kaca helm. "Mana papa masih ada di rumah lagi, duh." dia menoleh ke arah belakang, dimana jalan menuju ke komplek rumahnya berada.
Dimitri tampak menjulurkan kepalanya, kemudian tersenyum saat gadis itu mendekat.
"Kamu lagi ngapain?"
"Nunggu kamu."
"Mau apa?"
"Mau ketemu."
"Ngapain?"
"Aku belum sarapan."
"Terus?"
"Kamu sudah sarapan?"
"Udahlah, aku nggak pernah keluar dari rumah tanpa sarapan, bisa diomel mama nanti."
"Tadinya aku mau ajak kamu sarapan bareng."
"Dih, sarapan bereng?"
"Biar romantis." Dimitri tersenyum lebar.
"Romantis?"
"Ayolah, temani aku makan."
"Nggak, aku harus ke bengkel."
"Sebentar, hanya sarapan aku janji."
"Tapi aku banyak kerjaan hari ini. Ada mobil yang harus aku beresin." Rania beralasan.
"Iya, cuma sebentar. Setelah makan aku biarin kamu ke bengkel."
Gadis itu mendengus kasar.
"Ayolah Ran."
"Baiklah baik." dia menghidupkan mesin motornya, kemudian segera pergi dari tempat itu sebelum sang ayah menangkap basahnya bersama pria itu.
Sementara Dimitri mengekorinya dari belakang dengan senyum yang mengembang.
***
"Kamu mau pesan apa?" Dimitri melihat daftar menu makanan yang akan dipesannya, saat ini mereka berada di sebuah kafe tak jauh dari balai kota.
"Nggak, kan aku udah makan tadi dirumah." Rania memainkan ponsel pintarnya.
"Serius, jadi kamu cuma menemani aku makan?" pria itu tergelak.
"Kan tadi kamu bilangnya gitu, minta aku temani makan 'kan?"
"Ah, ... iya juga. Tapi maksudku nggak gitu juga."
Rania hanya memutar bola matanya.
"Aku pesankan minum ya?"
"Terserah kamu lah." dia kembali pada layar ponselnya.
"Orange jus?" tawar Dimitri.
Rania mendongak, "Capucino cincau ada nggak?"
"Apa?"
"Capucino cincau."
"Sepertinya tidak ada."
"Ya udah."
"Yang lain saja bagaimana?"
"Nggak ah, aku maunya itu."
"Masih pagi Ran, masa kamu mau minuman dingin?"
"Nggak apa-apa. Aku kan udah makan tadi dirumah. Jadi perutku aman."
"Ya sudah, aku pesankan itu." Dimitri mengalah.
"Apaan?"
"Capucino cincau."
"Kamu bilang nggak ada?"
"Aku suruh orang pesan dari tempat lain."
"Nggak usah, malu juga kali."
"Kenapa malu?"
"Ya malu lah, masa pesannya dari tempat lain tapi diminumnya disini?"
"Nggak apa-apa."
"Ini kafenya mamaku." jawab Dimitri kemudian terkekeh.
"Duh?" gadis itu menatap sekeliling.
"Jadi nggak usah khawatir. Dan sepertinya nanti aku mau ngasih usul juga ke manager kafe agar mereka memasukan capucino cincau sebagai menu baru. Biar kalau kita makan disini nggak perlu pesan dari tempat lain."
"Dih, sampai segitunya?"
"Biar kamu nggak ada alasan nggak mau aku ajak kesini karena nggak ada capucino cincau. Sepertinya kamu sangat menyukai minuman itu. Setiap kita pergi selalu itu yang kamu cari."
"Memang."
"Ya sudah."
"Kamu berlebihan nggak sih sama aku? jadian juga baru berapa hari udah kayak gini." Rania meletakan ponselnya di meja. Sepertinya dia harus berbicara soal masalah ini sebelum semuanya terjadi terlalu jauh.
"Nggak. Biasa saja."
"Tapi kamu melakukan ini cuma untuk aku."
"Nggak apa-apa."
"Jangan berlebihan kayak gini lah. Kita biasa aja."
"Aku nggak bisa biasa saja, kamu kan pacar aku?"
"Haihh... " Rania mengusap-usap telinganya. Kata pacar terasa mulai mengganggunya akhir-akhir ini.
"Jadi jangan berharap aku akan bersikap biasa saja, karena mulai sekarang aku akan melakukan banyak hal untuk kamu."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Nanti aku merasa terbebani."
"Kenapa terbebani?"
"Karena aku akan merasa harus membalas semua yang kamu lakukan."
"Nggak usah. Kamu hanya harus menerima semua yang aku lakukan."
"Aku nggak bisa, dan aku nggak biasa."
"Kamu akan terbiasa. Hanya biarkan saja aku melakukan apa yang mau aku lakukan untuk kamu."
Rania terdiam.
"Tidak usah berpikir untuk membalas apapun, aku hanya ingin melakukannya."
"Apa yang kamu bilang itu terdengar mengerikan tahu?"
Dimitri tertawa dengan keras.
"Aku takut nggak bisa memberikan hal yamg pantas setelah nanti kamu melakukan banyak hal."
"Aku bilang tidak usah memikirkan soal itu kan?"
"Ya udah, makanya jangan melakukan apa-apa untuk aku. Kalau kamu mau jalan sama aku ya jalan biasa aja, nggak usah melakukan banyak hal yang nggak mungkin bisa aku balas nantinya. Karena dengan begitu aku akan merasa nyaman."
"Kamu benar-benar nggak seperti gadis lain Ran."
"Memang."
Dimitri terkekeh lagi.
"Hanya perlakukan aku biasa aja, seperti Rania yang belum jadi pacar kamu dulu. Aku lebih nyaman kayak gitu."
"Benarkah?"
"Hu'um." Rania menganggukan kepala.
"Baiklah kalau begitu. Tapi tetap, capucino cincaunya akan aku masukan ke daftar menu di kafe ini."
"Dim ...
"Itu nggak akan aku rubah lagi, kamu tahu aku ini nggak bisa dibantah."
"Baiklah, tuan nggak bisa dibantah. Terserah kamu aja lah, kafe ini kan punya mama kamu juga kan?"
"Begitulah."
Kemudian seorang pelayan tiba dengan makanan dan dua cup capucino cincau pesanan Dimitri.
"Kok capucinonya dua?"
"Yang satu punyaku tahu?" jawab Dimitri seraya meraih minuman tersebut dan menyesapnya pelan-pelan.
"Dih, suka juga ya?" cibir Rania.
"Iya, habisnya manis. Kayak kamu." jawab Dimitri yang kemudian melahap sarapannya dengan riang.
Sementara Rania mencebikan mulutnya dengan sebal.
🌹
🌹
Galang dengan gusar memarkirkan motornya di area parkir kampus. Setelah melihat pemandangan menyesakan di jalan tadi. Dimana dia melihat gadis kesayangannya tengah bercakap-cakap riang bersama pria yang juga dia kenali sebagai sponsor tim balapan mereka.
Hatinya merasa tak terima namun dia tak bisa melakukan apa-apa. Rania bukanlah siapa-siapanya, dia hanya sahabat masa kecilnya yang begitu dia cintai sejak mereka remaja. Dan tidak ada hak pula baginya untuk merasakan kecemburuan seperti ini. Hubungan mereka jelas sekali sebatas sahabat dan sebagai pembalap dan mekaniknya.
"Sialan!" geramnya, dan dia membanting tasnya ke tanah, namum karena tenaganya yang terlalu keras membuat benda tersebut terpental lebih jauh dan mengenai seseorang yang tengah berjalan tergesa.
"Aww!!" seorang gadis terhuyung kemudian terjatuh.
Galang terhenyak, dan segera saja dia berlari menghampirinya.
"Maaf, kamu nggak apa-apa?" pemuda itu menunduk. Memungut tasnya kemudian mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri.
"Barang-barangnya... " si gadis menunjuk barang bawaannya yang berserakan ditanah, keluar dari kantung yang ditentengnya barusan.
"Maaf, maaf. Aku nggak sengaja." ucap Galang yang kemudian membantu memunguti barang-barang tersebut.
"Bekal aku juga." gadis itu menunjuk kotak makan yang sudah terbuka dan isinya berhamburan.
"Kamu anak baru?" Galang bertanya. Melihat penampilannya yang mengenakan seragam hitam putih dan kunciran khas mahasiswa baru.
"Hu'um."
"Kamu telat?"
"Iya kayaknya, duh. Bakalan dihukum nggak ya?" mereka menatap barisan mahasiswa baru yang sudah rapi di lapangan.
"Ya udah cepetan, aku antar." Galang meraih tangannya, kemudian menariknya menuju lapangan tersebut.
***
"Sorry guys, ... gue telat. Si Jagur mogok barusan." Galang menghampiri teman-temannya yang hari itu menjadi panitia penyelenggara masa orientasi mahasiswa baru bagi kampus mereka.
"Dih, hari pertama Lu udah telat aja? ngasih contoh nggak baik buat anak baru." jawab salah satu temannya.
"Iya, maaf. Maaf ya adik-adik!!" Galang berteriak ke arah mahasiswa baru.
"Dasar caper?"
"Eh, ... Lu gandeng anak baru? udah telat dia kayaknya."
"Oh iya, salah gue tadi. Boncengin dia, tapi si jagurnya malah mogok dijalan."
"Harus dihukum?" ucap teman-teman yag lainnya.
"Kagak usah pea. Guess yang salah, hukum gue aja."
"Cieeeeeeeeee... kakak belain adeknya. Pilih kasih dong gue, tar anak-anak lain iri."
"Kagak bakalan. Iyakan?" Galang menatap barisan mahasiswa baru, yang sebagian diantaranya mengangguk-anggukan kepala.
"Tuh kan?"
"Ck! ya udah, hari ini pengecualian. Kalau besok telat lagi, dapat hukuman berat ya?"
"Serah Lu dah." ucap Galang. "Sana, cepet masuk barisan." pemuda itu kepada gadis yang digandengnya.
"Nggak dihukum?"
"Nggak akan. Sana masuk." jawab Galang.
"Oke." gadis itu melenggang menuju barisan yang ditunjuk.
"Hey!" panggil Galang.
"Ya?" gadis itu berhenti dan menoleh.
"Nama kamu siapa tadi?" Galang bertanya.
"Ara." jawab si gadis dengan hidung mancung dan rambut ikal kecokelatan berpita warna warni itu, yang kemudian segera masuk ke barisan teman satu angkatannya.
🌹
🌹
Bersambung...
oke, sampai disini masih ragu untuk like komen dan kirim hadiah? padahal yang baca novel ini udah lebih dari 10k sehari lho. Tapi yang tekan like aja nggak sampai dua ribuan. Biasakan dong Gaes, kalau merasa repot ngasih komen minimal like lah. itu gratis tapi sangat berarti buat author.