
🌹
🌹
Rania tertegun di depan kasir swalayan yang jaraknya tak terlalu jauh dari apartemen. Menunggu belanjaannya selesai dihitung dan hendak dia bayar. Ketika sesuatu hal terlintas di pikirannya.
"Teh?" panggilnya kepada kasir.
"Ya?"
"Ada alat tes kehamilan nggak?"
"Alat tes kehamilan?"
"Iya."
Sang kasir tertegun.
"Ada nggak?"
"Ada, mau yang bagus apa yang biasa?"
"Bedanya apa?"
"Kalau yang bagus harganya mahal, kalau yang biasa lebih murah."
"Semua orang juga tahu kalau itumah. Beda yang lainnya apa selain harga?"
"Cuma di merk doang sih, Teh."
"Hmm ... Beli masing-masing satu deh."
"Oke. Mau sekalian sama pil kb nya juga nggak?" tawar sang kasir.
"Pil kb?"
"Iya, biasanya yang beli alat tes kehamilan ya sama pil kbnya, atau kond*mnya sekalian biar lebih afdol?"
"Kond*om?"
"Iya, ini." gadis itu menunjukan sebuah bungkusan kotak kecil berwarna-warni. "Buat si aa nya biar nggak nyembur sembarangan." katanya, lalu tersenyum.
"Ish!! bahasanya!!" Rania bergumam. "Nggak usah, aa saya punya banyak dirumah." katanya, yang kemudian menoleh ke belakang saat dia mendengar suara tawa dari pembeli di antrian belakang.
"Ada lagi?"
"Nggak ada." Rania menggelengkan kepala, kemudian segera membayar belanjaannya dengan kartu yang diberikan Dimitri tempo hari.
Rania keluar dari swalayan bersamaan dengan tibanya mobil Dimitri di tempat parkir.
"Sudah?" pria itu membuka kaca mobilnya.
"Udah." jawab Rania, yang memasukan dua kantong kresek besar belanjaannya ke bagian belakang mobil. Lalu dia sendiri masuk ke bagian kursi penumpang di sebelah kiri suaminya.
"Beli apa?"
"Makanan."
"Memangnya yang diapartemen sudah habis?" pria itu menatap dua bungkusan besar berisi beberapa macam camilan di kursi belakang mobilnya.
"Udah, makanya aku beli juga."
"Duh, padahal itu beli kemarin sore kan?"
"Ish, aku butuh makan banyak lah. Lagi masa pertumbuhan." jawab Rania.
"Masa pertumbuhan apanya? badan dan tinggi kamu segini-segini saja? sebelah mananya yang tumbuh?" Dimitri tertawa sambil memperhatikan tubuh mungil perempuan itu.
"Kecuali itu." lanjutnya lagi, yang kemudian menatap dada Rania yang menantang. Yang semakin hari tampak semakin menggoda dalam pandangannya.
"Apaan?" Rania menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Dari semua yang aku lihat, cuma itu yang keihatan membesar. Sementara yang lainnya tetap kecil."
"Dih?"
"Paling ini." dia menelusupkan tangannya ke bokong perempuan itu yang juga tampak lebih besar dari awal mereka menikah.
"Ish!!" Rania menepuk lengan Dimitri yang meremat bokongnya dengan gemas. Namun pria itu malah tertawa.
"Kamu jadi genit, dan mesum."
"Sudah dari sananya. Baru tahu ya? apalagi sekarang." dia mengedipkan sebelah matanya.
"Aih, ..."
"Mau kemana lagi kita?"
"Pulang aja, aku capek. Latihan hari ini rasanya berat." dia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Kan sudah aku bilang tadi, tunggu aku yang beli makanannya sambil pulang kerja. Atau suruh orang apartemen. Tapi kamu malah pergi sendiri. Padahal baru pulang latihan 'kan?" Dimitri menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir swalayan.
"Aku nggak sabar, habisnya udah nggak ada makanan lagi di apartemen."
"Kebiasaan kamu, padahal aku cuma sebentar."
Rania hanya tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Camilannya dirapihkan lagi Zai, biar besok masih enak kalau mau kamu makan lagi." Dimitri menunjuk meja yang berantakan. Beberapa bungkusan kosong dan makanan sisa Rania.
"Hehe, lupa." perempuan itu hampir saja masuk kedalam kamar setelah mencuci tangannya.
"Ck! kebiasaan."
"Besok juga ada yang beresin."
"Kalau untuk masalah ini jangan mengandalkan orang lain. Selama masih bisa, apa salahnya kalau di kerjakan sendiri? dibiasakan juga biar tempat kita selalu bersih. Aku nggak biasa berantakan seperti ini." ujar Dimitri.
"Iya pak, maaf."
"Nggak usah minta maaf, kerjakan saja. Kan untuk kamu juga."
"Iya." Rania kemudian membereskan kekacauan yang dia buat barusan, sementara Dimitri memperhatikannya dari ambang pintu.
***
"Sudah?" ucapnya setelah perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya.
"Udah. Sampahnya udah aku buang, yang masih ada sisa aku rapihin kedalam lemari." jawab Rania sambil membersihkan tangannya di bak cuci piring.
"Bagus." Dimitri mengusap puncak kepalanya. "Mau tidur?"
Rania menganggukan kepala.
"Tapi beneran tidur ya? nggak ngapa-ngapain?" Rania mengekori pria itu masuk kedalam kamar mereka.
"Kenapa?" Dimitri tertawa.
"Hari ini rasanya aku capek." mereka naik ke tempat tidur.
"Sepertinya papamu melatihmu dengan keras ya?"
"Gitu deh."
"Jelas, tiga balapan terakhir ini memang sangat penting." Dimitri merebahkan kepalanya diatas bantal.
"Hu'um. Apa aku bisa ya?"
"Bisa lah. Belasan balapan kamu menangkan dengan baik, yang tiga ini juga pasti bisa."
"Kok aku tiba-tiba takut ya?" Rania tertawa.
"Takut kenapa?" pria itu memiringkan tubuhnya.
"Nggak tahu. Apa gugup ya?"
"Mungkin cuma gugup."
"Iya, mungkin. Tapi nggak biasanya." dia tertawa lagi.
"Bagaimana tidak gugup, ini balapan paling penting. Apalagi di Mandalika nanti, yang akan menjadi ajang pembuktian paling besar untuk kamu."
"Iya. Masa di negeri sendiri aku kalah ya? nggak mungkin. Jangan sampai bikin malu satu negara."
"Berusaha saja semampu kamu, karena orang-orang sebagian besar tidak akan melihat hasil, tapi sekeras apa usaha kamu."
"Tapi kan lebih baik kalau hasilnya bagus juga?"
"Iya."
"Hmm ...
"Aku seharian ini memikirkam ucapan papa kamu."
"Yang mana?"
"Soal menunda punya anak."
"Hum?"
"Mungkin dia benar, sebaiknya kita mulai memikirkannya ya?"
"Iya gitu?"
"Iya. Baru terpikirkan seharian ini."
"Aku juga."
"Aku cuma membayangkan bagaimana misalnya kalau tiba-tiba saja kamu hamil?" pria itu terkekeh.
"Emangnya kenapa?"
"Papa kamu pasti ngamuk. Karena kamu harus berhenti balapan. Padahal kontrak dua tahun di depan mata."
"Oh iya. Aku nggak mikir ke arah sana lho."
"Apalagi aku." Dimitri tertawa lagi.
"Apa aku harus pakai kb dulu?"
"Mungkin."
"Hmmm ... "
"Kita periksa kamu dulu besok, konsultasi juga dengan dokter bagaimana baiknya."
"Kalau misalnya aku hamil?" Rania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya. Baru membayangkannya saja sudah ngeri.
Aku? hamil? nggak kebayang. Apalagi sambil balapan. batinnya.
"Ya semua kegiatan harus dihentikan." jawab Dimitri.
"Duh?"
"Ya masa kamu mau balapan dalam keadaan hamil? bahaya. Melanggar aturan federasi juga."
"Gitu ya?"
"Iyalah."
"Sayang ya? terus gimana sponsor kalau misalnya aku hamil?"
"Mereka akan mencabut dukungan, karena sudah dipastikan kamu akan berhenti balapan untuk waktu yang cukup lama. Yang lebih parah, mungkin mereka akan menuntut ganti rugi, atau uang pembayaran kontrak di kembalikan."
"Aduh, ...
"Nggak termasuk aku ya, karena soal itu bisa di kondisikan."
Rania mendengarkannya dengan baik.
"Yang aku takutkan bukan federasi, atau sponsor lain, tapi papamu."
"Dih?"
"Dia pasti akan sangat marah, terutama kepadaku karena telah membuatmu hamil sebelum balapan musim ini berakhir." dia tergelak.
Kemudian mereka terdiam.
"Fix, besok kita periksa ke dokter, terus pasang kb. Sebelum aku berangkat ke Argentina minggu depan."
"Baiklah." Dimitri mencoba memejamkan mata.
"Atau kamu yang pakai pengaman ya?"
"Apa?"
"Kan mama bilang kb di awal nikah nggak baik buat rahim? nanti rahim aku bermasalah."
"Mmm ...
"Kamu punya banyak pengaman, 'kan?"
"Hah?"
"Waktu itu aku nemu banyak di laci."
Dimitri tertegun, dan dia baru ingat akan hal itu.
"Jadi, dari pada aku yang pasang kb, lebih baik kamu pakai pengaman aja."
"Soal itu ...
Rania kemudian tertawa lagi.
"Kayaknya bakal aneh." otak polosnya membayangkan jika naga ajaib milik suaminya harus di pakaikan pengaman. Lalu dia menutup wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Heh, otakmu itu!!" Dimitri mengacak rambutnya, gemas.
"Asli, aku bayanginnya lucu."
"Lucu apanya!!"
"Itu ... mmm naganya." Rania terus tertawa.
"Diamlah, katanya mau tidur, kenapa malah jadi membahas naganya?"
"Gimana jadinya si naga kalau pakai pengaman ya? aku penasaran."
"Hah!!!" pria itu membalikan tubuhnya.
"Eh, sebelum ketemu aku kamu kan suka main pakai pengaman? gimana itu?" Rania mendekat ke punggung suaminya.
"Diam!"
"Ayo, ceritain. Apa rasanya sama kayak lagi nggak pakai?" dia dengan lugunya.
"Tidur Zai, sudah malam."
"Eh, aku mau tahu."
Dimitri terdiam.
"Yang, ayo cerita!!" Rania mengguncangkan bahu suaminya.
"Yang!!"
"Aku ngantuk." pria itu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
"Sayang!!"
Dimitri tak menjawab lagi.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
iya nih, ngebayanginnya lucu ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
jangan lupa like komen sama hadiahnya.
lope lope sekebon cabe