
🌹
🌹
"Syukurlah dia baik-baik saja. Baik, terimakasih." Satria meletakan ponselnya di atas nakas setelah menerima kabar dari Angga.
"Bagaimana sayang?" Sofia dengan rasa penasaran.
"Rania baik-baik saja, dia ada di villa Raja di Bogor."
"Oh, ... syukurlah." keduanya sama-sama merasa lega.
"Apa kita akan menjemputnya?"
"Aku rasa jangan dulu. Biarkan dia menghabiskan waktunya sendirian." jawab Satria.
"Kenapa? sudah empat hari Rania menghilang, aku rasa itu cukup."
"Tidak. Kalaupun dia pulang, biarkan dia pulang karena keinginannya sendiri, bukan karena di paksa."
"Apa Dimitri sudah tahu?"
"Belum."
"Kita beri tahu saja, agar dia yang mejemputnya sendiri kesana. Kan bagus, mereka akan berdamai." Sofia berujar.
"Tidak." Satria menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak? bukankah lebih baik jika kita mendamaikan mereka? aku rasa ide tentang menyembunyikan Rania itu tidak bagus juga. Kasihan anak kita."
Satria menatap perempuan itu untuk beberapa saat.
"Apa aku salah bicara?" Sofia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Tidak, pendapatmu semuanya benar."
"Lantas?"
"Tapi sepertinya kita perlu memberi Dimitri sedikit shock terapi. Selama ini dia selalu mudah mendapatkan keinginannya, bahkan ketika ingin menikahi Rania pun jalannya mulus-mulus saja. Aku pikir setelah menikah dia akan merubah caranya bertindak, tapi ternyata tidak seperti yang aku harapkan."
"Mungkin karena kita terlalu memanjakannya, membuat dia sering menyepelekan banyak aspek yang dalam pandangan orang lain merupakan hal besar. Dan dari sini aku harap dia akan belajar untuk meraba perasaan orang lain, bukan hanya kepentingannya sendiri."
"Aku rasa sikap Dimitri tidak sefatal itu, mereka hanya masih terlalu muda. Dua-duanya sama-sama egois. Jadi, kenapa kita tidak segera menghentikan keegoisan ini agar tidak berlarut-larut?"
"Kamu pikir begitu?"
"Ya, ...
"Dan nanti mereka akan mengulanginya lagi dan lagi, tanpa ada penyelesaian berarti. Tanpa ada pembicaraan yang benar, dan penyelesaian yang tepat antara mereka sendiri."
Sofia bungkam.
"Jadi, kenapa tidak kita biarkan saja dulu seperti ini, setidaknya sampai Dimitri mengerti. Setelah dia mengerti, baru kita bisa mengatur agar Rania mau pulang. Kamu tahu, dia itu perempuan, sudah fitrahnya mengikuti laki-laki. Mau bagaimana kerasnya dia, Rania tetap perempuan. Yang harus kita rubah terlebih dahulu mungkin anak kita."
"Begitukah?"
"Mungkin jika melihat Dimitri berubah, Rania pun akan melakukan hal yang sama."
"Tapi kasihan Dimitri, Lina bilang dia pergi pagi-pagi sekali tanpa sarapan, lalu pulang sangat larut. Aku sengaja menyuruh Lina tetap di sana sementara waktu sampai Rania pulang."
"Tidak apa-apa."
"Kamu ini kejam."
"Masih lebih kejam jika aku memukulnya karena masih memberi perhatian kepada Ara, padahal dia sudah menikah."
"Ah, ... soal itu." Sofia merebahkan kepalanya di atas bantal.
"Tindakan kita sudah tepat dengan mengalihkannya kepada Rania, tapi aku tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Mengingat Dimitri yang sepertinya tergila-gila kepadanya. Aku kira sikapnya pada Ara akan berubah."
"Mereka itu tumbuh bersama sejak kecil, tidak mudah merubah kebiasaan begitu saja."
"Aku tahu, tapi setidaknya dia juga harus ingat jika keadaannya sudah berbeda, bukan? jadi seharusnya mereka sama-sama punya batas. Dimitri itu hak dan kewajibannya Rania sekarang."
"Memang. Tapi kan dia tidak sengaja melakulan itu? kamu tahu sendiri itu hanya percakapan biasa." Sofia membela sang putra.
"Bukan percakapannya yang menjadi masalah, tapi kebohongannya. Dan sudah jelas anak kita sengaja melakukannya. Untuk apa? untuk menutupi perasaannya kepada Ara?" ucap Satria.
"Kamu tahu bukan begitu kenyataannya. Jika Dimitri masih memiliki perasaan kepada Ara, tidak mungkin dia seputus asa ini setelah ditinggal Rania." tukas Sofia.
"Dan dari sini kamu belum mengerti?"
"Mengerti soal apa?"
"Bahwa kebohongan kecil menimbulkan kecurigaan yang besar."
Sofia terdiam lagi.
"Kamu tahu, Rania bisa menerima Dimitri dengan segala keburukannya. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang anak kita lakukan semasa lajang, karena apa? karena dia jujur, dan percaya jika suaminya melakukan itu semua tanpa perasaan mendalam. Tapi dengan Ara? kebohongan Dimitri kepadanya menimbulkan kecurigaan jika mereka memiliki hubungan di belakangnya. Bukankah itu menyakitkan? dan kamu pun tahu sendiri, jika perempuan sangat sulit melupakan sakit hati."
"Hhh..." Sofia menghela napas dalam-dalam.
"Jadi, biarkan saja mereka seperti ini dulu, kita tidak usah ikut campur. Ranahnya sudah berbeda sekarang ini. Biarkan Dimitri menyelesaikan masalahnya sendiri." pria itu pun merebahkan dirinya tak jauh dari Sofia.
"Oh, baiklah. Semoga saja aku punya kesabaran berlebih untuk tidak membantu putraku. Tapi kalau terlalu lama ya tidak tahu."
"Kamu akan membantunya?"
"Ya apa lagi? tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu ketika melihat anaknya menderita."
"Hmm ...
"Tapi nanti, kalau Dimitri memang sudah benar-benar tidak mampu melakukannya sendiri."
"Lalu bagaimana dengan aku?"
"Apanya?"
"Kamu pasti akan mengabaikan aku jika memikirkan Dimitri."
"Oh tidak mungkin papa bear. Bagaimana aku bisa mengabaikanmu jika setiap saat kamu terus saja meminta perhatianku."
"Benarkah?"
"Humm." perempuan itu menganggukkan kepala.
"Bagaimana kalau sekarang ini aku meminta perhatianmu?"
"Bukankah kita sedang berbicara? sudah pasti kamu dapat perhatianku."
"Untuk hal lain."
"Apa?"
Satria hanya tersenyum.
"Ah, ... kamu masih genit, padahal kita sudah jadi kakek nenek. Sebentar lagi cucu kita bertambah." Sofia yang mengerti arti dari senyuman suaminya.
"Memang, kita kakek nenek yang bahagia." sementara Satria merapatkan tubuhnya, dan merangkul tubuh perempuan ini yang masih cantik di usia setengah bayanya, yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.
"Iya, sangat-sangat bahagia." Sofia menyambutnya dengan senang hati.
🌹
🌹
Dimitri mejatuhkan dokumen yang tengah di kerjakannya setelah mendengarkan laporan Andra mengenai keberadaan Rania. Yang mengaku masih belum bisa menemukannya di manapun. Meski bawahannya telah menyisir beberapa tempat yang kemungkinan dia singgahi.
"Masa dia keluar negeri? paspor dan semua dokumen masih ada di rumah." pria itu menghentikan pekerjaannya.
"Saya pikir tidak. Dia masih di dalam negeri, dan kemungkinan tidak keluar pulau juga." Andra menjawab.
"Lalu kenapa masih juga belum di temukan?" Dimitri menggeram.
"Mungkin dia pergi ke tempat terpencil?" Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mengapa atasannya tak memiliki perkiraan sama sekali?
Dasar putra Satria Nikolai! gerutunya dalam hati.
"Lalu dimana?" Dimitri menjadi semakin frustasi.
"Entahlah, kita masih akan terus mencari." Andra menjawab lagi.
"Cepatlah temukan Dia! aku tidak bisa menlmbayangkan bagaimana keadaannya sekarang ini." Dimitri dengan suara parau, ssmentara Andra mendelik sambil menggelengkan kepalanya.
"Atau, tangani saja dulu pekerjaanku." akhirnya pria itu pun bangkit dari kursinya.
"Ya apa lagi? istriku diluar sana sendirian, sementara aku sibuk bekerja? yang benar saja! Sementara waktuku hanya tunggal satu hari lagi, atau semuanya berakhir." Dimitri berjalan keluar dari ruangannya dengan tergesa.
"Dim, pertemuan di Hotel Indinesia setengah jam lagi, apa kamu mau pergi sekarang?" Clarra hampir saja masuk ke ruangan atasannya.
"Tidak, aku mau mencari Rania." jawab Dimitri tanpa menoleh sedikitpun.
"Lalu rapatnya?"
"Ada om Andra."
"Tapi Dim?"
"Aku nggak ada waktu lagi, Rania harus segera aku temukan." pria itu masuk ke dalam lift yang membawanya turun ke lantai bawah.
🌹
🌹
Rania membuka jendela kamarnya ketika mendengar kegaduhan di pekarangan villa, dan Hamdan terdengar berteriak-teriak disana.
"Pak? ada apa?" perempuan itu berteriak dari lantai atas.
"Ini neng, anak-anak." jawab Hamdan.
"Kenapa?"
"Masuk sembarangan."
Rania memutuskan untuk turun.
"Apa sih ribut-ribut?"
"Ini anak-anak masuk, padahal sudah di larang Neng."
Kemudian Rania mengalihkan pandangannya kepada beberapa anak laki-laki yang masuk ke pekarangan.
"Mau ambil layangan teh." salah satu di antara mereka menunjuk benda yang melayang ke arah dalam, kemudian tersangkut di atas pohon kiara di belakang villa.
"Ck! cuma mau ngambil layangan?"
"Iya teh." jawab anak itu.
"Ya udah, ambil gih."
"Nuhun teh." anak-anak itu pun berlari ke bagian belakang rumah. Mereka berebut menaiki pohon sebesar drum tersebut di mana layangan kecil tersangkut di sela ranting yang kecil.
"Biarin deh pak, cuma anak-anak ini." ucap Rania.
"Tapi kalau di biarkan, nanti mereka jadi kebiasaan Neng."
"Nggak apa-apa. Jadi rame juga villa nya. Saya seneng kalau rame gini."
"Tapi ...
"Nggak apa-apa pak, cuma anak-anak."
"Ya udah."
"Bapak mau ke mana udah rapi gini?" Rania kemudian bertanya, melihat penampilan pria tua itu yang rapi dengan kemeja batiknya.
"Oh, ... mau ke terminal."
"Ngapain? mau mudik?"
"Nggak neng, mudik ke mana? bapak sama si Ambu kan asli orang sini."
"Terus?"
"Mau jemput Gaza."
"Gaza?"
"Cucu bapak, yang tinggal di Jepang sama orang tuanya. Kebetulan libur kuliahnya mau di sini."
"Cieee, ... keren bener anaknya tinggal di Jepang?"
"Iya, habis kuliah langsung dapat kerja di sana, sekalian sama jodohnya. Orang mana ya lupa? Ho ... Ho apa ya? Hoka ...
"Hokkaido?"
"Nah iya, orang Hokkaido."
"Wah, ... keren-keren."
"Iya, neng. Memperbaiki keturunan." pria tua yang masih energik itu tertawa.
"Dih, memperbaiki keturunan."
"Iyalah, kan keturunan bapak jadi lebih baik. Cucu bapak ganteng lho."
"Masa?"
"Beneran."
"Bapak lagi promosi sama saya?"
"Aduh, nggak berani. Neng kan udah nikah, masa bapak promosiin cucu bapak sama Neng? lagian malu sama Pak Raja."
"Nah, anak bapak kuliah sama kerja di Jepang, terus kenapa bapak udah tua masih aja kerja jaga villanya kakek?"
"Atuh kalau nggak jaga villa bapak mau ngapain di rumah? tani udah sama anak-anak. Bapak nganggur."
"Ya, nikmatin hari tua kek, santai gitu?"
"Ngga biasa Neng, lagian itung-itung balas budi sama Pak Raja. Selama bapak masih mampu mah."
"Balas budi apaan?"
"Ya, ayahnya Gaza bisa kuliah ke Jepang kan karena di biayai Pak Raja juga. Sampai berhasil dan jadi warga kehormatan di sana karena hasil penelitiannya."
"Apa? beneran?"
"Iya, penemuan anak bapak kan di gunakan sama pemerintah sana."
"Anak bapak hebat!"
"Iya dong," Hamdan dengan bangganya.
"Terus bapak kesini mau apa? bukannya cepet pergi, siapa tahu cucunya udah nunggu?"
"Iya, mau pamit antar makanan. si Ambu tadi udah masak, sekalian pamit."
"Oh, ... oke. Makasih."
"Ya udah atuh neng, bapak pergi dulu?"
"Iya iya."
"Tapi itu anak-anaknya gimana?" Hamdan menunjuk anak-anak yang masih berada di halaman belakang villa.
"Udah, nggak apa-apa. Biar saya ada temen."
"Oh, ya udah kalau gitu. Bapak pergi dulu ya?"
"Iya pak, oke."
Kemudian pria itupun pergi.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
tenang, tenang masih panjang episodenya sampai Dimi berhasil menemukan Si Oneng 😜😜
yang penting tetep klik like, kirim komen sama hadiahnya yang banyak. Oke genks?😂😂
lope lope sekebon cabe.😘😘