All About You

All About You
Galang Dan Ara



🌹


🌹


Galang berdiri menyandarkan bokongnya pada motornya yang dia standarkan di tempat parkir kampus pada sore hari setelah menyelesaikan mata kuliahnya. Sengaja dia menunggu Amara setelah tiga hari gadis itu menghindarinya sepulangnya dia dari Mandalika.


Pemuda itu menegakkan tubuhnya ketika Amara muncul di antara kerumunan mahasiswa yang keluar bersamaan dengannya.


Gadis itu tampak sibuk berbicara dengan teman sekelasnya. Mungkin membahas mata kuliah, atau proyek lain yang mungkin tengah mereka kerjakan.


"Ra?" panggilnya saat gadis itu melintas di depan tanpa menyadari keberadaannya. Atau mungkin dia sengaja tak menghiraukannya karena masih marah akibat permasalahan tempo hari.


Amara menghentikan langkah dan dia menoleh.


"Oh, hai? udah pulang?" katanya, berlagak biasa saja. Meskipun hatinya ternyata masih kesal kepada pemuda itu.


"Hmm ... kamu lihat sendiri."


"Oke." ucap Amara. "Udah mulai kuliah?" dia bertanya lagi.


"Udah."


"Bagus." dia mengangguk-anggukkan kepala. "Ya udah, aku harus pergi soalnya ada ...


"Ayo kita ngobrol?" Galang memotong ucapannya.


"Tapi aku ada proyek yang ...


"Ayo kita ngobrol." ulang Galang.


Amara terdiam.


"Kamu hindari terus rasanya nggak enak." lanjut pemuda itu yang kemudian melirik teman sekelas Amara yang berada di sampingnya. Yang kemudian mundur begitu dia mengerti arti dari lirikan tersebut.


Galang mendekat, kemudian memasangkan helm di kepala Amara, kemudian menariknya ke arah motor. Dia menaikinya, kemudian mengisyaratkan kepada gadis itu untuk mengikutinya.


"Naik." katanya, singkat.


"Tapi aku kan ...


"Naik. Aku janji cuma sebentar kalau memang proyek kamu lebih penting. Setelah ini aku nggak akan minta kamu untuk ikut aku lagi." ucap Galang.


"Apa?"


"Atau emang udah nggak mau ikut?" lanjut pemuda itu yang menghidupkan mesin motor crossnya.


Amara mendengus pelan, yang akhirnya memilih untuk mengikutinya juga.


***


Mereka tiba di satu spot makan yang cukup terkenal di Bandung, yang sore itu sudah cukup ramai. Namun karena tempatnya yang berada di alam terbuka sebuah wilayah perbukitan menjadikannya cukup terasa pribadi juga untuk mereka.


Dengan tempat-tempat duduk yang di rancang cukup berjauhan antara satu dengan yang lainnya, membuat mereka memiliki ruang untuk berbicara secara pribadi.


Amara menyesap smoothies strobery vanilla nya yang baru saja tiba, sementara Galang memilih soft drink berperisa lemon dengan tambahan es batu di gelasnya.


"Semarah itu kamu, cuma gara-gara kita nggak pulang bareng?" Galang langsung pada maksudnya mengajak gadis itu pergi.


Amara tak menjawab.


"Aku pikir kamu nggak serius waktu bilang balik ke Bandungnya sekarang aja."


"Hum?"


"Pas aku sampai rumah kamu, mommy kamu bilangnya kamu udah berangkat."


"Apa?"


🥀 Flashback On 🥀


Galang memutuskan untuk berpisah dengan rombongan tim dari Bandung, untuk kemudian segera menuju kediaman Arfan. Pemuda itu memberanikan diri untuk datang ke tempat itu setelah dia pikir-pikir ada bagusnya juga jika dia dan Amara pulang ke Bandung bersama-sama.


Namun hanya Dygta yang menerima kedatangannya pada hampir siang itu.


"Kalau mau sama-sama, kenapa Ara berangkat duluan ya?" perempuan itu bertanya-tanya.


Sementara Galang hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu pacaran sama Ara?" Dygta kemudian bertanya lagi.


"Ee ...


"Nggak usah tegang gitu, santai saja." perempuan itu sedikit tertawa. "Saya santai kok, nggak seperti papanya."


"Umm ...


"Pacaran ya?" tunjuk Dygta pada wajah pemuda itu. Dan kebungkaman Galang menjadi jawaban pasti baginya.


"Oke." perempuan itu mengangguk-angguk.


"Tapi ...


"Tapi jangan macam-macam!" lanjut Dygta, selesaikan kuliah, baru bisa memikirkan hal lainnya. Biarkan Ara mewujudkan cita-citanya, dan membuat papanya bangga dulu. Baru kalian bisa lebih serius."


"Se-serius?"


"Iya, kalau mau serius."


"Eh, ... saya juga kan belum lulus Tante?"


"Ya makanya."


"Mmm ...


"Sudah, kalau mau pulang sebaiknya sekarang. Sebentar lagi papanya Ara datang. Takutnya kamu nggak akan kuat menghadapi suami saya sekarang." Dygta terkekeh.


"Oh iya, baik Tante. Kalau begitu saya pamit." Galang segera saja bangkit. Dia memang tidak berniat untuk berhadapan dulu dengan Arfan dalam waktu dekat ini. Bukan apa-apa, hanya saja dirinya belum siap untuk menjawab kalau-kalau pria itu bertanya banyak hal kepadanya.


"Oke."


Pemudia itu segera menghambur keluar.


"Oh ya Galang?" panggil Dygta lagi.


"Ya?" pemuda itu berbalik setibanya dia di teras.


"Jangan terlalu berani, Ara masih dalam pengawasan papanya."


"Maksudnya?"


"Dia masih di awasi papanya, kamu harus hati-hati. Waktu saya bilang jangan macam-macam, itu artinya jangan macam-macam. Atau sesuatu terjadi kepadamu."


Galang tertegun.


"Bye Galang." lanjutnya yang kemudian menutup pintu.


🥀 Flashback Off 🥀


"Aku merasa sekarang ini kita lagi di awasi." Galang terkekeh, lalu menyesap minuman miliknya.


"Kakak datang ke rumah?" Amara bertanya.


Pemuda itu mengangguk kemudian menghabiskan minumannya.


"Kenapa nggak bilang kalau mau ke rumah?"


"Kamu langsung tutup telfonnya."


"Kenapa nggak ngechat?"


"Kan udah aku bilang, aku pikir kamu bercanda waktu mau pergi duluan."


Amara menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.


"Kenapa juga kakak nggak bilang kalau udah mampir ke rumah?"


"Ini bilang."


"Kemarin-kemarin."


"Kan kamunya menghindar terus?"


"Kan kakak bisa bilang lewat chat?" suara Amara mulai meninggi.


"Yakin kamu bakal percaya?"


Gadis itu terdiam.


"Aku pikir, cewek kalau lagi ngambek nggak akan menerima pesan atau alasan apapun. Jadinya ... ya udah." Galang menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Aku nggak ngambek." Amara membela diri.


"Nggak ngambek tapi telfonnya dimatiin. Tiga hari menghindar pula?" sergah Galang yang melipat kedua tangannya di dada.


Amara kembali terdiam.


"Kalau apa-apa tuh jangan langsung emosi, apalagi langsung tutup telfon. Siapa tahu yang di telfon mau jelasin alasannya. Atau mungkin berubah pikiran kayak aku kemarin. Kalau gini jadi salah faham kan? hampir aja kita berantem beneran."


Amara menggigit bibirnya keras-keras.


"Udah, cepetan habisin minumannya." ucap Galang kemudian setelah meletakan selembar uang pecahan lima puluh ribuan di treybill.


"Kakak mau pergi? kakak sibuk?" gadis itu mengangkat kepalanya.


"Nggak, aku santai. Selain kuliah aku nggak ada kerjaan lagi. Si oneng kan udah cuti, paling nggak sampai tahun depan. Sekarang aku pengangguran."


"Si oneng?"


Amara terdiam lagi.


"Udah, cepet. Nanti kamu telat. Lagi banyak proyek kampus kan?" Galang bangkit dari kursinya.


***


"Kak?"


"Hmmm ..."


Mereka sedang dalam perjalanan ke tempat tujuan Amara mengerjakan tugas kuliahnya bersama kelompoknya yang sudah menunggu.


"Sekarang kakak marah?" Amara memulai pembicaraan lagi. Memecah keheningan setelah sepuluh menit perjalanan dengan motor cross Galang yang melaju dalam kecepatan sedang.


"Nggak, kenapa aku harus marah?" pemuda itu menjawab.


"Habisnya kakak diem?"


"Nggak ada bahan obrolan."


"Jujur banget sih?" Amara menggerutu.


"Ya emang nggak ada, apa yang mau di obrolin?"


"Ya apa kek, mikir!"


"Ini juga lagi mikir, tapi nggak ketemu."


"Apanya?"


"Bahan obrolannya."


"Ish, ... kakak ini!" kemudian ponsel Amara berdering. Sebuah pesan masuk dari salah satu teman satu kelompoknya. Amara terdengar mendengus.


"Apa?"


"Kerja kelompoknya nggak jadi." jawab gadis itu.


"Kenapa nggak jadi?"


"Ada yang harus pulang."


"Oke." kemudian pemuda itu membelokan kendaraannya ke arah lain.


"Terus kita mau ke mana?"


"Pulang."


"Kok pulang?"


"Ya pulang lah, emangnya mau ke mana lagi? udah sore gini?" pemuda itu menahan senyum. Entah mengapa rasanya dia senang untuk mengerjai gadis ini.


Amara terdiam, hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu pagar kediaman Lita dan Hari.


"Aku nggak mampir ya, mau benerin motor dulu." katanya saat gadis itu turun, dan dia membuka helmnya.


"Motor melulu yang di urusin." Amara menggerutu.


"Kan udah kerjaan aku."


"Katanya nganggur?"


"Nganggur juga kalau cek motor mah nggak bisa berhenti. Bisa karatan mesinnya." jawab Galang dengan cueknya.


"Tapi yang karatan hati aku."


"Apa?" Galang tertawa.


"Ketawa mulu?"


"Habisnya kamu lucu." dia mencubit pipi Amara dan sedikit mengguncangnya dengan gemas.


"Kakak ish!!" gadis itu menepis tangannya dengan perasaan kesal.


"Ngambek terus sih?"


"Habisnya kakak nyebelin."


"Nyebelin sebelah mana nya?"


"Kakak cuek, terus lempeng aja gitu."


"Cuek soal apa? aku ya begini aja, kamu mau aku tiba-tiba jadi perhatian gitu? nggak bisa."


"Ya nggak gitu juga."


"Terus?"


"Tau ah, aku pusing."


"Minum obat Ra."


"Apa?"


"Kalau pusing minum obat."


Amara mengetatkan rahang hingga giginya bergemeletuk.


"Terserah kakak!" katanya, yang menghentakan sebelah kainya ke tanah kemudian memutar tubuh.


"Ra!" galang meraih tangannya


"Jangan ngambek terus dong?"


"Habisnya kakak ngeselin."


Galang tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya terdongak ke atas. Semakin lama mengerjainya semakin merasa gemas pupa dirinya terhadap gadis ini.


Amara terdiam menatap pemuda itu, kemudian sesuatu mendorongnya ke dekat Galang dan mengikis jarak di antara mereka. Wajah mereka berdekatan, dan bibir keduanya bertabrakan.


Galang membeku, sesuatu seperti baru saja meledak di dalam dadanya dan efeknya menyebar ke segala arah.


"Mmm ...


Amara menarik diri begitu dia menyadari, namun Galang segera menahan pinggangnya dan meneruskan cumbuan.


Rasanya ...


Dadanya bergejolak dan perasaannya meletup-letup. Ini pertama kali bagi mereka dan tentu saja rasanya indah.


Dering ponsel menginterupsi kegiatan keduanya, membuat mereka tersadar dan melepaskan satu sama lainnya.


"Hallo pah?" Amara menjawab panggilan dari sang ayah.


"Kamu masih di kampus?" Arfan bertanya dari seberang sana.


"Nggak, ini baru sampai rumah." Amara menjawab.


"Benarkah?"


"Iya papa."


"Baiklah, kalau begitu."


"Ada apa papa nelfon aku?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya memastikan kalau kamu sudah pulang."


"Udah papa."


"Iya. Cepatlah masuk rumah, sudah hampir malam."


"Oke papa." dan percakapan pun diakhiri.


Suasana hening begitu terasa diantara mereka. Kecanggungan juga tercipta manakala mata keduanya kembali beradu pandang.


"Mm ... aku masuk dulu." Amara buka suara.


"Oke, aku juga mau pulang."


"Oke."


Galang kembali menghidupkan mesin motornya.


"Besok aku jemput?"


Amara tak menjawab.


"Aku jemput, kita berangkat sama-sama." ucap pemuda itu, yang kemudian pergi.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Duh, ... gak nyangka anaknya kang jahe bisa gitu yak😂😂


biasa atuh, klik like komen sama kirim hadiahnya.


lope lope sekebon jahe 😘😘😘