
🌹
🌹
Dua sejoli ini tertawa terbahak-bahak saat mereka berhenti di suatu tempat. Setelah menghindari kejaran beberapa pemotor yang merasa terganggu dengan aksi mereka, keduanya tiba di daerah perbukitan di utara kota Bandung yang sepi. Area sisi tebing yang menampilkan pemandangan petang yang mempesona.
"Aku pikir kamu nggak bisa bawa motor?" Rania duduk diatas tangki motornya dan menghadap ke belakang. Sementara Dimitri bersandar pada motornya sendiri di sebelah.
"Bisa lah, apa yang aku nggak bisa?" jawab pria itu yang melepaskan sarung tangannya.
"Nggak kelihatan."
"Aku nggak nunjukin semua yg aku mampu, tahu? kalau aku tunjukin semua kamu pasti kaget." Dimitri dengan sombongnya.
"Masa?"
"Iyalah."
"Apa aja?"
"Banyak."
"Iya, apa?"
"Mendapatkan kamu, misalnya." ucapnya, kemudian tersenyum.
"Itu bukan kemampuan."
"Aku sebut itu kemampuan, karena memamg membanggakan kalau misalnya aku bisa mendapatkan kamu."
"Dih, kata-katanya..." Rania tertawa lagi.
"Serius Zai. Kamu tahu, sekarang ini tiba-tiba aku meiliki keinginan yang besar untuk hubungan kita. Aku ingin kita lebih serius soal hubungan ini."
"Maksudnya?"
"Ayo kita beritahu semua orang kalau kita pacaran?" Dimitri menegakan tubuhnya.
"Apaan? nggak mungkin." toalk gadis itu secara spontan.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Bisa tamat karir balapan aku."
"Kenapa?"
"Papa aku bisa ngamuk."
"Kenapa ngamuk? apa ada yang salah?"
"Aku nggak tahu apa itu akan berhasil atau nggak, tapi yang pasti papa ngasih aku dua pilihan."
"Apa itu?"
"Balapan, atau pacaran. Dan aku milih balapan. Saat ini balapan adalah prioritas aku, Dim."
"Tapi kenyataannya kita pacaran?"
"Memang, tapi kalau misalnya papa tahu aku pacaran, pasti aku disuruh berhenti balapan."
"Kenapa?"
"Karena konsentrasi aku akan terpecah."
"Dan apakah konsentrasi kamu terpecah?"
"Untuk beberapa kali, aku akui iya."
"Benarkah?"
"Sedikit." Rania mengisyaratkan dengan tangannya.
"Apa aku mempengaruhimu?"
Rania terdiam dan berpikir.
Apa dia mempengaruhiku? batinnya.
"Kamu tahu, kedua orang tuaku mendukung hubungan ini. Mereka bahkan sangat bersemangat ketika mengetahui kalau kita sudah sedekat ini, dan mereka merencanakan sesuatu...
"Oh ya?"
"Ya."
"Kamu bilang sama orang tua kamu soal kita?"
"Nggak. Tapi mereka pasti tahu."
"Masa."
"Serius. Dan mungkin sekarang pun kita lagi diawasi orang suruhan papiku." Dimitri meihat sekeliling.
"Hah?" Rania melakukan hal yang sama.
"Serius."
"Kenapa?"
"Itu cuma... masalah keluarga. Semua anak dikeluargaku diawasi seperti itu."
"Ish, ... kayak penjahat aja diawasi."
"Yeah, ... itu cuma masalah orang tua."
"Jadi mereka udah tahu kalau kita pacaran?"
"Tahu."
"Duh,... " Rania menjengit.
"It's oke. Orang tuaku oke-oke saja dengan hubungan kita. Nggak ada masalah."
"Aku takut."
"Takut?" Dimitri tertawa. "Seorang Rania merasa takut? aku pikir kamu nggak akan takut terhadap apapun. Balapan di sirkuit bahkan lebih berbahaya dari pada kita membuka hubungan ini kepada orang-orang."
"Kamu sponsor aku," Rania menaikan kedua kakinya hingga merapat ke dada, dan kedua tangannya memeluk erat.
"Terus?"
"Kamu pernah mikir nggak, kalau misalnya nanti karir balapan aku akan dianggap menunggangi perusahaan kamu?"
"Bukankah memang perusahaan aku yang mensponsori kamu kan?"
"Bukan itu."
"Apa?"
"Nanti orang-orang akan berpikir, jalan aku yang mulus sampai ke sirkuit internasional itu karena nama besar perusahaan dan hubungan kita. Bukan karena prestasi aku."
"Jauh sekali pikiranmu?"
"Yang ada dipikiran aku gitu."
"Hubungan kita terjadi setelah kamu bisa masuk Grand Prix international Kan? jadi nggak ada kaitannya. Lagipula, kamu memang sudah berprestasi sebelum kita berhubungan."
"Tapi kan orang-orang nggak tahu itu."
"Terus kenapa kamu peduli?"
"Aku cuma...
"Tidak akan ada yang peduli juga keadaan kita. Jadi kenapa kamu juga peduli."
Rania terdiam. Rambutnya terlihat meriap-riap tertiup angin yang berhembus pada hampir malam itu.
"Aku punya niat yang baik sebenarnya." pria itu tiba-tiba saja naik ke motor merah dimana Rania duduk ditangkinya. Kini mereka berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Apa?"
"Tapi aku nggak yakin." pria itu terkekeh.
"Kamu tahu, papa aku mengancam kalau misalnya aku punya pacar aku akan dinikahkan. Dan itu kayaknya buruk. Aku harus berhenti balapan, dan nggak bisa melakukan semua yang biasa aku lakukan. Dan lagi itu akan...
Segera saja Dimitri membungkam mulut gadis itu dengan ciumannya. Menghentikan semua kata-kata yang mungkin akan dilontarkan Rania kepadanya.
Gadis itu mendorong dada Dimitri, dan menarik mundur kepalanya sendiri untuk melepaskan ciuman yang dengan cepat menjadi lebih dalam. Namun pria itu tak membiarkannya lepas begitu saja. Kedua tangannya bahkan sudah melingkar di pinggan Rania. Dia menariknya sehingga tubuh mereka berdua merapat dengan erat dan sekejap kemudian sebelah tangannya merayap keatas, lalu menekan tengkuk Rania, sehingga usaha gadis itu untuk melepaskan diri gagal total.
Suara decapan nyaring diikuti hembusan napas yang keras memecah keheningan. Dan mereka berdua terlena dalam cumbuan untuk waktu yang cukup lama.
Dimitri melepaskan tautan bibirnya setelah beberapa menit, kemudian menempelkan kening mereka berdua. Napas masih menderu-deru dan gejolak dihati masih meletup-letup, namun dia memutuskan untuk berhenti.
"Kalau begitu, ayo kita menikah?" katanya, tak lama setelah mereka menghentikan cumbuan.
"Hum?" Rania terperangah.
"Jika hubunganmu dengan laki-laki membuat papamu akan langsung menikahkanmu, kenapa tidak kita lakukan saja?" Dimitri setengah berbisik.
"Kamu bercanda!"
"Apa aku kelihatan bercanda?" kedua pasang bola mata mereka saling menatap dalam jarak tak lebih dari lima senti saja.
"Umurku baru mau 21 beberapa bulan lagi."
"Terus? yang penting kamu nggak dibawah umur 'kan?"
"Tapi karier balapan aku...
"Kariermu tudak akan terhenti hanya karena kita menikah." sergah Dimitri.
"Masa? papa aku bilang kalau udah nikah aku nggak bisa balapan lagi."
"Papamu bohong."
"Hah?"
"Aku rasa dia haya takut kehilangan anak gadisnya."
"Nggak mungkin."
"Tanya saja sendiri. Dan cari tahu juga, rivalmu di sirkuit bahkan sudah memiliki dua anak. Dan dia tidak berhenti balapan hanya karena itu."
"Beneran?"
"Kamu tidak pernah mencari tahu siapa dan bagaimana rival-rivalmu ya?" Dimitri terkekeh seraya menarik kepalanya sehingga wajah mereka kini berjarak.
"Nggak." dan Rania menggelengkan kepala.
"Aku bahkan tahu profil sepuluh besar pembalap selain kamu."
"Masa iya...
Rania terdiam lagi.
"Pernikahan bukan alasan untuk berhenti berprestasi, dan aku nggak akan menghambatmu untuk terus melakukan apa yang kamu sukai."
"Dan Kamu tahu, apalagi setelah menikah kamu akan lebih bebas menentukan pilihan."
"Masa?"
"Kamu bebas melakukan apapun tanpa takut akan dimarahi atau dihukum papamu kalau berbuat kesalahan."
"Beneran?"
Dimitri menganggukan kepala.
"Jadi, tunggu apalagi?"
"Menikah?"
"Iya, ayo kita menikah?" pria itu mengulangi kata-katanya.
🌹
🌹
Angga meraih helm di nakas dekat pintu keluar ketika terdengar deru mesin motor yang berhenti di depan rumahnya, dan sesaat kemudian Rania masuk kedalam rumah dengan santai.
Ayah Dan anak itu sama-sama tertegun di depan pintu dengan raut yang sama-sama terkejut.
"Kamu udah pulang?" ucap Angga terlebih dahulu.
"Hmm... papa lihat sendiri." gadis itu meletakan helmnya di nakas tempat biasa, lalu meggantungkan kunci motornya di dinding.
"Papa mau pergi?" lalu dia menatap penampilan ayahnya dari atas kebawah. Jaket kulit, jeans hitam, dan rider boot seperti yang selalu dia pakai ketika akan bepergian dengan motornya.
"Tadinya mau nyari kamu?" jawab Angga yang kemudian meletakan helmnya kembali.
"Nyari aku? Ngapain?"
"Cuma ... khawatir."
"Khawatir? aku nggak apa-apa. Aku udah pulang kan?"
"Hu'um, tumben baru jam sembilan udah pulang?" Angga melirik jam dinding.
"Kan aku bilang cuma jalan sebentar."
"Papa pikir kamu akan pulang malam kayak biasanya?"
"Tapi nggak kan?"
"Iya sih... "
"Ya udah, batalin niatnya. Aku udah pulang." gadis itu melenggang ke arah tangga, menuju kamarnya di lantai dua.
"Ee... Ran..." pria itu segera melepaskan sepatu, dan mengekorinya langkah putrinya.
"Ya?"
"Papa mau ngobrol."
"Apa?" Rania memutar tubuh.
Angga terdiam menatap sang putri yang sudah berada di tengah-tengah tangga. Dia tak yakin, apa ini adalah waktunya yang tepat untuk berbicara mengenai masalah pribadi atau semacamnya. Tapi dirinya tak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut. Kerena ini merupakan masa depan Rania, dan nasib perjalanan karir balapan gadis itu yang mungkin akan terganggu karena sesuatu.
"Kamu... ada hubungan sama Dimitri?" dia tanpa bertele-tele.
Tubuh Rania sedikit menegang mendengar pertanyaan sang ayah.
"Papa merasa kamu ada hubungan sama dia." lanjut Angga seraya mendekat.
"Katakan Rania!" pria itu sedikit meninggikan suaranya.
Kepalang tanggung, gadis itu bahkan sudah tak bisa memikirkan apapun lagi. Dia tak bisa berbohong, dan tak biasa menyimpan rahasia. Segala sesuatunya selalu dia ceritakan kepada sang ayah, bahkan hingga hal paling kecil sekalipun. Dan jika harus menyimpan ini lebih lama lagi, rasanya dia tidak akan kuat.
Dan ucapan Dimitri benar. Mungkin mereka memang sebaiknya berbicara jujur saja. Bukankah pria itu mengatakan jika dirinya serius dan punya niat baik kepadanya? Dimitri bahkan hampir saja ikut masuk kedalam rumah untuk menemui kedua orang tuanya ketika mereka tiba di depan pagar beberapa saat yang lalu. Walaupun akhirnya dia urungkan karena Rania bersikukuh akan membicarakan ini dulu sendiri kepada Angga.
"Jawab! dan jangan sekali-kali kamu bohong ya? karena papa udah tahu semuanya."
"Ap-apa?"
"Papa tahu kamu ada hubungan sama Dimitri. Tapi papa mau meyakinkan sendiri kalau itu keluar dari mulut kamu." Angga berujar.
Rania menggigit bibir bawahnya dengan keras, baru kali ini dia merasa ssperti sedang dihukumi atas suatu kesalahan.
"Jawab Rania!" Angga berteriak.
"Apa sih, malam-malam teriak-teriak?" Maharani keluar dari dalam kamar putranya.
Suami dan putrinya tidak menjawab.
"Ada masalah apa?" perempuan itu mendekat kepada Rania.
"Benar kan yang aku bilang, kalau Rania memang ada hubungan dengan Dimitri." jawab Angga.
"Apa?" Maharani bereaksi.
"Mungkin hubungan mereka udah jauh dan lagi...
"Emang salah ya kalau aku punya pacar?" Rania akhirnya buka suara.
"Jadi beneran?" Maharani menatap wajah putrinya.
"Ya karena papa udah tahu, oke aku jawab." gadis itu menghirup udara sebanyak yang dia bisa, seraya mempersiapkan hati dan mental. Karena tampaknya ini tidak akan berjalan mulus. Melihat raut wajah ayahnya yang terlihat tidak senang dengan keadaan tersebut.
"Aku ... emang pacaran sama Dimitri."
Maharani sedikit terperangah. Dia sudah tahu masalah itu dari suaminya, tapi dia tidak yakin. Karena yang dia ketahui selama ini anak gadisnya tak pernah menunjukan tanda-tanda itu.
"Beneran?" ucap Maharani.
"Iya." Rania menganggukan kepala.
"Sejak kapan? udah berapa lama?" sang ibu tampak antusias.
"Kapan ya, aku lupa. Kalau nggak salah udah dua bulan kayaknya." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal. Konyol sekali dia tak ingat tanggal jadiannya sendiri.
"Apa? selama itu?" Angga bereaksi keras, dia bahkan hampir saja berteriak.
"Ish, papa lebay sampai teriak-teriak." sergah Rania.
"Jadi selama ini, kalau kalian sering bareng itu sambil pacaran?"
"Mmm... nggak juga. Biasa aja." jawab Rania.
"Bohong! ya kalau udah ada hubungan ya apalagi? pasti pacaran lah."
"Ya terus?"
"Dia itu sponsor kita, tahu?" Angga mengingatkan.
"Emangnya kenapa? ada larangan pembalap pacaran sama sponsornya?"
"Astaga! kamu bisa jawab gitu?"
"Ya bisa lah, orang aku bilang gitu Dimitri juga ngasih jawaban yang sama."
"Apa?"
"Aku jawab apa, Dimitri ngasih jawaban lagi. Tapi masuk akal. Aku nggak ngerti, dia selalu bisa menyanggah apa yang aku bilang."
"Terus?"
"Ya nggak ada terusannya. Intinya aku pacaran sama Dimitri. Dia bahkan bilang mau bawa orang tuanya kesini."
"Apa?" dan kini Angga benar-benar berteriak.
"Ish, ... berisik!" Maharani menyela.
"Aku tadinya mau sembunyi-sembunyi dulu, takut papa bereaksi berlebihan. Terus ingat juga papa bilang kalau aku punya pacar bakal langsung dinikahin, dan karir balapan aku udahan. Tapi Dimitri malah bilang kalau itu lebih bagus. Dia sengaja mau papa tahu biar kami cepet dinikahin." Rania dengan polosnya.
"Astaga!!! anak gue!" Angga menepuk kepalanya agak keras. Dia tak menyangka ancamannya ternyata akan menjadi nyata.
"Jadi gimana?" Rania menuruni satu tangga ke bawah.
"Apanya?"
"Papa ngijinin aku pacaran sama Dimitri?" Gadis itu melebarkan senyumnya.
"Kalau papa larang, kamu bakal nurut nggak?"
Rania terdiam sebentar.
"Kenapa? karena dia sponsor kita?"
"Bukan."
"Terus kenapa papa mau larang?"
"Karena dia ...
Maharani mendekati suaminya, kemudian menyentuh pundaknya. Melihat raut kecewa di wajah putri mereka dia merasa tidak tega.
"Udah malam. Kita teruskan Ngobrolnya besok." Katanya.
"Kenapa papa nggak ngijinin aku sama Dimitri?" Rania bertanya lagi.
"Papa cuma khawatir fokus kamu akan terganggu karena pacaran. Kamu tahu, nanti akan ada masalah lain, dan pikiranmu aka terpecah. Dan itu bahaya." Maharani menjawab. Tidak mungkin dia membiarkan Angga mengatakan hal yang belum pasti kebenarannya.
"Ya, papa cuma khawatir. Emosi kamu nggak stabil, dan nanti malah mengganggu konsentrasimu."
"Nggak akan." Rania menuruni satu tangga lagi.
Kini Angga yang terdiam.
"Papa percaya deh sama aku." ucap Rania seraya meraih tangan sang ayah.
🌹
🌹
🌹
Bersambung
jadi, harus bahagia atau sedih? duh, ... emak bingung 🤧
Yodah, yang penting klik like, komen sama kirim hadiah yang banyak biar emak lebih semangat lagi ngetik episode berikutnya.