
🌹
🌹
"Coba sekali lagi Ran?" Angga menghampiri mereka berdua yang tengah merencanakan sesuatu.
"Boleh Pah mau sepuluh kali juga, aku seneng kok." jawab Rania dengan antusias. Semangatnya tentu saja sedang terbakar saat ini.
"Nggak usah banyak-banyak. Sekali aja cukup untuk persiapan besok. Kalau kebanyakan kamu bisa kelelahan, nggak bisa ikut kualifikasi besok."
"Oke papa."
"Kalau stabil kayak tadi, berarti teknik yang kamu pakai udah paling cocok untuk motor ini. Jadi kita nggak usah nyari teknik lain untuk kamu gunakan."
"Siap." Rania kembali menaiki Ducati merah itu kemudian mengenakan helmnya dengan rapat.
Dia berkonsentrasi penuh lalu menghidupkan mesin motor. Menarik napas beberapa kali kemudian bersiap melesat membelah sirkuit.
"Hayu kasep!" katanya, yang memang selalu dia ucapkan setiap kali akan memacu kuda besinya di arena.
"Siap Ran?" Angga berteriak.
Gadis itu menganggukan kepala.
Kemudian Angga memberi ancang-ancang, yang memberi tanda kepada Rania untuk bersiap menambah kecepatan. Suara raungan mesin kembali terdengar, dan pada saat pria itu melambaikan tangannya, maka sang putri langsung saja melesat dengan kecepatan tinggi.
Melewati tikungan, mengitari arena, melalui sebelas kelokan tajam dengan begitu mudahnya. Seperti mentega diatas wajah panas, dia meluncur dengan mulus.
"Whoa..." Angga bersorak saat gadis itu tiba di garis finish tepat dua menit seperti yang dia inginkan.
Rania tampak berputar, dan kembali kepadanya yang menunggu di garis finish.
"Fix!! teknik ini bagus untuk kamu Ran!" Angga berlari menyongsong putrinya.
"Waktunya pas?" Rania mrmbuka helmnya.
"Kurang satu detik. Dan itu jauh lebih baik. Kalau kamu bisa stabil, posisi kamu aman, dan kamu akan finish di sepuluh besar."
Rania berteriak kegirangan.
Kemudian Galang muncul dan membantunya turun dari motor besar itu.
"Kalau kayak gini aku yakin besok kamu lolos kualifikasi. Dan besar kemungkinan juga kamu masuk sepuluh besar. Dan akan jadi salah satu pembalap baru yang diperhitungkan. Ish... kamu keren!!" pemuda itu mengangkat dua ibu jarinya keatas.
"Kamu lebay! kan udah kalau aku keren dari dulu?"
"Sombongnya!!"
"Kadang sombong itu perlu, Lang."
"Tapi jangan berlebihan, nanti kamu celaka sendiri."
"Nggak akan. Tapi nanti kamu ingetin aku kalau misalnya aku udah keterlaluan ya?" Rania merangkul pundak teman bermainnya sejak TK itu.
"Oh, ... pastinya. Nanti aku jewer kupingmu, dan aku jambak rambutmu biar kamu sadar." Galang nampak serius melakukannya.
"Aww!! sakit Lang! kan belum sombongnya juga? baru niat." keluh Rania.
"Ada sombong di niatin?" Galang mengejeknya.
"Hmm... cuma aku." Rania menggendikan bahu.
***
"Hey!! Stranaya!" suara seorang pria terdengar memanggil.
"Stranaya devushka!"
Rania Mencari asal suara yang tampaknya dia kenali.
"Stranaya milaya! (si imut aneh) aku diatas sini Hey!!" Dimitri mencondongkan tubuhnya ke tembok pembatas, kemudian menjentikan jarinya sehingga mengalihkan perhatian gadis di bawah sana.
Rania menoleh, dan dia menemukan wajah itu berada di bangku penonton paling depan tepat diatas bens timnya. Senyumnya mengembang begitu saja dengan mata bulatnya yang berbinar-binar.
"Eh... ada bapak Dimi?" ucapnya, dan dia mendekat.
"Haih... kenapa semua orang memanggilku begitu?" gumam pemuda itu.
"Rajin amat bapak nonton latihan saya? udah lama pak?" gadis itu berbasa-basi.
"Kegeeran kamu." pemuda itu mencibir.
"Udah lihat belum latihannya? atau bapak baru datang? kalau baru datang mah pasti ketinggalan. Latihannya udah mau beres."
Dimitri hanya menatapnya, dengan satu ujung alisnya yang terangkat keatas.
"Kakak kenal sama dia?" Amara menginterupsi, Dan dia juga mencondongkan tubuhnya persis seperti yang dilakukan Dimitri.
"Dia pembalap kita Ra."
"Masa?"
Rania kembali tersenyum dan dia melambaikan tangan.
"Kakak keren!!" Arkhan berteriak dari belakang sana. Diikuti ketiga saudaranya yang berdiri melihat ke lintasan.
"Oh?? fans pertama!" bisik Galang ditelinganya.
"Hai adik-adik." Rania melambai ke arah mereka.
"Sok akrab." Dimitri bergumam lagi.
"Kakak udah kenal sama dia?" Amara pun bertanya lagi.
"Dia... si etot nadoyedlivyy urod, kotoryy vsegda besit menya, kogda ya dumayu ob etom. (si aneh menyebalkan yang selalu membuatku kesal kalau mengingatnya!)" Dimitri bersungut-sungut.
"Masa?" gadis itu tertawa. Tentu saja Amara mengerti apa yang Dimitri ucapkan. Bahasa Rusia adalah salah satu bahasa asing yang dia pelajari sejak SMP. Dan itu memudahkannya untuk memahami apapun yang dikatakan pemuda itu jika sedang kesal ataupun marah. Dan dia menyukai saat Dimitri mengomel seperti itu, karena terdengar lucu di telinganya.
"Dih, ...si bapakmah ku angger ngomel-ngomel teh? ku teu kaharti deuih! (si bapakmah, kalau udah ngomel-ngomel. Mana nggak ngerti lagi?)" Rania membalasnya, dan membuat Dimitri menjadi semakin kesal.
"Hey, Rania!" Arfan yang ikut maju ke bangku depan dan mendekat ke pembatas.
"Ya?" gadis dibawah sana mengalihkan perhatian.
"Latihanmu bagus hari ini, semoga besok bisa lebih bagus lagi. Dan kamu mampu mendapat posisi yang bagus juga." katanya, menyemangati.
Rania mengerutkan dahi, karena dia merasa tak mengenal pria berkacamata hitam itu, namun dirinya mengangguk saja.
"Baik pak, makasih."
"Kakak jadi juara ya? besok aku nonton lagi loh." Anindita menyahut.
"Nggak janji, soalnya banyak pembalap bagus juga." jawab Rania, dengan cengiran khas milik Angga. Hari ini dia merasa lucu, mendapatkan semangat dari penggemar pertamanya seperti yang diucapkan Galang.
"Harus juara lah, rugi dong saya tandatangani kontrak dengan kamu kalau kamunya nggak juara." Dimitri menimpali.
"Ya lihat aja besok pak."
"Ish, ...ogah saya datang kesini lagi."
Rania hanya mencebikan mulutnya.
"Ayo Ran, kita balik. Kamu harus simpan tenaga buat besok." Angga berlari menghampiri, kemudian berhenti dan menoleh pada soaok yang dia kenal di bangku penonton.
"Pak?" sapanya kepada Arfan dan Dimitri, dan keduanya mengangguk.
"Permisi dulu pak, kami harus kembali ke guesthouse." pamitnya yang segera menarik putrinya agar tak membuatnya malu di depan Arfan tentunya. Reputasinya dipertaruhkan, dan akan membuat sahabatnya juga malu kalau hal itu terjadi lagi.
"Bye pak Dimi, ..." Rania melambaikan tangan kemudian mengikuti langkah sang ayah yang sudah berada di depan.
"Ayo Lang, Hari Ini aku traktir kamu karena udah ngasih aku teknik yang bagus buat menunggangi si merah." Rania kembali merangkul pundak sahabatnya itu.
"Traktir apa?"
"Kamu maunya apa? "
"Apa aja deh, ...
"Makanan khas sini ya? kamu boleh makan deh sepuasnya."
"Apaan?"
"Doclang sama asinan tuh, di kios depan kayaknya ada."
"Dih, kalau mau traktir harusnya yang mewah dong."
"Doclang mewah tahu, di Bandung nggak ada."
"Ada Ran."
"Dimana? belum pernah lihat ada yang jualan doclang di Bandung."
"Belinya di kang kupat tahu."
"Emang kang kupat tahu ada yang jual doclang juga?"
"Sama aja Ran."
"Beda Lang."
"Sama ish, ... sama-sama ketupat pake tahu sama toge."
"Iyakah?" Rania tertawa.
"Idiiiihhh..
"Ya udah, untuk sementara aku traktirnya itu dulu ya? nanti kalau duitku udah banyak aku traktir kamu yang lain."
"Lah, ... dari kontak ini juga duitnya udah banyak padahal?"
"Masalah duit Papa yang pegang Lang. Aku cuma dikasih uang jajan aja."
"Hmm...
"Aku tambahin kuota internet aja ya? biar kamu semangat bikin tutorialnya?"
"Nah, itu aja udah."
"Kuota?"
"Hmm...
"Oke, nanti aku beliin yang dua giga."
"Dua giga mana cukup oneng!!" Galang menepuk kepala sahabatnya itu.
"Lumayan segitu juga bisa bikin tutorial Lang."
"Tutorial bikin ind*mi rebus iya. Huuhh dasar!" pemuda itu menggerakan sebelah kakinya untuk menendang kaki Rania, namun gadis itu segera melepaskan rangkulan tangannya dan dia menghindar sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian mereka berlari saling mengejar hingga keduanya keluar dari area sirkuit itu.
Sementara sepasang mata coklat di belakang sana menatap interaksi itu dengan raut sebal. Yang lagi-lagi membuatnya kesal setengah mati.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
kesel-kesel sayang pak? 😂😂😂
awas hatinya dijaga ya? nanti cenut-cenut nggak karuan, ripuh kamu Dim! 🤣🤣🤣
like komen hadiah sama Vote selalu aku tunggu ya gaess.
lope lope sa Bogoreun 😘😘😘