All About You

All About You
Foto Model



🌹


🌹


"Mama jangan menjadikan Rania model pakaian dal*m dong," Dimitri menjeda pekerjaannya yang baru dimulai kembali setelah jam istirahat makan siangnya.


"Apa?"


"Kalau jadi model yang lain aku pasti ijinkan, tapi tidak untuk yang satu itu. Aku nggak rela tubuh istriku dilihat banyak orang." lanjutnya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Memangnya siapa yang mengatakan kepadamu kalau mama akan menjadikan Rania sebagai model pakaian dal*am?" tanya Sofia dari seberang.


"Rania sendiri."


"Ngarang. Mama kirim pakaian dalam itu kan bagian dari endorse produk, tapi tidak mungkin mama jadikan menantu mama sendiri sebagai modelnya. Mau ditaruh di mana muka kita?"


"Tapi Ranianya yang bilang begitu tadi."


"Dia pasti salah faham. Begini jadinya kalau cuma ngobrol di telfon. Jadinya dia salah mengerti."


"Ya kenapa mama tidak datang ke rumah saja biar jelas?"


"Percuma, papimu tidak bisa di tinggal lama-lama. Bisa berisik hape mama kalau pergi sebentar saja."


Dimitri tertawa.


"Harusnya kamu mengijinkan Rania untuk pergi ke luar sesekali, bukannya mengurung dia di rumah seperti itu."


"Aku tidak pernah mengurung Rania. Aku bebaskan dia mau melakukan apa saja."


"Tapi kamu tidak mengijinkannya pergi sendiri."


"Dia sedang hamil Mom."


"Hamilnya masih kecil. Balapan saja bisa, apalagi cuma keluar rumah sebentar."


"Dia itu susah dilarang, kalau keluar maunya pakai motor."


"Ah, ... banyak alasan kamu. Tahu begini mama tidak akan mengijinkan kamu untuk punya rumah dulu. Kan kalau kita serumah mama punya teman."


"Teman untuk apa?"


"Apa saja."


"Curiga mama mau ajarkan Rania yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh apanya?"


"Entahlah, perasaanku tidak enak." pria itu tertawa.


"Terus apa lagi yang Rania katakan selain soal jadi model pakaian dal*m?"


"Tidak ada. Hanya saja tadi pagi dia berencana mencoba semua pakaian yang mama kirim. Dia mau memgirimkan fotonya kepada mama."


"Oh, ... kalau itu memang benar. Untuk keperluan riset."


"Riset apa?"


"Untuk melihat kekurangannya di mana, atau apa yang harus mama perbaiki dari disainnya."


"Tidak usah! nanti aku yang bantu riset kan." tukas Dimitri.


"Apa? mau kamu yang cek?"


"Iya."


"Memangnya kamu kurang kerjaan apa? setiap hari kamu kan lembur terus. Bagaimana mau bantu mama?"


"Soal itu bisa aku atur."


"Jangan menambah beban pekerjaan kamu, Dim. Ini bisnis mama, kamu tidak usah ikut pusing."


"Tidak apa. Aku juga mulai berpikir untuk mengeluarkan brand aku sendiri."


"Apa?"


"Sepertinya bisnis fashion juga bagus."


"Itu kan bidangnya mama."


"Cuma produk pakaian laki-laki mom,"


"Kamu ada-ada saja."


Dimitri tertawa.


"Terserah kamu lah." kemudian percakapan pun di akhiri.


***


"Apa dokumen yang ini sudah?" Clarra membereskan kekacauan di meja atasannya.


"Sudah." Dimitri melirik sekilas.


"Mau aku bawa?"


"Silahkan."


"Dan ini ada tiga dokumen tambahan untuk rapat besok. Mungkin perlu kamu pelajari." gadis itu meletakan tiga buah map di depan Dimitri.


"Baik." Dimitri segera membuka untuk mempelajarinya.


"Hari ini kamu lebih banyak diam?" Clarra berdiri di depan meja sambil mendekap dokumen yang telah selesai di periksa oleh pria itu.


"Memangnya kanapa?"


"Rasanya aneh. Biasanya kamu banyak bicara, dan mengeluh?" gadis itu terkekeh.


"Bicara dan mengeluh tidak akan membuat pekerjaanku yang banyak ini selesai, bukan?"


"Iya, tapi ini seperti bukan kamu."


"Apakah itu buruk?" Dimitri mendongak.


"Tidak juga. Malah bagus."


"Terus apa masalahnya? aku hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai, agar bisa pulang lebih awal. Kasihan Rania akhir-akhir ini kesepian karena aku sering pulang malam."


Clarra mencebikan mulutnya.


"Serius Cla."


"Iya, iya aku tahu bapak suaminya Rania." dia kemudian tertawa sambil terus membereskan meja Dimitri dari beberapa file yang berantakan.


Kemudian ponsel Dimitri terdengar berbunyi.


"Ya Zai?" pria itu menjawabnya.


"Kamu lagi sibuk nggak?" tanya dari seberang.


"Tidak terlalu."


"Nggak lagi meeting?"


"Tidak."


"Oke."


"Ada apa?"


"Apa aku bisa kirim fotonya sekarang?"


"Foto?"


"Yang tadi pagi kita bahas. Atau langsung aku kirim ke mama aja?"


"Oh, ... gitu ya? oke deh." percakapan kembali berakhir.


"Dia kurang kerjaan, jadi terima tawaran jadi model produknya mama." jelas Dimitri kepada Clarra yang menyimak sedari tadi.


"Bagus. Rania jadi masih punya kegiatan. Orang seperti dia memang tidak bisa diam."


"Hmm ...


Kemudian terdengar beberapa bunyi notifikasi pesan yang dia perkiraan dari Rania, dan Dimitri segera membukanya.


Namun kedua bola matanya terbelalak dengan mulut menganga begitu belasan pesan masuk ke ponselnya. Benda pipih itu bahkan hampir saja terlepas dari genggamanya.


"Kenapa?" Clarra bereaksi.


"Mm .. tidak ada. Aku hanya ... akan menyelesaikan ini. Ya, ... hanya ini kan? setelahnya aku bisa pulang?" dia menggenggam ponselnya erat-erat.


"Iya."


"Baik, keluarlah kalau sudah selesai." ucapnya katika sekertarisnya itu telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu ngusir aku?"


"Bukankah aku harus menyelesaikan pekerjaanku?" Dimitri menaikan nada suaranya lebih tinggi.


"Ish, ... dasar Dimi!" sang sekertaris menggerutu, namun tak urung juga dia menuruti perintah atasannya.


"Astaga!" Dimitri mengusap wajahnya, frustasi. Susah payah dia meredam perasaannya sejak pagi karena godaan perempuan itu, namun siang ini godaan yang lebih gila muncul lagi.


Belasan foto Rania dalam balutan pakaian dal*m super seksi dengan warna-warna mencolok terpampang begitu jelas di layar ponselnya.


Perempuan itu berpose di depan cermin besar di dalam ruang ganti mereka dengan kamera ponsel yang menangkap dirinya dalam keadaan setengah telanjang. Tampak dari depan, samping, dan sedikit membelakangi cermin, namun tetap saja keadaannya sungguh membuat perasaan pria itu tak karuan.


Dengan wajah bermake up tipis dan rambutnya yang sedikit berantakan, dia seperti sedang menantangnya untuk melakukan banyak hal.


Setidaknya ada lebih dari sepuluh foto Rania mengenakan pakaian dal*am menggoda, yang beberapa diantaranya super mini dan super tipis, yang sepertinya tidak tepat kalau benda itu di sebut sebagai pakaian dal*m, namun hal itu tidak ada bedanya bukan? karena tetap saja keduanya sama-sama membuat Dimitri merasa frustasi. Padahal buka pertama kali bagi dirinya melihat tubuh Rania yang bahkan tanpa sehelai benangpun. Dirinya bahkan bisa menyentuhnya sepuas hati.


Namun dirinya selalu saja tak bisa menaha diri setiap kali menatap lekukan tubuh Rania yang semakin hari semakin menggoda. Dadanya yang bertambah besar, dan bokongnya yang bertambah sintal seiring semakin bertambahnya usia kehamilannya. Juga pancaran di wajahnya yang semakin menggemaskan.


"Oh, ... perempuan ini benar-benar ingin menyiksaku, Ughh!!" dia kembali menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Berkali-kali dia mengusap wajah namun tak memalingkan pandangan dari layar ponselnya.


"Gimana menurut kamu?" pesan dari Rania.


"Bagus." Dimitri membalas.


"Sama, menurut aku juga bagus. Dipakainya juga enak, lembut dan nyaman. Berasa nggak pakai apa-apa." balas Rania kepadanya.


Nggak pakai apa-apa. Dimitri membatin.


Dia kemudian melakukan panggilan telfon.


"Kamu sedang apa Zai?" Dimitri bertanya.


"Lagi mau beresin baju-bajunya."


"Hmm ...


"Kamu nggak sibuk?"


"Tidak terlalu. Hanya sedang ...


"Yang udah dulu ya, airnya udah penuh."


"Air?"


"Mau mandi, udah sore." jawab Rania.


"Sepertinya aku akan pulang cepat hari ini?" ucap Dimitri.


"Oh ya? masa?"


"Iya."


"Beneran lagi santai ya?"


"Sebentar lagi pekerjaanku selesai."


"Nggak ada meeting sore?"


"Tidak ada."


"Jadwal tambahan?"


"Let see ... tidak ada juga."


"Beneran?"


"Iya."


"Oke papi, ... aku tunggu kamu pulang awal hari ni."


"Lalu?"


"Apa lagi?"


"Setelah itu apa lagi?"


"Nggak ada. Cuma nunggu aja."


Dimitri mendengus pelan, sementara Rania terkekeh di seberang sana.


"Mau hadiah?" katanya kemudian.


"Hadiah?"


"Iya, hadiah."


"Hadiah apa?"


"Apa aja, yang penting kamu pulang cepat dulu."


"Ng ...


"Udah ... aku mau mandi dulu lah, gerah. Dari tadi cobain baju kirimannya mama, padahal lebih bayak dalem*nnya tapi capek juga. Gara-gara harus di foto segala lagi." perempuan itu sedikit mengeluh.


"Bilang mama semuanya bagus ya? nggak ada minusnya."


"Hmm ..


"Eh, apa aku bilang sendiri aja ya? kan ada nomernya mama di aku?"


"Tidak apa-apa, biar aku saja."


"Beneran?"


"Iya, sekalian mau telfon mama juga."


"Ya udah." Rania kemudian menyudahi percakapan. Sementara Dimitri segera meneliti dokumen yang masih teronggok di meja agar bisa segera menyelesaikan pekerjaannya. Walaupun pikirannya sudah melayang entah ke mana.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


selamat hari vote


tapi jangan lupa like komen sama hadianya ya?


lope lope sekebon cabe.😘😘