All About You

All About You
Sayang



🌹


🌹


Rania segera terbangun begitu mendengar bunyi alarm dari jam digital diatas nakas. Lalu dia meihat sisi kosong disampingnya. Perempuan itu tertegun sebentar, dan mengehembuskan napas lega saat mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Sudah pasti suaminya belum pergi bekerja.


Dia lekas memungut pakaiannya di bawah tempat tidur, kemudian mengenakannya.


"Kamu sudah bangun." Dimitri keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan di pinggang, dengan rambut yang masih meneteskan titik-titik air, yang turun mengalir dileher, pundak kemudian membasahi dadanya.


"Mau mandi?" ucap Dimitri lagi sambil mengusak kepalanya dengan handuk lain yamg dia temukan.


Rania tak menjawab, dia hanya bergegas masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.


Perempuan itu segera berpakaian, lalu memperhatikan apa yang Dimitri lakukan. Mengenakan kemeja setelah memakai deodoran dan parfum yang wanginya terarasa memabukan. Yang aromanya bertahan hingga berjam-jam hanya di ruangan itu saja.


Kemudian dia mengenakan dasi berwarna hitam, dan dengan terampil melakukannya sendiri. Mengenakan krim wajah, pomade rambut dan merapikan dirinya sendiri hingga dia terlihat menawan, seperti biasa.


"Kamu sedang apa diam disitu?" Dimitri melihat Rania lewat cermin di depannya. Yang tengah memperhatikan apa yang dia lakukan.


"Perhatiin kamu."


"Kenapa?"


"Kamu bilang aku bisa mulai dari bangun pagi dan perhatiin apa yang kamu kerjakan." perempuan itu berjalan mendekat.


Dimitri tergelak kemudian mengusak kepalanya. "Haaaaahh, ... lucu sekali kamu ini. Mendengarkan apa yang aku katakan." katanya.


"Good girl." dia menepuk punggung Rania dengan lembut.


"Hari ini latihan?"


"Nggak. Besok latihan terakhir sebelum lusa nya berangkat ke Jeres."


"Hmm ... jadi hari ini kamu mau kemana?"


"Nggak kemana-mana. Paling disini aja."


"Baiklah. Bisa tolong aku ambilkan jas itu dan kaus kaki?" Dimitri menunjuk lemari di sisi kananya.


Rania menuruti apa yang dia minta, mengambil jas berwarna navi dan kaus kakinya, lalu menyodorkannya.


"Terimakasih." Dimitri menerimanya, kemudian berjalan keluar.


"Itu nggak dipake dulu?" Rania mengekorinya dari belakang.


"Nanti kalau mau pergi, biar nggak kusut."


"Oh, ...


Dimitri kemudan mengenakan kaus kaki dan sepatu yang sudah tersedia di dekat sofa. Lalu memeriksa ponselnya ketika benda tersebut berbunyi nyaring.


"Bisa buka pintunya Zai? ada yang mengantar makanan." katanya.


"Oke." Rania pun melakukan apa yang di perintahkan.


"Ambil piring dan wadah lainnya, lalu kamu pindahkan semua makanan ini ke wadah Zai." ucap Dimitri lagi setelah Rania menerima bungkusan berisi beberapa macam makanan tersebut dan meletakannya di meja.


Dan perempuan itu hanya menurut saja apa yang dia perintahkan tanpa banyak bicara.


"Thank you." katanya, saat dia melihat makanan di meja sudah tertata rapi. "Ayo kita sarapan?" dia duduk di kursi, dan menepuk kursi disampingnya untuk Rania.


"Kamu selalu beli makanan setiap hari, kenapa nggak nyuruh aku masak sendiri?" Rania mengambilkan makanan dan meletakannya di piring milik suaminya. Seperti yang pernah dia lihat dilakukan oleh ibunya.


"Memangnya kamu bisa masak?" pria itu mulai melahap makanannya.


"Nggak. Selain bikin mi rebus."


Dimitri tertawa. "Lalu apa saja yang kamu laukan? masa semua waktu kamu gunakan untuk mengutak-atik mesin dan hanya balapan?"


Rania terdiam.


"Apa benar?"


Perempuan itu mengangguk.


"Astaga!" Dimitri tertawa lagi.


"Kamu ketawa terus."


"Habisnya kamu lucu sekali. Saking sibuknya dengan motor dan mesin sampai nggak sempat belajar yang lain."


"Pernah dulu bikin telur dadar, niruin mama. Udah kepedean karena bentuknya udah mirip buatan mama, tapi pas dimakan asinnya kebagetan. Tahunya aku kebanyakan pakai garam." dia tergelak. "Semua orang protes, dan sejak itu aku nggak mau lagi masak. Pusing ngira-ngira harus seberapa pakai bumbunya."


"Its oke, kamu bisa belajar lagi."


"Harus banget aku bisa masak?" Rania menghentikan kegiatan makannya.


"Tidak juga. Tapi kalau bisa ya lebih baik kan?" jawab Dimitri yang menyesap air putih setelah menghabiskan sarapannya.


"Aku selesai." katanya, yang kemudian bangkit dan segera mengenakan jas yang sudah tersampir di sofa.


"Pergi sekarang?" Rania mengikuti.


"Iya. Jadwal dari Aline cukup padat hari ini." dia mengenakan jasnya.


"Terus aku harus ngapain setelah ini? kalau kemarin-kemarin, habis makan aku pergi ke bengkel untuk kerja. Nah sekarang, aku bingung mesti ngapain."


"Terserah kamu, mau tidur lagi juga boleh." dia kembali merapikan dirinya sendiri.


"Ish, tidur terus."


"Ya karena kalau mau beres-beres, sebentar lagi juga ada orang yang datang untuk mengerjakannya."


"Iya juga."


"Pergi dulu oke?" dia menundukan wajah untuk mengecup bibir kemerahan milik Rania. "Jangan kangen." katanya, sambil tersenyum.


"Nggak akan, Dim. Paling mikirn kamu terus." jawab Rania.


"Ck!" Dimitri berdecak.


"Kenapa? katanya mau pergi?"


"Sampai kapan kamu memanggil nama seperti itu?"


"Hah?"


"Sudah aku bilang panggil aku sayang." Dimitri mendekat lagi.


"Ish, ... baru denger juga aku merasa geli. Apalagi nyebut kamu ... mmm ..." dia menghentikan ucapannya ketika Dimitri membungkam mulutnya dengan ciuman.


"Panggil aku sayang!" pria itu hampir berbisik.


"Maksa."


"Memang."


"Kenapa sih, kayaknya berdosa banget kalau istri nggak manggil sayang sama suaminya? atau mau aku panggil aa sekalian?"


Dimitri tertawa, "Aku hanya ingin kamu memanggilku seperti itu Zai. Seperti halnya aku yang memanggilmu Zai."


"Zai itu artinya apa? sayang juga?"


"Kira-kira begitulah."


"Aneh deh."


"Ayo panggil aku sayang, biar aku semangat kerja hari ini."


"Ah, ..." Rania hampir saja melengos, namun Dimitri menahan lengannya.


"Zai, ...


"Nggak mau." tolak perempuan itu.


"Begitu ya?" pria itu meletakan tas kerjanya, lalu melepaskan kancing jasnya satu persatu.


"Kamu mau ngapain?" Rania membelalakan matanya.


"Karena kamu tidak memberiku semangat, jadi. sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk membuatku semangat hari ini."


"Apaan?"


Dimitri menyeringai sambil melepaskan jasnya, kemudian dia kembali mendekati Rania.


"Iya iya oke," perempuan itu menahan Dimitri dengan kedua tangannya.


"Apa?"


"Sa-sayang." akhirnya dia mengucapkannya juga.


"Lagi."


"Sayang."


"Sekali lagi."


"Sayang." Rania melembutkan suaranya.


"Ah, ... menyenangkan sekali bukan?" pria itu dengan suara riang gembira. "Pertahankan itu!" dan dia kembali membenahi pakaiannya.


"Aku pergi." katanya lagi, lalu keluar dari unit apartemennya.


"Dasar tukang maksa!" Rania bergumam.


🌹


🌹


"Kakak nanti perginya bareng-bareng sama Kak Rania?" dua orang itu menyelesaikan makan siangnya di taman kampus.


"Kakak udah nggak marah sama kak Rania?"


"Marah kenapa?"


"Masalah itu."


"Gara-gara ditinggal nikah?"


"Iya."


"Oh, nggak. Ngapain marah terus? mereka udah bahagia kok, lah ngapain kita malah sibuk marah-marah? nggak enak banget."


"Hmm ...


"Emangnya kamu masih marah sama Pak Dimi?"


"Bukan marah sih."


"Sakit hati?"


Amara mengangguk.


"Hah, ... sayang waktu kita dihabisin untuk mikirin hal nggak penting." Galang menutup kotak makannya yang sudah kosong.


"Eh, terserah kamu deh. Hati, hati kamu. Yang rasain ya kamu, aku cuma mau milih move on aja biar hidup kita lebih baik. Kalau kamu milih untuk menyiksa diri sendiri dengan memelihara perasaan yang nggak seharusnya ya, itu hak kamu. Cuma kasihan aja hidup kamu terlalu penting untuk dihambat sama hal kayak gitu." Galang menggeser kotak makan itu ke dekat Amara.


"Aku udah selesai. Kamu masih ada kuliah lagi nggak setelah ini?"


"Nggak ada." Amara menggelengkan kepala.


"Mau pergi nggak?"


"Kemana?"


"Jalan, kemana aja. Kita healing." jawab Galang.


"Healing?"


"Iya, healing. Nyembuhin hati biar bisa move on." pemuda itu tergelak.


"Ayo deh." Amara menyetujui.


Kemudian mereka berdua pergi, mengendarai motor cross milik Galang. Menyusuri jalanan yang ramai pada siang itu. Mengikuti roda yang berputar tanpa tujuan pasti. Hanya berniat menghabiskan waktu yang tersisa hari itu.


"Aku nggak pernah jalan sejauh ini selain ke kampus atau cari bahan buat ngerjain tugas." Amara sedikit berteriak.


"Dan sekarang kamu melakukannya." jawab Galang, sambil berusaha menyeimbangkan motornya diantara kendaraan lain yang memadati jalanan pada lewat tengah hari itu.


"Iya, karena kenal kakak." gadis itu tertawa.


"Aku pengaruh buruk buat kamu, Ra."


"Kenapa?"


"Ya itu tadi, yang awalnya nggak pernah pergi jaih dari rumah, sekarang malah sering keuar sama aku."


"Tapi aku seneng. Aku jadi lupa sedih kalau pergi sama kakak."


"Oh ya?"


"Iya."


"Jadi, bagus apa jelek ya?"


"Apanya?"


"Temenan sama aku?"


"Bagus kayaknya."


"Syukur deh."


"Semoga aja, papa nggak awasin aku."


"Maksudnya?"


"Iya, semoga papa nggak nyuruh orang untuk awasin aku."


"Emang suka gitu ya?"


"Kadang-kadang."


"Gimana kalau iya?"


"Diawasin papa?"


"Iya."


"Ya, ... nggak apa-apa lah."


"Kok gitu?"


"Nggak ngapa-ngapain ini." Amara terdengar tertawa.


"Kalau papa kamu marah gimana?"


"Nggak akan."


"Yakin."


"Tapi kayaknya papa kamu galak?"


"Nggak ah."


"Tapi pas waktu itu ketemu mukanya nyeremin."


"Kakak!!" Amara menepuk pundak Galang dengan keras. "Dia papa aku tahu! dan dia nggak galak."


"Kelihatannya."


"Tapi nggak. Cuma agak cuek aja kalau sama orang yang nggak kenal."


"Gitu ya?"


"Iya. Kakak harus kenal dulu sama papa, biar nggak di jutekin."


"Ish, ... ngapain kenalan sama papa kamu?"


"Emang kenapa?"


"Kayak orang pacaran aja harus kenal orang tua." Galang tertawa.


"Emang harus sama yang pacaran aja ya kalau kenal sama orang tua? kakak aja sahabatan sama kak Rania akrab sama orang tuanya. Malah diajakin kerja juga."


"Ah, ... iya bener."


"Terus apa salahnya kalau kenal juga sama papa aku? kan bagus."


"Apanya yang bagus?" Galang tertawa lagi.


"Ya biar kakak nggak di jutekin kalau ketemu."


Pemuda itu malah mengulum senyum.


***


Mereka berhenti di sebuah puncak bukit kebun teh di kawasan selatan kota Bandung. Tanpa sadar keduanya berkendara begitu jauh dari kampus, hingga tiba di wilayah Pangalengan. Sebuah kawasan kebun teh sejauh mata memandang.


"Ini keren." Amara turun dari motor dan melepaskan helmnya, begitu juga Galang.


"Jauh amat kita kesini ya?"


"Hmmm ... tapi ini bagus."


"Memang."


"Seneng ya, kalau bisa bawa motor. Mau kemana aja tinggal pergi."


"Pakai ojek online juga bisa."


"Kalau diajak keliling kayak gini mahal kak ongkosnya. Bisa habisin jatah jajan aku seminggu kali."


"Ah, ... sekali-kali nggak apa-apa." Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang memang tampaknya sengaja diletakan disana untuk peristirahatan para pemetik teh.


"Aku mau belajar naik motor ah." ucap Amara kemudian.


"Apa?"


"Kakak mau ajarin?"


"Mm ...


"Ajarin aku ya? biar nanti kita bisa jalan sama-sama." gadis itu menatap dengan mata berbinar.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


acie ciee yang lagi healing. 🤭🤭


biasalah, kirim like, komen sama hadiahnya biar aku makin semangat lagi.


lope lope sekebon cabe. 😘😘