All About You

All About You
Antara Kencan Dan Balapan



🌹


🌹


Amara dengan riang membagikan makanan buatannya kepada teman-temannya yang ada saat itu. Dia baru saja menyelesaikan praktek memasaknya hari itu, namun dengan bahan yang jumlahnya lebih banyak dari yang dia butuhkan. Jadi dia membagikan sisanya kepada siapapun yang dia temui di dekat ruang prakteknya.


"Ini." dia menyodorkan satu kotak kecil kepada Galang, yang kebetulan dia lihat berada di sekitar.


Pemuda itu mendongak.


"Aku bikinnya kebanyakan, sayang kalau harus dibuang." Amara terkekeh.


Galang terdiam dengan kening berkerut.


"Yang lainnya udah ambil, tinggal kakak doang yang belum. Aku lihat sibuk terus sama motornya?" lanjut Amara.


Galang kemudian melihat sekeliling, teman-temannya memang terlihat tengah melahap sesuatu, dan dia yakin itu adalah makanan dari gadis ini.


"Mau nggak? kalau nggak mau, aku kasih sama yang lain aja." Amara hampir saja meninggalkannya saat pemuda itu meraih kotak makan kecilnya.


"Aneh banget yang praktek bikinnya banyak amat?" pemuda itu bangkit kemudian duduk di pinggir trotoar.


"Sengaja juga sih, biar bisa ngasih sama orang-orang, terus aku bisa tanya sama mereka gimana rasanya."


Galang mulai melahap makanan tersebut.


"Lumayan." katanya.


"Cuma lumayan?"


"Enak."


"Bilang enaknya terpaksa."


"Aku jujur lho."


"Tapi ekspresi kakak ngga gitu?"


"Emangnya harus gimana?"


"Ya gimana kek! ceria gitu, atau yang Wow...


"Dih, aku nggak bisa kayak gitu. Bilang enak aja udah cukup menurut aku."


"Yah, ...


"Kenapa?"


"Yang lainnya bilangnya enak pakai banget, terus eksprsinya juga pada bagus."


"Dih, aku beda dari orang-orang tahu?"


"Ah, terserah kakak aja deh," Amara kemudian pergi.


"Lah? dasar oneng!" tubuh pemuda itu menegang, dengan hati yang berdenyut sedikit ngilu. Dia teringat kepada sahabatnya yang akhir-akhir ini sepertinya mulai berubah.


🌹


🌹


Dimitri berputar menatap sebuah motor yang baru saja tiba di pekarangan rumah sang kakek. Yang sengaja dia pesan sejak satu minggu yang lalu. Ducati Panigale V4R berwarna hitam seperti yang perusahaannya sediakan untuk Rania tunggangi di sirkuit, dan hari ini dia bisa miliki. Lengkap dengan surat-surat dan segala jenisnya.


"Waah, ... motornya keren. Punya kakak?" Amara baru saja tiba dari kampus. Menatap motor mengkilat yang tengah menyala di depan Dimitri.


"Iyalah, masa punya abah?" jawab pria itu.


Gadis itu tertawa. "Bayangin abah narik sayuran pakai motor ini." katanya dengan terbahak-bahak.


"Nggak mungkin. Bisa ambyar dunia kebut-kebutan."


"Makanya." Amara tertawa lagi.


"Kamu baru pulang?" tanya Dimitri kemudian.


"Iya."


"Sore amat?" pria itu menatap jam tangannya, dan waktu sudah menunjukan hampir jam 6 petang.


"Banyak kegiatan kak."


"Kegiatan apa?"


"Kuliah lah, masa main?"


"Bohong."


"Beneran."


"Masa kuliahnya seharian? nenek bilang kamu perginya dari jam enam tadi? nih baru mau kakak jemput, tapi kamunya keburu datang."


"Masa? ah, ... kenapa aku cepet-cepet pulang ya? tahu gitu nggak pulang dulu deh kalau kakak mau jemput."


"Hmm...


"Lain kali kasih tahu orang rumah kalau pulangnya sore, kan nenek nggak akan khawatir."


"Iya, aku lupa. saking banyaknya tugas. Lagian aku udah bilang tadi pagi kalau pulangnya pasti sore."


"Sorenya jam berapa, terangin dong. Biar orang tua nggak salah sangka."


"Iya kakak, maaf." gadis itu dengan raut menyesal.


"Ini." dia kemudian menyerahkan sebuah bungkusan berisi kotak makanan.


"Apa ini?"


"Aku hari ini praktek bikin masakan Jepang, makanya pulang telat. Cari bahannya itu yang sulit. Tadi bikinnya banyak, tapi temen-temen aku pada minta, jadi aku bawa pulangnya sedikit. Nggak tahu enak apa nggak. Tapi kata temen aku sih enak. Siapa tahu kakak mau nyobain." katanya tanpa jeda.


Dimitri tersenyum seraya menyambar bungkusan tersebut, membukanya kemudian memakannya tanpa ragu. Beberapa potong sushiroll dan semacam onigiri. Yang dalam sekejap saja berpindah ke mulut pria itu, yang dia kunyah denga riang. Kebetulan perutnya sudah sangat lapar karena dia baru juga tiba dari kantor dan langsung memeriksa motornya yang tiba beberapa saat sebelumnya.


"Enak." katanya dengan mulut penuh makanan.


"Masa?"


"Hu'um, kakak curiga kamu akan cepet buka restoran sebelum lulus kuliah. Kamu pintar membuat makanan Ra." pujinya, yang membuat pipi gadis itu merona dan menghangat.


"Kakak berlebihan." Amara tersipu malu.


"Serius. Semua makanan yang kamu buat selalu enak, kakak nggak akan khawatir kalau misalnya ditinggal pergi nenek cuma sama kamu dirumah. Kakak pasti nggak akan kelaparan."


Rania menaham senyum. Ucapan pria itu seperti hal paling manis yang dia dengar. Walau pada kenyataannya dia memang sering mendapat pujian yang sama dari siapapun yang pernah mencicipi masakannya, tapi ucapan Dimitri terasa lebih spesial untuknya.


"Habis." Dimitri meyerahkan kotak makan itu kepada Amara. "Lain kali bikin ayam geprek ya, sepertinya enak." dia tiba-tiba teringat kepada Rania.


"Ayam geprek?" Amara mengerutkan dahi.


"Iya, ayam geprek." Dimitri menganggukan kepala.


"Bukannya kakak nggak bisa makan pedes ya? nanti sakit perut."


"Jangan yang pedas, yang biasa saja."


"Atuh, bukan ayam geprek kalau nggak pedas mah?" gadis itu bereaksi.


"Cieee... cara ngomong kamu sudah mirip orang Bandung. Baru berapa bulan?" pria itu tertawa.


"Iyalah, gaulnya sama orang asli sini semua." Amara ikut tertawa.


"Tapi bagus, jadi lucu."


"Lucu?"


"Hu'um. Selain memang kamu sudah lucu dari dulu." Dimitri mencubit pipi Amara yang kemerahan.


"Dih, ... kakak gombal."


"Kenyataan."


Gadis itu menepuk lengan Dimitri dengan keras.


"Ya, lain kali bikin ayam geprek yang nggak pedas biar kakak bisa makan."


"Iya deh, paling aku banyakin bawang." jawab Amara.


"Nggak apa-apa, asal jangan pedas."


"Oke, tapi sejak kapan kakak suka makanan itu?"


"Sejak, ... sejak di Bandung. Belum pernah nyoba sih, lihat sambelnya saja sudah ngeri, apalagi kalau makan. Dijamin diarenya nggak akan berhenti satu minggu." pria itu tertawa lagi. "Makanya kakak minta kamu masak yang nggak pakai sambal sepedas itu."


"Gitu ya? Okedeh oke."


"Ya sudah kalau begitu." Dimitri kemudian menaiki motornya yang sudah menyala sejak tadi.


"Kakak mau kemana lagi?"


"Pergi dulu, cobain ini. Bagus apa nggak."


"Aku ikut boleh?" pandangan gadis itu penuh harap.


"Nggak, kamu baru pulang, pasti capek."


"Nggak kok, aku nggak capek. Ya, boleh ikut ya?" dia menghiba.


"Nanti saja ya? sekalian mau ada urusan."


"Urusan apa?" kening Amara menjengit.


"Urusan pribadi."


"Pribadi?"


"Yeah, ...


"Sepribadi apa?"


"Kamu Kepo!" Dimitri tertawa kemudian mengenaka helmnya.


"Apa sih kak?"


"Nantilah kakak cerita."


"Kapan?"


"Nanti Kalau ada waktu. "


"Sekarang ada waktu." dia berusaha menahannya.


"Bukan sekarang, Ra."


"Iya, tapi kapan? aku juga mau bilang sesuatu sama kakak."


"Iya, nanti saja."


"Tapi...


"Pergi dulu ya?" Dimitri merapatkan helmnya, kemudian segera keluar dari halaman rumah tersebut.


🌹


🌹


[Apa kamu sudah pulang dari bengkel?] sebuah pesan masuk dari nomor Dimitri.


[Udah, baru aja mandi.] Rania mengirim balasan.


[Apa kamu bisa keluar sebentar?] Dimitri mengirim pesan lagi.


[Mau apa?"]


[Cuma mau ketemu, kalau aku kerumah pasti kamu larang.]


[Jangan!]


[Makanya. Ayo kita bertemu? aku kangen.] balas Dimitri, diikuti emot senyum.


[Baru kemarin pulang bereng dari Jakarta?]


[Siapa bilang kita pulang bereng? kamu di mobil jemputan dengan papamu, sedangkan aku dimobilku sendirian.] kali ini di ikuti emot cemberut.


Rania terkekeh.


Kemudian tampak Dimitri melakukan panggilan.


"Ya?" gadis itu menjawab.


"Ayolah, kita bertemu?" ucap Dimitri dari seberang sana.


"Dimana?"


"Aku tunggu di depan pintu masuk komplek."


"Deket amat?"


"Dari pada aku jemput langsung kerumah kamu?"


"Jangan lah."


"Ya sudah, cepatlah."


"Sebentar, aku lagi mikir mau kasih alasan apa sama papa." gadis itu menyisir rambutnya yang agak basah.


"Biasanya pakai alasan apa?"


"Bilang mau keluar sebentar sambil pergi."


"Ya sudah, itu saja."


"Tapi sekarang kok rasanya deg-degan kalau pakai alasan itu? padahal dulu biasa aja deh kayaknya." gadis itu tertawa.


"Masa?"


"Iya, kayak lagi bohongin papa, berasa punya dosa gitu."


"Ya sudah, aku jemput kesana, biar kamu nggak harus bohong dan nggak merasa berdosa."


"Ng... oke." lalu Rania memutuskan sambungan, dan Dimitri yang pikirannya segera saja memvisualisasikan tubuh gadis itu dengan sempurna.


Ah, sial!! gumamnya dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pah, aku keluar dulu sebentar ya?" Rania turun dengan mengenkan skinny jeans dan leather jaket hitamnya seperti biasa.


"Udah sore lho, mau kemana?" Angga mengangkat kepalanya yang dia rebahkan diatas paha Maharani.


"Keliling." jawab Rania yang meraih kunci motor dan helm miliknya.


"Keliling kemana?"


"Ng ... kemana ya? jalan-jalan lah pokoknya." gadis itu hampir saja menghambur keluar.


"Sama siapa?" namun pertanyaan itu menghentikan langkahnya.


"Sendiri." jawaban itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


"Sendiri?" Angga menyipitkan matanya, meneliti raut wajah anak gadisnya yang terlihat mencurigakan.


"Iya. Dahlah, pergi dulu." Rania setengah berlari keluar, menghindari kebohongan lain yang mungkin akan dia buat kepada sang ayah.


"Mencurigakan!" Angga bergumam.


"Apa sih kamu? dia kan memamg biasa pergi?" Maharani menginterupsi.


"Tapi ada yang aneh."


"Apanya?"


"Gerak-geriknya, akhi-akhir ini dia kayak menyimpan rahasia. Kadang nggak lihat mata aku kalau lagi ngobrol. Kayak kemana aja pikirannya."


"Kamu aneh, dia itu sudah dewasa. Biarkan dia punya privasi sendiri."


"Privasi apaan? nggak ada yang namanya privasi-privasian." Angga menoleh kepada istrinya.


"Dia bukan anak TK yang kamu antar setiap hari untuk melindunginya dari orang berbahaya. Dia gadis dewasa."


"Nggak ada yang namanya dewasa, bahaya ya tetep bahaya. Mau anak-anak kek, mau dewasa kek. Selama dia masih sendiri, dia tetap anakku."


"Nggak ada yang bisa menyanggah itu."


"Terus kenapa kayaknya kamu nggak mendukung aku?"


"Bukan nggak mendukung, papa. Aku cuma mengutarakan pendapat. Kalau Rania itu sudah dewasa. Umurnya sebentar lagi 21, dan dia bebas menentukan pilihan. Apapun itu."


"Kamu pikir deh, kalau Rega sama si kembar yang kaya gitu bakal gimana?"


"Itu beda sayang, mereka masih kecil. Rega bahkan sedang dalam masa transisi dari anak-anak ke remaja. Sebenarnya yang butuh kita perhatikan sekarang adalah Rega. Bukan Rania."


Angga merengut tidak senang.


"Anak kita itu empat Papa, bukan cuma Rania. Tapi ada Rega, Adel dan Amel. Semuanya butuh perhatian kamu, bukan cuma Rania."


"Apa aku kelihatan pilih kasih? nggak lho, kasih sayang aku sama mereka sama aja."


"Tapi itu yang nampak. Coba ingat, yang lebih sering sama tiga adiknya Rania siapa? ya aku."


"Kan aku juga ada kerjaan."


"Memang, tapi kamu lebih sering mengurus Rania dari pada pekerjaan kamu."


"Ya kan kerjaan aku ngurusin Rania."


"Seharusnya hanya untuk balapan aja, ngga dengan yang lainnya."


"Aku cuma memastikan dia aman."


"Aku tahu. Tapi kamu mulai berlebihan. Dan lagi seperti melupakan anakmu yang lain karena terlalu ketat mengawasi Rania."


"Masa?"


"Iya. Kamu bahkan nggak sadar kalau Rega sudah akhil baligh dan nggak tahu juga kan dia sudah mengalami mimpi basah?"


"Apaan? masa yang begituan harus dibahas ish, ...


"Ya harus lah. Penting. Dia satu-satunya anak laki-laki, dia butuh figur papanya lebih banyak, apalagi kalau masalah itu."


"Ya kamu jelasin lah," Angga dengan nada canggung. Hal ini terasa sedikit memalukan baginya.


"Tanpa kamu suruh pun sudah. Dia yang bilang sendiri."


"Masa? Si Rega ngadu kalau dia udah mimpi basah?"


"Iya."


"Dih, bikin malu."


"Nggak lah, justru bagus. Ega bilang semua yang dia alami, dia bahkan menunjukan chat teman perempuannya di sekolah yang bilang suka sama dia."


"Masa? hebat juga dia ya. masih piyik udah bisa gaet cewek?" Angga tertawa.


"Bukan itu masalahnya."


"Terus apa?"


"Temannya itu ngajak pacaran."


"Apa-aa?!! bocah jaman sekarang ya emang?" Angga berteriak.


"Ish,... kenapa teriak-teriak?"


"Dia baru kelas tiga SMP!"


"Makanya aku bilang. Untung Ega selalu ngasih tahu apapun yang dia alami."


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya aku bilang jangan dulu. Belum waktunya, nanti aja nunggu kamu keluar SMA. Tapi aku nggak yakin, anak jaman sekarang kan jiwa penasarannya tinggi. Aku takut dia tergoda. Mana temen perempuannya cantik lagi, duh."


Angga terdiam.


"Ngawasin Rania boleh, tapi aku juga butuh kamu untuk ikut berperan juga sama perkembangannya Ega. Kayaknya aku bakal kewalahan, mana Adel sama Amel juga udah mulai kelihatan puber nih. Aku nggak akan sanggup mengawasi tiga anak puber sendirian." adu Maharani kepada suaminya.


Angga menyadari, jika selama ini dirinya memang sangat protektif kepada Rania. Entah mengapa, dia merasa ketakutan jika ada sesuatu yang di alami oleh putri pertamanya itu.


Apalagi setelah menerima laporan seseorang jika anak gadisnya itu sering terlihat pergi bersama seorang pria yang dia kenal. Angga merasa tak rela, jika Rania memiliki hubungan dekat dengan seorang pria. Apalagi Dimitri, yang reputasinya sudah dia ketahui jauh sebelum dia menyadari kedekatan pria itu dengan Rania.


Bahkan tanpa mencari tahupun, dia sudah mengenali seperti apa watak pria itu. Sebuah keramahan tidak bisa menipu pandangan dan Instingnya sebagai seorang ayah. Dia merasa Dimtri berbahaya untuk putrinya.


"Kamu menyuruh aku membiarkan Rania bebas begitu saja?"


"Nggak. Aku hanya meminta kamupun memperhatikan Rega dan adik-adiknya. Mereka juga membutuhkan kamu, bukan cuma Rania."


"Aku cuma khawatir Rania mengalami hal buruk."


"Dan Kamu nggak khawatir sama adik-adiknya?"


"Nggak gitu juga Ran."


"Tapi kamu kelihatannya begitu." Maharani bangkit dari tempat duduknya.


"Nggak ih, ..." Angga mengikuti dengan pandangannya saat perempuan itu melenggang ke lantai atas.


"Kamu mau kemana?"


"Ngamar."


"Baru juga magrib?"


"Aku mau Nemenin Ega, siapa tahu dia mau curhat lagi. Soal temen sekolahnya, mungkin."


"Heh, dia kan lagi belajar?"


"Nemenin belajar juga penting, biar ada yang bisa ditanya kalau dia kebingungan. Pelajaran sekolah Sekarang kan kadang bikin gila. Yang dipelajari apa, yang jadi soal ujian apa.Kan nggak nyambung." Maharani segera melesat ke atas.


"Dih? dia ngambek?" gumam Angga setelahnya.


🌹


🌹


Rania tertegun saat tak mendapati mobil hitam mengkilat milik Dimitri di depan pintu masuk ke komplek rumahnya. Namun hanya seorang pengendara motor besar saja yang duduk tenang di tempat biasa Dimitri menunggu. Dengan helm yang rapat menutupi kepalanya.


"Apaan sih dia bohong? katanya nunggu disini?" Rania merogoh ponsel dalam saku jaketnya, berniat melakukan panggilan kepada pria itu.


"Ehm... " suara dehaman yang dia kenal terdengar di dekatnya. Dan matanya membulat seketika saat dia menoleh, dan mendapati Dimitri yang berada diatas motor hitam itu, membuka helmnya sehingga dia dapat melihatnya dengan jelas.


"Kamu?" ucapnya seakan tidak percaya.


"Aku keren nggak?" Dimitri dengan cengiran khasnya.


"Ng ..." Rania turun dari CBR merahnya dan segera menghampiri Dimitri.


"Nggak salah?" dia menatap pria itu dari atas ke bawah. Penampilan yang berbeda dari biasanya.


Rider suit berwarna hitam dengan garis-garis putih di Sekujur tubuhnya, membuat pria itu tampak seperti pembalap profesional.


"Nyasar pak? habis balapan dimana?" gadis itu tergelak, dia terpana melihat penampilan kekasihnya. Dimitri terkihat sangat tampan, dan... seksi? walaupun pria itu memang sudah tampan.


"Apa aku tampan? sudah keren?" pria itu tersenyum dengan pipi kemerahan.


Lalu Rania tertawa sambil berjongkok.


"Ini motor yang aku pakai latihan bukan?" dia kemudian mengelilingi motor tersebut untuk meihat.


"Sembarangan, aku beli lah."


"Wow? masa?"


"Iya. Masa aku pakai motor latihan kamu? nggak level."


"Dih, sombongnya?"


Dimitri menggendikan bahu sambil tersenyum.


"Ayo kita kencan?"


"Kencan?"


"Kencan ala kamu. Kita balapan?"


"Emangnya bisa ngebut?"


"Kita lihat saja."


"Yakin bisa ngejar aku? tunggangan garang nggak bisa menjamin kamu bisa ngejar aku lho, si merah bisa lebih hebat." Rania mengejek.


"Aku nggak mungkin bisa ngalahin juara dunia, tapi aku yakin kalau kamu nggak akan meninggalkan aku dibelakang."


"Seyakin itu?"


"Iyalah, kamu kan pacar aku."


"Dih, kepedean." Rania tergelak.


"Ayo cepat, sebentar lagi malam. Kita nggak punya banyak waktu kan?"


"Emangnya kamu mau kemana?"


"Buka aku, tapi kamu."


"Aku?" Rania menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, aku merasa papamu sepertinya mulai curiga, jadi aku yakin dia tidak akan tinggal diam. Paling tidak akan melarang kamu keluar malam lama-lama."


"Ah, iya benar. Tadi juga nggak biasanya Kepo."


"Nah kan, aku bilang juga apa."


"Hu'um, hampir aja aku bohong." Rania tertawa.


"Ya sudah, ayo kita pergi?"


"Baiklah."


"Kamu mau aku bonceng?" tawar Dimitri kepadanya.


"Nggak, ka kamu bilang mau balapan. Kita lihat sekencang apa kamu bisa ngebut?"


"Jangan kencang-kencang Ran, nanti aku nggak bisa ngejar kamu."


"Kalau nggak kencang bukan balapan dong?"


"Jangan samakan aku denga rivalmu di lintasan."


"Nggak janji." Rania kembali mengenakan helmnya, kemudian menaiki motornya.


"Siap?" mereka menghidupkan kendaraan roda dua tersebut.


"Oke."


Suara mesin meraung-raung dan mereka berdua bersiap. Lalu di menit berikutnya, keduanya mulai melaju, kendaraan mereka berakselerasi dari 0 sampai ke 50 kilometer perjam dalam waktu dua detik saja.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


cieeee, ... kencannya sambil balapan? 🤣🤣


biasa atuh klik like, komen sama hadiahnya. ini udah 2580 kata lho.


Kang Sosor berubah 😛😛