
🌹
🌹
Arfan melemparkan poselnya ke atas sofa, setelah menerima laporan jika Galang sudah berani berkunjung ke kediaman Hari. Tempat sang putri tinggal selama menjalani kuliahnya di Bandung.
Dia mengusap wajahnya kasar, apa lagi setelah melihat kiriman gambar dari orang suruhanya saat mereka berdekatan tadi sore.
"Apa sih? baru datang sudah marah-marah?" Dygta menyodorkan air minum kepada suaminya.
"Anak itu sudah berani berkunjung." jawab Arfan yang kemudian menenggak minumannya.
"Siapa? Galang?"
"Siapa lagi? hanya dia yang dekat dengan Ara." Arfan dengan nada kesal.
"Oh, ..."
"Haya oh? sepertinya kamu tahu sesuatu?" pria itu menatap curiga.
"Tidak." Dygta mengelak.
"Lebih baik kan, dari pada mereka janjian di luar?"
Arfan mendengus keras.
"Duduk dulu papa, kita ngobrol." perempuan itu menepuk sofa di sampingnya.
"Ngobrol apa?"
"Apa saja, banyak sekali yang harus kita bicarakan."
Arfan mengerutkan dahinya begitu dalam hingga kedua alisnya tampak bertautan.
"Ada masalah di resort?" Dygta bertanya terlebih dahulu.
"Tidak ada."
"Hotel?"
"Aman."
"Restoran?"
"Lancar."
"Baiklah."
"Apa maksudmua bertanya seperti itu?" pria itu mulai tidak sabar.
"Tenang dulu, kenapa kamu jadi setegang itu sih?" Dygta mengusap pundaknya pelan-pelan. Tahu suaminya tengah di landa kegundahan karena putrinya mulai berulah.
"Semua yang kamu ucapkan membuat aku curiga, sayang!" jawab Arfan.
"Kenapa curiga? aku ini bukan penjahat yang sedang merencanakan sesuatu." tukas Dygta.
"Lalu kamu mau bicara soal apa?"
"Ya apa saja, banyak hal yang harus kita bicarakan. Ara beranjak dewasa, Arkhan dan Ann sudah remaja, Aksa dan Asha juga sebentar lagi baligh. Pr kita banyak, Papa!"
Arfan tertegun.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan Ara?"
"Ara?"
"Ya. Kita sudah tahu kedekatan dia dengan Galang kan? bahkan mungkin mereka berpacaran."
"Aarrgghh! aku kesal mendengar kata itu, sudah pasti mereka berpacaran. Sering pergi berdua, dia berani berkunjung ke rumah abahmu, dan lagi dia berani datang ke sini di saat aku tidak ada."
"Waktu itu kebetulan kamu sedang tidak ada."
"Sama saja, dan itu membuatku sangat kesal. Berani-beraninya dia!"
"Tenang, ...
"Bagaimana aku bisa tenang? seorang pemuda mendekati anak gadisku!"
Dygta menahan diri untuk mendebat suaminya, karena bisa di pastikan dirinya akan kalah. Namun untuk membiarkan pria itu tetap dengan pendiriannya pun tidak bagus juga. Karena akan berakibat fatal pada pemberontakan Amara.
"Ara sudah dewasa lho. Dan dia punya keinginannya sendiri." Dygta kembali berbicara.
"Aku tahu itu."
"Jadi kita tidak bisa mencampuri apapun sekarang."
"Iya."
"Jadi?"
"Apa?"
"Kamu akan tetap melarang dia dekat dengan Galang?"
"Kamu setuju dia dekat dengan pemuda itu?" Arfan mencondongkan tubuhnya, merasa tidak senang dengan ucapan istrinya.
"Galang sepertinya baik." jawab Dygta.
"Tahu dari mana kamu? bertemu juga baru beberapa kali." Arfan mendelik, jelas dirinya akan kekurangan dukungan karena perempuan ini sepertinya memiliki pendapat berbeda dengannya.
"Nggak susah mau dapat informasi. Seperti yang sering kamu lakukan."
"Kamu menyelidiki dia?"
"Ya, tapi dari sudut pandang yang berbeda tentunya."
Arfan terdiam.
"Aku lihat dia berprestasi di kampus. Bekerja cukup baik dengan timnya Rania. Reputasinya di kampus juga baik. Bahkan papi pun tertarik untuk mempekerjakannya di Nikoli Grup. Dan kamu tahu, penilaian papi terhadap seseorang tidak main-main."
Arfan menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Dia memang sudah mengetahui perihal tersebut. Dia tidak akan membiarkan pemuda sembarangan mendekati putrinya dengan mudah. Dan pemuda ini memang memiliki potensi yang baik. Setidaknya itu yang dia dapatkan dari hasil penyelidikannya. Namun tetap saja dirinya merasa tak rela.
"Jangan terlalu keras kepada Ara, kamu tahu dia tidak bisa di perlakukan seperti itu, atau Ara akan memberontak."
"Kamu selalu mengikuti keinginannya maka dia menjadi begitu." tukas Arfan.
"Keinginan yang mana? dia tidak pernah meminta macam-macam. Dia penurut sejak kecil. Aku hanya berperan menjadi orang yang dia butuhkan selain mamanya."
"Hah, ... perempuan." gumam Arfan dengan kesal.
"Kita biarkam saja dia menjalani masa mudanya dengan normal. Hanya jangan pernah melepaskan pengawasan darinya. Kita cegah apa yang bisa di cegah, tanpa harus membuatnya merasa urusannya kita campuri."
"Sayang, aku tidak bisa seperti itu. Kamu tahu aku ...
"Bisa. Zamannya sudah berbeda sekarang, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada anak-anak."
"Sudah jelas kamu mendukung anak itu."
"Namanya Galang, dan aku tidak mendukung siapa pun."
"Iya iya, ... dasar ibu-ibu! mudah merasa terkesan karena sikap manis seorang pemuda!"
"Eh? pemuda itu yang mengusahan keadilan untuk adik iparku tahu? dan dia handal dalam hal itu."
Arfan mencebikan mulutnya.
"Jelas dia dibantu Adrian." gumamnya kemudian.
"Memang, bukankah dia hebat?" sekelain saja Dygta memanasi suaminya.
"Apa?"
"Hebatkan mereka? kolaborasi yang bagus. Satu interpol, satu hacker. Pemula tapi sudah handal, bayangkan akan sebaik apa Nikolai Grup jika dia benar-benar bergabung."
"Eh, ... apa kabar Adrian sekarang ya? anaknya sudah berapa? aku dengar mereka tinggal di Jenewa." lanjut Dygta.
Arfan mengetatkan rahangnya, dan perempuan ini benar-benar pandai mempermainkan emosinya.
"Dari mana kamu tahu kalau dia tinggal di Jenewa?" Arfan mulai terpancing.
"Dari Ded waktu dia menelfon."
"Dan kamu bertanya soal Adrian?" pria itu menegakan tubuhnya.
"Ya, kebetulan Ded membicarakannya."
"Apa saja yang kamu tanyakan?"
"Banyak."
"Apa?"
Dygta terdiam sebentar.
"Apa?" ulang Arfan.
"Kamu kepo." perempuan itu bangkit dari sofa kemudian melenggang ke arah tangga memuju kamar mereka.
"Dy?"
"Hmm ...
"Apa yang kamu tanyakan kepada Ded?"
Dygta tak menjawab, dia malah meneruskan langkahnya ke lantai dua.
"Dy!!" Arfan pun bangkit.
"Aku lelah, sayang. Seharian bolak-balik ke sekolah si kembar karena ada pertemuan orang tua guru. Mumpung anak-anak sudah di kamar mereka aku mau istirahat lebih awal ya? kamu kalau masih ada pekerjaan, silahkan saja selesaikan." jawaban yang tidak diinginkan oleh Arfan, membuat pria itu akhirnya menyerah juga, lalu dia hampir berlari mengikuti istrinya ke lantai dua.
🌹
🌹
"Mbak Lina belum pulang?" Dimitri baru saja memasuki rumah pada hampir malam. Jadwal dadakan dari Clarra membuatnya pulang terlambat lagi malam itu.
"Belum pak."
"Kenapa? Rania minta di temani?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Sengaja, takutnya non Rania butuh saya."
"Apa hari ini dia sangat merepotkan?"
"Tidak juga."
"Itu ... non Rania ...
"Kenapa?"
"Belum selesai."
"Belum selesai apanya?"
"Di garasi."
"Sedang apa dia di garasi?" pria itu menghentikan langkahnya, kemudian beralih ke belakang rumah mereka.
Dimitri tertegun mendapati garasinya yang berantakan, samua peralatan teronggok di lantai. Beberapa sparepart berserakan dan kap Bugatti milik Rania terbuka.
"Zai?" panggilnya saat dirinya tak menemukan perempuan itu di sana.
"Oh hai, kamu udah pulang? kirain pulang tengah malam lagi?" Rania muncul dari bawah mobil sport miliknya.
"Kamu sedang apa?" Dimitri mendekat kemudian berjongkok.
"Apa yang kamu lakukan pada mobilnya?" dia menatap benda-benda yang berserakan di lantai.
Rania keluar dari kolong mobil, dengan penampilan berantakan dan tangan penuh kotoran.
"Jangan katakan kamu membongkar mesinnya." Dimitri agak ragu, tapi pemandangan di depan matanya cukup membuatnya ketar-ketir juga.
"Hehe ...
"Kamu membongkar mesinnya?"
Rania menganggukkan kepala.
Seketika saja wajah Dimitri memucat.
"Why?" katanya.
"Sengaja."
"Sengaja kenapa? kamu kurang kerjaan!"
"Tadi aku cek mobilnya, terus ...
"Ini Bugatti Chiron, Zai."
"Iya, terus?"
"Kamu membongkar mesin Bugatti Chiron hanya untuk menghabiskan waktu?"
"Bukan gitu ...
"Aku membelinya dari Dubai langsung, untuk mas kawin dan kamu dengan mudah membongkarnya begitu saja? apa sih yang kamu pikirkan?"
"Nggak ada, .."
"Astaga, Rania!" Dimitri mengusap wajahnya, frustasi.
"Tadi nggak hidup pas mau aku panasin. Ya aku cek semuanya."
"Terus?"
"Ada masalah sama mesin dalamnya."
"Kenapa?"
"Kayaknya karena nggak pernah aku panasin. Dari awal punya paling berapa kali aku pakai kan? dan sejak disini baru satu kali aku hidupin, itu juga cuma panasin mesinnya doang. Setelahnya aku diemin. Ya hampir karatan, padahal baru berapa bulan?"
Dimitri terdiam.
"Mobil bagus juga kalau nggak di pake tetep aja karatan." Rania bangkit, kemudian memunguti beberapa sparepart dan memasangkannya kembali.
"Kamu yakin bisa memasangkannya kembali? ini banyak yang kamu lepaskan. Cek mesin sampai segitunya?"
"Aku cuma penasaran."
"Penasaran?"
"Aku mau tahu, mobil tercepat di dunia mesinnya kayak gimana."
"Astaga!" lagi-lagi Dimitri mengusap wajahnya sendiri. Namun akhirnya dia memutuskan untuk menunggu Rania menyelesaikan pekerjaannya.
***
"Selesai ..." Rania menutup kap mesin setelah hampir satu jam merangkai dan memasangkan kembali mesin dan sparepart Bugatti Chironnya yang dia bongkar sejak petang tadi.
"Serius?" Dimitri yang baru saja kembali setelah membersihkan diri.
"Kamu nggak percaya kemampuan aku?"
"Bukan begitu. Hanya saja ...
Rania menghidupkan mobilnya, dan segera saja suara raungan mesin menggema di dalam garasi tersebut.
"Nah kan? malah suaranya lebih halus sekarang." Rania dengan bangganya, dan dia menggeber mesin beroda empat itu lebih kencang.
"Kayaknya kalau di modifikasi bakalan lebih bagus lagi nih?" dia bergumam.
"Modifikasi apanya? ini sudah bagus tahu?"
Rania hanya tertawa.
"Jangan macam-macam Zai."
"Nggak akan, cuma satu macam." dia keluar, kemudian mencuci tangannya di wastafel di sisi lain garasi.
"Maksudku, jangan utak-atik lagi mobilnya. Desain Bugatti sudah sempuna, baik untuk bergaya ataupun untuk berkendara. Kamu tidak perlu merubah apa pun."
"Kalau setelah aku modifikasi jadi lebih bagus gimana?"
"Zai ...
"Kenapa? takut nggak berhasil ya?" perempuan itu tertawa.
"Kesenangnmu membuatku merasa ngeri."
"Ngeri apanya? sekarang cuma utak-atik mesin, apa lagi kalau masih balapan."
"Jangan lah."
"Makanya." Rania berbalik, dan pria itu sudah berada di belakangnya.
"Kamu sudah makan?"
"Udah. Kamu?"
"Sudah, tadi dengan staff."
"Nggak sama Clarra?"
"Tadi banyakan." Dimitri tertawa.
"Rapatnya banyakan?"
"Ya, rapat staff."
"Oh, ...
"Bagaimana baby nya hari ini? apa mereka tidak berulah?" Dimitri menyentuh perutnya yang sudah terlihat.
"Nggak. Cuma terasa bergetar-getar di sini."
"Oh ya? wow, ... kenapa?"
"Nggak tahu, tapi kata dokter Reyhan itu biasa."
"Kamu beri tahu dokter Reyhan?"
"Bukan, tapi tanya kenapa perut aku gitu, dan kata dokter Reyhan itu biasa. Malah di kasus lain ada yang dari dua bulan. Kalau aku mungkin karena nggak terlalu ngeuh."
"Begiu ya?"
"Humm."
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Lagi nggak."
"Kalau ketemu papinya bagaimana?"
"Apaan?"
Dimitri tersenyum lebar, lalu dia meraup tubuh Rania dan mencoba meraih bibir yang selalu menggodanya.
"Sayang, kayaknya aku harus bersih-bersih dulu deh?" Rania mencoba menghindar.
"Bukannya sudah?"
"Nggak, ... itu kan tadi ...
Dengan mudah Dimitri mengangkat Rania dan mendudukannya di wastafel. Lalu dia meraup bibir menggoda perempuan itu. Dia menyesapnya seolah ingin menghabiskannya hingga tak bersisa. Sementara tangannya sudah menjelajah ke mana-mana.
"Mbak Lina udah pulang?" Rania menjeda cumbuannya sejenak.
"Tidak tahu, belum pamitan." jawab Dimitri, yang kembali menyusuri leher jenjang perempuan itu.
"Ngh, ... sayang!" Rania mendorong dada suaminya untuk menghentikannya. Dan memang berhasil, namun sesaat kemudian pria itu mengangkatnya, kemudian berjalan tergesa menuju ke dalam rumah.
"Pak, saya mau pamit pu ...lang." Lina muncul untuk berpamitan, menghentikan langkah Dimitri dengan Rania dalam gendongan.
"Mm ...ya, oke. Baik." pria itu menjawab.
Kemudian Lina cepat-cepat keluar dari rumah tersebut sebelum keadaan menjadi lebih canggung. Dia menggelengkan kepala dengan wajahnya yang memerah.
Semantara pasangan di dalam rumah tersebut meneruskan langkah mereka ke lantai dua di mana kamar mereka berada.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
hadeh ... calon ortu semakin aktif ya bun 😛😛
jangan lupa like komen sama kirim hadiah yang banyak.
lope lope sekebon cabe dan jahe 😘😘😂😂