All About You

All About You
Cuti Bulan Madu



🌹


🌹


Berkali-kali Dimitri mendes*h frustasi setiap kali dia melihat jam di layar ponselnya. Sudah lebih dari 24 jam sejak dia lepas landas dengan pesawat pribadinya dari Jakarta pagi-pagi sekali, dan seharusnya hanya mebutuhkan waktu 16 jam saja untuk sampai di bandara internasional Charles De Gaulle, Prancis.


Namun badai yang muncul beberapa kali membuat pesawat harus transit di beberapa tempat, dan kemudian tertahan ketika badai tak kunjung berlalu. Menjadikannya tak dapat pergi mengambil rute manapun karena keadaan tetap sama saja.


Maka dengan terpaksa pria itu mau tidak mau harus menginap di salah satu hotel di satu negara tempat pesawatnya transit. Padahal perjalanan ke Paris hanya membutuhkan waktu setidaknya sekitar empat jam lagi.


Dimitri tak pernah melepaskan ponselnya untuk terus mencari tahu kabar perkiraan cuaca baru, agar dia bisa segera kembali terbang dan menamui istri tercintanya, yang mungkin saja hari ini sedang merajuk, sejak terakhir mereka bertelfon ria yang berakhir dengan marahmya Rania karena dia melarangnya berdekatan dengan Galang.


Cemburu, konon.


Ah, ... kenapa tidak pergi sejak kemarin sore saja, mungkin hari ini aku sudah berbaikan dengan Rania. batinnya, dan dia kembali menatap layar ponselnya.


Dan aku sudah duduk di bangku paling depan untuk memberi dia semangat di balapan ini. dia kembali menghempaskan kepalanya pada sandaran kursi. Mengingat siang ini balapan akan segera dimulai, dan perempuan itu akan kembali beraksi di lintasan.


Terdengar bel berbunyi, dan seseorang tiba untuk menjemputnya.


"Ya?"


"Badainya sudah reda pak, dan kita punya waktu setidaknya dua jam untuk terbang sebelum badainya kembali muncul. Apa bapak mau berangkat sekarang atau ...


"Tentu saja sekarang, bodoh! kau kira aku bisa menunggu lebih lama dari ini?" pria itu mengomel sambil mengenakan mantel dan meraih segala yang dibawanya, kemudian segera pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania berusaha menstabilkan kecepatan Ducatinya diatas aspal yang licin pada akhir musim dingin itu. Kesulitan memang dia hadapi pada cuaca seperti ini, namun itu tidak terlalu mempengaruhinya sama sekali. Dia cepat belajar dan menguasai situasi seperti biasa. Hingga di putaran ke 15 dari total 30 putaran dia sudah berada di posisi ke 4.


Namun yang menjadi masalahnya kini adalah pembalap dibelakangnya yang berada di posisi 5, yang sejak awal start terus mengekorinya.


"Papa, dia di belakang aku terus!" Rania mulai waspada.


"Stabilkan terus, Ran."


Ini aneh. gumam Rania dalam hati.


Biasanya setia pembalap di belakang akan berusaha mendahului, seperti halnya pembalapa lain di belakang mereka. Namun orang ini tak berusaha sedikitpun, setelah dia berada di belakangnya, pembalap tersebut seperti berhenti berusaha.


Motornya terasa mengalami guncangan.


"Hey!!" perempuan itu berteriak.


"Kenapa Ran?"


"Dia nabrakin bannya ke aku!"


"Apa?"


"Dia nabrakin bannya ke aku kayak waktu itu!"


"Hati-hati Ran."


"Aku berusaha!"


Dan benturan kembali terjadi.


"Eh anj*ng!!"


"Ran?!"


"Dia ngelakuin itu lagi."


"Kamu bisa maju, Ran?"


"Entahlah, apa aman?"


Angga melihat layar monitor, dimana celah kecil terlihat diantara tiga pembalap di depan.


"Tunggu sebentar!" ucap Angga sambil berpikir.


Celah di depan Rania perlahan melebar saat melewati beberapa tikungan yang lumayan tajam. Sirkuit Le Mans memang dikenal memiliki beberapa tikungan yang cukup tajam dan lumayan berbahaya. Dengan resiko yang cukup besar pula untuk beberapa pembalap pemula.


Dalam sejarahnya, lintasan itu bahkan telah menelan banyak korban dari mulai yang mengalami kecelakaan ringan, maupun berat. Bakan hingga kehilangan nyawa. Namun Le Mans bagai sumber madu bagi lebah dari segala penjuri dunia, yang selalu mengundang para pembalap untuk datang dan menjajal lintasan tersebut.


"Kamu bisa maju Ran, tapi hati-hati." ucap Angga setelah terdiam cukup lama.


Rania mengambil ancang-ancang, dia mengatur kecepatan kemudian segera menyelinap ke celah ditengah.


"Ugh!!" benturan bagian step belakang kembali terjadi. Rania sedikit limbung ke sebelah kiri, namun dia dapat menguasai kendaraannya.


"Stabil, Ran. Stabil!" Angga berteriak.


Suasana balapan kali ini terasa semakin memanas. Hampir semua orang merasakan itu. Persaingan terlihat semakin ketat di urutan empat besar, dan posisi yang terus berganti-ganti hingga beberapa putaran kedepan.


Rania menyalip dari kiri, kemudian segera disalip lagi oleh sang rival, yang tampaknya juga tidak akan menyerah begitu saja.


"Sabar Ran." Angga mengingakan anak perempuannya yang tengah bertarung menyelesaikan balapannya.


Lima putaran lagi tersisa, dan persaingan semakin memanas. Semua orang tampak berharap akan hasil yang terbaik untuk masing-masing pembalap yang mereka dukung.


Begitupun mereka yang bertarung di lintasan, semuanya berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi diri mereka sendiri dan juga timnya yang telah mendukung dengan sepenuh hati.


Rania melesat, dan berhasil mensejajari pembalap urutan kedua. Perlahan dia berusaha mendahului, meski kedaan sedikit mustahil karena kini hanya tersisa tinggal tiga putaran lagi. Namun perempuan itu tak mau berhenti berusaha. Sebelum garis finish terlewati dia akan berusaha hingga akhir.


Hingga pada akhirnya, saat satu putaran lagi yang tersisa, mereka tetap berusaha sekeras mungkin untuk menjadi nomor satu.


Rania perlaham mendahului semua rivalnya, dan dia bersiap untuk kembali menambah kecepatan saat tanpa di duga, senggolan pada bagian belakang motornya meyebabkan dia kembali limbung ke arah kanan.


"Ah, sial!" Rania berteriak, dan dia hampir saja kehilangan kendali. Namun kecekatannya membuktikan bahwa dia memang dilahirkan untuk menjadi pembalap, sehingga lagi-lagi dia mampu menguasai keadaan, dan mengendalikan kuda besinya.


Beruntung, jaraknya dengan pemabalap di belakang cukup jauh, dan dia masih bisa kembali ke jalurnya. Mencoba mengejar satu pembalap di depan. Hingga akhirnya dia mencapai garis finish di urutan kedua setelah beberapa detik berusaha mengejar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Cerialah, kamu masih juara!" Galang menyambutnya di pintu masuk setelah Rania turun dari podium dan menjalani konferensi pers. Wajahnya sedikit di tekuk dan senyuman ceria mendadak hilang dari bibirnya.


"Cuma juara dua." suaranya terdengar lemah.


"Dua juga masih juara. Kamu masih di tiga besar. Dan itu hebat." pemuda itu merangkul pundaknya seperti yang selalu dilakukannya di masa-masa yang lalu.


"Hmmm ... " gumaman Rania terdengar sendu.


"Kalah dan menang itu biasa. Nggak usah dipikirin."


"Kamu mah teu ngarti Lang, ah ..."


"Kamu nggak harus selalu jadi nomer satu, tapi berbanggalah karena kamu udah berusaha sekeras yang kamu bisa, dan itu yang terpenting." Galang masih berusaha menghiburnya.


"Tapi kalau tadi nggak disenggol pasti aku finish di urutan pertama."


"Kesenggol mungkin."


"Disenggol, Lang."


"Senggolan itu biasa, namanya juga balapan."


"Nggak, ini beda. Kamu nggak tahu sih keadaan di lintasan kayak gimana."


"Positif thinking aja, yang penting kamu fokus sama diri kamu sendiri."


"Oh ya?"


"Hu'um, makanya."


"Ehm ..." suara khas itu menginterupsi percakapan keduanya. Dan sosok jangkung itu berdiri tepat lima meter di depan, menatap dua orang sahabat yang tengah bercakap-cakap.


"Dimi?" mata Rania membulat seketika, dengan binar yang tiba-tiba saja muncul begitu dia melihat suaminya yang beridiri di depannya. Dan sscara tiba-tiba juga dia seolah melupakan kekecewaannya tadi.


"Hei, aku ...


Segera saja perempuan itu berlari ke arah Dimitri dan langsung melompat ke pelukannya begitu jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja.


"Aku kirain kamu nggak datang? aku lihatin di bangku penonton nggak ada." katanya, seraya menarik kepalanya untuk menatap wajah yang sangat dia rindukan.


Rania memindai setiap jengkal wajah Dimitri dengan perasaan suka cita yang membuncah. Mengapa dirinya begitu bahagia saat melihat wajah itu? apa karena lama mereka tidak bertemu, atau entah karena apa. Yang pasti jantungnya berdebar tak karuan dengan perasaan yang luar biasa bahagia.


"Hey, pelan-pelan. Atau kamu akan membuat kita berdua jatuh." ucap Dimitri dengan senyuman khasnya.


"Aaa, ... aku seneng kamu datang." Rania kembali mengeratkan pelukan pada tubuh suaminya, begitu juga Dimitri, yang merapatkan wajahnya pada leher Rania, dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh perempuan yang sangat dia rindukan itu.


Sementara Galang melangkah mundur ke belakang, tidak ingin kehadirannya mengganggu dua sejoli yang tengah dilanda kerinduan itu.


"Kamu sudah tidak marah?" mereka melangkah bergandengan keluar dari area lintasan, menuju mobil yang sudah menunggu di depan.


"Marah kenapa?" Rania mengerutkan dahi.


"Soal yang kemarin itu?" Dimitri membiarkannya masuk kedalam mobil terlebih dahulu.


"Yang mana?"


"Waktu aku menelfon, dan melarangmu agar tidak terlalu dekat dengan Galang. Kamu sepertinya marah?" mereka berdua telah berada di dalam mobil.


"Nggak ah, aku nggak marah. Kenapa harus marah?"


"Serius?"


"Iya. kamu kan cuma mengatakan perasaan kamu."


"Aku pikir kamu marah? setelah itu susah dihubungi, sampai-sampai aku nggak bisa tidur."


"Masa?" Rania tergelak. "Kamu lebay, nggak penting banget aku marah karena masalah gitu."


"Oh, wow? jadi aku yang salah faham ya?"


"Nggak tahu, kamu pikir gimana? karena setelah aku pikir-pikir, ucapan kamu ada benarnya juga. Keadaan sekarang udah beda, jadi aku nggak seharusnya bersikap sama ke Galang. Apalagi dia pernah punya perasaan sama aku. Harusnya aku jaga jarak."


"Hmm ... Zai." Dimitri merangkul pundak perempuan itu, lalu menariknya ke pelukan. "Eh, tapi kamu tadi masih peluk-pelukan sama dia? kenapa itu?" lalu dia mengingat saat Galang merangkul pundak istrinya tadi.


"Iya gitu? aku nggak nyadar." Rania tertawa terbahak-bahak.


"Cih, ucapan nggak sejalan dengan perbuatan."


"Aku masih menyesuaikan diri, yang. Pelan-pelan aku coba berubah. Maaf ya?" perempuan itu menyentuh dada suaminya, kemudian mendongak.


Dimitri menatap dua bola matanya yang bulat berbinar.


"Ternyata aku yang berlebihan ya?" Dimitri tersenyum lebar.


"Entahlah, menurut kamu gimana?"


"Iya, aku yang berlebihan. Maaf." katanya, kemudian.


"Dimaafkan, asal jangan gitu lagi."


"Yes ma'am." kemudian Dimitri mengecup bibir perempuan itu dengan lembut.


"Ini masih dimobil tahu, ada sopir." Rania mencoba menghindar.


"Nggak apa-apa, disini sudah biasa." pria itu melanjutkan cumbuannya.


"Eh, ... cotagenya kelewatan." Rania memalingkan perhatian saat dia menyadari telah melewati penginapan tempat mereka tinggal selama satu minggu tersebut. Dan mobil yang mereka tumpangi tampaknya menuju ke tengah kota Paris yang berjarak beberapa kilo meter dari tempat mereka sekarang ini.


"Nggak apa-apa, kita nggak akan pulang dulu."


"Hah?"


"Biar papamu dan crew pulang duluan. Dan kita masih akan disini untuk beberapa hari ke depan."


"Beneran?"


"Hmm ..."


"Tapi gimana kerjaan kamu?"


"Sudah ditangani Om Andra dan Om Arfan."


"Dih, lempar kerjaan sana-sini?"


"Aku cuma sedang mengambil hak cutiku."


"Cuti apa?"


"Cuti bulan madu."


"Hum?"


Dimitri menatapnya sambil tersenyum.


"Dan balapan aku berikutnya?"


"Kita masih punya waktu dua minggu lagi sebelum kamu ke Argentina."


"Kamu tahu jadwalnya?"


"Tahu lah, semuanya lapor kepadaku."


"Ah, ... aku lupa, kamu kan sponsor utama, jadi pasti tahu."


"Jangan lupa juga kalau aku suamimu."


"Ngg ...


Dimitri tersenyum lagi, kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Rania merasakan tubuhnya merinding, dia mengira-ngira pasti akan terjadi banyak hal setelah ini.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


kira-kira apa ya yang akan terjadi setelah ini? penasaran deh. 🤭🤭


kasih like, komen sama hadiahnya dulu yang banyak dong buat bekal mereka di Paris. 😂😂


lope lope se menara Eifel 😘😘