
🌹
🌹
Rania terjaga pagi-pagi sekali saat cuaca masih berkabut. Walau matahari pagi sudah nampak namun belum cukup menghangatkan udara. Suasana masih cukup syahdu pagi itu. Namun dirinya sudah tak bisa memejamkan mata, meski Dimitri semakin mengeratkan pelukan saat dirinya bergerak perlahan.
"Yang, lepas dulu. Aku mau ke kamar mandi." ucapnya, dan dia berusaha melepaskan diri dari suaminya.
"Yang, ...
Dimitri bergeming.
"Papi, aku mau ke kamar mandi, udah nggak tahan!" Rania merengek dan akhirnya membuat Dimitri melepaskan lilitan tangannya.
Rania meraih pakaian yang berserakan di sudut tenda kemudian mengenakannya dengan cepat. Dia segera keluar untuk menuntaskan urusannya di kamar mandi dalam rumah.
***
"Pagi." sapanya ketika memasuki area dapur, dan Lita juga Amara sudah sibuk meyiapkan sarapan. Begitu juga Sofia yang menyiapkan minuman hangat untuk seluruh keluarga.
"Pagi, ... udah bangun." Amara menjawab. Mencoba seramah mungkin meski entah mengapa masih ada sedikit rasa canggung, namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Bisa-bisa semua orang curiga kepadanya.
"Hmm ... lagi bikin apa?" Rania mendekat.
"Sarapan. Mau coba?" tawar Amara, memotong sebuah roti bakar lalu menyodorkannya kepada Rania.
"Kayaknya enak?"
"Coba aja."
Rania menyuapkan potongan roti tersebut kedalam mulutnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan.
"Enak."
"Iyakah?" Amara tersenyum. "Untuk ganjal perut kayaknya cocok, sementara uyut beresin masak dagingnya."
"Masih lama ya?"
"Lumayan."
"Ya udah. Minta lagi satu boleh?" ucap Rania.
"Boleh, mau dua juga boleh. Aku bikinnya banyak."
"Satu aja, buat ayang biar bangun." Rania tertawa.
Amara pun ikut tertawa. Perempuan ini sepertinya menyenangkan, dan kenapa juga dirinya harus merasa canggung? sedangkan Rania bisa seramah ini kepadanya? pikirnya.
"Semalam tidur di tenda ya?" dia berbicara lagi.
"Iya, ketiduran. Pas bangun udah mau subuh, ya udah lanjut aja."
"Padahal semalam dingin banget di luar."
"Emang. Tapi udah tanggung."
"Aku nggak kuat, makanya setelah ngobrol langsung ke dalam rumah aja."
"Aku mau bikin latte, ada nggak?" Rania beralih.
"Banyak, disini." Amara menunjukkan lemari di atas meja kompor dan mengeluarkan toples plastik berisi bungkusan latte instan khusus untuk Dimitri kalau-kalau pria itu datang berkunjung.
"Untuk kak Dim?" tanyanya.
"Hu'um, .." Rania mengangguk.
"Aku aja yang bikinin." Amara mengambilkan mug di rak penyimpanan.
"Nggak usah, aku aja." tolak Rania.
"Oke. Tapi airnya harus benar-benar mendidih."
"Aku tahu."
"Jangan pakai gula. Kak Dim nggak suka latte yang manis."
"Aku juga tahu."
"Oke." Amara mundur untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Aku keluar dulu ya, siapa tahu Dimi udah bangun."
"Oke."
Rania hampir saja keluar ketika Amara memanggilnya.
"Tunggu kak, aku kelupaan."
"Apa?" perempuan itu memutar tubuh.
"Dompetnya kak Dim." Amara menyodorkan sebuah dompet yang dia kenali milik suaminya.
"Dompet?"
Amara menganggukkan kepala.
"Kenapa ada di kamu?" Rania mengerutkan dahi.
"Semalam kayaknya jatuh. Setelah ngobrol kak Dim langsung pergi duluan, pas aku mau ke rumah aku memuin ini di sana." Amara menunjuk jalan kecil di dekat gazebo di area bawah.
"Semalam? ngobrol?" Rania mengulang ucapan gadis itu.
"Iya."
Semalam dia menghilang cukup lama, dan beralasan ada panggilan pekerjaan dari Clarra.
Kenapa bohong?
Kenapa nggak bilang kalau ketemu Ara? batinnya bermonolog.
Kemudian dia teringat percakapannya dengan Sofia kemarin, tentang kedekatan ke tiga anak laki-lakinya dengan gadis ini, juga bagaimana interaksi mereka berempat kemarin. Di tambah perhatian Amara kepada suaminya yang dia rasa sedikit janggal.
Yang entah mengapa membuatnya tiba-tiba merasa marah. Dia menatap gadis itu lama-lama dengan pikirannya yang buruk.
"Latte nya keburu dingin kak, atau kak Dim mungkin udah bangun? dia nggak suka Latte yang dingin." Amara mengingatkan.
"Ya, ... kamu bener." Rania tersadar dari lamunannya. Kemudian bergegas keluar dari bagunan rumah dengan langkah yang tergesa.
Dia meletakan cangkir latte dan satu porsi roti bakar di meja kayu tak jauh dari tenda dimana mereka tidur semalam. Dadanya naik turun dengan cepat, dan dia merasa marah.
Ucapan Amara beberapa saat yang lalu tentu mengandung sesuatu untuknya. Atau mungkin ada sesuatu di antara mereka yang dia tak tahu?
Oh mengapa rasanya ini begitu mengesalkan? rasanya dia ingin marah dan berteriak, namun sekuat tenang dirinya mencoba menahan diri. Akan sangat memalukan jika hal itu terjadi.
Dia mencoba menenagkan diri untuk beberapa saat, dan meyakinkan diri jika pikirannya salah saat ini. Tidak mungkin suaminya berbuat buruk kepadanya, apa lagi dengan keponakannya sendiri, bukan? tidak mungkin!
Tapi ...
Dia kan bukan keponakan kandung? Ara anak tiri kak Dygta. Bisa aja mereka ...
Rania tertegun cukup lama.
Bajingan! bisa-bisanya dia berbuat begitu! dia memejamkan mata untuk meredam rasa marah.
"Kamu dari mana? aku mencarimu." Dimitri memeluknya dari belakang, setelah mencarinya dan tak menemukannya di dalam rumah.
Rania tak merespon, rasa marah jelas sudah memenuhi hatinya.
"Zai?" pria itu mengecupi pelipisnya, dan menghirup aroma rambutnya yang setengah basah.
"Kamu ... dari mana?" Rania malah bertanya. Susah payah dia menahan diri dari kemungkinan meledak karena pikiran buruk yang menguasainya sekarang ini.
"Dari rumah, cari kamu. Aku bangun kamu nggak ada." jawab Dimitri dengan tenang.
"Aku di sini dari tadi."
"I know." pria itu terkekeh, kemudian menyurukkan wajahnya di leher Rania.
"Lattenya, ... keburu dingin." suara Rania terdengar bergetar.
"Oh ya? kamu buatkan alu latte tadi?"
Rania mengangguk pelan.
"How sweet Zai." dia kembali mengecup pelipis perempuan itu. Perasaannya semain besar saja kepadanya, apa lagi ketika akhir-akhir ini istrinya itu melakukan sesuatu untuknya. Walau hanya hal kecil yang dia lakukan, namun itu bisa membuatnya merasa terharu.
"Hmmm ...
Dimitri melepaskan rangkulannya, kemudian meraih cangkir latte miliknya, dan menyesapnya pelan-pelan.
"Apa latte buatan aku enak?" Rania bertanya.
"Enak, seperti biasa."
"Kamu bisa coba rotinya."
"Baik. Pasti enak juga. Kamu yang buat?" dia menggigit ujung roti bakar tersebut dan mengunyahnya dengan riang.
"Enak sekali Zai, terimakasih."
"Pasti, itu buatan Ara." ucap Rania seraya menatap wajah suaminya yang sedikit memucat.
"Enak kan masakan Ara?"
"Mm ... aku pikir kamu yang buat?"
"Aku ngga bisa bikin makanan seenak itu, apa lagi kayak Ara."
Dimitri menelan rotinya dengan susah payah, tiba-tiba saja makanan itu tertahan di tenggorokkannya.
"Well, dia memang pandai memasak, dan kuliah jurusan memasak juga, so ... nggak heran kan kalau dia pandai membuat makanan?" Dimitri terkekeh, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja terasa membeku.
"Iya, nggak kaya aku yang cuma bisa ngutak-atik mesin."
"Soal itu ... nggak ada hubungannya Zai." jawab Dimitri.
"Benarkah?"
"Yeah, ...
Rania terdiam menatap wajah suaminya lekat-lekat, mencari kebohongan di mata cokelatnya yang mempesona, namun dirinya tak yakin. Mungkin saja pria ini sedang memperdayanya? ingat reputasinya dengan banyak wanita sebelum mereka bertemu.
Kemudian dia ingat satu hal.
"Oh iya, semalam kamu kemana? aku lupa." dia kemudian bertanya, tanpa melepaskan tatapan dari mata suaminya.
"Semalam?"
"Iya, waktu aku ngobrol dengan si kembar."
"Panggilan pekerjaan?"
"Iya."
"Setelahnya?"
Dimitri terdiam sebentar.
"Tidak ada." jawabnya.
"Benar?"
"I-iya."
"Oke." Rania mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, membuat Dimitri membulatkan kedua matanya saat mengenali benda tersebut sebagai dompetnya.
"Dari mana kamu menemukannya? tadi aku mencarinya di kamar tapi nggak ada, apa tertinggal di tenda?" Dimitri segera merebutnya.
"Dari Ara." jawab Rania.
Deg!!
"Ara?"
Rania menganggukkan kepala.
"Dia nemuin itu di jalan dekat gazebo semalam, ...
"Oh, ... aku kira hilang di ...
"Nggak lama setelah kalian ngobrol dan berpisah ...
Dimitri merasakn sesuatu meledak di dalam dadanya. Dia tak memperkirakannya sama sekali, padahal dirinya berusaha untuk tak terlihat namu mengapa menjadi seperti ini?
"Panggilan kerja dari Clarra, heh?" ujar Rania dengan raut kecewa.
"Klien?" lanjutnya, dan dirinya hampir saja meledak.
"Ini ... tidak seburuk yang kamu pikirkan jika saat ini kamu sedang memikirkannnya, aku hanya ...
"Kamu bohong." Rania menggeleng pelan.
"Zai aku nggak ...
"Sekali bohong, kamu akan terus bohong selamanya." katanya, dengan suara tennag namun terdengat mengancam.
"Tidak begitu Zai!" tukas Dimitri, mencoba menjelaskan.
"Terus? orang kamu bohong kok, kamu bilang ada telfon dari Clarra, tahunya kamu sama Ara?"
"Itu benar. Memang ada telfon dari Clarra."
"Terus kenapa kamu telfonnya sampai ngilang?"
"Kamu tahu sinyal di sini tidak terlalu bagus, jadinya aku harus menjauh ke luar. Setelah itu aku nggak sengaja ketemu Ara." jelas Dimitri kepadanya.
"Terus kenapa kamu nggak bilang kalau ketemu Ara?" sementara Rania terus bertanya.
"Nggak penting Zai, kenapa juga aku harus mengatakannya?"
"Aku jujur sama kamu dari awal lho, aku nggak menutupi apapu dari kamu."
"Aku juga, bukakah kamu tahu bagaimana aku sebelum kita bertemu?"
Rania terdiam.
"Aku jujur kepadamu."
"Tapi nyatanya sejak semalam kamu bohong." tukas Rania dengan suara bergetar. Kali ini dia merasa hatinya sakit. Merasa di bohongi seperti ini nyatanya begitu menyakitkan, meski hal itu menurut Dimitri bukan merupakan hal yang penting.
Bahkan saat dirinya mengetahui inertaksi Dimitri dengan perempuan sebelum dirinya dan bertemu dengan teman tidurnya tak sesakit ini.
"Zai, ...
"Jangan-jangan selama ini kamu bohong lagi?"
"Tidak."
"Apa kamu pernah ada hubungan dengan Ara? atau ada yang belum selesai? atau mungkin masih ada sesuatu sama dia?"
"Tidak Zai." Dimitri mendekat.
"Kamu bohong lagi."
"Aku nggak bohong!" Dimitri memelas.
"Tapi nyatanya orang bohong akan bilang kalau mereka nggak bohong, padahal lagi bohong."
"Astaga!" pria itu mengusap wajanya frustasi.
Rania menggelengkan kepala, dan di menit berikutnya dia memutar tubuh seraya melangkahkan kakinya ke arah rumah.
***
Rania meraih tas dan travel bagnya dari sofa setelah memasukan beberapa pakaiannya. Kemudian dia menariknya dan berjalan keluar dari kamar mereka.
"Kamu mau kemana?" Dimitri mulai panik, apa lagi tak mendengar perempuan itu mengucapkan sepatah kata pun, padahal biasanya dia tidak aka berhenti mengomel kalau sedang marah.
"Zai, kamu mau ke mana?" dia menarik travel bag di tangan Rania untuk menahannya.
Perempuan itu berhenti lalu berbalik, kembali menatap suaminya dengan rasa marah yang memuncak.
"Aku nggak pernah bohong lho sama kamu, tapi kamu?"
"Zai, itu haya hal kecil. Bukan apa-apa, dan tidak ada apa-apa di antara kami. Kenapa kamu berlebihan?" Dimitri meyakinkan.
"Hal kecil aja kamu bohong sama aku, apa lagi hal besar?" Rania membalikkan ucapan suaminya.
"Dia keponaka aku Zai, masa aku ...
"Nggak ada pengaruhnya. Siapapun bisa berhubungan kalau sama-sama ada perasaan. Dan kalian ...
"Nggak mungkin!" Dimitri setengah berteriak.
"Apa ada hal yang belum selesai di antara kalian?" sekali lagi Rania bertanya.
"Nggak ada, semuanya sudah aku selesaikan sebelum kita menikah!" akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulut Dimitri.
"Jadi , pernah ada sesuatu di antara kalian?" Rania mendekat.
"Ya, ... maksudku ... nggak." Dimitri berucap.
"Kamu bohong lagi."
"Bukan, maksud aku ... kami memang pernah memiliki perasaan yang sama tapi itu sudah aku akhiri sebelum kita menikah, dan aku ..
"Hhhhh ..." Rania mendengus keras. "Dan aku menikah dengan laki-laki yang masih menyimpan perasaan untuk keponakannya?"
"Zai!"
"Pertemuan kita membuat hubungan kalian terhenti bukan?"
"Tidak tidak tidak! tidak begitu Zai!" Dimitri meraih pergelangan tangannya.
"Tapi begitu kenyataannya."
"Dia keponakanku, masa aku akan meneruskan hubungan itu? aku menyadari tidak akan ada yang berhasil dari hubungan kami kalau misalnya di lanjutkan. Akan jadi seperti apa keluarga kami nanti?"
"Tapi kamu menyukainya?"
Dimitri terdiam.
"Jawab!" Rania berteriak.
"Ya, ..." Dimitri mengaku. "Waktu itu iya, tapi sekarang ...
"Sudah jelas kan?" Rania menyentakkan tangannya sehingga genggaman Dimitri terlepas.
"Zai, ..." Dimitri berusaha menariknya kembali, namun Rania mampu melepaskan diri. Dia bahkan berbalik sebentar untuk mendaratkan sebuah pukulan di wajah suaminya, membuat pria itu terhuyung dan hampir jatuh ke belakang.
Kemudian dia keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras, dan dengan tergesa menuruni tangga.
"Zai, aku mohon jangan seperti ini. Kita bicara yang benar, karena kamu salah faham." Dimitri mengejarnya hingga ke luar dari bangunan tersebut, dan hal itu menarik perhatian orang-orang.
"Zai!"
"Ran, kamu mau ke mana?" Sofia menghadangnya di halaman. Melihat situasi yang cukup genting di antara anak dan menantunya tersebut.
"Aku ... mau ke rumah papa dulu ya Ma?" Rania terpaksa berpamitan.
"Kenapa bawa tas?"
"Kayaknya aku mau nginep di sana." jawabnya.
"Lho, kok?"
Kemudian seseorang dengan motor cross hijau yang dia kenali memasuki pekarangan rumah, membuat Rania seperti mendapatkan angin segar.
"Galang?" panggilnya saat motor tersebut berhenti tepat di depannya.
"Kamu di sini juga?" pemuda itu baru saja akan membuka helmnya ketika dengan cepat Rania naik di belakangnya.
"Antar aku pulang." katanya kemudian.
"Ap-apa?"
"Aku pamit ma, maaf." katanya kepada Sofia, lalu menepuk pundak sahabatnya.
"Ayo Lang."
"Tapi ..." Galang menatap sekitar di mana semua orang memperhatikan. Amara bahkan berada di sana dengan tatapan sendu. Sementara Dimitri tampak kacau dengan wajahnya yang memerah.
"Galang!" Rania berteriak.
"I-iya Ran iya." pemuda itu menghidupkan motornya kemudian segera membawanya keluar dari sana.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Nah lu, kenapa lagi tuh? ada aja ya masalahnya? 🤔🤔
like komen hadianya masih di tunggu lho gaess.