All About You

All About You
Cemburu?



🌹


🌹


"Duh, malah kelupaan lagi." Galang kembali merogoh ponselnya dari saku jaket dalam perjalanan kembali dari tempat makan, menuju cotage tempat dia dan timnya menginap hingga beberapa hari ke depan.


Terlihat kontak Amara yang online dua jam yang lalu. Tentu saja di Indonesia kini sudah sangat larut, pukul 5 sore di Le Mans sama dengan pukul 11 malam di Bandung sana, dan gadis itu tidak mungkin akan menunggu dirinya membalas pesan yang dia terima beberapa hari yang lalu. Saking sibuknya menyiapkan motor dan memeriksa beberapa hal, Galang sampai tak sempat membalas pesan dari siapapun. Termasuk orang tuanya yang panggilannya tak sempat dia jawab juga.


"Iya Ra. Maaf baru bales, beberapa hari ini sibuk banget. Banyak yang harus disiapin soalnya lintasan yang sekarang rumit bener. Harus mastiin kalau motornya Rania bener-bener aman di track yang ini." dia mengirimkan balasan.. Entah gadis itu akan membacanya kapan, tapi setidaknya dirinya sudah membalas pesannya.


"Sibuk bener deh, yang lagi balas chat." Rania mengganggunya seperti biasa.


"Ish, ... apaan sih?" Galang segera memasukan ponselnya kembali ke saku jaketnya.


"Siapa Lang? cewek kamu ya?" perempuan itu dan ke ingin tahuannya.


"Kepo!" pemuda itu menepuk kening Rania seperti yang sering dilakukannya.


"Kamu ih, main tepuk-tepuk aja, kalau aku gegar otak gimana?"


"Nggak bakalan, orang kepala kamu keras begini." dia kembali menepuk-nepuk kepala sahabatnya itu.


"Galang Ish!!" Rania menghindar.


"Lah, emang bener. Makanya sampai bisa balapan di sirkuit ini. Kalau nggak keras kepala, mungkin sekarang ini kamu cuma jadi ibu rumah tangga, yang nunggu suaminya pulang kerja dirumah."


"Iya, tapi nggakn usah nepuk kepala."


"Emang kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuma ...


"Aih, aku lupa kalau kamu udah jadi hak miliknya pak Dimi." pemuda itu tertawa.


Rania menjulurkan lidahnya kepada Galang, namun malah membuat sahabatnya itu tertawa terbahak-bahak.


***


"Seneng deh, lihat kamu kayak gini lagi." kini keduanya berada di balkon atas yang menghadap ke kota Paris puluhan kilo meter di kejauhan sana.


Rania menatap sahabatnya itu yang memang telah kembali seperti semula. Rupanya dia tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk memulihkan diri dari patah hati yang dia sebabkan. Dan dia merasa senang akan hal itu.


"Hhhhh ... jangan mulai deh! aku lagi nyembuhin diri tahu?" jawab Galang yang merebahkan kepalanya pada sandaran kursi, dengan minuman kaleng di tangan kanannya, dan ponsel menyala di tangan kirinya. Menanti balasan pesan dari orang yang berada jauh disana, yang jelas-jelas dia tahu tak mungkin gadis itu membalas pesannya karena mungkin saja dia sudah tidur di malam selarut ini.


"Kamu bahagia, Ran?" dia kemudian bertanya.


"Hum?"


"Pak Dimi baik sama kamu?"


"Baik. Kenapa kamu tanya gitu?"


"Nggak apa-apa. Cuma tanya aja."


"Kamu kayak papa sama mama yang terlalu mengkhawatirkan aku. Kesannya kalian lebay." perempuan itu tertawa.


"Karena semua orang sayang sama kamu Ran. Tiba-tiba aja kamu ketemu cowok, terus langsung nikah. Apa nggak bikin kaget orang-orang tuh? apalagi pada tahu kalau pak Dimi itu ..." Galang menggantung kata-katanya, dia lupa seharusnya tak boleh terlalu banyak bicara soal ini, meskipun tahu kenyataannya bahwa pria yang menikahi sahabatnya itu punya reputasi yang tidak terlalu bagus dengan para perempuan. Setidaknya itu yang dia ketahui tanpa sengaja saat Angga melakukan panggilan telfon kepada seseorang untuk mengawasi menantunya.


"Kenapa?"


"Nggak."


"Dimitri kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Kamu tahu sesuatu soal Dimitri?" Rania bertanya.


"Mm ...


"Karena aku tahu sesuatu soal dia sebelum kami menikah."


"Apa?"


"Soal pergaulannya sama perempuan-perempuan sebelum aku."


"Hah?"


"Aku yakin kamu ngerti apa maksudku dengan menyebut pergaulan dengan perempuan." Rania mengisyaratkan dengan jari tangannya yang dia gerakan seperti tanda kutip.


Galang tertegun.


"Mungkin itu juga yang bikin papa masih nggak bisa menerima dia sebagai suami aku."


"Om Angga?"


"Iya. Papa masih kelihatan nggak suka sama Dimitri,"


"Dan kamu tahu gimana masa lalu Dimitri yang begitu?"


"Iya."


"Tahu dari siapa?"


"Dia sendiri yang bilang."


"Wow? dia yang jujur sendiri?"


"Hmm ..." Rania mengangguk.


"Dan reaksi kamu?"


Perempuan itu menggendikan bahu.


"Kamu nggak bereaksi apa-apa?"


"Emangnya aku harus gimana?" Rania tergelak.


"Marah kek, pukul dia kek. atau ngambek lah berapa minggu gitu, apalagi kalau sampai minggat kayak di novel-novel itu, dan nunggu dia minta maaf sampai berlutut di kaki kamu. Kan bagus."


"Dih, kenapa harus gitu?"


"Oneng, oneng." Galang menggelengkan kepala. "Nggak ngerti cara berpikir kamu. Sampai-sampai masalah gini aja masih kamu cuekin."


"Ya apa dong, itu kan masa lalu dia, kenapa harus aku permasalahin?"


"What?"


"Dia bilang dia berhenti setelah menyadari perasaannya sama aku."


"Dan kamu percaya?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Buktinya dia jujur soal itu, dan langsung ngajak aku nikah. Terus apa lagi yang bisa bikin aku nggak percaya sama dia?"


"Kamu bener-bener naif Ran."


"Yang penting dia berani menghadap orang tua aku untuk ngajak nikah."


"Dih, brasa lagi nyindir?"


"Nyindir? nyindir siapa?"


Galang hanya memutar bola matanya dengan sebal.


"Ngomong kamu jadi aneh." perempuan itu tertawa.


"Yang aneh itu kamu, tahu masa lalu suaminya tapi nggak ada reaksi apa-apa."


"Eh, emangnya aku harus banget ya marah-marah sama dia? udah aku bilang itu masa lalu, dan nggak ada hubungannya sama aku. Ngapain aku buang waktu untuk ngurusin masa lalu dia? yang penting kejadian itu nggak lagi sama aku. Lain lagi ceritanya kalau sekarang dia ngelakuin itu. Udah aku lindas di lintasan kali."


"Ya makanya."


"Ah, ngomong sama oneng mah nggak akan menang." pemuda itu bangkit dari kursinya.


"Mau kemana kamu?"


"Mau bobo ah, ngantuk." jawab Galang.


"Masih sore dudul!"


"Di Bandung udah jam 12, oneng!"


"Kita kan lagi di Prancis."


"Otakku udah di Bandung." Galang melenggang kedalam bangunan setinggi dua lantai itu


"Dih? gimana ceritanya bisa ngecek motor aku kalau gitu?"


"Itu kloningannya."


"Ada kloningannya?"


"Ada, cuma aku yang punya."


"Dih, haluuu ..." cibir Rania yang memutuskan untuk tetap tinggal menikmati suasana yang semakin dingin itu. Sambil mengupload beberapa gambar pemandangan malam Le Mans yang dia apload ke storry di aplikasi whats appnya.


🌹


🌹


Dimitri menghela napas pelan setelah memeriksa pesan dari Andra di grup khusus yang berisi jadwal kerjanya untuk esok hari.


"Ini bahkan sudah tengah malam, astaga!" keluh pria itu, melihat betapa banyaknya daftar pekerjaannya.


"Di Bandung tidak sepadat ini. Dan aku bisa menanganinya per hari." dia mengirim jawaban kepada Andra.


"Bandung itu cabang, Dim. Kamu akan memulai pekerjaan di pusat, dan itu ratusan kali lipat dari apa yang pernah kamu kerjakan." balasan Andra.


"Kebanyakan." keluh Dimitri.


"Pekerjaan kita memang sebanyak itu. Dan kamu akan mengetahuinya nanti." Arfan ikut berkirim pesan.


"Tenanglah, kamu pasti bisa menangani ini. Kamu akan terbiasa seiring waktu, lihat saja kami." pesan dari Arfan lagi.


"Yeaahh, ...


"Sekarang mari beristirahat, agar besok bisa memulai pekerjaan kita pagi-pagi dan menyelesaikannya tepat waktu."


Yeah, ... istirahat kepalamu. Tiba-tiba saja aku mengidap insomnia. pria itu menjatuhkan kepalanya diatas bantal masih dengan ponsel menyala.


Lalu dia memeriksa beberapa kontak yang masih tampak online, termasuk kontak Rania yang baru saja mengirm gambar pada strorry nya dua puluh detik yang lalu.


"Kamu belum tidur Zai?" Dimitri mengirim pesan.


"Belum." perempuan itu segera membalas.


Kemudian Dimitri melakukan panggila video.


"Hei? kamu belum tidur? disana kan udah malem banget?" wajah Rania mendominasi layar ponselnya.


"Baru mau, tapi melihat strorry kamu."


Rania tertawa.


"Kenapa kamu masih diluar? cuaca disana sedang dingin, bukan?"


"Hmm ... barusan abis ngobrol sama Galang."


"Galang?"


"Iya."


"Ngobrol soal apa?"


"Soal apa aja."


"Hah?"


"Ngobrol biasa. Gimana sih? kamu pikir apa?"


"Kamu sudah menikah Zai, kenapa masih sedekat itu dengan Galang?" Dimitri dengan raut tak suka.


"Dih, dia kan temen aku."


"Aku tahu. Tapi tetap saja, ...


"Lagian dia kan montir aku, mau nggak mau ya pasti dekat. Kalau nggak dekat ya mana bisa komunikasi untuk masalah balapan?"


"Dekat dalam arti yang lain maksudnya Zai." dia ingat interaksi mereka beberapa hari sebelumnya. Yang membuatnya merasa tak nyaman setiap kali teringat akan hal itu.


"Dalam arti yang gimana? dari dulu aku sama Galang ya gini-gini aja."


"Tapi aku nggak suka melihat kamu terlalu dekat dengan Galang."


"Ish, ... udah aku bilangin dia sahabat aku."


"Mau bagaimanapun dia laki-laki dan kamu perempuan. Apalagi dia pernah suka kamu."


"Kan aku nggak ngapa-ngapain."


"Tetap saja, keadaannya sudah berbeda Zai."


"Kamu nggak percaya aku ya?"


"Bukan begitu."


"Padahal aku percaya kamu lho, disaat semua orang nggak ada yang percaya sama kamu, dan nggak mendukung keputusan yang aku ambil. Tapi malah kamu yang nggak bisa percaya aku."


"Lho, kok kamu bilang begitu?"


"Habisnya kamu aneh, malah ngurusin kecemburuan yang nggak penting."


"Aku nggak cemburu, aku hanya ...


"Udah ah, kalau nelfon cuma mau berdebat mendingan udahan aja."


"Lho?"


"Aku mau tidur. besok latihan terakhir sebelum kualifikasi. Aku nggak mau moodku ancur dan bikin konsentrasi kacau gara-gara hal nggak penting."


"Tunggu Zai, maksud aku kan bukan begitu, tapi ...


Namun panggilan sudah terputus dengan sendirinya. Dan Dimitri hanya tertegun sambil menatap layar ponselnya.


"Kenapa dia itu?" dia mencoba mengulangi panggilan.


"Haihh, ... salah faham. Padahal maksudnya bukan begitu kan?" gumamnya lagi. "Iyakah?"


Cemburu? Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka istriku dekat dengan laki-laki lain, apalagi dengan Galang. Huh, enak saja. batinnya dengan perasaan kesal.


Niat hati menelfon perempuan itu untuk mengobati rasa rindu, namun malah kekesalan yang dia dapat. Rania memang tak bisa di samakan dengan hal-hal semacam itu, dan dia harus berusaha keras untuk membuatnya mengerti.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


like komen dan hadianya masih di tunggum. 😘😘