All About You

All About You
The Fia's Secret



🌹


🌹


Dua perempuan berbeda usia itu terbangun bersamaan ketika merasa Dimitri memelankan laju mobilnya, setelah hampir dua jam menempuh perjalanan dari Bandung tanpa jeda.


"Udah sampai mana?" Rania menegakan tubuhnya, kemudian menarik rambut panjangnya untuk dia ikat. Melihat keadaan diluar yang sudah menggelap karena waktu memang sudah malam.


"Sebentar lagi sampai rumah." jawab Dimitri, saat mobil yang di kendarainya melewati jalanan lengang menuju kediaman orang tuanya.


"Rumah? maksudnya hotel?" tanya Rania.


"Rumah." jawab Dimitri, dan gerbang megah itu sudah terlihat dari jarak belasan meter. Yang kemudian terbuka perlahan dengan sendirinya saat mobilnya semakin mendekat.


Rania tampak menoleh kebelakang dimana Maharani berada.


"Mama nyuruh aku bawa kalian kesini aja. Biar besok pemotretannya berangkat dari sini sama mama. Sekalian juga biar nggak ribet." pria itu berujar.


"Apa?" Rania bereaksi. Dia bahkan masih mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya bersatu.


"Welcome." lanjutnya, saat mobil itu memasuki pekarangan rumah yang sangat luas, dan segera saja bangunan megah itu mendominasi pandangan.


"Malam Mas?" seorang penjaga keamanan datang menyambutnya.


"Malam pak. Bisa bantu bawakan tas di bagasi?" Dimitri segera memerintahkan.


"Baik Mas." pria paruh baya itu segera melaksanakan perintahnya.


Ketiganya berjalan menuju rumah yang pintunya sudah terbuka tepat beberapa detik setelah para penghuni mengetahui kedatangan mereka, dan tuan rumah segera menyambut diambang pintu. Dengan senyum ramah dan raut ceria.


"Selamat datang di Jakarta." Sofia lebih dulu menyapa. Kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman. Yang segera disambut oleh tamu istimewa mereka, begitu juga dengan Satria. Tak lupa peluk cium untuk putra mereka yang juga baru pulang setelah beberapa bulan pergi.


"Ayo masuk." mereka menggiring dua tamu tersebut kedalam rumah.


"Senangnya kalian sudah sampai. Sudah ditunggu dari tadi, ..." Sofia segera saja memulai percakapan dengan semangat.


"Iya, tadi siang harus menonton dulu pertandingan adiknya Rania, Bu." jawab Maharani.


"Pertandingan?"


"Iya. Sepak bola."


"Oh, ... ya ya... Rania punya adik?"


"Punya."


"Berapa?"


"Tiga. Satu laki-laki, dua perempuan. Kembar."


"Wow, Dimitri juga punya adik kembar."


"Oh ya?"


"Iya. Laki-laki." Sofia menunjuk sebuah foto di dinding. Foto keluarga yang berisi anggota keluarga mereka. Satu anak perempuan yamg lebih tua, dan tiga anak laki-laki. Dimitri dan adik kembarnya.


"Tapi mereka tidak ada disini." lanjutnya, menerangkan.


"Oh ya? kenapa?"


"Yang perempuan sudah menikah, yang dua sekolah di Rusia. Tahun ini kuliah sudah semester enam kalau tidak salah. Iya kan Pih?" dia menoleh kepada suaminya, yang kemudian menjawabnya dengan anggukan.


"Oh, ...


"Adiknya Rania masih kecil-kecil?" Sofia dengan antusias bertanya lagi.


"Rega kelas tiga SMP, dan yang kembar sekarang kelas empat SD." jawab Maharani.


"Oh, ... pasti dirumah sangat ramai ya? menyenangkan sekali." ucap Sofia.


"Begitulah, lebih ke berisik kalau sudah berkumpul semua." Maharani sedikit tertawa. Kecanggungan yang dirasakannya sirna seketika setelah mendapatkan sambutan hangat dari tuan rumah.


Tidak seperti yang dikatakan oleh suaminya, jika keluarga sepupu mertuanya ini sangat membuatnya segan. Selain karena yang Angga sebut derajat mereka lebih tinggi ini, yang membuat pria itu sangat segan, selebihnya mereka manusia biasa sepertinya


"Dulu disini juga seramai itu ya pih? waktu anak-anak masih kecil. Mereka sering berlarian dari sini ... kesana, balik lagi... begitu setiap hari berisik." Sofia bercerita. "Tapi setelah mereka dewasa satu-satu pergi. Pertama Dygta, lalu Dimitri, kemudian Darryl dan Darren." lalu wajahnya berubah sendu. "Rumah jadi sepi. Apalagi Dimitri sekarang kerja di Bandung, hanya beberapa minggu sepulangnya dari Rusia." katanya, kemudian suasana menjadi hening.


"Mm... sekarang ramai kan?" Dimitri memecah suasana.


"Ah, iya. Sepertinya beberapa hari ke depan rumah ini akan ramai lagi." seketika raut wajah ibunya berubah ceria lagi, dan itu cukup melegakan.


"Maaf bu? makanan sudah siap." seorang kepala asisten rumah tangga mereka muncul.


"Oh, ya ampun! sampai lupa. Ayo, kita makan dulu. Setelah itu kalian istirahat." katanya, yang kemudian mengajak tamunya berpindah ke ruang makan.


***


"Saya tidak tahu kalian sukanya apa, jadi kami menyediakan ini." ucap Sofia, dan mereka telah siap di meja makan. Dengan berbagai macam hidangan istimewa yang sudah tersedia.


"Terimakasih Bu. Ini lebih dari cukup." jawab Maharani.


"Rania Dari tadi diam terus? kenapa?" Sofia beralih kepada gadis disamping Maharani yang belum sekalipun mengucapkan sepatah kata sejak mereka tiba. Rania tampak pendiam hari ini.


"Mmm... nggak apa-apa bu, cuma masih capek." jawab gadis itu sekenanya. Padahal dia merasa begitu gugup. Apalagi setelah ibunya mewanti-wanti jika dia harus berhati-hati dalam bersikap di depan tuan rumah. Gadis itu tiba-tiba saja merasa takut akan membuat ibunya malu. Jadi dia memutuskan untuk diam saja, daripada mengacaukan suasana.


"Owh, ... ya sudah, ayo kita makan. Agar habis ini kalian bisa istirahat." kemudian acara makan pun berlangsung.


***


"Ah, ... akhirnya." Rania menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah membersihkan diri. Disamping ibunya yang sudah berbaring sejak beberapa saat yang lalu. Mereka memutuskan untuk tidur dikamar tamu yang sama walau sebenarnya tuan rumah sudah menyediakan kamar terpisah.


"Papa kamu kayaknya berlebihan deh." Maharani memulai percakapan.


"Apaan?"


"Soal keluarga pak Satria."


"Emangnya kenapa?"


" Ya itu tadi contohnya? nggak se kaku yang papa bilang. Mereka biasa aja seperti kita, malah lebih terbuka menerima kita dirumahnya?"


"Ah, ... papa mah lebay. Atau mungkin karena nggak terbiasa."


"Mungkin." Maharani terdiam sebentar. "Duh, jadi kelupaan." kemudian dia bangkit.


"Apa?"


"Belum menelfon papa. Pasti khawatir." perempuan itu memgambil ponsel dari tas kecilnya diatas nakas.


"Dih?"


"Nah kan, bener. Udah dua puluh kali nelfon sejak kita sampai sini." katanya, dia menatap layar ponselnya dan membaca puluhan pesan yang masuk dari nomor suaminya.


"Banyak amat?"


Maharani segera melakukan panggilan telfon. Sementara Rania segera memejamkan matanya.


🌹


🌹


Rania merasakan tubuhnya berguncang, dan rasa dingin menerpa wajahnya. Membuatnya membuka mata dengan cepat.


"Bangun! udah siang. Malu sama yang punya rumah, udah pada berjemur dibawah." Maharani memaksa putrinya untuk bangun.


"Masih ngantuk mama!" Rania merengek.


"Ini dirumah orang, malu kalau bangun siang." ucap Maharani lagi, dan dia menarik lengan putrinya agar bangkit, kemudian segera menyeretnya ke kamar mandi.


***


"Maaf, sarapan diteras belakang bu. Ibu dan Bapak sudah menunggu." ucap seorang asisten rumah tangga yang ditugaskan memanggil mereka.


"Baik." kemudian mereka segera turun.


Tampak keluarga itu yang tengah bercakap-cakap begitu hangat. Sang ibu yang memperlakukan putranya seperti anak kecil, dan sang ayah yang hanya tertawa melihat kelakuan mereka.


"Ayo ayo, kita sarapan. Agar bisa cepat berangkat untuk pemotretan." ucap Sofia dengan penuh semangat.


Dan sarapan pada pagi itu berlangsung cepat, karena jadwal padat sudah menunggu setelah menyesuaikan dengan jadwal kegiatan lainnya yang memang sudah diatur sedemikian rupa.


Mereka tiba di depan sebuah gedung majalah wanita yang cukup terkenal. Tempat dimana isyu-isyu dunia hiburan dan gaya hidup diberitakan secara gamblang namun bergaya. Yang menjadi trend senter bagi pergaulan sosial sebagian besar di ibu kota.


Para staff Fia's Secret sudah sibuk sejak pagi, tahu pemilik tempat mereka bekerja akan datang berkunjung hari itu, sekaligus turun tangan langsung untuk menangani iklan brand pakaian baru dan berita yang baru-baru ini tengah menjadi perbincangan.


Semua orang berhenti dan mengangguk sopan ketika mereka memasuki ruang pemotretan. Dan segala hal telah di persiapkan secara matang.


"Rileks saja, tidak usah gugup." Sofia memberikan pengarahan kepada Rania saat gadis itu tengah di dandani.


Gadis itu hanya mengangguk dan menyimak dengan baik setiap ucapan perempuan di depannya. Sedangkan Maharani sigap mendampingi.


"Baik, ayo kita mulai?" ucap Sofia saat persiapan telah selesai.


Dan gadis itu keluar dari ruang ganti dengan kostum pertama. Riding suit berwarna merah menyala dengan garis hitam putih di tiap lekuk tubuhnya. Menempel erat membungkus tubuh mungilnya yang hari itu terlihat mengagumkan.


"Ng ..." Dimitri tertegun menatap pemandangan di depan sana. Dia belum pernah melihat gadis itu dalam tampilannya yang sekarang. Riding suit yang biasanya Rania pakai saat balapan tak se menggoda ini, dan hal tersebut membuatnya tak mampu memalingkan pandangan.


Sofia mendandaninya dengan tepat. Make up flawless yang tak berlebihan, pipi sedikit merona, bibir berwarna nude alami, dan tatanan rambut coklatnya yang menggoda. Membuatnya tampak seperti model profesional.


Sebuah motor besar sudah siap sebagai objek lain untuk menunjang tema fotographi, yang menegaskan tema utama majalah yang akan terbit bulan depan.


"Oke, semuanya siap." seorang pengarah gaya berteriak, membuyarkan lamunan Dimitri yang telah melanglang buana.


Sebuah blower dinyalakan, menerpa Rania hingga rambutnya berkibar-kibar. Menambah kesan dramatis pada gayanya. Lampu blitz berkilat-kilat saat kamera dinyalakan dan gambar ditangkap dengan sempurna. Gadis itu benar-benar seperti model profesional saja, meski rasa canggung sempat dia rasakan, namun Rania selalu bisa menguasai keadaan seperti biasa.


Apalagi dia mengikuti seluruh pengarahan dari Sofia dan ucapan sang pengarah gaya. Membuatnya dapat menjalani pemotretan pertama pada hari itu.


"Ah,... Dia cantik sekali bukan? dia keren ya?" gumam Sofia Di dekat putranya.


"Hmm...


"Eh, tapi ada yang kurang." perempuan itu berlari ke arahnya. Kemudian menghampiri Rania ketika pemotretan terjeda. Membenahi penampilannya, kemudian menarik relsleting suitnya agak sedikit kebawah sehingga menampilkan dada atasnya yang mulus menggoda.


"Eh, mama! kenapa begitu?" Dimitri memekik saat pemandangan itu dirasa mengganggu.


"Biar dia terkesan seksi." jawab Sofia yang kembali ke sisi putranya.


"Aku nggak suka dia begitu." ucap Dimitri yang bergegas membenahi pakaian Rania. Kembali merapatkan sletingnya hingga ke atas.


"Tema apanya?"


"Itu temanya seksi Riding Suit."


"Apaa??!!" mama mau membuat Rania jadi model majalah dewasa?" Dimitri berteriak.


"Tidak. Ini kan majalah wanita."


"Tapi mama mau membuat Rania jadi model majalah seperti itu!"


"Tidak. Hanya sedikit menampilkan dia dari sisi yang lain."


"Ck! sisi yang lain apany? itu terlalu terbuka!" sergah Dimitri.


"Ah, ... kamu kuno!"


Dimitri hanya memutar bola matanya.


Namun pemotretan dilanjutkan sesuai arahan dan pendapat Dimitri yang tiba-tiba saja berperan menjadi pengarah gaya dadakan.


Rania berpose diatas motor besar, dengan gaya yang berbeda-beda. Dan pakaian yang berbeda pula.


Terkadang dibuat terlihat garang dan tangguh, terkadang juga dibuat terlihat cantik dan seksi. Dan kebanyakan dari itu dia terlihat keren dengan tunggangannya. Dan tentunya membuat Dimitri berdebar-debar tak karuan, menatap gadis itu dalam tampilan dan balutan pakaian yang menggoda.


"Oke, bungkus!!" sang fotografer menandakan pekerjaan hari itu sudah selesai, kemudian semua orang bertepuk tangan. Merasa lega karena segalanya berjalan dengan lancar. Terutama sang model yang berhasil menjalani pemotretan dihari pertamanya.


"Terimakasih untuk hari ini." ucap Sofia kepada semua orang. "Besok kita lanjut lagi?" katanya, dan setelah itu, segera saja para crew membereskan kekacauan.


"Aaaa ... bagus sekali kamu!" lalu Sofia menghampiri Rania. "Apa kamu pernah jadi model sebelumnya?" dia kemudian bertanya.


"Dulu hampir jadi model shampo, tapi ditipu temen." jawab Rania.


"Benarkah?"


"Iya."


"Terus?"


"Pindah ke balapan." gadis itu tertawa.


"Ah iya, jadinya ke balapan ya?"


"Gitulah."


"Apa kalian sudah selesai?" Satria muncul tiba-tiba.


"Sayang? kamu datang?" sambut Sofia.


"Tentu saja, ini sudah sore."


"Aku terlalu lama meninggalkanmu?"


"Lumayan." pria itu tersenyum. "Apa pemotretannya lancar?"


"Lancar. Rania bekerja dengan baik. Tapi hari ini Dimitri sedikit menyebalkan." Sofia sedikit berbisik.


"Kenapa?"


"Entahlah, hari ini dia sensitif sekali."


"Mungkin sedang datang bulan." Satria berkelakar.


"Ah, ... iya mungkin." perempuan itu tertawa. Sementara Dimitri mendengus sambil memutar bola matanya.


"Rani, mau ikut pulang bersama kami?" tawar Sofia kepada Maharani.


"Mmm..


"Rania sepertinya masih lama. Dia harus menyelesaikan banyak hal," katanya.


"Tapi nanti bagaimana Rania?"


"Dimitri masih akan disini sebentar lagi. Nanti biar dia yang membawanya pulang."


"Tapi ...


"Tidak apa-apa. Mereka pasti langsung pulang." Sofia meyakinkan.


"Apa tidak ada pekerjaan lagi setelah ini?"


"Tidak ada, mungkin hanya pengarahan untuk besok pagi."


"Kalau begitu baiklah." ucap Maharani, yang memang sudah merasa tak tahan berada di gedung itu selama seharian penuh. Rasanya dia ingin rebahan saja setelah ini.


"Baik, ayo." lalu ketiga orang itu pergi.


***


"Malam pak, kami duluan." beberapa orang staf pergi berurutan setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Berpapasan dengan Dimitri yang berjalan santai menuju ruang ganti.


Pria itu hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya.


"Apa Rania sudah selesai?" tanyanya kepada seorang staf yang menunggu.


"Belum pak."


"Ya sudah, kalau kamu mau pulang, silahkan." pria itu berujar.


"Tapi pak?"


"Nggak apa-apa. Saya yang tunggu Rania."


Staf itu terdiam.


"Tidak apa-apa. Pulanglah, sudah malam."


"Baik pak, kalau begitu. Ini tas dan hapenya Rania," dia menyerahkan tas selempang milik gadis itu dan ponsel pintarnya.


"Oke."


"Saya permisi pak?"


"Baik." dan diapun pergi.


Dimitri menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang dia buka. Tampak gadis itu yang baru saja selesai merapikan diri. Menghapus make up dari wajahnya, dan mengganti pakiannya dengan yang tadi pagi dia kenakan.


"Sudah selesai?" Dimitri bertanya.


"Udah." Rania hampir saja mengenakan jaket kulitnya.


"Semuanya udah pulang ya?"


"Sudah." pria itu masuk kedalam sana, lalu merapatkan pintu.


"Hmm... mama aku?"


"Sudah ikut mamaku tadi."


"Oh, ... kenapa nggak nungguin ya?"


"Mungkin capek, jadi nggak sabar mau pulang."


"Cepek apanya? kan aku yang kerja." Rania tertawa.


"Dia pegel tunggu kamu kerja." Dimitri juga ikut tertawa. Dan kini jarak mereka sudah dekat.


"Kita juga pulang sekarang?"


Dimitri menggeleng pelan.


"Terus?"


"Sebentar lagi bisa?" pria itu semakin mendekat.


"Mau apa? kan semua orang udah pulang?"


Dimitri mengulum senyum.


"Senyum kamu aneh, Dim?"


"Memang."


"Terus?"


Pria itu menundukan wajah kemudian segera menempelkan bibirnya pada milik Rania, lalu memagutnya dengan perlahan.


Rania menahan napas sebentar, dia mundur dua lagkah namun bagian belakang tubuhnya menabrak pinggiran meja. Membuatnya terjebak dalam situasi yang aneh namun berubah menyenangkan setelah beberapa detik. Dia bahkan hingga meremat kemeja yang menempel di tubuh Dimitri hingga meninggalkan kerutan jelas disana saat merasakan reaksi pada tubuhnya sendiri.


Dimitri tersenyum dalam cumbuannya, lalu mendorong tubuh Rania hingga kemudian dengan mudah mengangkatnya hingga gadis itu terduduk diatas meja di belakang. Lalu cumbuan berlangsung semakin dalam.


"Mmm... " Rania menggumam, napasnya hampir terhenti namun dadanya berdegup begitu kencang. Kini kedua tangannya sudah bertumpu dibelakang, menahan bobot tubuhnya sendiri. Sementara Dimitri condong mengikutinya hingga tubuh mereka merapat hampir tak berjarak.


Sebelah tangannya bertumpu dimeja, dan sebelah tangan lainnya merayap di pinggang Rania, dan perlahan naik ke punggungnya.


Suara decapan memecah keheningan ruang ganti yang tiba-tiba saja menjadi menghangat saat dua sejoli itu saling memagut dan mencumbu. Berusaha mempertahankan kesadaran disela belitan lidah keduanya yang melenakan.


Cumbuan terjadi semakin dalam dan keduanya semakin terlena, perasaannya telah menyatu dan merasa saling memiliki satu sama lain. Hingga akhirnya Dimitri denga susah payah menarik kesadarannya kembali, dengan sisa napas yang menderu-deru.


"Ayo kita pulang?" katanya, dan dia menarik Rania turun dari meja. Lalu menuntunnya keluar dari ruang ganti tersebut dan meninggalkan gedung Fia's Secret untuk pulang ke kediaman orang tuanya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Oh my... 😌😌


like, komen, hadiah dan votenya dong...


lope lope sekebon 😘😘