
*
*
Dimitri terbangun ketika tak merasakan tubuh hangat yang sejak beberapa jam yang lalu di peluknya. Tangan pria itu merayap mencari keberadaan Rania, namun tak dia temukan. Membuatnya dengan terpaksa membuka mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang temaram itu.
Dia mendapati Rania yang duduk terdiam di ujung ranjang, dan terlihat memegangi perutnya.
"Zai? are you oke?" pria itu pun bangkit.
"Hmm ..." Rania menjawabnya dengan gumaman. Lalu dia mengatur napasnya untuk beberapa saat. Seperti yang di ingatnya dari penjelasan dokter Reyhan dan video yang di tonton.
"Ada apa?" Dimitri mendekatinya, lalu memeriksa keadaannya.
"Perut aku rasanya sakit." Rania menjawab, seraya memegangi perutnya.
"What?" Dimitri beringsut.
"Rasanya kok, ... sssttt ..." perempuan itu mendesis, kemudian meringis. Dan dia memejamkan matanya sebentar.
"Apa terjadi sesuatu? apa kamu jatuh di kamar mandi?" Dimitri bertanya.
"Nggak, malah baru aja aku mau ke kamar mandi. Tapi pas bangun kok sakit?" adu Rania kepadanya.
"Kamu selalu terburu-buru Zai." dia juga memegangi perut Rania yang terasa panas. Seiring suhu tubuhnya juga yang tak senormal biasanya.
"Nggak, aku bangunnya pelan-pelan. Kayak yang di bilangin dokter Reyhan."
"Lantas kenapa bisa begini?"
"Nggak tahu. Sakitnya di sini." Rania memegangi bawah perutnya.
"Terus menyebar ke sini." dia kembali mengusap seluruh permukaan perut buncitnya.
"Ah, ... sakit!" Rania kemudian mendongak.
"Apa mungkin kamu mau melahirkan?" ucap pria itu, yang turun dari tempat tidur mereka kemudian berpakaian.
"Nggak tahu, masa sekarang?" jawab Rania yang wajahnya terus meringis. Terlihat sekali jika dia sangat kesakitan.
"Baru juga tujuh bulan kan?" Dimitri meyakinkan.
"Hu'um, ..." perempuan itu mengangguk.
"Lalu kenapa?"
"Nggak tahu."
"Sejak kapan sakitnya?"
"Udah se jam."
"Satu jam?"
Rania mengangguk lagi.
Tak berapa lama dia merintih, dan sebelah tangannya meremat pinggiran tempat tidur ketika di rasakannya sakit di perutnya menjadi semakin intens, dan semakin sering.
"Zai?"
"Kayaknya aku ..." lalu Rania menahan napas ketika merasakan sesuatu di pusat tubuhnya seperti pecah, kemudian sesuatu yang hangat mengalir keluar melewati pahanya hingga turun ke kaki.
"Apa, kenapa?" Dimitri berjongkok di depannya seraya memegangi kedua lututnya.
"Ini, ..." perempuan itu menunjuk ke bawah kainya, di mana cairan bening agak keruh mengalir dan tergenang di lantai marmer tersebut.
"Oh my God!" ucap Dimitri yang tentu saja merasa begitu terkejut.
"So what i have to do? i don't know what i have to do!" pria itu mulai panik.
"Umm ...
"Aku harus apa? kita ... ke rumah sakit saja, ya. Ke rumah sakit!" katanya, yang segera meraih kunci mobil miliknya.
"Papa!" rintih Rania yang kembali merasakan sakit yang teramat sangat di area perutnya.
"Tenang Zai, kita harus tenang." Dimitri kembali ke hadapannya. "Kamu bisa bangun?" kemudian bertanya.
"Papa!" ucap Rania lagi, kali ini lebih keras.
"Aku mau papa!" katanya, lalu dia menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Angga berlari melewati selasar rumah sakit, hampir meninggalkan Maharani di belakangnya. Dia segera merespon ketika Dimitri menelefonnya untuk memintanya datang karena Rania terus merengek meminta kehadiran sang ayah.
"Kenapa kalian nggak nginap di rumah? malah di apartemen?" katanya saat pertama kali menemukan Dimitri di depan ruang persalinan.
"Kami ...
"Sekarang gimana Ranianya?" tanya nya kemudian.
"Dia tidak mau aku temani, dia mau papa." Dimitri menjawab.
"Astaga!" Angga langsung menerobos masuk ke dalam.
"Suaminya bu Rania mana?" perawat segera menghalanginya untuk masuk.
"Saya papanya, dokter." ucap Angga, yang tidak sabar ingin segera menemui putrinya.
"Tapi suaminya?"
"Tidak apa-apa suster. Dia mau papanya." Dimitri kemudian muncul untuk meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu. Kami akan menyiapkan peralatannya." ucap sang perawat.
"Sudah siap?" Dimitri menatap dengan raut khawatir.
"Iya, ketubannya sudah pecah terlebih dahulu dan kami harus memberinya induksi untuk membantunya melancarkan prosesnya." perawat itu menjelaskan.
"Normal suster?" Angga menyela.
"Kondisinya cukup baik, dan bu Rania siap melahirkan dengan cara normal."
"Tapi bayinya kembar!" Angga bereaksi.
"Bu Rania sendiri yang ingin melahirkan normal, dan setelah kami periksa keadaannya, sepertinya beliau mampu."
"Tapi ... itu ... bukankah kandungannya baru tujuh bulan?"
"Tapi memang sudah waktunya pak." dokter kemudian berteriak dari dekat Rania. Setelah kembali memeriksa keadaan perempuan itu. Membuat perhatian dua pria di ambang pintu pun teralihkan.
"Sudah waktunya!" ucap dokter lagi yang membuat semua orang di ruangan itu menjadi panik.
Dan Angga segera menghampiri putrinya yang sedang bersiap.
"Papa." Rania mengulurkan tangannya.
Angga menyambutnya, dan menggenggam tangan putrinya dengan erat.
"Nggak apa-apa Ran, kamu pasti bisa." katanya, sambil mengusap kepalanya.
Sementara Rania masih meringis dan merintih.
"Nggak mau, aku mau di temenin sama papa." Rania merengek.
"Kalau begitu, suaminya bisa keluar?" Dokter beralih kepada Dimitri.
"Tidak bisa, saya harus menemaninya dokter." namun pria itu menjawab.
"Tapi, ..."
"Kali ini mohon jadikan pengecualian dokter. Saya tidak bisa meninggalkan istri saya." ucap pria itu.
"Saya mohon." katanya lagi, yang membuat dokter akhirnya mengizinkan dua pria itu berada di dalam sana.
***
"Arrrggghh!" Rania merasakan sakit yang begitu hebat seperti mengoyak bagian dalam perutnya.
"Tarik napasnya lewat hidung bu, lalu hembuskan lewat mulut. Pelan-pelan." ucap dokter yang telah bersiap di ujung ranjang. dengan kaki Rania yang terbuka lebar.
Rania mengikuti ucapannya hingga beberapa kali.
"Ah, sakit!" rintihnya lagi, dan dia menggenggam tangan kedua pria yang mendampinginya dengan erat.
Rasa sakit dan mulas mendominasi perutnya, di tambah rasa panas di pinggang. Lama kelamaan bagian itu bahkan terasa seperti mau putus. Rasanya tak dapat di bandingkan dengan apa pun. Bahkan cedera kerena kecelakaan saja tak sesakit ini.
"Ah, dokter!" Rania merintih lagi.
"Rasanya seperti mau buang air besar bu, itu tandanya bayi siap keluar." dokter tetap berusaha tenang di tengah kepanikan yang melanda.
"Ugh, ..."
"Siap bu?" tanya nya kemudian.
Rania pun mengangguk ketika merasakan apa yang perempuan itu katakan.
"Tarik napas, hembuskan. Tarik lagi, hembuskan, lagi dan hembuskan ..."
Rania mengikuti instruksinya.
"Mengejan bu." ucap dokter, dan kemudian perempuan itu melakukan apa yang dia katakan.
"Eeeeeee ..." Rania mengejan sekuat tenaga, namun belum berhasil mengeluarkan salah satu bayinya. Dia berhenti.
"Dorong sedikit bu. Tarik napas lagi, hembuskan." dia mengulanginya.
Rania kembali mencoba, dan kali ini lebih keras.
"Eeeee ...." namun masih belum berhasil. Dia kembali berhenti dan merebahkan tubuhnya.
"Its oke, Zai. Its oke." Dimitri mengusap kepalanya yang sudah basah oleh keringat.
"Kamu bisa Ran, pasti bisa." Angga menyemangati.
Wajahnya sudah sangat memucat, dan dia tampak lemah.
"Dokter, lakukan sesuatu!" Dimitri bereaksi. Melihat keadaan Rania seperti itu membuatnya panik setengah mati. Ini bahkan lebih menakutkan dari pada melihatnya saat mengalami kecelakaan di lintasan.
Rania berada di depan matanya, dan dia sedang sangat kesakitan saat ini. Matanya terbuka dan tertutup perlahan, dan perempuan itu hampir kehilangan kesadarannya.
"Tangan ... aku." katanya, seraya menunjukkan kedua tangannya yang ke lima jarinya saling menempel erat. Rasanya kaku dan tak dapat ia gerakkan. Kemudian dia merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan.
"Papa!" bisik Rania lagi.
"Iya Ran. Papa di sini. Ayo, kamu pasti bisa. Jangan menyerah sekarang." Angga terus menyemangati, walau rasa takut juga menguasainya saat ini. Tapi dia berusaha untuk tidak terpengaruh.
"Papa, ... aku ... nggak bisa ..." ucap Rania dengan lemah, sementara perutnya terus berkontraksi.
"Bisa Ran, kamu bisa." cairan hangat menyeruak dari sudut mata Angga. Dia merasa hal ini tak akan bisa mereka lewati dengan baik. Keadaannya tak sekuat biasanya.
Rania menggeleng lemah.
"Bisa." Angga berbisik di telinganya.
"Dokter!" Dimitri berteriak.
"Ingat, banyak kecelakaan yang kamu alami. Insiden yang kamu lewati, tapi kamu tetap selamat tanpa luka berarti. Jadi kali ini pun begitu." ucap sang ayah, berusaha menaikkan semangat putrinya.
"Dokter, lakukan sesuatu!" Dimitri berteriak lagi, dan dokter pun hampir memutuskan untuk melakukan prosesur lain. Keadaan perempuan itu sudah tidak memungkinkan.
"Ini hanya proses, dan kamu akan berhasil setelahnya. Papa percaya." Angga terus mengajaknya berbicara.
"Dokter, cepat!" Dimitri kembali berteriak.
"Siapkan untuk tindakan!" dan sang dokter pun menginstruksikan.
"Apa kamu percaya Ran? karena papa percaya, bahwa kamu pasti bisa melakukannya. Papa percaya." Angga dengan usaha terakhirnya, dia menempelkan kening mereka berdua, dan itu menjadi semacam alarm bagi Rania.
Tiba-tiba saja dia seperti mendapatkan kekuatannya kembali. Rania pun perlahan bangkit, dan dengan napasnya yang terputus-putus, dia mencoba kembali. Sehingga dokter pun juga bersiap.
Rania menarik napasnya, lalu menghembuskannya pelan-pelan. Dia mengulanginya hingga beberapa kali. Dan pada saat dia sudah merasa cukup, perempuan itu mengejan dengan keras. Dia mengerahkan seluruh tenaga yang di milikinya. Dengan harapan akan membawa kehidupan bagi dua bayi di dalam kandungannya.
Krak!!
Rania merasakan sesuatu seperti terkoyak di dalam tubuhnya.
"Terus bu, kepalanya sudah kelihatan." dokter berucap, dan itu menjadi semacam pelecut semangat bagi Rania.
Dia belum menghentikan diri. Napasnya tertahan dan seluruh tenaga dia keluarkan. Sehingga wajahnya tampak memerah. Perpaduan antara sakit, takut dan khawatir. Dan di detik berikutnya, sebuah kepala kecil menyeruak dari kem*lu*nnya dan dokter segera menariknya dengan hati-hati.
"Ah, ..." punggung Rania terhempas ketika salah satu bayi kecil itu sudah keluar dari dalam perutnya.
"Anak papa!!" Angga masih menempelkan keningnya pada kepala Rania, sementara Dimitri merangkul pundak perempuan itu. Pria itu hampir menangis.
Napas Rania tersengal-sengal dan keringat semakin membasahi tubuhnya.
"Ibu masih bisa?" ucap sang dokter setelah memotong tali ari-ari bayi kecil yang segera menangis tersebut., yang kemudian dia serahkan kepada perawat untuk di bersihkan.
"Bisa Ran, kamu bisa." Angga mengulangi ucapannya, dan dia berusaha untuk tetap berdiri di tempatnya, meski rasanya sudah tidak kuat.
Ini terasa menjadi peristiwa luar biasa yang dia alami, sama seperti saat kelahiran putri pertamanya tersebut yang penuh dengan drama. Namun rasanya ini lebih menakutkan.
"Zai, ... kamu bisa." Dimitri ikut menyemangati, kali ini dia berusaha untuk lebih kuat lagi, karena harapan itu ternyata ada. Apa lagi setelah melihat bayi pertama mereka yang kahir dengan selamat.
"Eghhh ..." Rania berusaha kembali setelah istirahat sejenak.
"Lakukan seperti tadi ya bu?" dokter mengingatkan.
Rania menatapnya sambil mengangguk, kemudian dia kembali bersiap.
Kedua tangannya kembali berpegangan kepada suami dan ayahnya, dan dia kembali mengumpulkan tenaga terakhirnya.
Rania segera mengejan, dan dalam satu tarikan napas dia mengulangi semua proses yang sudah di alaminya beberapa saat yang lalu. Dan tanpa banyak drama terulang, bayi keduanya pun lahir ke dunia dengan selamat.
Yang di akhiri dengan teriakan lega dari dua pria yang memeluknya dengan erat.
*
*
*
Omegaaattt!! tegang gaess 😬😬😬