All About You

All About You
Rasa



🌹


🌹


"Bungkuss!!" sang sutradara mengakhiri syuting siang itu setelah beberapa kali pengambilan gambar. Beberapa kali percobaan gagal karena Rania merasa gugup, dan akhirnya di pengambilan ke empat dan seterusnya gadis itu berhasil menguasai keadaan.


Beberapa scene adegan minum diatas motor, lalu adegan berjalan santai, hingga Adegan berbicara di depan kamera, yang kesemuanya mampu Rania lakukan setelah mendapatkan pengarahan dari siapa lagi kalau bukan Dimitri?


"Terimakasih, kalian bekerja dengan baik hari ini." ucap sutradara lagi di tengah tepuk tengan para crew.


"Kerja bagus, Rania." ucap pria tersebut kepada Rania.


"Makasih Bang." gadis itu turun dari set saat Dimitri menyongsong ke hadapannya.


"Habis ini apa?" tanya nya kepada Dimitri.


"Sudah selesai." mereka berjalan ke ruang ganti.


***


"Tunggu sebentar." Rania menghentikan langkahnya saat mereka hampir keluar dari gedung Fia's Secret saat melihat Anne baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku mau ketemu Anne dulu." dia berjalan menghampiri gadis itu yang tengah duduk di kursi area istirahat karyawan.


"Anne?" panggilnya saat jarak mereka sudah cukup dekat.


Anne baru saja akan menikmati makan siangnya saat Rania menginterupsi.


"Kamu udah selesai?" tanya Anne.


"Udah, sekarang mau pulang."


"Hmmm...


"Boleh duduk sebentar?"


"Duduk aja."


"Oke."


Anne mencoba melahap makanannya walau seleranya tiba-tiba saja menghilang. Mengetahui teman semasa SMAnya berada di tempat dia bekerja selama satu bulan belakangan ini membuat semangatnya sedikit menciut.


Bukan apa-apa, karena rasa malu telah mendominasi dirinya saat pertama kali mengetahui jika model yang dimaksud atasannya itu adalah benar-benar Rania temannya.


"Kamu udah lama kerja disini?" Rania memulai percakapan.


"Mau sebulan kalau nggak salah." Anne menenggak minumannya untuk melegakan tenggorokannya.


"Kenapa kamu malah kerja disini? maksud aku, bukannya kamu dapat tawaran jadi model? tapi kenapa kamu malah jadi staf wardrobe disini? apa yang terjadi?" Rania akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak semalam berputar-putar di kepalanya.


Anne menghembuskan napas berat. Akhirnya dia harus bicara juga. Bagaimana tidak, Rania sangat mengenalnya, sudah pasti temannya itu akan bertanya-tanya melihat keadaannya yang seperti ini. Tiba-tiba saja dia merasa sedih, dan juga malu. Lalu air mata mulai mengalir dari netranya.


"Lho? Ann? Kenapa? alu salah ya?" Rania menyentuh bahunya.


"Maaf." Anne terisak.


"Maaf? maaf kenapa?"


"Aku udah salah, memanfaatkan keadaan."


Rania mengerutkan dahi.


"Aku pikir dengan memanfaatkan kamu bisa membuka jalan buat aku untuk mencapai kesuksesan. Aku capek casting sana sini, masuk ke banyak agensi, terus lagi udah ngeluarin banyak uang untuk menunjang semua yang aku butuhkan untuk jadi model yang aku mau."


"Tapi tetap aja, aku gagal." dia sesenggukan.


"Aku ngerasainnya sebentar. Setelah iklan itu launching dan produknya laku keras. Aku pikir semuanya akan bertahan. Dan dengan segala yang aku punya, aku percayakan semuanya sama manager aku. Tapi ternyata aku salah." Anne terus menangis.


"Dia bawa kabur semua yang aku percayakan, dua hari setelah aku sampai di Jakarta. Ninggalin aku di apartemen yang dia sewa harian tanpa kepastian apa-apa. Dan yang tersisa cuma mobil aku."


"Astaga."


"Tapi mobil juga terpaksa harus aku jual karena butuh biaya hidup dan sewa kos kosan."


"Kenapa kamu nggak pulang aja ke Bandung?"


"Aku malu sama orang tuaku. Aku udah ngotot pas mereka larang, sampai-sampai aku bersumpah kalau aku nggak akan pulang sebelum berhasil di Jakarta."


"Tapi aku gagal, Ran. Aku bahkan kehilangan segalanya, termasuk job yang sebelumnya udah aku dapat. Yang ternyata itu palsu. Aku ditipu." Anne menangis pilu mengingat kejadian beberapa bulan ke belakang.


Setelah dirinya berhasil membintangi satu iklan shampo terkenal dengan memanfaatkan Rania sebagai stuntgirl dan bekerja sama dengan sutradarnya, setelah mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membuat dirinya yang menjadi wajah dari iklan tersebut.


Dia berhasil, tapi kejadian buruk bertubi-tubi menyerangnya setelah hal itu.


"Aku udah nggak tahu lagi mesti gimana. Agensi yang ada nggak bisa menerima aku karena aku nggak masuk kriteria mereka. Sampai akhirnya aku terdampar disini."


"Oh, ... Ne. Maaf aku nggak tahu."


"Kamu pasti ngetawain aku, dan merasa puas karena aku gagal setelah mencurangi kamu kan? sementara kamu sendiri, lihat, kamu sukses di balapan. Dan sekarang malah lebih dari apa yang aku dapatkan dulu." Anne semakin tergugu.


"Nggak gitu Ne. Aku nggak punya pikiran kayak gitu, aku bahkan nggak inget kejadian itu. Aku cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik aja."


Gadis itu menyeka mata dan pipinya yang basah.


"Kamu nggak marah sama aku?" katanya dengan suara parau.


"Nggak. Untuk apa aku marah?"


"Katena aku udah mencurangi kamu."


"Aku kecewa, kita temenan waktu sekolah, tapi kamu manfaatin aku. Tapi ya udah, sebatas itu aja."


Anne terdiam.


"Kamu tinggal dimana sekarang?"


"Di sekitar sini. Kebetulan tempat ini nyediain mess, jadi aku ada tempat tinggal."


"Makan?"


"Setiap hari aku dapat uang makan. Jadi aku bisa bertahan hidup."


Rania mendengus pelan. Keadaan gadis di depannya lebih parah dari pada ketika mereka masih sama-sama di Bandung.


Anne memang sosok yang ambisius, setidaknya itu dia ketahui selama mereka sekolah di tempat yang sama. Anne selalu ingin menjadi nomor satu, dari segi apapun. Lain sekali dengan dirinya yang selalu santai menanggapi apapun.


"Kamu mau pulang ke Bandung? bareng aku yuk?"


Anne menggelengkan kepala.


"Aku mau disini aja."


"Yakin?"


"Iya, se nggaknya aku bisa lepas dari keluargaku. Dan nggak harus selalu ikut bertanggung jawab sama beban mereka yang nggak ada habisnya. Aku capek. Aku cuma mau ngurus diri aku sendiri."


"Ya udah kalau gitu."


"Maaf Ran." ucap Anne lagi.


"Dimaafin." Rania menjawab dengan begitu mudahnya.


"Kalau gitu aku pamit. Mungkin kita akan sering ketemu setelah ini. Kamu jangan sungkan, kalau ada apa-apa bisa hubungi aku."


"Sekarang aku baik-baik aja Ran."


"Semoga selalu kayak gitu. Tapi kita kan nggak tahu kedepannya gimana."


"Iya."


"Ya udah, aku pamit ya? baik-baik disini." Rania pun bangkit.


"Pasti Ran." lalu mereka pun berpisah.


"Sudah?" Dimitri yang Dengan Sabar menunggu beberapa saat.


"Udah." mereka berjalan menuju mobil. "Eh, tunggu." dia berhenti lalu membuka tas selempangnya, mencari uang yang dia ingat dimilikinya. Dan hanya ada beberapa lembar pecahan lima puluhan. Dia ingat, Angga belum memberinya uang saku lagi minggu ini.


"Heh, ...


"Kenapa?"


"Kamu bawa uang tunai nggak?" tanya nya kepada Dimitri.


"Ada. Sejak kenal kamu aku selalu menyiapkan uang tunai. Siapa tahu kamu tiba-tiba ngajak aku jajan di pinggir jalan. Kenapa memangnya?" Dimitri mengeluarkan dompetnya.


"Mana sini, aku pinjem." Rania menengadahkan tangannya.


"Pinjam?"


"Iya, nanti aku ganti kalau udah sampai Bandung. Aku minta lagi sama papa. Minggu ini soalnya belum di kasih uang jajan."


"Hah?"


"Mana sini?"


Dimitri membuka dompet tebalnya, yang diisi beberapa kartu keuangan, yang juga kini diisi lembaran uang tunai, seperti yang dikatakannya tadi.


"Untuk apa sih?"


"Cepet Dim." Rania dengan tidak sabar.


"Berapa?"


"Semuanya." katanya seraya menyambar lembaran uang kertas berwarna merah di tangan kekasihnya itu.


"Duh?"


Kemudian dia kembali kehadapan Anne yang masih duduk di tempatnya, berusaha menghabiskan makan siangnya. Dengan cepat dia menjejalkan uang tersebut ke tangan gadis itu, kemudian pergi.


"Kamu kasih ke dia?"


Rania menganggukan kepala.


"Untuk apa?"


"Kayaknya dia lagi butuh uang. Ayo cepat kita pulang? biar aku bisa minta uang sama papa untuk gantiin uang kamu." mereka segera masuk kedalam mobil lalu pergi, sementara Anne masih terkejut dengan apa yang diterimanya barusan.


***


"Kamu bilang dia pernah menipu soal iklan shampo itu?" Dimitri kembali berbicara, masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan gadis itu tadi.


"Karma atas apa yang sudah dia lakukan. Sekarang ngeri ya? apa-apa langsung dibalas." Dimitri berujar.


"Iya, makanya mau gimanapun kita, harus tetep berbuat baik sama orang. Kalaupun nggak bisa berbuat baik, minimal jangan jahatin orang, karena akibatnya bisa fatal."


"Hmm... kalau yang aku lakukan termasuk jahat nggak?"


"Apa?"


"Yang aku lakukan. Kamu tahu, main perempuan, semacam itulah."


Rania terdiam sebentar.


"Kamu maksa mereka untuk melakukan itu?"


"Nggak, kami melakukannya suka sama suka." jawab Dimitri, dengan santainya.


"Ya udah, Ngapain dipikirin? kecuali kamu modusin mereka biar mau gituan sama kamu."


Dimitri tiba-tiba tertawa dengan keras.


"Apa sih, bikin kaget!"


"Kita ini aneh."


"Apanya yang aneh?"


"Pembicaraan ini aneh, kita bicara soal aku yang dulu menjalani hidup seperti itu, kenal dengan banyak perempuan, lalu berakhir dihotel. Tapi reaksi kamu biasa saja."


"Aku salah ya? terus harusnya gimana?"


"Entahlah, normalnya seorang gadis akan marah kalau tahu masa lau pacarnya yang buruk seperti aku, apalagi jika berhubungan dengan perempuan lain."


"Berarti aku nggak normal dong?"


"No! kamu hanya unik."


"Dih, unik."


"Limited Edition." Dimitri tertawa lagi.


"Kamu masih berkencan sama perempuan-perempuan itu?" tanya Rania.


"Nggak."


"Beneran?"


"Serius."


"Ya udah, kenapa aku harus marah? kalau kejadiannya sekarang setelah kita berhubungan baru aku mau marah."


Dimitri tertawa.


"Kalau berani itu juga."


"Nggak berani."


"Iyalah, aku hajar nanti."


"Mengerikan sekali ancaman kamu itu." pria itu bergidik, namun kemudian tertawa lagi sambil mengusak puncak kepala Rania dengan gemas.


Perasaannya semakin bertambah besar saja, dan dia tak memiliki pikiran untuk hal lainnya. Semuanya tentang Rania, Rania, san Rania. Hingga dirinya tak tahu lagi apa yang bisa di pikirkan selain itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Haaah,... macetnya gila, parah!!" Rania menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Mereka sudah tiba di apartemen Dimitri pada menjelang sore.


"Ada acara apa sih sampai separah itu macetnya?"


"Biasa, hari libur." Dimitri melemparkam jaketnya ke sofa.


"Tapi kok parah banget?"


Dimitri melenggang ke arah dapur, lalu kembali setelah beberapa saat dengan membawa dua minuman kaleng dingin di tangannya.


"Mungkin antar kamu harus pakai motor biar gampang." dia kemudian duduk.


"Iya, ayo!" Rania hampir bangkit, namun Dimitri segera menariknya hingga dia kembali ke sofa.


"Istirahat dulu, aku capek. Menyetir tanpa berhenti itu melelahkan."


"Cuma dua jam, santai lagi," cibir Rania."Mana nggak kepanasan lagi. Coba aku kalau balapan, hujan, panas, dingin. Tetep ngebut."


"Itu beda."


"Sama aja."


"Hhhh... " Dimitri memutar bola matanya. "Bagaimana kamu mau punya Chiron, sementara jalanan di tempat kita selalu semacet itu?"


"Mungkin kalau tahun depan nggak, bukannya banyak jalan yang lagi dibangun ya? kali tahun depan begitu aku punya Chiron, jalannya udah lancar." ucap Rania, sekenanya.


"Hmmm...


"Uang hadiah sama honor iklan kalau di satuin bisa buat beli kayaknya? ah jadi nggak sabar untuk balapan lagi." gadis itu dengan ekpresi lucu. Dia tersenyum sambil memejamkan matanya dengan erat.


"Tapi masih beberapa minggu lagi." kemudian dia menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.


"Pikirannya balapan terus." gumam Dimitri, sambil membuka kaleng minuman lalu menggaknya sebagian.


"Ya apa lagi? udah kerjaan aku."


"Nggak pernah memikirkan aku gitu?" ucapnya, yang kemudian merebahkan punggungnya.


"Mikirin lah."


"Tapi nggak sebesar balapan."


"Lah, aku lebih dulu kenal balapan dari pada kamu." Rania dengan lugunya.


"Jujurnya, ..." gumam pria itu, dan dia mulai merasa kesal.


"Kenyataannya begitu."


"Nanti kalau kita sudah menikah, apa kamu akan lebih mementingkan balapan dari pada aku?"


"Kok ngomongnya gitu? kan balapan udah kerjaan aku, sama kayak kamu yang kerja di kantor. Lagian balapan masih mending paling sering cuma pergi seminggu sekali. Selebihnya cuma latihan aja. Sementara kamu? setiap hari pergi pagi, pulang sore. Kadang malam. Ya kali nanti bakalan sempat antar aku sana-sini apa nggak?"


"Pasti lah."


"Nggak yakin. Saking Sibuknya kadang kamu sampai lupa ngasih kabar?"


"Lupa Zai."


"Saking Sibuknya Kan? jadinya lupa."


Lalu mereka terdiam, dan suasana tiba-tiba saja menjadi terasa hening.


"Kayaknya kita sebentar lagi berantem deh? aku pulang ah, ... daripada nanti jadi berantem beneran?" Rania bangkit ketika merasa suasana mulai tak enak. Namun Dimitri segera menarik lengannya hingga membuat gadis itu terjatuh dipangkuannya dengan posisi membelakanginya.


Segera saja dia memeluk tubuh Rania dengan erat.


"Dim!"


"Tunggulah sebentar lagi Zai." ucapnya dengan suara rendah, dan hampir berbisik di telinganya. Hembusan napasnya menyapu telinga dan kulit leher Rania dengan lembut, namun membuat tubuh gadis itu menegang seketika.


"Kenapa rasanya sulit sekali kita seperti ini?" bisik Dimitri lagi, dan dia semakin mengeratkan lilitan tangannya.


"Dim, aku... Hhh.... " napas Rania berhembus kencang saat Dimitri memberanikan diri mengecup lehernya selembut yang dia bisa. Meski hasrat jelas sudah menguasai akalnya, namun dia mati-matian mempertahankan kesadarannya.


Rania merasakan tubuhnya menggigil. Sesuatu seperti berusaha menarik kesadarannya dengan keras, dan dia hampir tak bisa menolak ketika pria itu mencoba menyentuhnya.


Sebelah tangannya bahkan sudah berada di kepala Dimitri, menelusup kedalam helaian tambutnya dan merematnya dengan kencang saat ciuman pria itu terus berlangsung semakin intens di lehernya.


"Mmm ... Dim?" dadanya naik turun dengan cepat dan napasnya tersengal-sengal.


Dengan sekali gerakan pria itu membalikan posisinya sehingga kini mereka berhadapan, dengan Rania masih diatas pangkuannya.


Tanpa memberikan kesempatan kepada gadis itu setidaknya untuk menarik napas, Dimitri segera menyambar bibir sensual milik Rania. Dia segera menyesapnya dengan penuh perasaan.


Awalnya Rania hendak menolak, dia mendorong dada Dimitri untuk menjauh, namun pria itu menahan punggungnya dengan kuat, sehingga dada mereka menempel dengan erat, dan cumbuan memabukan tak dapat terhindarkan lagi.


Keduanya kini sama-sama terlena, dalam setiap cecapan yang terdengar, hanya keindahan yang dirasa. Kedua tangan Dimitri mulai menjelajah ke segala arah, menyentuh bagian tubuh yang dilewatinya, dan meninggalkan hawa panas setiap kali kulit Rania dan telapak tangannya bergesekan. Lalu meremat gundukan yang ditemuinya dengan penuh perasaan dan penghayatan, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.


Sementara Rania melingkarkan kedua tangan di lehernya. Dia menekan belakang kepala Dimitri dan membuat ciuman itu semakin intens dan semakin dalam saja.


"Bisakah, kita melakukannya sekarang? aku... tidak bisa menahannya lagi, Please." pria itu menjeda cumbuannya.


Napasnya menderu-deru, dan pandangannya sayu di penuhi hasrat. Menatap Rania diatas pangkuannya semakin membuat gairahnya meletup-letup tak karuan.


"Zai, ... I want you." katanya lagi, yang kemudian kembali memagut bibir Rania yang sudah membengkak akibat sesapannya. Dia tak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya. Bahkan dia tak membiarkan Rania mampu berpikir walau hanya sedetik. Sentuhan demi sentuhan dia lancarkan untuk membuat gadis itu menyerah dalam kuasanya.


Rania mendengar suara-suara yang berteriak di kepalanya. Namun di saat yang bersamaan dia juga merasakan godaan mengganggu jiwanya. Hati dan otaknya meneriakan penolakan, namun tubuhnya memberikan respon yang berbeda. Segalanya kini sudah tak sejalan. Dan penyebabnya adalah pria yang sedang menyentuhnya kini.


Mereka kini bahkan sudah saling menindih diatas sofa, dan Rania tampak sudah akan menyerah.


Dimitri menatap wajahnya yang sudah memerah, sama-sama menaha hasrat. Namun seketika wajah Angga muncul dalam bayangan.


Saya pegang janji kamu.


Ucapan pria itu terasa menghantam kepalanya, membuat kesadaran dengan cepat kembali menguasai Dimitri. Dan dia menghentikan kegiatan itu dengan segera, kemudian bangkit.


"Oh, Astaga!!" pria itu meremat rambut di kepalanya.


Rania menjengit, dan dengan cepat pula dia bangkit dari posisinya.


"Kita harus menikah secepatnya!!" katanya, yang kemudian menarik Rania keluar dari tempat tersebut.


🌹


🌹


🌹


Bersambung...


Oh my!!! 🙈🙈


like komen sama hadiahnya mau lagi!!!