All About You

All About You
Danau Beku



🌹


🌹


Sang sopir terpaksa menghentikan laju mobil yang dikendarainya saat salju di depan sana semakin tebal, dan badai semakin lebat menutupi pandangan.


"Tam yest'? ( ada apa?)" tanya Dimitri, seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Sneg stanovitsya gushche.( saljunya semakin tebal.)" jawab sang sopir.


"Really?"


"My ne mozhem prodolzhat'.( kita tidak bisa melanjutkan.)" lanjut sang sopir, seraya merogoh ponsel di saku jaketnya, kemudan keluar dari mobil. Sepertinya dia akan meminta bantuan.


"Haih, ..." Dimitri menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Ngomong apa sih aku nggak ngerti?" Rania menginterupsi.


"Dia bilang salju di jalan semakin tebal, dan mobil ini nggak bisa lewat." jawab pria itu, yang menatap jam di pergelangan tangannya. Yang menunjukan waktu telah menjelang petang.


"Emang kalau musim salju selalu se lebat ini ya?" gadis itu menatap keluar mobil, dimana benda dingin berwarna putih itu turun dengan lebat dan menumpuk di sekitar jalan dengan cepat.


"Nggak juga, biasanya normal-normal saja, tapi tahun ini sepertinya sedang ekstrim. Bandara sampai ditutup karena sepertinya badai salju sudah dimulai." jawab Dimitri yang melakukan hal sama seperti Rania.


"Terus kita nggak bisa kemana-mana dong?" Rania kembali menoleh kepadanya.


"Sepertinya begitu."


"Nggak bisa kembali ke hotel?"


Dimitri terdiam sebentar.


"Aku lapar." ucap gadis itu dengan raut cemas.


"Ck!" Dimitri berdecak, "Makanan saja di pikiranmu." gerutunya.


"Ya apa lagi? emang aku lapar. Mana sebelum balapan aku nggak makan dulu lagi?"


"Salahmu, kenapa tidak makan?"


"Kan nggak boleh,"


"Masa?"


"Hu'um. Mana emang aku lagi nggak nafsu makan lagi udah tiga minggu." keluh Rania yang mengangkat kedua kakinya, lalu merapatkan dengan tubuhnya kemudian bersandar pada kursi.


"Kenapa tidak nafsu makan? pasti karena kangen aku ya?" Dimitri mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.


"Dih, kegeeran."


"Terus kenapa?"


"Nggak suka sama makanannya." jawab Rania dengan polosnya.


"Duh? jujur banget, kenapa nggak kamu jawab iya saja sih, biar aku bahagia."


"Hmm...


"Lagipula, masa dari sekian banyak makanan nggak ada yang cocok dengan kamu sih?"


"Nggak ada pedes-pedesnya, yang ada cuma saos botolan."


"Hmm...


"Dan aku kangen makan nasi sama ayam geprek."


"Oh astaga!" Dimitri menepuk kepalanya agak keras.


"Kamu boleh bilang aku norak, tapi emang gitu kenyataannya. Lidah sama perut aku nggak bisa dikondisikan. Padahal mau sebulan berkelana diluar negeri tapi aku nggak bisa lupain nasi sama sambel. Apalagi disini nggak ada capucino cincau. Aku makin bt."


Dimitri kemudian tergelak.


"Memangnya tidak ada yang menyiapkan nasi untuk kalian?"


"Ada sih, tapi rasanya nggak seenak dirumah."


"Kasian." dia mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.


"Tapi kalau kamu aku bawa ke tempat dedushka, kita pasti menemukan makanan semacam itu."


"Dedushka siapa?"


"Kakek."


"Masa?"


"Iya. Disana aku sering dibuat makanan indonesia kalau minta. Dan rasanya sama dengan buatan rumah."


"Ya udah, ayo kita kesana?"


"Jauh."


"Tapi kalau itu artinya aku bisa nemuin nasi sama sambel nggak apa-apa. Ayo."


"Perjalanan dari sini ke Moskow itu lebih dari sepuluh jam. Kita nggak akan kuat."


"Lah, tadi kamu bilang sama papa, habis mampir dari rumah kakek. Aku pikir dekat dari sini." Rania dengan polosnya.


"Kamu ngerti nggak kalau aku lagi cari alasan?"


"Oh, ... maksudnya itu cuma alasan aja?"


"Itu ngerti."


"Aku kirain bener." gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya.


Dimitri memutar bola matanya.


"Kamu ini garang di lintasan tapi lugu kalau soal seperti ini."


"Yeee ... aku nggak pernah modus dan banyak alasan tahu? juga nggak pernah bohong sama siapa aja. Apalagi sama papa, emangnya kamu?"


Dimitri kemudian mencebik.


"Nah, soal balapan liar itu apa namanya kalau bukan bohong?" Dimitri membalikan pernyataan.


"Itu Eeeee... apa ya, hehe..." Rania menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Terus kita mau diem aja disini gitu? hotel kayaknya nggak jauh-jauh amat deh?" gadis itu mengalihkan pembicaraan.


"Mobilnya sulit dikendkan dalam cuaca seperti ini, kita bisa mengalami kecelakaan. Atau kita aka membeku di jalan kalau memaksa keluar saat badai seperti ini Zai." Dimitri menjelaskan.


"Emang mantelnya nggak cukup bisa melindungi kita dari udara dingin?" Rania memeriksa mantel dan pakaian yang melapisinya, yang sebelumnya dia ganti di locker sirkuit beberapa saat setelah selebrasi dan wawancara.


"Aku rasa kalau badainya sekeras itu nggak akan bisa." Dimitri menatap keluar dimana badai salju sedang berlangsung.


"Hmm... jadi kita tetap disini ya?"


"Begitulah."


"Berapa lama?"


"Nggak tahu. Bisa beberapa jam, bisa juga semalaman."


"Ish, ... lama banget?"


"Makanya."


"Tapi aku lapar, Dim."


Pria itu mendengus pelan. Kemudian dia menarik sebuah kotak di depannya. Kebetulan mobil tersebut dilengkapi dengan beberapa benda.


"Coba kita lihat apa yang kita punya disini?" dia membuka kotak tersebut.


"Ada makanan," Dimitri menarik satu bungkus camilan, semacam keripik kentang.


"Ah, ... cuma ciki."


"Keripik kentang tahu?"


"A-aku nyebutnya ciki."


"Terserah kamu." kemudian dia kembali menarik satu bungkusan. Sepertinya sejenis roti dengan selai coklat, terlihat dari gambar di depannya.


"Nah, ... dari tadi kek?" Rania menyambarnya bengan cepat, kemudian membuka dan memakannya.


"Minumnya?" tawar Dimitri, dengan sebuah botol stainless yang mengepulkan uap panas saat penutupnya dibuka. "Sepertinya susu coklat." ucapnya saat menghirup aroma yang menguar dari botol tersebut.


"Ah, ... kamu keren, dimobilnya ada penyimpanan makanan sama minuman. Aku nggak akan kelaparan." Rania kemudian menarik benda tersebut. Menghirup aromanya sebentar, lalu meniupnya beberapa kali dan kemudian menyesapnya secara perlahan.


"Ah, .... enak." ucapnya, sambil tersenyum dan memejamkan mata dengan erat. Seperti baru saja mendapatkan hal paling luar biasa di dunia.


"Cuma roti dan susu coklat." Dimitri bergumam, namun hatinya menghangat. Betapa hal yang menurutinya tidak penting seperti itu dapat membuat Rania tampak bahagia.


"Bukan cuma, kalau kita dapat ini pas lagi membutuhkannya, ini adalah hal yang sangat bagus. Dan kita harus bersyukur."


"Bersyukur? itu hanya roti dan susu. Kita bisa mendapatkannya dimana saja." pria itu terkekeh.


Rania terdiam sebentar.


"Aku tanya, kalau lagi dalam keadaan badai kayak gini, jauh dari mana-mana, dan kita nggak punya ini semua, apa yang mau kamu lakukan?" wajah gadis itu tampak serius.


"Ya cari di tempat lain."


"Kalau kita jauh dari tempat lain itu? aku bilang kalau kita jauh dari manapun, nggak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, dan kita hampir nggak bisa bertahan hidup."


Kini Dimitri yang terdiam.


"Hal-hal kecil yang menurut kamu nggak penting kayak gini mungkin saja yang akan menolong kamu bertahan melewati hari. Jadi menurut aku jangan kamu anggap sepele, menurut aku lho ya, soalnya kita sedang mengalami itu sekarang ini. Dan aku bersyukur ada roti sama susu disini. Ah, .. nikmat mana lagi yang akan aku dustakan?" Rania kembali melahap roti dan susu coklatnya dengan riang.


Dan Dimitri bungkam seribu bahasa.


"Kamu nggak mau?" tawarnya kepada pria itu.


"Aku Tidak terlalu lapar. Kamu saja." tolak Dimitri.


"Baklah." Rania menjejalkan potongan demi potongan roti itu kedalam mulutnya, dan membuat pipinya menggembung lucu.


Dimitri tersenyum menatap kegiatan tersebut, tentu saja dia merasa semakin takjub kepada gadis itu. Dibalik sikapnya yang selalu seenaknya, ternyata banyak hal yang tak pernah dia duga sama sekali. Dan Rania memang benar-benar berbeda dari gadis-gadis yang pernah dia kencani.


"Ah, Zaichik... kamu membuat aku semakin merasa gemas saja." Dimitri langsung merangkul pundak gadis itu, kemudian mengusap kepalanya hingga rambut Rania berantakan.


"Ish, ... stoplah, aku lagi makan." protes Rania.


"Makanlah yang banyak, kita masih punya stok di dalam sini." dia kembali menarik kotak makanan itu dan menunjukan isinya.


"Aku curiga ini udah kamu rencanin?"


"Apa itu barusan?"


"Makanan ini, dan kita berhenti disini ...


"Masa aku bisa merencanakan badai saljunya? memangnya aku ini dewa?"


Rania berhenti mengunyah.


"Iya juga sih." dia terkekeh, kemudian melanjutkan acara makannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aaaa... lama!" Rania menggeliat setelah dua jam berdiam diri. Udara di dalam mobil bahkan sudah terasa panas karena mesin dimatikan. Meblnghindari karbondioksida yang mungkin akan keluar berkumpul sementara pintu tetap tertutup rapat karena badai belum usai.


Jalanan masih lengang, dan tak seorangpun yang datang mengirimkan bantuan. Salju memang telah mematikan pergerakan setiap orang.


"Ini nggak akan ada yang bantuin kita gitu?" Rania kembali berbicara.


Dimitri bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah sang sopir kemudian kembali berbicara dalam bahasa Rusia untuk beberapa saat. Mereka bahkan terlihat sedikit berdebat. Dan pria itu lalu kembali bersandar.


"Kenapa?"


"Sambungan internet putus, dan dia nggak bisa menghubungi orang-orang. Hanya pesan tapi itu juga belum terkirim."


"Nggak mungkin nggak ada yang sadar kalau kita terjebak badai disini. Pasti seseorang menyadarinya. Jadi tunggulah."


Namun pria di depan berbicara lagi.


"Apa lagi katanya?"


"Dia mau keluar mencari bantuan."


"Apa?"


"Dia memaksa. Dari tadi bicara begitu terus."


"Tapi kan lagi badai?"


"Dia sudah terbiasa. Dia penduduk lokal, dan sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini."


"Serius?" ucap Rania saat melihat sopir itu keluar, lau berjalan ke arah belakang dan mengambil sesuatu dari dalam bagasi. Sebuah mantel tebal dan beberapa peralatan yang tak dia kenal fungsinya apa.


"Kamu lihat sendiri. Penduduk asli disini sangat kuat dan tangguh. Badai salju saja tidak akan bisa menghentikan mereka. Apalagi untuk wisatawan seperti kita. Dia menganggap kita wisatawan, tamu agung dan harus diperlakukan dengan sangat baik."


"Wow?"


"Jadi dia kan melakukan apa yang harus dilakukan demi keselamatan tamu agungnya ini."


"Segitunya."


"Itulah sebabnya Chechnya menjadi tempat paling aman di Rusia dan paling ramah diantara negara bagian lainnya."


"Hmmm...


Pria diluar mobil mereka mengetuk kaca, kemudian melambaikan tangan. Jelas dia mengucap perpisahan untuk mencari bantuan ke tempat terdekat. Dan Dimitri menganggukan kepala tanda setuju.


🌹


🌹


"Jangan jauh-jauh Zai." Dimitri mengikuti langkah gadis itu. Badai telah berhenti saat malam telah naik dan suasana diluar menggelap. Namun salju jelas menutupi jalanan hingga setinggi dada orang dewasa Dan tak ada satu kendaraanpun yang mampu melewatinya.


"Zai, kita sudah terlalu jauh Dari mobil." Dimitri mengingatkan.


"Ish, Kamu cerewet deh?" Rania akhirnya berbalik. Dia merasa kesal sendiri karena pria itu tak hentinya berbicara.


"Kita sudah terlalu jauh dari mobil, bagaimana jika orang-orang datang dan tak menemukan kita disana? mereka akan kesulitan mencari?" jelas Dimitri.


"Nggak akan, tuh mobilnya masih kelihatan?" Rania menoleh ke belakang dimana mobil yang membawa mereka masih terparkir manis diantara tumpukan salju di pinggir hutan.


"Tapi kita kejauhan Zai."


"Nggak, ih aku bilang juga?" Rania kembali memutar tubuhnya, lalu meneruskan langkahnya masuk lebih kedalam hutan dipinggir jalan yang mereka lalui.


Salju menutupi tanah dan dedaunan, yang dia lewati, juga daun-daun di pohon pinus yang berjejer rapat mengelilingi hutan.


"Zai, kamu jangan...


"Sssttt!!" Rania berhenti saat pandangannya menangkap hal menakjubkan di depan sana.


Sebuah area terbuka setelah dia melewati pepohonan yang kini terlihat mengelilinginya.


"Wow, apa ini?" ucapnya, dan matanya berkilauan ditimpa cahaya rembulan yang malam itu bersinar terang setelah ditinggalkan badai salju beberapa saat yang lalu.


"Sepertinya ini danau beku." Dimitri datang mendekat, dan dia berdiri tepat disampingnya. Menatap ke arah yang sama seperti Rania.


Hamparan salju yang luas dimana bentuknya seperti sebuah lingkaran yang sangat besar.


"Aku mau kesana!" gadis itu berjalan tergesa.


"Rania! jangan!!" Dimitri setengah berbisik.


"Ini bagus banget Dim!"


"Tapi itu sepertinya danau, lihat!" pria itu mengejarnya lalu menunjuk sebuah bongkahan es yang membeku dibawah kaki Rania. Yang tampak seperti kaca, dibawahnya seperti air beriak-riak pelan.


"Oh iya, ..." Rania mundur beberapa langkah.


"Jangan terlalu jauh, ini bahaya!"


"Bahaya apanya? ini bagus tahu?"


"Nanti kalau permukaannya retak, terus pecah, kamu bisa tenggelam. Air dibawah sana dinginnya dibawah lima derajat, Rania!" Dimitri kini menggeram.


"Tapi kayaknya ini kuat deh." Rania malah menghentakan sebelah kakinya diatas air yang membeku itu.


"Stop, stop!!" Dimitri segera meraih tangannya lalu menariknya ke daratan.


Dia tak percaya, membawa gadis itu bersamanya sepertinya merupakan ide yang sangat buruk. Rania begitu sulit diatur apalagi jika menemukan hal baru.


"Ayo kita kembali ke mobil."


"Nggak mau, dimobil panas."


"Tapi disini dingin. Pintu mobilnya kita buka biar nggak panas."


"Nggak mau, disini aja."


"Nanti bagaimana kalau ada orang yang mencari kita?"


"Pasti kedengaran."


"Kalau tidak?"


"Mereka pasti cari kita kesini."


"Bagaimana kamu tahu?"


"Yaelah dimana-mana juga gitu, orang hilang pasti dicarinya ke tempat terdekat dulu."


Dimitri tertegun.


"Kamu penakut juga ternyata." ucap Rania kemudian.


"What?"


"Masuk ke tempat kayak gini juga takut, banyak pertimbangan." ejek Rania kepada kekasihnya.


"Aku nggak takut, tapi ini bahaya. Banyak salju, apalagi di tengah hutan."


"Kamu bilang kota ini paling aman di seluruh Chechnya. Lagian ini bukan hutan, kayaknya ini semacam taman kota. Tapi karena abis badai jadinya sepi dan kayak hutan."


"Rania...


"Apa sih yang kamu takutkan?"


"Aku nggak takut, cuma khawatir orang-orang akan mencari kita, dan papa kamu datang tapi tidak menemukan kita disana. Bayangkan akan semarah apa dia?:


"Cepatlah Ran." Dimitri mengulurkan tangannya.


Rania menghela napasnya pelan, namun tak urung juga dia menyambut uluran tangan pria itu yang kemudian menuntunnya berjala menjauh dari danau beku tersebut.


Namun lagi-lagi dia berhenti saat salju kembali turun, tapi kini tak lebat seperti sebelumnya. Hanya bulatan-bulatan kecil berwarna putih yang seperti berhamburan di udara.


"Turun salju lagi, Dim." Rania menengadahkan sebelah tangannya. Walaupun sejak tadi dia telah melihat badai salju yag begitu hebat, namun hal yang sekarang sedang terjadi terlihat indah baginya.


Salju-salju itu berjatuhan dengan lembut di tangan dan wajahnya, membuatnya merasakan sensasi dingin yang menyenangkan. Rania bahkan sampai tergelak karena ini terasa lucu baginya. Tentu saja karena seumur hidup dia baru mengalaminya. Ditempat kelahirannya Dia tak pernah menemukan hal seunik ini.


"Rania, ...


"Tunggu Dim, sebentar aja. Ini bagus." gadis itu merentangkan kedua tangannya, kemudian dia berputar pelan sambil menengadahkan tangannya.


Kekehan keluar dari mulutnya, dan dia seperti tengah berada di dunianya sendiri. Kalau sudah begitu, Dimitri tak lagi bisa mencegahnya.


***


Bermenit-menit mereka berada disana, hanya untuk membunuh waktu menunggu yang membosankan. Dua sejoli berada di tengah taman kota yang sepi, sementara salju masih berjatuhan di bumi dengan perlahan.


Gadis itu berhenti, kemudian menatap Dimitri yang berjarak sekitar tiga meteran darinya. Dia tersenyum kepada pria itu yang dengan sabar menungguinya menikmati suasana bersalju pada malam itu.


Mungkin Dimitri terpaksa harus bersabar karena dia tak punya pilihan lain selain menunggunya berhenti sendiri.


Rania kemudian berjalan menghampirinya, dengan senyuman yang terukir sejak beberapa menit yang lalu.


"Sudah selesai?" ucap Dimitri saat jarak mereka hanya beberapa langkah saja.


Rania menganggukan kepala, senyuman masih tersungging di bibirnya.


"Kembali ke mobil sekarang?'


"Sebenarnya sih nggak mau, tapi..." gadis itu memiringkan kepala, mengintip mobil dibalik tubuh Dimitri yang terparkir di pinggir jalan. Hampir tertutupi seluruhnya oleh salju.


"Wajahmu semakin pucat, dan kita kedinginan." pria itu mendekat.


Rania menghembuskan napasnya, dan uap terlihat menguar dari mulutnya.


"Memang," gadis itu terkekeh.


"Kamu tahu, sebenarnya saat-saat seperti ini yang aku mau. Hanya berdua denganmu, membicarakan banyak hal, dan melakukan bayak hal. Tapi tidak begini juga." Dimitri pun tertawa, dan dia berusaha mengikis jarak diantara mereka.


"Dari Indonesia aku jauh-jauh datang membawa rindu dan rasa khawatir, tapi yang bisa aku lakukan hanya begini. Rasanya memalukan."


Rania terdiam menatap wajah pucat kekasihnya lekat-lekat.


"Aku yakin setelah ini papamu mungkin akan marah kepadaku karena membawa anak gadisnya tersesat di kota yang kita tidak tahu. Tapi aku...


Dalam jarak sedekat itu, dan dalam waktu yang singkat gadis itu merangsek, dia menghilangkan jarak diantara mereka, dan di detik berikutnya, saat Dimitri masih berusaha bicara, Rania bwejinjit untuk meraih bibir pria itu, dan membungkam mulutnya dengan ciuman lembut yang seketika menguarkan udara hangat diantara keduanya. Yang seketika menyebar ke segala arah.


"Kamu cerewet tahu?" gadis itu menjeda cumbuannya.


Dimitri merasa tubuhnya membeku, walau jelas udara dingin disekitar memang membekukan, namun gadis ini membuatnya lebih membeku dari pada udara itu sendiri. Walau rasa hangat terus menjalar hingga ke seluruh tubuh, namun dirinya tak mampu berbuat banyak hal.


Rania mengulurkan kedua tangannya ke pundak pria itu sehingga dada mereka menempel dengan erat, dan seketika saja degupan jantung mereka menjadi seirama.


Bagi Dimitri tentu saja hal tersebut merupakan bentuk dari keterbukaan Rania terhadapnya. Apalagi sudah dua kali gadis itu memulai kemesraan diantara mereka berdua.


Pria itu kembali menundukan kepala untuk meraih bibir manis Rania, yang kemudian dia sesap sepuas hati. Lidahnya menerobos kedalam mulut gadis itu, dan seketika saja mereka saling membelit di dalam sana.


Kedua tangannya merayap di pinggang kemudian melingkar dengan erat di belakang tubuhnya, dan mereka seperti hampir melebur jadi satu.


Cumbuan berlangsung begitu dalam, dengan perasaan bergejolak dan meletup-letup di dalam hati keduanya. Dimitri bahkan semakin mengeratkan pelukannya, seakan dia takut terlepas, dan memperdalam ciumannya, seolah dia tak akan lagi menemukannya di esok hari.


Pria itu bahkan kini mengangkat tubuh Rania dalam posisi mengangkang, dan gadis itu segera melingkarkan kakinya di pinggang.


Dimitri terkekeh dalam cumbuannya, dia merasa bahagia sekaligus bersemangat dalam waktu yang bersamaan, begitu juga Rania yang mengeratkan pelukannya di leher pria itu, dengan cumbuan yang tak ingin dia lepaskan.


Mereka terhanyut dalam kemesraan, dan tenggelam dalam suasana hening yang melenakan. Tak ada hal lain dalam ingatan, kecuali perasaan mereka berdua yang sudah tertaut antara satu sama lainnya.


"Ya tebya lyublyu." ucap Dimitri di sela cumbuannya.


"Apa yang kamu bilang?" Rania menarik kepalanya untuk menatap wajah pria itu.


"Aku mencintamu." ucap Dimitri lagi, yang kemudian segera mendapat sambutan lewat kecupan hangat dari gadis dalam pangkuannya.


"Kamu konyol." Rania terkekeh-kekeh.


"Memang." pria itu juga tertawa, kemudian dia berputar-putar, dan keduanya segera saja menjadi sama-sama konyol.


Dan pada saat pria itu hampir saja berhenti, keseimbangannya malah terganggu karena tawa yang terus menguar diantara keduanya, membuat Rania terjatuh diatas salju dengan posisi terlentang. Yang seketika membuat Dimitri menjatuhkan tubuhnya juga diatas gadis itu. Dia mengungkungnya diantara kedua tangannya, kemudian melanjutkan cumbuan yang terjeda.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Dingin ooyyy 😛😛


Hadiah?? 😆😆