
🌹
🌹
Dimitri bangkit sambil meremat tambut di kepalanya, berharap dapat menghilangkan rasa pusing tak terkira begitu dia membuka mata. Bahkan rasa mual tiba-tiba saja menyeruak, perutnya bagai diaduk dan membuatnya segera berlari ke kamar mandi. Dia lalu muntah dengan hebat disana.
"Oh, ... astaga! baru satu hari kerja aku sudah begini? apalagi kalau bertahun-tahun?" dia menatap wajahnya yang memantul di cermin di wastafel. Tampak pucat dengan lingkaran agak hitam dimata. Lalu dia keluar dari kamar mandi sambil memijit kepalanya yang masih terasa pening.
Dimitri keluar dari kamar, lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang tengah yang sepi. Hari minggu sendirian dirumah sepertinya akan membuat dirinya kesepian. Nampun untuk pergipun dia merasa malas. Kepergian Rania untuk memunaikan tugas nyatanya membuatnya merasa tak bersemangat. Segala hal terasa membosankan baginya.
Dia memeriksa ponselnya, dan beberapa pesan masuk beberapa jam yang lalu.
"Yang, balapan besok aku start di posisi lima lho. Doakan aku!" sebuah pesan diikuti emot love dari nomor Rania sedikit mengobati kerinduannya.
Pria itu menatap tanda waktu pesan masuk, sekitar jam 1 lewat tengah malam waktu Jakarta. Itu berarti Rania memgirimnya sekitar sepuluh jam yang lalu, pukul 3 sore waktu Argentina.
Dia melirik tanda jam di layar ponselnya, dan kini sudah jam sembilan pagi, yang artinya jam 11 malam di Argentina sana. Dan Rania sedang terlelap dalam keadaan selarut itu.
Dia kalau tidur kan seperti orang mati?
Dimitri menghembuskan napas pelan, rasanya ingin sekali dirinya menyusul ke Argentina sana. Tapi hal itu sangat tidak memungkinkan saat ini.
Ah, ... berlebihan sekali aku, dia kan hanya pergi balapan. Besok juga pulang. batinnya.
Tapi kenapa aku begitu merindukannya? dia mengusap wajahnya, frustasi.
Ponselnya berdering, dan terlihat kontak Clarra yang mencoba meghubunginya.
"Ya?"
"Jangan lupa, petang nanti ada pertemuan dengan emir dari Qatar." ucap Clarra dari seberang sana.
"Ini hari Minggu, Cla. Seharusnya aku libur." jawab Dimitri dengan kesal.
"Seorang penerus Nikolai Grup nggak mengenal hari libur, Pak. Apalagi hari Minggu. Karena pekerjaan selalu menumpuk setiap hari. Dan bukankah sudah aku beritahukan juga soal pertemuan dengan orang Qatar ini kemarin?"
"Ya, tapi aku sedang merasa tak enak badan, Cla. Tidak bisakah orang lain yang menggantikan? om Andra, misalnya?"
"Nggak bisa, Dim. Emir Qatar harus bertemu denganmu, sama saja dia bertemu dengan Om Satria."
"Hhh ..." Dimitri mendes*ah pelan.
"Minum obat dan vitaminmu, Dim. Lalu tidur. Agar saat kamu bangun nanti sore, badanmu sudah pulih."
"Hmm ...
"Apa perlu aku kesana untuk merawatmu pak?"
"Apa tugas sekertaris sampai sejauh itu?"
"Biasanya. Tapi di Nikolai Grup aku nggak gitu."
"Ya sudah, jangan. Bisa ada fitnah kalau kamu melakukan itu."
"Tentu. Lagi pula siapa juga yang mau datang kesana? memangnya aku ini perawat apa?" Clarra tertawa.
"Ish, ... kamu ini?"
"Sudah, cepat sana!! minum obat dan istirahat! aku mau nanti sore saat aku menelfon kamu sudah pulih. Pimpinan Nikolai Grup tidak boleh sakit, bisa kacau perusahaan keluargamu."
"Memangnya aku ini robot?"
"Aku anggap iya."
"Kejam sekali kamu ini!"
"Memang, itulah sebabnya om Satria mempertahankan aku."
"Jadi atasannya siapa disini sebenarnya?"
"Kamu."
"Lalu kenapa kamu yang malah mengatur aku?"
"Sudah tugasku seperti itu pak."
"Jadi apa gunanya aku sebagai pimpinan?"
"Pemegang kekuasaan tertinggi."
"Lalu kenapa kamu ...
"Diamlah! cepat minum obat dan istirahat, jangan cerewet!!" Clarra segera menutup telfon tanpa basa-basi.
"Ish!!! dasar gadis kejam!!" Dimitri menggeram.
Namun rasa mual kembali mengganggunya, dan Dimitri bangkit ketika perutnya kembali terasa terdorong dari dalam.
"Oh, astaga!!" dia hampir saja muntah dalam perjalanannya berlari ke kamar mandi.
"Zai!! selesaikan balapanmu, dan cepatlah pulang!! aku membutuhkanmu!" pria itu berteriak di dalam kamar mandi.
🌹
🌹
"Ada yang terjadi?" Angga menghampiri putrinya yang telah menjalani sesi pemanasan bersama semua pembalap yang ikut hari itu.
Rania start di urutan ke lima setelah kualifikasi sore kemarin. Posisi yang cukup menguntungkan baginya, karena tak harus bekerja terlalu keras untuk mengejar. Hanya bertahan di posisi itu hingga dirinya mampu melihat kesempatan dan mengambil waktu yang tepat untuk menyusul pembalap di depan.
"Nggak, mereka masih tenang." jawab Rania.
"Tetep aja, kita harus waspada. Kita nggak tahu apa yang lagi mereka rencanakan." ucap Angga.
"Hmm ..." perempuan itu menganggukan kepala.
"Hati-hati juga," ucap Angga lagi, seperti biasa menempelkan keningnya dengan kepala putrinya yang telah mengenakan helm. Dan itu menjadi momen yang paling sering tertangkap kamera wartawan. Menjadikannya sebagai salah satu headline dunia setiap kali balapan berlangsung.
Suara pembawa acara telah menggema lewat pengeras suara. Menandakan balapan sesungguhnya akan segera dimulai.
Sekitar 30 pembalap dari beberapa negara bersiap menjalani sesi hari itu. Beberapa orang berdoa sejenak, ada yang menenangkan diri dari kegugupan, maupun yang hanya berdiam diri mengamati situasi.
Rania bersiap, dia mengusap tangki motornya, ritual yang biasa dilakukannya sebelum balapan berlangsung. Kemudian tanpa sadar kedua tangannya menyentuh perutnya sendiri.
"Baik-baik ya? kita balapan, kuatkan mama." katanya pada dirinya sendiri.
Kemudian setiap mesin dihidupkan. Semua paddock di lepaskan dari roda belakang, dan semua pendamping menyingkir dari lintasan. Mereka akan memulai balapan dalam susana panas. Bukan hanya karena cuaca Argentina yang tengah hari itu memang cukup menyengat, tapi juga karena persaingan yang semakin memanas pula.
Bendera dikibarkan dan semua pembalap melesat saling mendahului. Motor-motor super itu berakselerasi dari 0km ke 100km perjam dalam waktu tak lebih dari lima detik. Seperti peluru dari senapan super yang melesat menuju sasaran.
Baru di lintasan ke lima, satu pembalap dibelakang tumbang, menghadang beberapa pembalap setelahnya yang kemudian ikut tumbang juga. Menampakan kekacauan di sirkuit tersebut yang memang terkenal dengan keangkerannya bagi para pembalap dunia. Apalagi pembalap baru.
Namun juga menjadi ajang pembuktian bagi siapapun untuk menjajal kemampuan mereka mengendalikan baik mobil maupun motor.
"Tenang Ran!" Angga berbicara, saat melihat putrinya menengok ke belakag dimana kekacauan berlangsung dan beberapa pebalap berjatuhan.
"Fokus aja!" ucap Angga lagi.
Kemudian Rania mengembalikan perhatiannya pada sirkuit di depan. Dimana empat rivalnya tampak bersatu membentuk benteng pertahanan.
"Mereka mulai beraksi pa!" perempuan itu berteriak.
"Tenangkan diri kamu!"
"Ya papa?"
"Ikuti alur mereka. Nanti akan ada yang lengah, dan membuka celah."
"Iya, papa."
Delapan lap, sembilan lap, sepuluh lap. Semuanya dijalani Rania dengan tenang, persis seperti instruksi sang ayah. Kali ini dirinya berniat menurut, mengingat ada nyawa lain yang dibawanya dalam rahimnya.
Hingga di lap ke lima belas dari total dua puluh lima lap, sebuah celah kecil perlahan terbuka di depannya.
Disaat dua pembalap terlihat merenggang, dan menciptakan jarak diatara mereka.
"Papa!" Rania berteriak.
"Kamu bisa masuk?"
"Aku coba."
Perempuan itu menambah kecepatan, kemudian dengan mudah dia masuk ke celah diantara dua rivalnya yang tampak lengah. Kemudian masuk lebih ke dalam lagi sehingga kini dia berada di depan mereka. Posisi tiga menjadi miliknya.
"Yes!!! bagus Ran! pertahankan!" Angga berteriak kegirangan.
Keadaan itu berlangsung aman. Terasa mudah dan tanpa perlawanan seperti biasanya. Namun kemudian Rania terhenyak saat ban belakangnya terasa terbentur sesuatu.
"Papa!"
"Terlalu dekat, Ran! majulah sedikit!" Angga memerintah.
Rania mencoba mengawasi dua motor di depannya yang hanya berjarak beberapa senti saja.
"Nggak bisa! mereka terlalu rapat!"
Dan ban belakang kembali berbenturan.
"Mereka kayaknya sengaja!" ucap Rania ketika merasakan ada kejanggalan. Dan dia cepat menyadari hal itu.
Dua motor di belakang semakin merapat kepadanya, sementara dua motor di depan tak sedikitpun menambah kecepatan untuk menghindar.
"Sial! mereka menjebak aku, pa!"
"Pantas kamu bisa masuk dengan mudah."
"Papa!" Rania kembali berteriak ketika benturan terjadi lagi.
"Kamu nggak bisa keluar?"
"Nggak. Mereka terlalu rapat."
Angga terdiam.
"Papa! aku harus apa?"
"Enam lap lagi, Ran. Apa kamu bisa bertahan?"
"Nggak tahu. Mau maju aku susah, mundur juga mggak bisa. Tapi mereka terus menyudutkan aku, pa.!"
"Oh, ... kenapa mereka ini?" pria itu melepaskan headphonenya kemudian melihat layar monitor.
Tampak dari sisi yang berbeda, Rania memang tampak tengah di sudutkan oleh empat pembalap lainnya.
"Galang!!" Angga berteriak.
"Ya Om?" pemuda itu segera meghampiri.
"Mana yang lain?"
"Ada." semua orang tampak siaga di belakangnya.
"Yang bisa rekam ini, rekam sampai akhir." Angga menunjuk beberapa monitor yang menampakan balapan dengan jelas dari sisi yang berbeda.
"Kalian, bersiap. Siapa tahu Rania butuh bantuan di pitstop." ucapnya, kepada crew yang lainnya.
"Dan kamu .." katanya kepada Galang. "Bersiap untuk kemungkinan terburuk."
"Maksud om?"
Pria itu kembali ke layar monitor yang menampilkan suasana tegang di lintasan. Satu di bagian depan, dan satu bagian lagi di belakang motor putrinya.
"Rania ... semoga nggak seperti pikiran buruk kita."
Wajah Galang memucat.
"Mereka melakukan sesuatu?" pemuda itu bertanya. Seperti yang diketahuinya, bahwa ada beberapa kejadian akhir-akhir ini yang sepertinya mengancam sahabatnya di lintasan.
"Belum pasti. Makanya kita rekam untuk bukti, siapa tahu akan kita butuhkan nanti." jawab Angga.
"Papa!" suara Rania kembali berteriak.
"Tiga lap lagi, apa kamu bisa bertahan sampai finish?" pria itu menatap jam tangannya.
"Nggak juara?"
"Nggak apa-apa, bertahan di posisi tiga aja sebisa kamu."
"Oke."
Rania tetap menstabilkan kecepatan Ducati miliknya. Mencoba bertahan dalam himpitan empat rivalnya sekaligus.
"Sialan, ugh!!" Rania mengumpat.
"Tahan Ran!"
"Aku coba, mereka terus nyudutin aku!" perempuan itu kembali berteriak.
Dua lap tersisa, dan keadaan semakin memanas saja di urutan terdepan. Empat pembalap tak mau menyerah, semantara Rania pun tampak tak mau mengalah. Hngga ketika mereka tiba di lap terakhir, dan Rania melihat celah, maka perempuan itu menyelinap diantara dua rivalnya di depan.
Tersisa setengah jalan lagi untuk mencapai garis finish, dan Rania telah merasa aman. Dia hanya perlu menyelesaikan balapan hari ini, dan semuanya bisa diraihnya.
Namun tiba-tiba saja, motornya limbung ketika sebuah benturan terjadi. Salah seorang dari pembalap yang dia tinggalkan dibelakang dapat menyusul. Dan tanpa perhitungan dia membenturkan motor yang dikendalikannya pada tunggangan Rania.
"Dia gila!!" perempuan itu berteriak lantang sambil berusaha menghindar. Dan dia mencoba memfokuskan pandangannya pada garis finish yang berjarak sekitar seratus meteran lagi.
Rania menambah kecepatan terakhir ketika garis finish sudah benar-benar terlihat jelas. Namun apa yang dilakukannya kemudian menjadi malapetaka ketika Ducati miliknya kembali limbung.
Dalam kecepatan tinggi dan keadaan terkejut, Rania menekan dua rem sekaligus. Menyebabkan motor tersebut harus berhenti mendadak.
Suara raungan mesin terdengar memekakan telinga, dan semua orang dibuat menaha napas kala Ducati tunggangan Rania bukannya berhenti, namun malah terguling ke sisi kiri. Menyeret Rania yang sebelah kakinya berada di bawahnya, hingga sejauh puluhan meter, kemudian berhenti di sebuah area berpasir.
"Rania!!" orang-orang di pitstop tentu saja berteriak, dan Angga menjadi orang pertama yang berlari menyongsong Rania setelah pembalap di belakang putrinya itu melewati garis finish.
Dia hampir saja mencapai perempuan itu ketika secara tiba-tiba Ducati Panigale merah tunggangan Rania meledak dengan kerasnya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
duh, gimana ya si oneng? 🤔🤔