All About You

All About You
Biji Kacang Polong



🌹


🌹


"Hari ini mau dibawakan apa?" Dimitri pasrah saja ketika Rania belajar merapikan dasinya.


"Nggak usah." perempuan itu membentuk simpul seperti yang dilihatnya di video tutorial yang dia tonton tadi subuh.


"Bener kayak gini nggak sih?" lalu dia tertawa.


Dimitri menatap cermin dibelakang tubuh Rania yang duduk diatas wastafel, kemudian tertawa juga.


"Dasinya jadi jelek." Rania kembali menarik benda tersebut untuk membetulkannya.


"Biar aku saja, ..." namun Dimitri lebih dulu melakukannya hingga benda itu benar-benar terlihat rapi.


"Nah udah." lalu Rania turun dari wastafel.


"Benar tidak mau aku bawakan apa-apa? sepertinya nanti aku pulang tidak terlalu malam." mereka keluar dari ruang ganti.


Rania menggelengkan kepala.


"Tidak mau capucino cincau?"


Rania menggeleng lagi.


"Ayam geprek?"


"Kata dokter nggak boleh keseringan makan pedes." Rania menjawab.


"Kata dokter?"


"Hmm ...


"Dokter Reyhan?"


"Bukan."


"Terus dokter siapa yang bilang kamu nggak boleh makan makanan pedas?" mereka kini menuruni tangga, lalu berjalan menuju ke ruang makan.


"Aku baca di artikel gitu, kalau lagi hamil muda nggak boleh keseringan makan pedes," jawab Rania yang kemudian menyiapkan sarapan mereka.


***


"Terus hari ini kamu mau kemana?" mereka menyelesaikan sarapannya setelah beberapa saat.


"Ngak kemana-kemana, kan aku nggak ada kegiatan. Paling cuma rebahan aja dirumah."


"Mau ke rumah mama?"


"Ngapain?"


"Biar ada teman ngobrol."


"Ngobrol terus, nanti malah jadi ghibah." Rania tertawa setelah menghabiskan minumannya.


"Hmm ...


"Udah, cepat berangkat. Nanti kamu kesiangan." Rania bagkit kemudian meraih jas yang tersampir di belakang Dimitri, lalu membantu pria itu untuk memakainya.


"Serius tidak mau aku bawakan apa-apa? nanti aku akan mampir untuk membeli sesuatu." Dimitri meyakinkan, pasalnya hari ini Rania tak terlalu banyak permintaan seperti hari-hari sebelumnya.


"Nggak usah, selesaikan kerjaannya aja, biar cepet pulang, aku nungguin disini."


"Apa karena ucapanku kemarin? hari ini kamu agak pendiam. Dan itu rasanya aneh." Dimitri terkekeh.


Rania terdiam.


"Zai? apa ucapanku kemarin membuatmu tersinggung?"


"Nggak. Kayaknya kamu ada benarnya juga. Seharusnya aku bisa lebih dewasa dalam hal ini. Aku kan sebentar lagi mau jadi mama, masa semua kemauan harus dituruti terus?"


Dimitri membuka mulutnya bermaksud kembali berbicara, namun Rania segera menghentikannya.


"Udah, ... sana berangkat. Nanti Clarra mengomel lagi kalau kamu telat?" dia sedikit mendorong suaminya ke dekat mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rania membuka pintu garasi di belakang rumah. Tampak dua kendaraan teronggok di tengah ruangan yang akhir-akhir ini jarang dia gunakan. Terutama Bugatti Chironnya yang merupakan mas kawin dari sang suami saat pernikahan mereka berlangsung beberapa bulan yang lalu. Yang baru saja dia gunakan satu kali.


Sementara di sampingnya terparkir pula Ducati Panigale hitam milik suaminya yang juga jarang pria itu gunakan. Dia menyentuh keduanya secara bersamaan sambil melewatinya.


Rasanya sudah rindu sekali, berkendara membelah jalanan kota, atau melintasi perbatasan hingga melewati jalan-jalan untuk menikmati suasana. Entah itu pagi, siang ataupun malam. Rasanya tetap sama, menyenangkan.


Dan kini, dirinya harus secara total berhenti dari segala yang di senanginya, termasuk menghentikan segala usahanya untuk menggapai cita-cita demi dua janin yang sedang tumbuh di rahimnya.


Segala ada resikonya bukan? Bisa saja dia dengan ke keras kepalaannya meneruskan langkah untuk menyelesaikan balapan musim itu, tapi dirinya tidak bisa bersikap egois kali ini. Karena ada dua kehidupan yang bergantung pada keselamatannya. Meski keadaannya dinyatakan baik-baik saja, dia tidak boleh bertindak gegabah.


Ingat terakhir kali dia memilih untuk tetap menjalani balapan, tanpa persetujuan suaminya dan lihat apa yang terjadi? dirinya hampir saja membahayakan janin dalam kandungannya ketika mengalami insidenen mengerikan di garis finish. Dan itu tidak boleh terulang lagi.


Rania menyalakan mesin mobilnya. Terdengar suara yang meraung-raung indah saat dia menekan pedal gas, dan itu rasanya menyenangkan. Lalu dia membiarkan kendaraan beroda empat tersebut tetap menyala seperti itu.


Kemudian Rania beralih pada motor super disamping mobil tersebut. Dia melakukan hal yang sama. Menyalakan mesinnya, memutar gasnya hingga benda tersebut mengeluarkan suara raungan yang sangat dia rindukan.


Terbayang ketika dirinya melesat di lintasan dengan kecepatan tinggi, berpacu menuju garis finish dan memenangkan balapan.


Perasaan itu, ... tak ada yang mampu menandinginya. Perasaan ketika kamu mengendalikan benda yang ukurannya tiga kali lebih besar dari tubuhmu. Perasaan ketika kamu mampu menguasai mesin itu dalam kecepatan tinggi. Atau perasaan ketika kamu mampu memenangkan suatu balapan dan menjadi juara.


Rasa yang luar biasa, yang tak ada satu hal pun di dunia ini yang mampu menyamainya.


"Non mau pergi?" seorang asisten rumah tangga yang ditugaskan oleh Sofia datang menghampiri ketika mendengar suara raungan mesin dari garasi di belakang rumah tersebut.


"Nggak."


"Kok mobil dan motornya di nyalakan?"


"Sengaja. Cuma di panasin aja. Kasihan mereka kedinginan, juga kesepian, kayak aku." jawab Rania sekenanya.


"Mbak Lina ngapain? kerjaannya udah beres?" dia kemudian bertanya.


"Belum."


"Terus?"


"Cuma memeriksa, saya kira Non mau pergi."


"Nggak, cuma disini aja. Mau pergi kemana? nggak punya tujuan di Jakarta mah, kalau di Bandung sih banyak. Bisa ke bengkelnya papa, atau ke rumahnya Galang. Disini saya nggak punya temen."


Lina terdiam.


Rania memutar gas Ducatinya sehingga raungannya terdengar menggema memenuhi ruangan besar tersebut.


"Beneran Non nggak akan pergi?" tanya perempuan berusia 30 tahun tersebut untuk meyakinkan.


"Iya, ngapain? cuma nyalain mereka doang. Kasihan kalau di diemin bisa karatan. Kan nggak lucu, masa kendaraan mahal kayak gini karatan." Rania terkekeh.


"Syukur deh kalau begitu, saya bisa bekerja dengan tenang," ucap Lina dengan lega.


"Apaan?"


"Soanya Pak Dimitri berpesan, kalau non pergi apalagi bawa motor saya harus cepet laporan."


"Dih, dia ngawasin?"


"Bukan, cuma disuruh lapor aja."


"Sama aja mbak."


Lina hanya terkekeh.


"Nggak usah takut, saya nggak akan pergi. Cuma disini aja." sebuah ide muncul di kepalanya.


Rania kemudian menaiki ducati hitamnya, mengendarainya keluar dari garasi.


"Non, katanya nggak akan pergi?" Lina mengikutinya, dengan perasaan ngeri karena dia tahu keadaan istri majikannya tersebut yang tengah berbadan dua.


"Emang nggak akan." Rania menjawab.


"Tapi kok non baea motornya keluar?"


"Cuma mau nyoba aja, udah lama nggak bawa motor."


"Tapi non, pak Dimitri larang ...


"Larang keluar rumah pakai motor kan? ini nggak keluar, cuma di belakang rumah aja."


"Iya juga sih, tapi kan ...


Rania berputar mengitari lintasan mini di belakang rumah tersebut, dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.


Lina tetap berada disana hingga beberapa lama untuk mengawasi, namun istri majikannya tersebut tampak tak akan berhenti. Rania masih terus berputar-putar hingga tak terhitung lagi berapa lama dia menghabiskan waktu. Hingga akhirnya perempuan itu berhenti dengan sendirinya.


"Masih bisa ternyata." Rania bergumam. Dia lantas membawa motor besarnya kembali masuk kedalam garasinya.


"Udah ya, non. Jangan gitu lagi? ngeri saya lihatnya. Non kan sedang hamil?" Lina belum juga mau meninggalkan Rania.


"Iya, udah untuk hari inimah. Besok lagi aja."


"Aduh non, jangan lagi deh? nanti bapak tahu gimana? bisa marah sama saya."


"Ya jangan sampai tahu dong."


"Nanti bapak pasti tanya."


"Tanya apa?"


"Apa saja kegiatan non dirumah."


"Ya tinggal jawab aja biasa."


"Nanti bapak cek cctv."


"Lebay."


"Hadeh ...


"Ya, sudah ya? jangan naik motor lagi?"


"Hmm ...


"non?"


"Iya iya, gitu doang padahal nggak sampai ngebut?"


"Buat bapak sama aja, nanti jadi masalah."


Rania mencebikan mulutnya.


"Ya non ya? jangan di ulangi lagi? se nggaknya sampai bayinya lahir nanti."


"Iya ih, mbak bawel deh." perempuan itu turun dari motor kemudian menghambur keluar dari garasi sambil bergumama.


"Tapi nggak janji ya?" katanya pelan, kemudian tertawa.


🌹


🌹


"Bagaimana keadaan Rania, Dim?" mereka kini sedang makan siang setelah menghadiri rapat di luar kantor.


"Baik."


"Aku belum menemuinya sejak kalian pindah ke Jakarta. Pekerjaanku sangat banyak."


"Nggak apa-apa, nanti saja kalau sempat."


"Kehamilannya bagaimana?"


"Baik. Sangat baik malah, dia sangat sehat."


"Syukurlah, ...


"Tapi gejalanya pindah kepadaku."


"Hah, apa?"


"Gejala kehamilannya pindah kepadaku." ulang Dimitri.


"Maksudnya?"


Pria itu meletakan sendok dan garpunya diatas piring yang hampir kosong. "Mual dan muntahnya aku yang mengalami," ucap Dimitri yang kemudian meneguk minumannya saat rasa mual kembali menyerangnya.


"Serius?" Clarra tertawa terbahak-bahak. "Aneh sekali kamu ini?"


"Entahlah, aku yang aneh atau dia yang aneh. Aku nggak ngerti. Dia malahan menjadi lebih manja sekarang ini, semua kemauannya harus ditiruti, kalau tidak dia bisa merajuk."


"Ngidam?"


"Nah, itu yang mama sebut juga kemarin. Hah, aneh sekali."


"Bukan aneh, beberapa perempuan memang kadang begitu ketika sedang hamil tahu?"


"Aku tahu, ... dokter juga bilang begitu."


"Terus kenapa kamu menyebut istrimu aneh? kejam sekali kamu ini?"


"Aku tidak menyebut Rania aneh, hanya saja kelakuannya yang lumayan membuat kesal akhir-akhir ini."


"Hmmm ... bilang kelakuannya membuat kesal, nggak sadar dia begitu karena ulah siapa ya?" Clarra mencibir.


"Apa hubungannya?"


"Jelas, kamu cuma mau enaknya saja, tapi nggak mau ngerti keadaan dia. Padahal dia sedang mengandung anakmu lho, dua lagi kan? satu saja berat, apalagi dua." Clarra mengunyah makanannya dengan cepat.


"Kamu nggak tahu sih, kesalnya seperti apa?"


"Kesal katamu? terus kamu tahu nggak perasaan dia seperti apa? dari awalnya bebas melakukan apa saja, tiba-tiba semua hal yang dia senangi harus dihentikan demi bayi dalam kandungannya? semua orang malarangnya melakukan sesuatu? padahal dia bukan tipe orang yang suka berdiam diri di dalam rumah?"


"Kamu apa sih, tiba-tiba bicara begitu?" Dimitri terkekeh, merasa lucu dengan reaksi dari sepupunya tersebut.


"Kamu segitu saja sudah merasa kesal, apa kabar Rania."


"Hmm ...


"Ah, sudahlah ... kenapa aku jadi merasa kesal seperti ini ya? mendengar ucapan dari pria kurang peka seperti kamu?" gadis itu menyelesaiakan kegiatan makannya.


"Kurang peka katamu?"


"Iya, kurang peka. Amit-amit, semoga aku nggak dapat laki-laki kayak kamu." Clarra bangkit dari kursinya, kemudian melenggang ke toilet di sisi lain restoran.


"Kenapa sih dia itu? lagi pms ya?" Dimitri menggerutu sambil mengerutkan dahi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam telah merangkak naik dan kehidupan telah beralih, dari berjibaku dengan pekerjaan menjadi ajang pelepasan penat. Keadaan tersebut tampak dari keadaan jalan yang begitu ramai khas kota metropolitan.


Restoran dan kefe di pinggir jalan telah semarak dengan cahaya dan lampu warna-warni, juga pengunjungnya yang semakin bertambah banyak saja. Begitu juga dengan tempat-tempat hiburan malam yang mulai dibuka.


Dimitri menanti lampu merah berubah hijau sambil menikmati pemandangan kota pada malam itu.


Pekerjaannya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Setelah makan siang dengan Clarra, ternyata di kantor pun pekerjaannya sudah menumpuk, dan dia tak keluar lagi begitu memulai pekerjaannya kembali. Hingga akhirnya dia selesaikan dengan penuh perjuangan bersamaan dengan matahari yang sudah kembali ke peraduannya.


Lamunannya dibuyarkan oleh suara dering ponsel yang dia letakan disamping kemudi. Tampak nama Zaichik yang muncul menghubunginya. Dimitri kemudian mengeser tombol hijau pada layar kemudian membenahi letak earpiecenya.


"Ya Zai?" dia menyapa terlebih dahulu seraya menjalankan mobilnya saat lampu merah berubah hijau.


"Kamu masih kerja?" tanya Rania dari seberang.


"Nggak, ini mau pulang, aku sudah di jalan."


"Oh, oke."


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, cuma tanya."


"Hmm ...


"Ya udah kalau mau pulang, ...


"Kamu mau sesuatu?" Dimitri teringat ketika melewati pedagang makanan kesukaan istrinya, dan dia memelankan laju kendaraannya.


"Nggak." Rania menjawab.


"Kebetulan aku lewat di depan tukang ayam geprek kalau kamu mau?"


"Nggak."


"Tidak usah pakai sambali yang pedas. Tidak apa-apa."


"Mana ada ayam gepreknya nggak pedes? sama juga bohong."


"Sedikit pedas nggak apa-apa."


"Nggak ah, aku lagi nggak mood."


"Begitu ya? atau capucino cincau?" tawarnya lagi saat dirinya melewati pedagang berikutnya yang masih buka.


"Nggak juga."


"Tumben? mumpung aku lewat lho."


"Nggak, aku lagi nggak pengen itu."


"Terus maunya apa?"


"Nggak mau apa-apa."


"Atau camilan?" Dimitri kembali menawarkam ketika melewati sebuah minimarket. Dia ingat jika Rania sering membeli makanan-makanan kecil untuk bekalnya di rumah, sekedar menemaninya yang sudah hampir dua minggu ini tak ada kegiatan apapaun.


"Nggak ih, apalagi itu. Dirumah juga banyak. Kemarin aku udah nyuruh Mabak Lina beli sambil belanja bulanan." tolak Rania.


"Terus kamu maunya apa dong? kan aku jadi bingung?"


"Dih, kenapa bingung? kan aku juga bilangnya nggak mau apa-apa, kenapa kamu nawarin terus?" Rania bersungut-sungut. Sementara Dimitri terdiam menutup mulutnya rapat-rapat.


Kenapa juga aku begitu ya? tiba-tiba saja ingin dia meminta banyak hal kepadaku? batin Dimitri.


"Cepet pulang aja, aku udah kangen," ucap Rania tiba-tiba.


"Hum?"


"Biji kacang polong udah kangen," terdengar kekehan dari seberang sana.


"Apa?"


"Hahaha, ... baby polong kangen papinya." Rania terkekeh lagi, membuat Dimitri akhirnya juga tertawa dengan sendirinya ketika dia mengerti apa yang di katakan oleh istrinya tersebut, setelah dia juga teringat chat Angga di ponsel Rania.


"Baiklah, tunggu aku ya? sebentar lagi juga sampai."


"Hu'um, ...


"Jangan dulu tidur sebelum aku sampai dirumah oke?"


"Oke, papi."


Dengan hati berbunga-bunga pria itu memacu kendaraannya. Dia begitu ingin cepat sampai dirumah setelah pembicaraan dengan kelinci kecilnya usai. Gara-gara pembicaraan soal biji kacang polong ini membuat pikirannya berkelana entah kemana.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...