
🌹
🌹
"Konsentrasi!" Arfan menepuk kepala Dimitri dengan dokumen ditangannya, saat pemuda itu tak menjalani latihan presentasinya dengan benar kali ini.
Banyak kalimat tidak tepat, dan kata-kata yang salah dia ucapkan. Seperti dia baru saja mengalami hal tersebut.
"Kamu tidak membacanya dengan benar ya? apa saja yang kamu lakukan sejak pagi?" pria itu menggerutu.
"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Arfan lagi, yang berdiri di depan adik iparnya itu.
Dimitri tak menjawab, dia hanya mengusap wajah, kemudian memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri.
"Terlalu sering pulang malam, terlalu banyak minum dan pesta... terlalu banyak menghabiskan malam dengan gadis-gadis ... sangat tidak baik untukmu Dim." Arfan menggelengkan kepala.
"Aku cuma... sedang nggak enak badan Om." pemuda itu menjawab, dan dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"Tidakkah kamu ingat kalau pekerjaanmu ini sangat banyak? tapi waktu istirahatmu tidak cukup. Kamu menggunakan waktu luangmu dengan sia-sia."
Dimitri terdiam.
"Kalau kamu terus-terusan seperti ini, bukan hal yang tidak mungkin kamu akan mengalami kegagalan."
"Perusahaan ini membutuhkan pemimpin, bukan seseorang yang bersikap seenaknya hanya karena dia anak pemilik perusahaan. Musuhmu ada dimana-mana, pesaingmu banyak, dan lawanmu sedang menunggu kelemahanmu. Agar mereka mampu menjatuhkan, kemudian mengambil kesempatan yang telah lama ada dalam genggamanmu."
"Karena posisi sebagai pewaris saja tidaklah cukup, reputasi papi dan kakekmu dipertaruhkan. Sementara kemampuanmu hanya jalan di tempat." Arfan menghela napas berat.
"Kamu tahu, om tidak bisa selamanya mendampingi. Nanti akan tiba waktunya, om pergi dan harus melepaskan semuanya. Dan kamu harus berjalan sendirian. Mau tidak mau kamu harus bisa. Kamu beruntung, masih bisa melakukan apa yang kamu senangi, sementara papimu dulu, harus membuang keinginannya demi menjalanka bisnis ini."
Pemuda itu masih terdiam.
"Jadi, setidaknya seriuslah dengan pekerjaanmu. Terserah jika kamu ingin melakukan kesenanganmu diluar sana, om tidak akan peduli tapi... hati-hatilah, dan jalankan pekerjaanmu dengan sungguh-sungguh. Kami semua berharap kepadamu Dim." pria itu menepuk pundak adik iparnya pelan-pelan.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, tidak akan berhasil kalau dipaksakan sekarang." ucap Arfan yang kemudiam keluar setelahnya.
"Kalian nggak mengerti. Aku cuma butuh waktu untuk diam sebentar saja." Dimitri merebahkan kepalanya di sandaran sofa, lalu dia bangkit lagi, kemudian membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada lutut untuk menahan kepalanya yang terasa pening.
Ah, ... bukan pening. Tapi dia merasa kepalanya akan segera meledak. Karena dipenuhi oleh gadis menyebalkan itu, yang entah mengapa tak mampu dia lupakan sejak semalam.
Hatinya bahkan terasa berdenyut-denyut ngilu, dan dia tidak tahu perasaan apa ini? dia tak pernah merasakan sebelumnya.
Perasaan aneh ini benar-benar menyiksa, dan membuatnya tak ingin melakukan apapun. Dirinya seolah kehilangan kekuatan. Meskipun ada rasa yang menyenangkan juga, tapi tetap saja dirinya merasa mulai tak berdaya.
"Aaarrgghh, RANIAAAA!!" dia menggeram saat wajah imut itu muncul lagi dalam bayangan, kemudian dia menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata terpejam.
"Rania sedang latihan di Sentul, Dim." suara yang dikenalinya terdengar menginterupsi.
Dimitri membuka mata kemudian menoleh, dan sosok Andra terlihat menerobos kedalam ruangan tersebut. Pemuda itu kembali bangkit.
"Sudah kenal Rania?" Andra duduk di seberangnya, setelah meletakan beberapa dokumen di meja kerja pemuda itu.
"Om Andra kenal Rania?" Dimitri balik bertanya.
"Kenal."
"Benarkah?"
"Tunggu dulu, Rania yang mana nih? karena yang saya kenal itu Rania anak teman saya yang kemarin balapan di sentul."
"Stranaya devushka,... " Dimitri bergumam.
"Apa yang kamu bilang?"
"Ng... tidak om. Hanya...
"Ah, ... jadi lupa kan? saya hanya mengantar proposal ini, untuk presentasi besok. Kamu pelajari lagi ya?" pria itu bangkit. "Saya tidak bisa menemanimu hari ini. Harus pergi."
"Om mau pergi kemana?"
"Harus ke Sentul lagi, ada pertemuan dengan papanya Rania."
"Hah? Sentul?" tiba-tiba saja Dimitri merasa kekuatannya kembali.
"Iya. pergi dulu ya?" Andra berpamitan.
"Ikut!!" Dimitri berdiri dan merapikan jasnya yang agak kusut.
"Tidak bisa, ini bukan ...
"Aku mau ikut, sambil mempelajari dokumennya juga, baca disini pikiranku kacau." dia meraih beberapa dokumen kemudian keluar mendahuli Andra.
"Kenapa anak itu?" pria itu bergumam, namun tak urung juga dia mengikutinya keluar gedung, dan membiarkannya masuk kedalam mobilnya, setelah Dimitri berdebat dengan Clarra sebelumnya karena dia pergi sebelum jam kerjanya selesai.
🌹
🌹
"Mungkin ininya harus begini... dan ini dipasang disini... " Galang memasangkan beberpa alat pada motor balap milik Rania, dengan gadis itu yang juga berjongkok di sisinya.
"Kamu coba sekarang, Bener nggak kalau aku pasangnya kayak gitu?" ucap Galang kepada Rania.
"Oke." gadis itu menurut, dan dia segera menaiki Ducati merahnya, dan menghidupkan mesinnnya seperti biasa. Kemudian melajukannya di lintasan sejauh beberapa meter, kemudian kembali ke hadapan Galang. Bersamaan dengan tibanya sang ayah bersama dua pria berstelan jas rapi.
"Rasanya gini lebih enak Lang, tapi masih agak goncang kayak kemarin." Rania berteriak.
"Masa? jadi bagusan pasangnya gini?" pemuda itu berujar.
"Hmm...tapi kalau dikencengin lagi kayaknya nggak ganggu."
"Oke, kita benerin lagi."
"Rania?" Angga memanggil setelah jarak mereka cukup dekat.
Gadis itu mendongak, dan seketika dia tersenyum saat menemukan wajah yang dikenalinya. Dan hal itu menyebabkan pria muda disamping Andra menahan napas untuk beberapa saat.
Melihat senyumnya, menatap wajahnya, dan lihatlah rambut coklatnya yang berhamburan ditiup angin itu ... dia tampak mempesona.
Apakah dia bidadari? apakah dia malaikat? dia bergumam dalam hati.
"Om Andra... " Rania setengah meloncat dari atas motor dan bergegas menghampiri dua pria itu. Kemudian menghambur ke pelukan Andra.
Ugh!! kenapa dia suka sekali memeluk orang-orang? Dimitri menggerutu dalam hati, dan dia merasa tak suka dengan pemandangan itu.
Apa dia akan memelukku juga? gumamnya lagi, dan dia tersenyum sekilas, merasa konyol dengan pikirannya sendiri.
"Om Andra ngapain disini?" Rania segera melepaskan pelukannya.
"Hanya bertemu Papamu." jawab Andra, "Setelah dapat posisi bagus di kualifikasi kemarin nggak boleh santai ya? harus tetap latihan." ucapnya.
"Iya om."
"Ehm... " Dimitri berdeham karena merasa diabaikan oleh dua orang di depan.
"Pa Dimi?" Andra tertawa dengan keras.
Dimitri hanya memutar bola matanya, padahal dia bersiap menyambut jika saja gadis itu akan memeluknya juga. Tapi rupanya dia keliru.
Memangnya siapanya aku ini? batinnya lagi.
"Jadi Ga, sepertinya kita harus menyiapkan ini ..." Angga dan Andra berjalan menjauh, mereka berbicara soal rencana balapan berikutnya yang akan dihadapi Rania dalam beberapa hari kedepan. Meninggalkan pemuda itu tertegun bersama Rania dan motor besarnya.
"Ng ... jadi... kamu masih latihan?" Dimitri berbasa-basi. Baru kali ini dia tak bisa menemukan bahan pembicaraan saat berhadapan dengan seorang gadis. Biasanya mulutnya lancar-lancar saja mengumbar obrolan tak berfaedah namun mampu mendapat perhatian dari gadis di dekatnya.
"Begitulah, ... bapak lihat sendiri kan?" Rania menjawab.
"Hmm...
"Bapak kerjanya sama Om Andra ya?"
"Seperti yang kamu lihat." Dimitri kehabisan kata-kata.
"Bapak lagi nggak enak badan ya?" Rania memiringkan tubuhnya, dia melihat wajah pria itu yang tampak memerah.
"Hum?"
"Bapak lebih pendiam, biasanya ngomel-ngomel kalau ketemu saya?" lanjut gadis itu dan posisinya masih sama.
"Mm...
"Coba lagi Ran, udah aku kencengin lagi." Galang menginterupsi.
"Oke," gadis itu menurut, dan dia melakukan hal seperti tadi. Mengendarai motornya, berputar-putar di lintasan lalu kembali.
Dimitri semakin dibuatnya tak bisa berkata-kata. Dia menatapnya begitu takjub.
Caranya mengendarai mesin beroda dua itu, mengendalikannya, berbelok, dan berputar-putar di depannya, membuatnya merasa dia adalah gadis paling cantik di dunia.
Wajahnya yang kemerahan ditimpa cahaya terik matahari, dan kulitnya yang sedikit berkilau karena keringat, juga rambutnya yang berhamburan tertiup angin, membuat dia terlihat begitu ... seksi?
Sepertinya aku sudah benar-benar gila! dia menggelengkan kepalanya.
"Udah Lang, gini lebih enak." ucap Rania, dan dia segera turun dari motornya.
"Beneran?"
"Hu'um, ..." gadis itu mengangguk dengan bibirnya yang mengerucut.
"Baiklah, ... kalau gitu aku nggak akan merubah ini lagi."
"Nggak usah, ini udah bagus." jawab Rania.
"Oke."
"Kamu sudah selesai?" tanya Dimitri saat gadis itu berjalan mendekat ke arahnya, lalu mereka berjalan beriringan keluar dari bangunan tersebut.
"Udah."
"Habis ini mau kemana?"
"Kembali ke villa."
"Tidak mau jalan-jalan dulu?"
Rania berhenti berjalan kemudian menoleh pada pemuda tinggi itu.
"Ngapain?"
"Entahlah, mungkin kamu mau melakukan sesuatu?"
Rania terdiam.
"Kamu tahu, jalan-jalan atau semacamnya?"
"Nggak ah, terakhir kali pergi aku kena hukuman."
"Hukuman?"
"Iya, hukuman Papa. Lagian, ... aku nggak kenal Bapak. Mama aku bilang nggak boleh pergi sama orang yang nggak dikenal, apalagi cowok. Bahaya... "
Dimitri menarik sebelah ujung bibirnya keatas.
"Terus sebelum balapan, kamu pergi dengan anak itu...?"
"Yang mana? Oh, ... sama Galang? dia sih bukan orang asing, aku kenal dia sejak TK, jadi ya nggak apa-apa."
Pria muda itu menarik ujung bibirnya semakin tinggi.
"Nggak usah gitu pak, bapak jadi jelek."
"Hum?"
"Senyum aja, apalagi kalau bapak nggak ngomel-ngomel kaya gini, gantengnya nambah berkali-kali lipat." ucap Rania sekenanya, membuat Dimitri terdiam.
"Ran?" suara Angga memanggilnya dari kejauhan. Pria itu tampak menggendikan kepala saat putrinya menoleh.
"Pergi dulu pak. Sampai ketemu di Sepang." pamit Rania.
"Sepang?"
"Hu'um,... abis ini balapan di Sepang kan? bapak nonton lagi?" Rania berjalan mundur.
"Tidak tahu, pekerjaan saya banyak."
"Ah, ... iya lupa." gadis itu terkekeh.
"Ya udah, aku pergi dulu. Jangan marah-marah terus, apalagi sampai ngomel-ngomel." ucap Rania lagi, lalu tergelak.
"Fighting!!" katanya, dan dia segera berlari ke arah sang ayah yang sudah menunggu di dekat mobil mereka. Dan Dimitri menatap mereka hingga menghilang dibalik gerbang, dengan perasaan yang tidak bisa dia jabarkan dengan kata-kata.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
terus apa ya? duh aku bingung ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
like komen dan hadiah selalu ditunggu gaess...