
🌹
🌹
WARNING!!
Bijaklah memilih bacaan!!
Episode ini mengandung anu, untuk para jomblo apalagi bocil disarankan untuk di skip aja, takutnya kalian baper plus penasaran. Tapi kalau nekad jangan salahkan emak ya? udah di warning lho ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Petir dan kilat menyambar di langit, mengiringi hujan yang turun deras disertai angin yang cukup kencang diluar sana. Sementara dua sejoli di dalam bangunan yang tidak terlalu luas tengah asyik bercumbu mesra.
Pakaian mereka sudah berserakan dilantai, ditengah ruangan yang sudah menggelap. Suara decapan yang berlomba dengan dengusan napas semakin terdengar nyaring ditengah gemuruhnya badai.
Kedua tangan mereka saling membelai dan menyusuri setiap lekuk tubuh masing-masing. Menyentuh dengan penuh hasrat dan kerinduan yang menggebu-gebu. Dan suhu udara semakin menghangat seiring bertambah panasnya pula cumbuan mereka berdua.
Dimitri meremat bokong Rania yang berada diatas pangkuannya, mencoba mensejajarkan inti tubuh mereka berdua. Perlahan dia menurunkannya, lalu menekannya hingga alat tempurnya melesak seluruhnya pada perempuan itu.
"Ahh!!" Rania hampir berteriak, lalu dia mengatur napasnya seraya menempelkan keningnya pada Dimitri. Kemudian dia mengerang saat pria itu kembali meremat bokongnya dan menggerakannya dengan perlahan.
"Move it Zai!" Dimitri berbisik, diapun sama-sama berusaha mengendalikan napas yang mulai tak beraturan.
Rania melakukan apa yang dia minta. Menggerakan pinggulnya secara perlahan dan hati-hati, namun membuat Dimitri merasa gemas dan tak sabar.
Dia terus menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu, hingga ke bagian yang paling sensitif. Sehingga Rania merasa frustasi. Perempuan itu mengeratkan pegangan tangannya pada pundak Dimitri, sementara pinggulnya bergerak lebih cepat.
Des*han dan erangan kian mengudara, mengisi keheningan bangunan di belakang kediaman Satria itu. Berlomba dengan badai yang semakin bergemuruh.
Keduanya telah kehilangan akal, dan membiarkan diri mereka tenggelam dalam lautan hasrat yang semakin menggelora. Yang sama-sama meluluh lantakan amarah yang sebelumnya sempat membelenggu.
Kursi malas yang menjadi saksi bisu pun bergetar hebat, ketika dua orang diatasnya yang semakin menggila.
Dimitri menghentikan Rania yang tengah berpacu diatasnya, membuat perempuan itu merasa sedikit kecewa karena dia hampir saja mendapatkan pelepasannya. Dia mendorongnya hingga pertautan tubuh mereka terlepas begitu saja.
Namun Dimitri menyeringai seraya turun dari kursi, kemudian membuat Rania membelakanginya. Dia menekan punggung perempuan itu sehingga dia menunduk.
"Hnggg!" Rania mengerang begitu naga ajaibnya menerobos dari belakang. Benda itu terasa lebih memenuhi inti tubuhnya dengan posisi seperti itu.
"Egh!!" des*hnya lagi saat Dimitri mulai bergerak, dan dia memegangi pinggulnya, sesekali merematnya dengan gerakan sensual sehingga Rania merasakan hasratnya kembali menggila.
"Oh sayang!" Racaunya setiap kali Dimitri mendorong bagian bawah tubuhnya, dan membuat si naga ajaib terbenam seluruhnya. Dia berpegangan erat pada pinggiran kursi untuk menahan dirinya agar tak terjatuh. Sementara Dimitri menggeram sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras. Dia berusaha untuk melakukannya selembut mungkin, merasa takut akan menyakiti perempuan itu yang tengah mengandung buah hati mereka.
Namum suara des*han dan erangan Rania yang terdengar erotis membuatnya tak mampu bertahan lebih lama, yang akhirnya membuat dia menambah tempo hentakannya juga.
Dia berpacu lebih cepat, dan dengan terampilnya, kedua tangannya kembali menyentuh bagian tubuh perempuan itu yang dapat dia gapai. Dua bongkahan indahnya tentu saja menjadi yang paling lama dia sentuh. Dia merematnya dengan gemas, lalu mempermainkan puncaknya sesuka hati, membuat Rania semakin mengerang dan meracau, merasakan sensasi yang lebih gila dari apa yang pernah mereka alami sebelumnya.
"Hmmm ... sayang!!" erangnya dengan kepala yang terdongak ke atas. Kedua matanya terpejam dengan napas yang tersengal-sengal. Pelepasan hampir tiba di ujung, namun dia berusaha menahannya.
"Say it!" Dimitri berbisik, kemudian mengecup telinganya. Sebelah tangannya beralih mencengkeram dagu Rania, sementara tangan yang lainnya tetap bermain-main di pay*daranya.
"Say it!" bibir dan ujung hidungnya menyusuri belakang telinga Rania hingga ke tengkuk dan punggungnya, dia tak melewatkan setiap jengkalpun bagian tubuh perempuan itu dari cumbuannya.
Rania terus mendes*h, dan meracau. Dia benar-benar sudah kehilangan akal, dan tak dapat lagi menahan diri. Tangannya sudah menggapai ke belakang, dan menemukam pinggul suaminya yang terus bergerak. Berpacu mengejar pelepasan yang hampir meledak.
Hingga setelah beberapa lama, ketika mereka sudah tak mampu lagi bertahan, dan segala rasa telah berkumpul menjadi satu, yang akhirnya melebur bersamaan dengan ledakan klim*ks yang begitu hebat menghantam keduanya.
🌹
🌹
"Kalian beneran mau pulang?" Sofia yang sibuk menata makanan di meja makannya pagi-pagi sekali.
"Iya." jawab Dimitri yang menyesap latte panas yang disiapkan ibunya.
"Padahal ini kan akhir pekan, menginap saja lah lagi." pinta perempuan itu kepada putranya.
"Lain kali Mom, ada yang harus aku selesaikan hari ini." Dimitri melirik ke arah Rania yang sudah asyik melahap sarapannya.
"Uh, ... rajin sekali kamu ini ya? hari libur juga masih tetap bekerja. Persis seperti papimu." Sofia menepuk kepala putranya pelan-pelan.
"Begitulah." Dimitri menggendikan bahu, sementara Satria terkekeh sambil menyesap teh herbal buatan istrinya.
"Maaf bu?" seorang asisten rumah tangga muncul beberapa saat kemudian.
"Ya?" Sofia menoleh.
"Jas ini nanti disatukan dengan cucian ibu atau disimpan di ruang loundry?"
"Apa?"
"Jasnya, yang ada di ruang kumpul ...
"Simpan ke kamarku saja, itu punyaku." Dimitri menyela. "Semalam aku lupa bawa ke kamar." ucapnya, yang memang melupakan benda tersebut sesaat setelah bergumul di bangunan itu bersama Rania semalam. Dan mereka masuk ke dalam kamar pada dini hari saat semua penghuni masih terlelap.
"Oh, ... baik pak." ucap gadis yang usianya tak kurang dari 20 tahunan itu, yang kemudian pergi setelahnya.
"Semalam kamu masuk kerumah jam berapa? Mama juga tidak ingat hujan berhenti jam berapa. Terlalu ngantuk." Sofia berujar.
"Entahlah, ... aku rasa tengah malam mungkin."
Rania tiba-tiba saja terbatuk.
"Makannya pelan-pelan Ran, stok makanan kita masih banyak, tidak usah takut kehabisan." Satria bereaksi.
"Hmmm ..." sang menantu meraih minumannya lalu meneguknya hingga hampir habis.
"Sepertinya kamu suka sekali makanan di rumah ini, dari kemarin makannya lahap terus." Sofia beralih kepadanya.
"I-iya, makanannya enak, aku suka." Rania menjawab.
"Memang, bu Lily belum ada yang bisa menandingi. Bahkan chef yang mama sewa sebagai guru masak saja tidak bisa menyamai dia."
"Wah, ... mama belajar masaknya sama chef?"
"Dulu, beberapa minggu. Tapi akhirnya belajar dengan bu Lily juga. Tahu begitu, mama tidak akan bayar chef mahal-mahal." perempuan itu tertawa.
"Nah Zai, kalau mau belajar masak kenapa tidak dengan bu Lily saja?" Dimitri menyela obrolan.
"Iya, nanti aku pikirin. Sementara mbak Lina juga cukup."
"Sudah belajar dengan Lina?"
"Udah mah."
"Sudah bisa apa?"
"Dadar telur sama oseng bayam."
"Hah?"
"Sekarang aku bisa ngasih garamnya sesuai lho."
"Sebelumnya?"
"Keasinan." lalu kedua perempuan itu tertawa.
"Memang ya, belajar masak itu susah-susah gampang."
"Hu'um, ..."
"Jangan menyerah, tetaplah belajar!" Sofia menyemangati.
"Walaupun lebih susah dari merakit mesin." Rania bergumam.
"Merakit mesin?" Satria menghentikan kegiantan makannya untuk sejenak.
"Menurut aku lebih gampang merakit mesin atau benerin mobil dari pada masak." Rania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Perempuan macam apa aku ini?" lanjut Rania masih dengan tawa yang sama.
"Setiap orang punya kemampuannya masing-masing. Tapi dengan belajar apapun akan bisa kita lakukan. Iyakan pih?" Sofia berujar.
"Ya, mungkin kemampuan kamu memang di mesin." Satria menjawab. "Tapi bagus juga kamu mau belajar hal lain." dan acara sarapan itu berlangsung hangat seperti biasa.
***
"Kerjaan kamu jadi terbengkalai gara-gara aku ya?" mereka kini dalam perjalanan pulang dati kediaman Satria.
"Tidak."
"Terus kenapa tadi bilangnya mau beresin kerjaan? padahal aku masih betah di rumah papi. Maunya sampai lusa aja nginep disana."
"Ada yang harus aku selesaikan."
"Apa?"
"Sesuatu."
"Apa itu?"
"Kesini lagi? masih ada reunian?" Rania menatap tak suka bangunan tidak terlalu tinggi itu, yang dia kenali sebagai tempat reuni Dimitri bersama teman-temannya dua malam yang lalu.
Hanya mau memastikan." jawab Dimitri setelah beberapa saat.
"Memastikan apa?"
Pria itu turun dari mobilnya, begitu juga Rania. Yang tertegun setelah melihat pemandangan di depannya.
Beberapa stiker sebesar pintu menempel di kaca bagian depan hotel dengan tulisan DISEGEL, ditambah dengan garis polisi sebagai penanda.
"Mereka sudah melakukannya." Dimitri menyandarkan bokongnya bagian depan mobilnya.
"Apa?"
"Sekarang mereka akan berpikir ulang untuk berbuat sesuatu. Tidak sembarangan mengganggu orang apalagi melecehkan perempuan." dia merangkul pundak Rania yang berada disampingnya.
"Maksud kamu?"
"Bukti rekaman cctv saat Bobby melecehkanmu sudah aku dapat. Juga bukti percakapannya dengan Reno yang aku dengar sendiri waktu aku mau meminta maaf kepadanya. Mereka jelas meremehkan kita Zai." jelas pria itu sambil menatap bangunan yang sudah di segel sejak kemarin. Bersamaan dengan di batalkannya kerjasana dengan Reno sebagai pemilik hotel tersebut.
Perlakuan mereka terhadap Rania tentunya bukan sesuatu yang bisa di tolelir, dan dia merasa harus melakukan sesuatu untuk membalasnya.
"Ya, Reno pemilik hotel ini, dan dia membiarkan pelecehan terjadi di dalam sana. Kepadaku saja dia berani, apalagi kepada orang lain."
"Dan kamu tutup hotelnya?"
"Iya."
"Kok bisa?"
"Bisa lah,"
"Padahal orangnya udah aku hajar, kenapa hotel orang juga kamu tutup?"
"Sementara."
"Tapi kasihan karyawannya, mereka nganggur."
"Tidak perlu kasihan. Mereka sedang liburan."
"Liburan?"
"Sampai hotelnya resmi jadi milikku."
"Apa?"
Dimitri menggerakan alisnya keatas.
"Mereka akan kembali bekerja begitu pembayaran aku selesaikan dan notaris selesai mengubah kepemilikannya atas namaku." dia dengan senyum lebarnya.
"Kamu gila!"
"Dari pada aku minta papi untuk memerintahkan orang meratakan hotel ini dengan tanah, lebih baik aku beli. Kan lumayan untuk investasi."
"Astaga! mata duitan!" Rania menepuk keningnya sendiri.
"Pemanfaatan lahan."
"Padahal duit kamu udah banyak."
Kemudian Dimitri tertawa.
"Beneran kan yang aku bilang? temen kamu itu nggak bener."
"Iya, aku kira sekarang mereka baik, tahunya ...
"Kamu sendiri yang bilang kalau apa yang kita lihat itu mungkin bukan yang sebenarnya, tapi kamu malah tertipu sendiri? Emang o*n beneran kamu mah?"
"Astaga, jangan sebut aku o*n terus Zai!"
"Emang kenyataannya gitu kok."
"O*n-o*n begini juga kamu sayang aku."
"Dih, kegeeran."
"Semalam kamu bilang begitu."
"Iya gitu? masa? aku lupa. Salah ngomong kali?"
"Aku mendegarnya dengan jelas Zai."
"Hmmm ..." Rania mencebikan mulutnya.
"Tanya saja reader, mereka pasti masih ingat."
"Nggak usah bawa-bawa reader, mereka tetap ngakak ngetawain kamu."
"Biar di tertawakan juga mereka sayang aku." Dimitri menoleh, lalu mengedip ke arah reader yang sedang serius menyimak percakapan yang mulai absud itu.
"Makin kepedean."
"Pede itu bagus."
"Serah kamu lah, aku pusing." Rania kembali kedalam mobil mereka.
"Kamu tidak mau mampir?" Dimitri mengikutinya.
"Mampir kemana?"
"Ke hotel."
"Mau apa?"
"Menyiram benih polong?"
Rania terdiam, sementara Dimitri tersenyum jahil.
"Nyiram benihnya di rumah aja."
"Tidak mau di hotel?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Sekalian mau coba baju dari mama." Rania menoleh paperbag yang tadi diberikan Sofia sesaat sebelum mereka pergi.
"Baju apa?"
"Seragam."
"Seragam?"
"Seragam anu."
"Hah?"
"Cepet! kamu nggak mau lihat aku pakai seragamnya?" Rania menepuk pundak pria itu.
"Kenapa tidak mencobanya di hotel saja?"
"Aku maunya dirumah. Babynya mau aku nyoba seragamnya di rumah."
"Apa hubungannya dengan baby?"
"Karena itu seragam untuk menyiram baby, eh salah ... polong." Rania tertawa.
"What?"
"Hmm ..." perempuan itu menganggukan kepala sambil berkedip.
Dimitri menelan ludahnya kasar ketika otaknya berhasil mencerna apa yang baru saja perempuan itu ucapkan.
"Papi nggak ngerti ya? kayaknya harus dilihatin nih." dia bermaksud meraih benda di belakang jok mobil.
"Eh, ... tidak usah. Oke kita pulang." Dimitri segera memacu mobilnya dari area tersebut.
"Soal nyiram benih aja cepet?" Rania bergumam pelan.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
😮😮😮