
🌹
🌹
Amara baru saja akan masuk, dengan kotak makanan di tangannya yang dia bawa dari rumah. Namun suara tawa dari dalam ruang perawatan Dimitri membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
Dia melihat dari celah pintu yang terbuka sedikit, kedua orang itu tengah bercengkerama, bercanda dan tertawa.
Rania bahkan berbaring bersama Dimitri di tempat tidurnya, dan pria itu yang memeluknya dengan wajahnya yang tersuruk di ceruk lehernya dengan nyaman.
"Aku mau pulang, tempat ini membuatku mual." Dimitri berbicara.
"Besok." ucap Rania yang membiarkan pria itu terus menempel kepadanya sejak pagi.
"Padahal aku tidak apa-apa."
"Nurut aja kenapa sih? biar semua orang nggak khawatir." Rania menatap wajah suaminya yang masih teelihat bekas luka kecil di pelipis dan lebam di wajahnya, mungkin akibat bentutan ketika pesawatnya terjatuh.
"Iya, tapi kan aku nggak apa-apa. Istirahat di rumah sepertinya akan lebih baik. Tiba-tiba saja aku jadi sangat rindu rumah kita." jawab Dimitri sambil mendelik.
"Nggak yakin kalau di rumah bakalan istirahat."
"Hum?"
"Yang ada malah modus terus."
Pria itu menyeringai.
"Itu tahu?" katanya, kemudian tertawa.
"Nah kan? makanya kalau bisa di sini dulu deh seminggu lagi, biar kamu bener-bener istirahat."
"Apa? bercanda ya?"
"Ya dari pada istirahatnya nanti nggak bener?"
"Memangnya kamu tidak merindukan aku?" Dimitri membenamkan wajahnya lebih dalam.
"Nggak."
"Spontan."
"Ngapain kangen orang nyebelin kayak kamu? huh, buang-buang waktu!" perempuan itu membual. Meski pada kenyataannya rasa rindu itulah yang paling menguasai seluruh jiwa dan raganya.
Namun ucapannya tersebut membuat Dimitri tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tidak pandai berbohong, Zai."
Rania hanya mencebik.
"Kalau memang tidak rindu, lalu kenapa kamu menangis waktu kita bertemu kemarin?"
"Aku kesel tahu!" jawab Rania, sekenanya. Dia tak ingin mengakui perasaan itu hanya karena tak ingin membuat suaminya besar kepala.
"Kesal karena aku?"
"Iya."
"Kamu bohong. Kamu benar-benar merindukan aku kan? terlebih lagi kamu sangat mengkhawatirkan aku, itu sebabnya kamu sampai menangis." pria itu dengan perasaannya yang meletup-letup.
Dia tentu saja merasa senang mengetahui hal tersebut. Meski Rania tak mau mengakui perasaannya, tapi Dimitri tahu apa yang perempuan itu rasakan.
"Dih, kegeeran." cibir Rania.
"Ayolah, mengaku saja, tidak apa-apa. Aku senang kalau memang kenyataannya begitu." Dimitri menggodanya.
"Nggak ada, apaan? kegeeran kamu!"
"Ayolah, ... jangan pendam perasaanmu. Tidak baik ibu hamil memendam perasaan sendirian. Tidak baik untuk janin." dia mengusap-usap perut perempuan itu yang sudah membuncit, dan kini terlihat lebih besar, tanda dua bayi di dslam tumbuh dengan baik. Meski berkali-kali mengalami peristiwa yang cukup menegangkan.
"Masa?"
"Serius." pria itu menggerak-gerakan alisnya ke atas dan ke bawah dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum.
"Kamu aneh."
"Nggak apa-apa, hanya di depan kamu aku bertingkah seperti ini." dia menempelkan kening mereka berdua.
"Gombal."
"Nggak apa-apa, aku gombal kepada istriku sendiri. Bayangkan kalau aku gombal kepada istri orang."
"Awas aja ya? aku tambah lebamnya nanti." Rania mengangkat tangannya yang terkepal di depan wajah suaminya.
"Ampun, aku nggak berani Bu." Dimitri kembali menyurukkan wajahnya di pundak Rania, pura-pura bersembunyi.
"Ayolah, minta dokter untuk mengijinkan aku pulang." pria itu terus merengek.
"Udah di bilangin besok!"
"Tapi aku maunya sekarang."
"Besok."
"Sekarang, Zai."
"Sabar sedikit kenapa? nggak ingat ya, karena ketidak sabaran kamu membuat kalian hampir kehilangan nyawa?" Rania mengingatkan keterangan Andra kepada ayahnya.
"Aku kan cuma mau pulang."
"Iya, besok. Setelah dokter yakin kamu baik-baik aja. Kenapa sih nggak mau dengerin orang? kan demi keselamatan kamu juga. Kalau terjadi apa-apa lagi gimana coba? aku harus gimana?" Rania dengan matanya yang berkaca-kaca.
Pria itu terdiam.
"Udah, istirahat sana, tidur! kalau udah waktunya pulang juga pasti pulang."
"Tapi Zai ...
"Jangan ngeyel!" Dimitri bungkam seketika.
***
"Hey, jangan ngintip! nanti bintitan lho." Galang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri Amara yang berdiri di depan pintu ruang perawatan Dimitri.
"Kakak bikin aku kaget!" Amara menepuk lengannya dengan keras.
"Lagian ngapain sih kamu pakai ngintip segala? kalau ketahuan bisa dibikin malu tahu!" Galang menariknya dari depan pintu.
"Mereka lucu." gadis itu tertawa.
"Lucunya sebelah mana?"
Amara terdiam, mengingat kembali apa yang sudah terjadi di antara mereka. Dan hal yang terjadi barusan membuktikan banyak hal, setidaknya untuk dirinya sendiri. Bahwa kak Dimnya baik-baik saja. Dan kini dia yakin dia aka selalu bahagia, karena sudah bersama orang yang tepat.
"Malah melamun?" Galang melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Umm ... tadinya aku mau ngantar makanan, tapi kayaknya mereka nggak butuh." Amara menangangkat tote bag di tangannya.
"Nggak usah, mereka kalau udah ketemu nggak akan ingat apa-apa." pemuda itu merebut benda tersebut dari Amara.
"Aku aja yang makan, boleh? dari semalam lupa."
"Astaga, aku malah lupa sama kakak."
"Iyalah, mikirin orang lain terus, ya lupa." sindir Galang.
"Nggak gitu ih, kan tahu keadaannya kayak gimana."
"Tapi buktinya udah nggak apa-apa kan? jadi kenapa harus menghkawatirkan orang lain terus?"
Amara tak menyanggah, karena memang begitulah keadaannya.
"Mau di sini terus? kalau aku sih mau makan dulu lah." ucap Galang seraya mundur dua langkah kemudian memutar tubuh. Lalu dia berjalan keluar.
Amara segera berlari mengikutinya, dan tanpa banyak bicara dia meraih tangan Galang dan menautkan jari mereka berdua.
"Maaf, mulai sekarang aku nggak akan gitu lagi." ujar Amara.
"Ya jangan, ..." jawab Galang, lalu mereka tersenyum.
🌹
🌹
"Pokoknya sampai Rania melahirkan mama larang kalian pulang dari sini." Sofia menegaskan, setelah perjamuan makan yang di hadiri oleh seluruh keluarga, dan dua pilot juga crew pesawat yang tempo hari mengalami kecelakaan bersama putranya minggu lalu.
"Kok begitu?" Dimitri bereaksi.
"Pokoknya jangan membantah. Mama khawatir kalau ingat Rania sendirian di rumah. Pekerjaan kamu kan banyak."
"Tapi kan sayang, rumahku sudah terlalu lama kosong." Dimitri bermaksud menolak.
"Tidak apa-apa, nanti setelah anak kalian lahir juga tidak kosong lagi."
"Masih lama, Mom."
"Cuma beberapa bulan lagi, dan selama itu biarkan Rania tinggal di sini. Kalau kamu mau pulang ke rumah ya, silahkan."
"Masa begitu? tidak bisa lah!" Dimitri mendebat sang ibu.
"Ya makanya, tinggal dulu di sini sampai Rania melahirkan. Biar pikiran mama mu ini tenang kalau kalian ada di sini."
"Tapi kan ...
"Turuti saja mamamu , Dim. Tidak usah membantah." Satria menyela. Sudah di pastikan titah ibu ratu tidak akan bisa di tolak. Perempuan itu akan menggunakan berbagai macam alasan untuk mewujudkan keinginannya.
"Kamu mau tinggal di sini dulu?" lalu dia bertanya kepada Rania.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kayaknya tinggal di sini juga bagus."
"What?" jawaban yang tak Dimitri harapkan sebenarnya. Karena dia mengira perempuan itu akan menolak dan mengajaknya pulang ke rumah mereka.
"Banyak orang juga, kan aku jadi ada temen." lanjut Rania.
"Kamu serius?"
"Iyalah. Tadinya mau ke Bandung sih ikut mama sama papa pulang, tapi ...
"No way!" gumam Dimitri.
"Ya makanya, ...
"Haih, ...
"Kan aku kesepian, nggak ada temen ngobrol, nggak ada kegiatan juga, masa cuma nungguin kamu pulang kerja doang?"
"Baiklah, baik. Dari pada kamu ikut ke Bandung." akhirnya Dimitri mengalah.
Rania melirik kepada Sofia, kemudian tersenyum sekilas. Dan di balas oleh sang ibu mertua dengan sedikit menggerakan alisnya.
***
"Baiklah, papa sama mama harus pulang. Kasihan adik-adik kamu terlalu lama di tinggal sama kakek." mereka sudah berada di teras depan, bersiap untuk pulang.
"Tapi nanti tengokin aku terus ya?" Rania mengantar kedua orang tuanya hingga ke depan mobil.
"Kayaknya kebalik deh?"Angga mengerutkan dahi.
"Kan sambil nengokin Rega di wisma atlit?"
"Ah, paling dua minggu sekali."
"Ya sekalian mampir ke sini lah."
"Malu sama mertua kamu kalau sering mampir." Angga sedikit berbisik.
"Ngapain malu? mama sama papi kayaknya seneng kalau ada yang berkunjung."
"Papa yang malu."
"Dih, biasanya juga malu-maluin?"
"Sembarangan!" Angga menepuk kening putrinya dengan kepalan tangannya.
"Aduh, papa jangan gitu! aku kan udah punya suami, masa papa masih gitu sama aku?" protes Rania sambil mengusap keningnya.
"Punya suami tapi kelakuannya masih aja, ..." Angga dengan gemas.
"Udah ih, kalian kebiasaan kalau ketemu?" Maharani melerai ayah dan anak ini yang memang selalu berdebat setiap kali mereka bertemu.
"Kamu ingat Ran, jangan samakan keadaannya seperti sebelum menikah. Apa lagi kalian mau punya anak. Jangan apa-apa pakai emosi." dia beralih kepada putrinya.
"Iya mama."
"Jangan cuma iya iya doang, tapi praktekin." sahut Angga.
"Iya, apa lagi kamu tinggal sama mertua juga. Minimal nurutlah sama suami." lanjut sang ibu.
"Ini juga udah nurut kan?"
"Di nasehatin bantah terus nih anak." Angga menggerutu.
"Intinya, jangan kayak kemarin lah. Kamu rasakan sendiri kan gimana?"
"Iya, mama." perempuan itu mengangguk.
"Ya udah, mama sama papa pamit, baik-baik di rumah mertua ya? jangan bikin onar." ucap Maharani, kemudian masuk ke dalam mobil.
"Dih?"
"Ingat oneng, jangan bikin onar." Angga tergelak, sementara Rania mencebikkan mulutnya.
"Pergi dulu, Dim. Titip Rania ya?" Maharani kepada menantunya sebelum pergi.
"Iya ma." jawab Dimitri. Dan dia menatap kepergian mertuanya hingga mobil suv yang mereka tumpangi menghilang dibalik gerbang.
🌹
🌹
"Kamu belum mau masuk?" Dimitri menghampiri Rania yang masih betah duduk di balkon menikmati suasana malam yang cukup sepi.
Entah, mungkin karena rumah itu yang cukup besar menjadikannya terasa hening begitu malam menjelang dan semua orang kembali ke peraduan mereka. Hanya dua penjaga keamanan saja yang terlihat mondar mandir di sekitar bangunan.
"Sebentar lagi."
"Katanya ibu hamil nggak boleh ada di luar kalau jam segini."
"Mitos."
"Serius. Nanti ada yang mendekati."
"Iya, kamu yang deketinnya." Rania tergelak.
"Zai, ...
"Canda mitos." perempuan itu menarik lengan Dimitri sehingga suaminya itu duduk di dekatnya.
"Sejak kapan kamu percaya hal-hal nggak logis kayak gitu?"
"Entahlah, hal nggak logis pun jadi terasa masuk akal sekarang." dia merangkul pundak Rania dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"Papi, mulai berubah ya sekarang?" Rania mengusap-usap dada pria itu dengan lembut.
"Aku rasa perubahan itu perlu jika bisa membuat keadaan menjadi lebih baik."
"Bener juga." Rania tersenyum.
"Dan apakah kamu juga akan berubah?"
"Kamu mau aku berubah?"
Dimitri terdiam.
"Apa aku perlu berubah?"
"Terserah kamu. selama kamu nyaman dengan itu, dan tidak membuatmu merasa terbebani apa salahnya? tapi jika kamu tidak nyaman ya tidak usah."
"Baiklah." lalu Rania memeluk pundak pria itu seraya menyurukkan wajah di dadanya.
"Aku merasa di sini mulai dingin ya?" Dimitri mengeratkan pelukannya.
"Hu'um, lumayan." Rania menganggukkan kepala.
"Apa kamu mau masuk?"
"Iya."
"Baiklah, ayo?" Dimitri hampir saja bangkit, namun Rania menahannya.
"What?"
"Gendong!"
"Gendong?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Berat tahu, kalian kan bertiga."
"Masih kecil-kecil, papi."
"Tetap saja, ..." katanya, namun tak urung juga dia menuruti keinginan Rania.
Mengangkatnya dari sofa dan membawanya ke dalam kamar mereka. Yang segera menjadi tempat di mana percintaan kembali terjadi untuk pertama kalinya setelah sekian lama sempat terjeda karena beberapa kejadian.
Di mana keduanya kembali saling merasakan sentuhan, dan saling mengungkapkan perasaan masing-masing lewat cumbuan yang begitu mesra. Yang mengiringi pertautan jiwa dan raga, yang semakin menguatkan perasaan mereka hingga tak ada apa pun lagi yang dapat memisahkan keduanya. Terutama dengan kehadiran dua makhluk mungil yang kini tengah tumbuh di rahim Rania. Yang akan semakin mengeratkan ikatan di antara keduanya, dan memperkuat jalinan kasih yang memang sudah tertaut sebelumnya.
🌹
🌹
🌹
TAMAT.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih, kita sudah ada di ujung cerita. Semoga kalian tidak kecewa, maaf jika tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Setiap like, komen, hadiah juga vote sangat berarti. Terimakasih untuk semua yang sudah kalian berikan.
See u di cerita selanjutnya.
lope lope sekebon cabe. 😘😘