All About You

All About You
AAY 4 : Kepastian



Sinar matahari menembus tirai jendela, cuaca cerah menyambut pagi. Gisella yang sudah berganti baju tengah menyeruput lemon hangat di balkon kamarnya. Kondisinya sudah membaik walaupun suaranya masih serak. Ia menyentuh area lehernya lalu beralih pada jari manisnya. Cincin berlapis emas putih. Gisella kemudian berbalik, Ryan masih tertidur, entah sejak kapan laki-laki itu pulang tapi, kehadirannya ternyata memiliki sedikit efek nyaman dihatinya. Ia mendekat, menatap wajah Ryan lekat-lekat lalu perlahan melepaskan cincin dari jarinya.


Gisella meninggalkan laki-laki itu, dan keluar menemui Victoria. Wanita itu tersenyum, "Bagaimana keadaanmu?"


"Aku sudah lebih baik. Terimakasih untuk air lemonnya." Jawab Gisella dengan suara sedikit parau.


"Apa kau mau sarapan?"


"Sebentar lagi. Kapan Ryan pulang?"


"Sekitar jam 2 Pagi," Gisella mengangguk paham.


"Bagaimana jadwalku hari ini?"


"Kau tidak punya jadwal hari ini. Aku ingin kau libur hari ini. Berisitirahatlah." Ryan datang masih menggunakan piyama. Ia memperlihatkan sebuah cincin pada Gisella, "Kenapa kau melepaskannya?"


Victoria memberi kode pada pelayan lainnya untuk meninggalkan mereka berdua.


"Bukankah ini yang kau inginkan?" Tanya Ryan sekali lagi.


Gisella menatap Ryan malas, "Menurutmu bagaimana? Kau memberikanku jadwal belajar yang padat, tidak mengabariku sama sekali, dan tiba-tiba datang menyematkan cincin. Disaat aku sakit? Apa menurutmu itu tidak keterlaluan?" Ia menarik nafasnya dan menetralkan suaranya.


Ryan mengelus kepala gadis itu lembut, "Tenangkan dirimu, Gisella, jangan memaksakan suaramu. Kau masih terlalu lelah"


Gisella menepis tangan Ryan. "Bagaimana, jika aku tidak sakit? Apakah kau akan pulang? Ah iya, satu lagi. Kenapa orang yang mengaku tunanganku bahkan sama sekali tidak tau kalau aku alergi udang?"


Ryan terdiam, ini kesalahan paling fatal. Ternyata membuat rekayasa tipuan pada gadis ini begitu sulit. Itu adalah pengetahuan dasar yang harusnya diketahui pasangan masing-masing, tidak hanya kelebihan tapi juga kelemahan pasangan. Dan... Ryan gagal di pengetahuan dasar tersebut.


Gisella tersenyum remeh. "Sudahlah lupakan. Karena, aku tidak ingat apapun, mungkin bisa jadi aku tahananmu atau aku punya utang, atau orangtuaku menjualku padamu? ah.. atau, kau sedang berpura-pura baik padaku untuk menebus kesalahanmu?" Ryan langsung menatap beku ke arah Gisella, "Entahlah, semakin aku pikirkan, semakin gila. Yang pasti, kau dan aku tidak dalam ikatan apapun, aku berani taruhan untuk itu." Jelasnya tegas.


"Lalu, apa yang sebenarnya kau mau? Kau ingin aku menceritakan masa lalumu? Apa kau akan percaya padaku? Lalu, jika kau tidak bisa menerima kenyataan saat mendengar ceritaku apa rencanamu?" Tanya Ryan tak kalah tegas.


"Kenapa kau berfikir aku tidak bisa?"


"Iya. Aku yakin kau tidak sanggup menahannya." Laki-laki itu mendekap bahu Gisella, "Tidak bisakah kau percaya padaku? Jangan pikirkan apa niatku menahanmu disini, siapa aku, siapa kau, apa hubungan kita, dan apa yang sedang aku rencanakan. Kau cukup percaya padaku. Kumohon, tidak bisakah kau menurut dan menungguku!"


Gisella membuang muka, tatapan memohon Ryan membuatnya goyang. "Aku...hanya butuh kepastian. Aku sudah bilang padamu, kalau aku akan menunggu saat kau siap menceritakan semuanya. Aku... hanya tidak suka diabaikan, dan didatangi saat aku sekarat," Jawabnya.


Ryan menangkup pipi gadis itu dan mengarahkannya lurus kearahnya. "Kau pemilik rumah ini, itu adalah fakta. Aku tidak berbohong untuk itu, jangan pikirkan apapun dan istirahatlah."


"Lupakan," Gisella langsung melengos pergi. Pipinya memanas saat bertatap dekat dengan Ryan. Kepergian Gisella menjadi PR besar untuk Ryan. Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar, untuk sekarang hanya ini yang bisa ia lakukan.


"Makanya, berhentilah bekerja keras dan belajarlah cara memahami wanita" Suara Wildan yang datang tiba-tiba mengejutkan Ryan.


"Kapan kau datang?"


"Barusan"


Ryan menatap temannya itu tak senang. "Jangan mengejekku disaat kau juga tidak paham wanita. Apa kau pernah berkencan?" Wildan terdiam, mengalihkan pandangan "Tentu saja tidak!" Ryan menepuk pundak Wildan ikut perihatin.


"Apa rencanamu selanjutnya? Jika aku jadi Gisella, mungkin aku akan minggat" tuturnya


"Maksudmu?"


"Tentu saja, Gisella bosan. Kerjaannya hanya belajar, belajar dan belajar. Aku cukup terkesan kau mampu membujuknya, tidak heran kalau kau masuk 10 besar CEO paling berpengaruh se-Asia."


"Apa ini pujian?"


"Tentu saja... hinaan,"


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Aku tidak tahu. Bukankah kau yang mengatakan sendiri kalau aku juga payah mengurus wanita?" Ujarnya santai lalu berbalik.


"Aiish,, apa dia sudah waktunya aku pecat?" gumamnya kesal.


Tiba-tiba Gisella datang kembali dan membuat keduanya melangkah mundur secara otomatis. "Ada apa?" Tanya Ryan. Wanita itu tak menjawab, mengambil cangkir tehnya, kemudian pergi.


"Apa dulu tempramennya buruk?" bisik Wildan. Ryan menggeleng. "Tempramennya tidak buruk, dia type jiwa yang bebas!"


"Bagaimana kau tau?" tanya Ryan dengan nada tak terima


"Saat kau menyuruhku memberikan voucher hotel dan liburan gratis, dia punya banyaaaaakkk sekali rencana liburan!" Jawab Wildan. "Aku yakin, jika kau mengajaknya ke Paris atau London, kau akan langsung bangkrut" lanjutnya. Ryan hanya mengangguk lemah.


***********


"Sebuah ledakan terjadi di sebuah restoran daerah Gangnam ini sekitar 2:30 dini hari. Pemadam kebakaran telah datang untuk memadamkan api. Kami mendapatkan identitas beberapa korban. Nama-nama korban adalah sebagai berikut Dari 25 tahun Felisnia, 25 tahun Delista," Gilang dan Hera berdiri saat mendengar nama yang sudah tidak asing. Laki-laki itu membeku, meyakinkan diri bahwa nama itu bukan orang yang dia kenal.


"23 tahun Resnia, 43 tahun Fakhrul. Ledakan menyebabkan kaca gedung-gedung sekitar ikut hancur, bangunan lain juga ikut terkena dampaknya. Orang-orang sekitar yang melihat kejadian mengatakan bahwa sebelum ledakan terjadi, mereka mencium adanya bau gas yang kuat. Polisi saat ini masih menyelidiki kasus ini."


'Tring... Triing' Bunyi telfon rumah membuat wajah Gilang kian memucat.


"Akan aku angkat telfonnya," Ujar Hera menawarkan diri. Namun, Gilang menahannya dan maju menerima telfon.


"Hallo"


'.........'


Tangan Gilang melemah, tubuhnya langsung terduduk lemah.


"Ada apa? berita itu.... tidak benar kan?" Gilang tak menjawab, ia menutup mata lalu menangis, "Suamiku! ada apa! Restii!!"


Gadis yang namanya dipanggil itu, kemudian keluar dengan mengenakan setelan pramugarinya. "Ada apa pagi-pagi sudah menimbulkan keributan?"


"Aku akan pergi memastikannya. Itu... bukan Delista, aku yakin itu!" Ucap Gilang, nadanya terdengar putus asa membuat Resti heran.


"Harus kubilang berapa kali, jangan menyebut na..."


"TUTUP MULUTMU!!" Gilang menyentak kuat, lalu berdiri menatap putrinya, "Berdoalah bahwa berita itu tidak benar. Atau... aku tidak akan memaafkanmu!" selesai mengucapkan hal itu, Gilang langsung pergi.


Resti langsung menoleh ke Ibunya meminta penjelasan. "Apa yang terjadi? kenapa Ayah begitu marah? Mungkin rasa cintanya pada Ibu sudah berkurang" Ujarnya tak acuh.


"Delista..."


"Ibu!!"


"Dia mati!"


Resti yang hendak duduk untuk sarapan terhenti, "Apa? Barusan Ibu bilang apa? Delista? Anak itu... mati?"


"Ibu akan menyusul Ayahmu, nikmati sarapanmu. Nanti Ibu kabari!" Hera segera melepaskan celemeknya dan menyusul sang suami, meninggalkan Resti yang terdiam membeku. Tangannya gemetar mencoba meraih sumpit, rahangnya mengeras dan ia kesulitan menelan ludahnya.


Ponselnya berdering saling bersahutan, notif pesan grup digambarkan karna berita ini.


********


Disisi lain, Gisella yang hendak turun mengambil bajunya harus terhenti ketika melihat para pelayan berkerumunan di bawah tangga.


"Ada apa ini? kenapa kalian berkerumunan?"


Para pelayan itu terkejut, salah satu dari mereka menyingkirkan ponselnya. Melihat tingkah mereka yang aneh, Gisella semakin penasaran.


"Apa yang kalian lihat barusan? Tidak bisakah aku tau juga?"


"Ini bukan apa-apa Nyonya," Jawab salah satunya. Gisella tak menyerah, ia mengulurkan tangannya meminta ponsel.


"Berikan padaku,"


*******


Ryan tengah memijat kepalanya setelah membaca artikel terkait nama Delista. "Kenapa begitu banyak artikel tentangnya di waktu dekat?"


"Saat kita membawanya, barang-barang miliknya kita tinggal dan mungkin diambil oleh orang lain. Jadi, mayat itu bukan Delista"


"Tentu saja bukan, kalau mayat ini benar-benar Delista. Lalu apa menurutmu wanita dirumahku ini adalah arwahnya?" ujarnya kesal.


"Lalu... apa langkah selanjutnya? untungnya dia tidak melihat TV atau memegang ponsel...."


'Braakkk!!' suara Wildan terputus karna pintu yang di dobrak tiba-tiba.


"Apa ini!!" Gisella langsung masuk tanpa permisi, gadis itu mengarahkan ponselnya tepat di depan wajah Ryan, "Bukankah ini wajahku? Kenapa aku dinyatakan meninggal hari ini? Aku Pramugari? namaku bukan Gisella tapi Delista? Berita omong kosong apa ini!"


"Pon....ponsel siapa yang kau pegang?" Tanya Ryan, laki-laki itu berusaha terlihat tenang.


"Apa itu penting sekarang? Jelaskan padaku, kenapa wajahku bisa disini!" Nada Gisella meninggi dan menatap tajam lawan bicaranya, ia menelan ludah berkali-kali untuk menetralkan suaranya.


"Jangan memaksa suaramu Gisella, pita suaramu bisa rusak" pinta Ryan memohon.


"Jelaskan padaku....sekarang!"


**************


Petugas kepolisian mengeluarkan jenazah yang diduga Delista, lalu membuka kain penutup. Hera kaget langsung memalingkan wajahnya, sedangkan Gilang hanya menutup mata memohon supaya apa yang ia lihat hanya sekedar mimpi.


"Maafkan kami, keadaan jenazah tidak bisa dikenali sama sekali." Ujar salah satu petugas.


"Bagaimana aku bisa yakin....kalau ini putriku?" Tanya Gilang. Petugas lain yang baru datang memberikan tas dan koper yang mereka temukan.


"Apa ini milik anakmu? kami juga menemukan ini" Petugas itu memperlihatkan tanda pengenal, passport, dan lencana pramugari milik Delista. Gilang membeku, ia tidak mau percaya tentang hal ini.


"Bukan...bukann...ini bukan Delista...bukan!!" Laki-laki itu tiba-tiba meraung lalu menangis, meratapi kepergian putrinya. "Pasti ada yang salah...bukan.. dia bukan putriku.."


Resti melihat semuanya dari luar ruangan hanya bisa menutup mulutnya, ekspresi terkejutnya dan sama sekali tak menduga gadis itu benar-benar mati karenanya.


"Kenapa... kenapa dia pergi semudah itu?" lirihnya.


**********


Gisella menatap lurus Ryan, laki-laki itu menghela nafas, "Bisakah kau tidak menatapku seperti itu? Kau terlihat seakan-akan kau akan memakanku"


"Cepat katakan padaku!"


"Apa kau akan mempercayaiku?"


"Aku harus dengar dulu. Percaya atau tidak, itu keputusanku."


Ryan menarik nafasnya lalu menghembuskannya keras, "Itu benar. Kau adalah Delista dan kau seorang pramugari. Kau yang bilang sendiri kan, kalau kau asing dengan apa yang kau pelajari? Itu karena pelajaranmu tentang bagaimana melayani para penumpang pesawat, bukan pelajaran manajemen bisnis!"


"Lalu? kenapa aku bisa disini dengan nama Gisella? dan siapa yang membawa identitas Delista itu?"


Ryan menatap ragu, "Aku menyelamatkanmu dari kecelakaan. Kau kehilangan ingatan dan aku memberikan nama baru untukmu. soal barang-barangmu, aku meninggalkannya dan mungkin ada orang lain yang mengambilnya."


Gisella menelan air liurnya, "Kenapa? kenapa kau lakukan itu untuk orang yang baru kau temui?"


"Mungkin kau tidak percaya ini, tapi kita pernah belibur bersama"


"Jangan berani berbohong ya,"


Laki-laki itu memberikan secarik foto pada Gisella, foto saat keduanya membuat Ramen. "Aku serius. Aku sedang dalam perjalanan bisnis ke Jepang, dan kau adalah pramugari yang melayaniku saat itu. Kita tidak sengaja bertemu, dan aku mengajakmu berkeliling bersamaku. Tentu saja dengan nama Delista"


Gadis itu menatap foto dirinya tersenyum manis memperlihatkan hasil ramennya bersama Ryan. "Lalu? kenapa kau membawaku bersamamu? harusnya kau membawaku ke keluargaku."


"Kau tidak punya keluarga."


"Tidak mungkin, Apa aku benar-benar tidak punya keluarga? maksudku, keluarga angkat, atau darimana aku berasal. Seorang pramugari mustahil memiliki pendidikan yang layak tanpa ....."


"Ada, tapi mereka yang membuatmu mengalami kecelakaan....mereka sama sekali tidak mencarimu, kau sudah hampir sebulan tidak pulang, tapi mereka tidak mencarimu. Kau punya saudara tiri. Dia juga pramugari sepertimu, tapi tidak ada yang tau tentang hubungan kalian. Dia menyuruhmu untuk tidak memberitahu orang lain. Seperti itulah keluarga angkatmu."


"Lalu? Kenapa kau mengubah namaku? kenapa kau mengaku sebagai tunanganku? kenapa kau ...."


"Ada paparazi yang menangkap kebersamaan kita, dan membuat artikel seakan kita memang pacaran saat itu. Berita itu cepat menyebar luas, dan kebanyakan dari mereka langsung membencimu karena itu bersifat menyimpang. Saat kau mengalami kecelakaan, hanya aku yang bisa kau harapkan."


"Kenapa bisa?"


Gisella membuang mukanya kesal, "Pada akhirnya kau hanya mementingkan diri sendiri."


"Bukan hanya aku, tapi aku peduli padamu. Kau menerima cacian itu karna hal sepele, aku hanya mengajakmu berlibur, tapi manusia memang terlalu iri pada mereka yang mendapatkan keberuntungan." Ujar Ryan.


"Lalu bagaimana dengan keluarga angkatku? Aku tidak percaya kalau kau tidak mengecek mereka."


"Tentu saja mereka baik-baik saja tanpamu. Saudara tirimu masih bertugas seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apapun." Jawabnya


Gisella hanya menundukkan pandangannya, "Cerita yang begitu menyedihkan. Aku tidak menyangka history-ku seperti itu. Bukan anak kandung, ditinggalkan, tidak dianggap dan dibuang. Bukankah itu...."


'*Kau bukan anak kandungnya!!'


'Itu faktanya!!'


'Ini adalah Tes DNA!'


'Aku ingin kau mati! ENYAH KAU DARI HIDUPKU*!!'


Potongan kecil dan iringan suara tiba-tiba muncul di memorinya, membangkitkan luka dihati. Kepalanya sedikit pusing, kata-kata yang muncul membuat cerita Ryan semakin dekat pada kenyataan bahwa dia hanya anak pungut.


Ryan melihat reaksi Gisella langsung menghampiri gadis itu dan menggenggam tangannya, "Kau tidak apa? lihat aku Gisella,"


"Kepalaku sedikit pusing."


"Apa kau mengingat sesuatu?" Gisella mengangguk lemah, "Ingatan seperti apa?"


"Seseorang... mengatakan bahwa aku bukan anak kandung, dan dia ingin aku mati" ujarnya lirih.


"Ku mohon jangan ingat lagi ingatanmu, kondisimu bisa semakin buruk! Ayo, akan kuantarkan kau ke kamar" Ryan mencoba menuntun gadis itu, tapi langsung ditepisnya.


"Jika keluargaku... jika mereka tidak menginginkanku... kenapa kau mau menampungku? kenapa... kenapa kau mengatakan bahwa kau hanya menggantikan posisiku?"


Laki-laki itu menatap Gisella lurus, "Balas dendamlah. Aku akan mendukungmu." Gisella terdiam, tidak mengerti jalan pikiran manusia dihadapannya ini.


***********


Resti menarik kopernya dan mencoba bersikap seperti biasa lalu menghampiri teman-temannya. Jari ini penerbangannya dijadwalkan ke China.


"Resti,, kau sudah dengar kabar ini? Delista meninggal!" Tanya Sherly.


"Aku sudah mendengar beritanya. Sayang sekali, padahal dia termasuk pramugari handal ditingkatannya." Jawabnya santai


"Jadi... wanita yang dirumah sakit itu, bukan Delista?"


"Pasti wanita lain. Sudah kubilang kan, tidak mungkin Presdir menemui Delista di Rumah sakit" Imbuhnya.


"Ah,, sayang sekali. Jika itu benar. Akan sangat menyenangkan jika mempunyai teman kaya!" Ujar Sherly,


'Jika itu benar, aku tidak akan terima! Bagaimana bisa, anak pungut itu mempunyai hidup yang begitu mudah?'


"Bukankah harusnya kita pergi ke pemakaman Delista?" Tanya Sherly. Para pramugari sudah siap dalam posisi mereka untuk lepas landas.


"Bagaimana mungkin? Dia bahkan tidak memberi tau tentang rumah dan keluarganya." Sahut Felish.


"Ah,, gadis malang."


Resti tak merespon percakapan para rekannya. Sebelum lepas landas, Ibu mengirimi pesan bahwa Ayahnya akan mengkremasikan jenazah Delista hari ini juga.


Bagaimana bisa semuanya begitu mudah sekarang. Tidak ada Delista, dan berita tentangnya juga tidak akan lama pasti terlupakan.


"Aku penasaran, dengan kisah mereka di Jepang. Jika dilihat nasib Delista berujung maut, seperti ini mungkinkah Presdir dalang dari semua ini?" Sherly membuat asumsi.


"Hei,, jangan berasumsi yang tidak-tidak"


"Aku masih tidak percaya. Belum sebulan kita terbang bersama Delista dari London. Dia dapat tawaran penerbangan bisnis hari itu juga, kepergok kencan dengan presdir, lalu menghilang begitu saja!" Gadis itu melihat para rekannya dengan wajah meyakinkan, "Ada dua kemungkinan, Presdir memang membunuhnya, atau dia menyembunyikan Delista"


"Apa yang kau bicarakan, jangan bicara berbelit-belit! Lagipula, kejadian itu di restoran dan itu kecelakaan kenapa kau terus-terusan menyangkut pautkan dengan Presdir?" tanya Viola yang mulai tertarik, Resti juga diam-diam mencoba menguping.


"Mayat yang ditemui di Restoran bukan Delista!"


"Eiihh,, itu tidak mungkin!" Bantah Felish


"Semua koper, dan identitas Delista ada di sana" Sambut Viola.


"Bisa saja kan, itu rencana Presdir? Membuat netizen melupakan Delista, ia mengurung Delista lalu memberikan barang-barang Delista ke orang lain. Lalu, mengubah identitas dan kebetulan orang yang mengambil barang-barangnya sedang apes!"


"Kenapa kau tidak jadi Novelis saja? Sepertinya jurusan Pramugari tidak cocok untukmu. Kau pandai mengarang dan membuat omong kosong, kembalilah bekerja!" Perintah Resti.


"Baiikk!!"


Gadis itu sedikit gusar, ia menepis kemungkinan yang dibuat Sherly. Cerita seperti itu hanya ada di drama-drama Korea. Walaupun hal seperti itu sangat mudah dilakukan Adryan.


***************


Gilang menaburkan abu putrinya ke laut, sesuai permintaan putrinya. Ia ingat.


#flashback on


"*Ayah,, jika aku mati. Tolong taburkan abuku di laut."


"Ya tuhan, kenapa tiba-tiba kau membahas hal itu. Kau masih terlalu muda."


"Umur siapa yang tau. Yah."


Gilang menghentikan langkahnya, lalu mengelus kepala Delista, "Panjang umurlah wahai putriku!!" doanya. Gadis itu tersenyum lalu menggenggam tangan sang Ayah.


"Panjang umurlah wahai Ayahku! Laki-laki yang paling aku cintai di muka bumi ini, sehat selalu dan hasilkan banyak uang untuk putrimu!!"


Gilang tersenyum, "Jika kau menemukan pria yang akan kau nikahi, kau pasti akan menomorduakannku."


Delista langsung mengamit lengah Ayahnya. "Eiih,, itu tidak mungkin. Aku lebih suka Ayah!!!" ujarnya setengah berteriak, keduanya tertawa bersama mengakhiri obrolan mereka di tengah guyuran salju*.


#Flashback Off


"Maafkan Ayahmu yang tidak berguna ini, Ayah yang tidak menghubungimu....dan membuatmu berakhir seperti ini. Ayah... benar-benar minta maaf padamu nak. Kau membawa keberuntungan di hidupku, tapi aku tidak bisa melindungimu... Ayah minta maaf." Gilang berlutut memeluk vas berisi abu Delista, terisak menyalahkan dirinya. Tangisannya makin menjadi saat mengingat wajah putrinya, wajah yang tersenyum mengucapkan bahwa dirinya adalah orang yang paling dicintai Delista.


Hera terlihat tak tenang saat suaminya sama sekali, tak menjawab dirinya. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Gilang terlihat tidak tertarik untuk berbicara. Ketika mereka sampai di rumah, laki-laki itu langsung masuk ke kamar Resti dan menarik koper besar.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa kau membereskan barang-barang Resti?"


Gilang tak menjawab, ia mengambil baju Resti dan memasukkannya ke koper dengan kasar. "Bilang padanya untuk tidak kembali ke rumah ini lagi. Sama seperti, apa yang dilakukannya pada Delista."


"Tapi, bukan dia yang membuat Delista tidak pulang kan?"


"Entahlah, siapa tau memang dia yang membuat Delista tidak ingin pulang."


"Sayang! jangan menuduh sembarangan!"


"AKU KEPALA KELUARGA DI RUMAH INI!! Tapi, aku tidak bisa membuat mereka akur dengan keadaan. DADAKU SESAK!!! Aku tidak bisa melihat Delista untuk selamanya! Alasannya? KARNA PUTRIKU YANG LAIN TIDAK MENGGINGINKAN PUTRIKU!!"


"TAPI, DIA BUKAN PUTRI KANDUNGMU!!" Hera meninggikan suaranya, "Haruskah kau bertindak sejauh ini?"


"Apa Resti anak kandungku?" Tanyanya balik,


"Tapi aku terikat padamu,aku istrimu dan Resti anakku!" Gilang menelan air ludahnya, matanya menatap tajam sang istri, lalu mengebrak lemari berkali-kali dengan amarah meledak.


"ARRRGGGGGGHHHH!!! ARRGHHH!!! ARRGHHH!!!"


Laki-laki itu merosot turun, ia terlihat lelah dan matanya diliputi kemarahan. Perlahan ia bangkit, dan menatap Hera, "Aku tidak mengizinkan Resti pulang kerumah ini. Titik!"


"Gilang!!"


***********


Di lain tempat, Gisella mulai mengechek setiap artikel terkait tentangnya. Ryan sudah memberinya izin memegang ponsel. Semua yang diucapkan Ryan memang benar adanya.


'Pramugari kepergok kencan dengan Presdir'


Ia menggulir layar ponselnya, melihat komentar kemarahan ratusan ribu netizen. Mereka mengecam perilakunya sebagai bentuk ingin menjadi istri presdir.


'*Aku rasa dia menjual tubuhnya'


'Dia mencoreng nama pramugari'


'Aku malu berprofesi pramugari, saat melihat tingkahnya menjilat presdir!'


'Senangnya, hidupnya bahkan tidak menyentuh level kata sulit*!'


"Apa-apaan ini,," Ia menghela nafas berat, ini memang sesuai dengan apa yang diceritakan Ryan padanya. Tapi, untuk bagian laki-laki itu menyuruhnya belajar tentang perusahaan, mengatakan padanya bahwa dia hanya menggantikan posisinya terlebih lagi, rumah ini adalah miliknya. Jika dia hanya seorang pramugari, kenapa harus repot-repot mengurus perusahaan? Kalau saja Ryan tidak menceritakan bagian ini, mungkin orang-orang akan mencaci makinya karna terbukti mencoba merebut perusahaan kan? Apa yang sebenarnya dipikirkan laki-laki itu?


"Bagaimana dengan Gisella?" Wildan mengekori Ryan ke ruang kerja laki-laki itu. Ia terlihat tertarik dengan cara Ryan mencari jalan keluar.


"Aku sudah menceritakan semuanya. Tidak semuanya, hanya bagian dia dibuang dan aku penyelamatnya. Karna itu bagian paling penting"


"Bagaimana kau menjelaskan bagian tentang mempelajari perusahaan? Kalau aku jadi dia, itu pasti terasa janggal bagiku" Ucap Wildan


"Entahlah apa yang dipikirkan olehnya, aku hanya mengatakan bahwa aku mendukungnya jika dia ingin balas dendam."


"Balas dendam?"


"Jika aku jadi dia. Dibuang, tidak dihargai dan tidak diakui, lalu kemudian difitnah dengan paparazi. Bukankah kau merasa ingin membunuh mereka?" Tanya Ryan.


"Itu tergantung, aku merasa Gisella bukan tipe pendendam dan gila harta"


'Braaaakkkk!!!'


Dua pria itu terkejut saat pintu ruang kerja Ryan di dobrak keras, Gisella muncul dengan wajah gelisah bercampur resah. Kedua pria itu hanya berbalas tatap, mengisyaratkan 'Apa dia menguping?'


"Apa rencanamu sebenarnya? Kau mengatakan ini rumahku, kau juga bilang kalau kau menggantikan posisiku. Bagian ini, aku sama sekali tidak mengerti."


Wildan menatap Ryan, dugaannya benar Gisella tidak akan menerimanya dengan mudah.


"Bisakah kau tidak usah mencoba untuk mengerti? Karna kau tidak akan mengerti."


"Apa sebenarnya maumu?"


Ryan melihat lekat-lekat gadis dihadapannya, "Bisakah kau diam disisiku? hanya itu yang kumau"


"Apa kau fikir aku mau?"


"Kau tidak mau?" Ryan memastikan ulang pertanyaannya. Pertama kalinya ia ditolak seorang gadis dan itu membuat harga dirinya terluka. Ia melirik Wildan, laki-laki itu terlihat menikmati drama penolakan yang diterima dirinya.


"Ogh, jika dengan wajah seperti ini." Ryan dan Wildan menoleh ke arah Gisella secara bersamaan. Keduanya sama-sama tidak mengerti maksud gadis itu.


"Aku memang tidak mengerti bagian perusahaan atau saat kau mengatakan aku adalah pemilik rumah ini. Tapi, untuk ceritamu bagian aku berprofesi sebagai pramugari...." Gisella berhenti. "Aku percaya."


"Apa?"


"Kau sudah merusak namaku, hmm... maksudku nama Delista. Aku memang tidak ingat apapun, tapi kalau ingatanku pulih aku akan melakukan hal yang sama. Pencemaran nama baik."


Ryan nyaris menahan tawanya, "Apa itu masuk akal? Pencemaran nama baik? Tidakkah menurutmu itu berlebihan? Kita menikmati liburannya, kau lihat sendiri kan? kau bahkan tersenyum ceria." Wildan mengangguk cepat.


Gisella melipat kedua tangannya, "Bukan itu yang mau aku bahas. Tapi tentang tawaranmu tadi."


"Tawarannku??"


"Ayo kita balas dendam. Dengan wajah yang berbeda"


***************