
🌹
🌹
WARNING!!
Ah ... sudahlah, kalian nggak akan mempan di warning. 🙄
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbak Lina pekerjaannya sudah selesai?" sapa Dimitri ketika berpapasan dengan asisten rumah tangga mereka di ruang penghubung antara ruang keluarga dan ruang makan. Dia meluncur pulang setelah yakin pekerjaannya selesai dan memastikan melakukannya dengan benar sebelum diserahkan kepada Clara. Yang memicingkan mata begitu dirinya berpamitan.
"Sudah pak." jawab Lina, yang juga baru menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di lantai dua.
"Mau pulang sekarang?"
"Eee ... karena bapak sudah pulang, sepertinya iya. Bolehkah?" perempuan itu melirik jam dinding di sebelah kirinya. Baru jam empat sore.
"Boleh. Setelah ini saya tidak akan pergi lagi kok." jawab Dimitri.
"Baik pak, kalau begitu, saya pamit." Lina bergegas ke ruangan belakang di tempat biasa dia meletakan keranjang cucian.
Dimitri melesat ke lantai dua di mana kamar utama berada. Kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Kamu beneran pulang?" Rania yang tengah berada di tempat tidur tentu saja terkejut saat mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan cepat.
Sementara Dimitri bersandar di belakang pintu. Memulihkan napas yang tersengal-sengal, dan menenangkan hatinya yang bergejolak. Namun pemandangan di atas tempat tidur malah lebih membuatnya kalang kabut lagi.
Rania bangkit dari posisi tengkurapnya, masih mengenakan pakaian mini yang malah membuat bagian tubuhnya menjadi lebih terekspose begitu jelas.
"Yang ini ketinggalan, baru aku kirimin fotonya ke nomer kamu." katanya sambil menunjuk ponsel di tangannya.
Pria itu tak manyahut, matanya sudah berkabut dan pikirannya sudah di penuhi hal-hal mes*m sekarang ini. Dan semuanya gara-gara satu makhluk bernama Rania yang selalu membuatnya memalingkan perhatian dari apapun yang sedang dia kerjakan.
"Kamu tahu, yang satu ini kayaknya nggak bisa digunakan sehari-hari, mana ada dalem*n kayak gini?" dia menarik ujung renda dari bra nya yang super tipis. Yang bahkan menampilkan isi di dalamnya. Dada yang ranum nan menggoda dengan puncaknya yang terlihat mencuat. Dan area dibawahnya yang tentu saja membuat pria itu semakin tidak tahan lagi.
Dimitri menarik dasinya hingga benda tersebut melonggar dengan sendirinya dan terlepas kemudian dia jatuhkan ke lantai. Dia berjalan sambil melepaskan jas kemudian melemparkannya ke atas sofa.
"Kamu mau mandi? mau aku siapin airnya?" Rania hampir saja bangkit ketika pria itu sudah berada di depannya. Tanpa suara, tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia hanya menatapnya lekat-lekat.
"I want my prize." jawab Dimitri dengan suara rendahnya.
"Hum? apa?"
"Aku mau hadiahku." katanya, seraya menahan pundak perempuan itu agar mengurungkan niatnya.
"Ha-hadiah?" Rania membeo.
"Yeah, ... hadiah."
"Hadiah apa?" Rania dengan wajah polos dan lugu seperti biasanya.
Sementara Dimitri mengetatkan rahangnya.
"Oh iya, aku lupa, ... tadi kan aku yang bilang gitu ya?" Rania terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Tadi aku nemu ini, mama juga kirim buat kamu ternyata." Rania berbalik untuk meraih bungkusan di dekat bantal, membuat posisinya kembali hampir tengkurap.
Dimitri merasakan dadanya semakin bergemuruh, mengapa perempuan ini seperti sengaja terus memancingnya?
Bagian belakang tubuhnya ...
Ah, ... naga ajaibnya tentu saja sudah siap tempur saat ini.
"Kayaknya ini dalem*n buat kamu deh." dia mengulurkan benda tersebut kepada suaminya.
"Dasar gadis nakal!" geram Dimitri yang merebut benda tersebut kemudian melemparnya ke belakang.
Rania terkekeh lagi, dia mulai faham dengan reaksi pria tersebut. Walau dengan hati berdebar, sekalian saja dia melanjutkan godaannya. Karena ini mulai terasa lucu.
Pria itu melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dengan mata yang menatap intens ke arah Rania.
"Mandinya nanti, aku mau hadiahku dulu." Dimitri kembali menahan pundaknya.
"Kan udah tadi ...
Pria itu menggelengkan kepala. Dia memastikan kali ini tidak akan melewatkan apapun. Sudah cukup dirinya mati-matian menahan hasrat seharian, dan itu rasanya cukup menyiksa.
"Mm ... tapi yang ...
Dimitri mendorong tubuh Rania hingga dia sedikit terjungkal, kemudian membalikannya.
"Kayaknya kamu harus mandi dulu deh, kamu kan baru pulang kerja." Rania berusaha mengalihkan perhatian. Namun dia memekik ketika pria itu menampar bokongnya sedikit keras.
"Ah, ... jangan pukul!" Rania merengek, kemudian menoleh ke belakang untuk melihat wajah suaminya yang tengah menahan senyum. Perempuan itu pun tertawa.
"Kamu membuatku habis kesabaran Zai." Dimitri menampar bokongnya sekali lagi, dan kembali membuat Rania tertawa.
Pria itu melepaskan kemejanya, kemudian menarik pinggul Rania higga naga ajaibnya yang sudah mengeras dibalik celananya menempel pada bokong perempuan itu.
Rania mengatupkan mulutnya, kali ini sudah dipastikan dirinya tidak akan selamat, namun hal tersebut terasa menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Dimitri menunduk untuk meraih bibir menggoda milik Rania kemudian memagutnya dengan rakus, seolah dia ingin menghabiskannya hingga tak bersisa.
Sebelah tanyannya mencengkeram dagu perempuan itu lalu merayapi leher jenjangnya, dan turun ke bawah. Dia menemukan dada ranumnya dibalik kain tipis dan merematnya dengan perlahan.
Rania melenguh ketika Dimitri menambah sentuhannya. Dia meremat kedua dadanya dengan penuh godaan. Mempermainkan puncaknya yang telah sama-sama mengeras, kemudian dia menyusuri dan menyentuh setiap bagian sensitif di tubuhnya.
Dimitri menarik kain tipis yang masih menutupi tubuh bagian bawah Rania, kemudian melepaskan celananya sendiri. Lalu tanpa aba-aba, dirinya menerobos pusat tubuh perempuan itu, seperti biasa.
"Ahh!" Rania mendes*h keras merasakan benda itu memenuhi dirinya.
Dimitri kemudian menghentak, memacu tubuhnya sendiri, menyalurkan hasrat yang seharian dia redam.
"Ngghh ..." Rania melenguh dengan kepalanya yang terdongak ke atas. Kedua matanya tertutup dan terbuka secara perlahan.
Mereka berusaha mempertahankan kesadaran masing-masing. Namun pada kenyataannya, semakin lama keduanya malah semakin tak bisa mengendalikan diri.
Dimitri memegang erat pinggul Rania, sementara dia terus berpacu dan terus bertambah cepat. Semakin lama semakin cepat dan dirinya tak lagi mampu menahan gairahnya sendiri.
Sesuatu di bawah sana terus berdenyut keras, dan mencengkeram miliknya dengan kuat. Membuatnya ingin segera mencapai pelepasan. Apa lagi ketika suara desah*n Rania menjadi semakin lirih, ditambah racauannya yang semakin tak karuan, membuat kesabarannya benar-benar habis kali ini.
Napas mereka semakin menderu, dan keringat sudah membanjiri tubuh keduanya. Udara bahkan semakin memanas di dalam ruang kamar utama pada sore itu, namun keduanya tampak belum akan mengkahiri pergumulannya.
Dimitri tak menghentikan penjelajahan kedua tangannya pada setiap lekuk tubuh Rania, sementara bibirnya pun tak hentinya menelusuri setiap jengkal kulit mulus perempuan itu. Dia bahkan meninggalkan banyak jejak kemerahan disana.
"Oh, ... papi!!" racau Rania, dengan kedua tangannya yang mencengkeram kain dibawahnya. Dia mati-matian bertahan dari klim*ks yang terus mendobrak pertahanannya, hanya agar mereka mendapat pelepasan bersama.
******* dan erangan terus mengudara, membuat gaduh kamar tersebut. Jika saja ruangan itu tak dipasangi alat peredam suara, sudah dipastikan suara percintaan mereka akan terdengar kemana-mana. Dan akan membuat penghuni lain di tempat itu merasa malu karenanya.
"Sedikit lagi, sedikit lagi." Dimitri berbisik di teinganya, kemudian dia berpacu lebih cepat.
Desah*n Rania menjadi semakin tak terkendali, dan tubuhnya terus bereaksi. Dia terus meracau menyebutkan namanya, dan di detik berikutnya, tubuh mereka sama-sama menegang.
Dimitri menekan pinggulnya dengan keras sehingga naga ajaibnya benar-benar terbenam seluruhnya kepada Rania yang pusat tubuhnya terus berdenyut hebat. Dengan sari dari tubuhnya yang memancar keras memenuhi bagian terdalam dari perempuan itu. Diiringi lenguhan keras dari keduanya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
Hadeh ... sore yang hareudang gaess 😂😂
masa sih kalian nggak mau kirim hadiah yang banyak? ini kan eps favoritnya kalian 😜😜
jangan lupa like sama komentnya juga ya
lope lope sekebon cabe😘😘