
🌹
🌹
Rania berdiri di depan salah satu gedung apartemen paling terkenal di kota Bandung. Menatap bangunan tersebut dengan takjub dan tidak pernah menyangka akan menginjakan kakinya di tempat itu.
Landmark Apartemen merupakan salah satu hunian mewah di tengah kota, dimana hanya kalangan tertentu saja yang mampu memiliki setiap unitnya. Lokasinya yang strategis dan berdiri di salah satu jalan penting kota membuatnya menjadi salah satu maskot paling dikenal di kota kembang.
"Nggak salah nih gue? orang itu duitnya pasti banyak banget makanya bisa tinggal di tempat kayak gini?" dia bergumam.
"Maaf mbak?" seorang penjaga keamanan datang menghampiri, saat melihat seorang gadis dengan stelan olahraga berdiri dissana pagi-pagi sekali.
"Ya?" Rania merespon.
"Apa ada kepentingan? bisa saya bantu?"
"Saya cari...." gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Entah dia harus menyebut Dimitri sebagai apa.
"Pak Dimi... eh... pak Dimitri." lanjutnya.
"Pak Dimitri?"
Rania menganggukan kepala.
"Hubungan dengan pak Dimitri apa kalau boleh tahu? karena di apartemen ini tidak bisa sembarangan orang masuk."
"Iya iya, saya tahu. Sebentar." lalu dia melakukan panggilan telfon.
"ya?" orang dari seberang menjawab.
"Saya udah di depan. Gimana ini masuknya, kata sekuriti nggak boleh sembarangan orang masuk." adunya kepada Dimitri.
"Kasih Hapenya ke sekuriti." ucap Dimitri, dan Rania segera menurutinya.
Kemudan sang penjaga keamanan menerima ponsel tersebut dan berbicara untuk beberapa saat.
"Silahkan mbak, langsung masuk aja." si penjaga keamanan menggiring Rania masuk. Dia bahkan mengantarkannya sampai ke lift dan membantu menekan tombol menuju lantai paling atas bangunan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania kembali melakukan panggilan telfon saat dia tiba di depan sebuah pintu unit di lantai paling atas.
"Saya langsung masuk aja apa gimana? pintunya susah dibuka." ucap gadis itu, seraya menekan gagang pintu dan berusaha mendorongnya.
Dimitri menyebutkan beberapa angka sebagai pembuka blkunci pintu, yang segera dicoba oleh gadis itu. Dia menekan pada sebuah alat di dekat gagang pintu.
Benda tersebut terbuka setelah bunyi klik terdengar.
Rania mendorong pintu, dan menjulurkan kepalanya kedalam. Melihat ruangan tersebut yang terang benderang. Tirai-tirai yang menghiasi kaca besar itu terbuka lebar. Sehingga cahaya memenuhi seluruh ruangan.
"Oh my... " gadis itu melangkah masuk, kembali raut takjub muncul di wajahnya.
Sebuah ruangan bernuansa putih dengan beberapa furnitur mewah berwarna cokelat muda. Tampilan elegan mendominasi seluruh area dengan cantiknya.
"Pak?" gadis itu memanggil.
"Pak Dimi?" panggilnya lagi.
"Hmmm... " suara gumaman terdengar dari area di tengah.
Rania terus berjalan masuk dan mencari asal suara tersebut. Yang ternyata berasal dari sebuah sofa besar berwarna cokelat muda di tengah ruangan.
Dimitri meringkuk di sudut sofa dengan bantal besar dalam pelukan.
"Pak Dimi?" panggilnya dan dia berjalan memutar ke depan pria itu.
"Bapak beneran sakit?" tanyanya, kemudian berjongkok.
"Kamu pikir saya bohong?" Dimitri dengan suara parau.
"Kirain?"
"Memangnya saya kurang kerjaan?" pria itu dengan nada kesal.
"Ya maaf."
"Minum." gumam Dimitri.
"Apa pak?"
"Minum, saya haus." katanya.
"Oh, ... sebentar." Rania mencari letak dapur, dan dia segera menghambur kesana begitu menemukannya. Gadis itu lagi-lagu dibuat takjub dengan keadaan dapur yang begitu rapi dan teratur. Tidak ada satu barangpun yang tergeletak sembarangan apalagi berantakan. Yang kesemuanya merupakan barang kualitas premium, sepanjang yang di tahu.
Gadis itu kembali ke ruang tengah dengan segelas besar air putih di tangan. Yang kemudian dia serahkan kepada Dimitri yang sudah menunggu.
"Bapak udah makan?" Rania bertanya.
Pria itu menggelengkan kepala.
"Dari semalam?"
Dimitri kemudian mengangguk.
"Astaga! obat?"
"Sudah, tapi tetap buang air terus."
"Duh, ...
"Sudah saya katakan, saya tidak bisa makan makanan pedas. Ini akibatnya kalau dipaksakan." gerutunya, dan dia bangkit lagi.
"Bapak mau kemana? tiduran pak!"
"Ke toilet. Minum air saja saya buang lagi, apalagi makan!" ucapnya dengan kesal.
"Dih? marah-marah?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semangkuk bubur ayam dan segelas air teh panas Rania letakan di meja, bersamaan dengan Dimitri yang keluar dari kamarnya. Kini dia dalam keadaan lebih segar.
"Bapak mandi?"
"Kelihatannya?" Dimitri masih dengan raut kesal, walau tak dia pungkiri juga hatinya merasa senang dengan kedatamga gadis itu ke apartemennya.
"Maafin pak, masih ngambek aja?"
Pria itu mendelik.
"Makan dulu pak. Barusan saya order bubur, sama teh yang saya temuin di dapur."
"Saya kira kamu bikin bubur?"
"Haha, ... bapak bercanda. Saya nggak bisa masak."
Dimitri mencebik.
"Hu'um." Rania tersenyum lebar.
Pria itu melahap setengah porsi buburnya, Itupun dengan susah payah. Rasa mulas kembali menyerangnya begitu perutnya terisi lagi. Yang akhirnya membuat Dimitri lagi-lagi harus berlari ke kamar mandi.
"Aduuuuuhhh ... ripuh( parah)" gumam Rania sambil menepuk keningnya sendiri.
***
"Bapak mau saya antar ke dokter?"
"Nggak usah, saya sudah minum obat tadi." Dimitri kembali menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Tubuhnya terasa lemas dan tentu saja perutnya masih sakit.
"Obat apa?"
"Tidak tahu, saya temukan disana." dia menunjuk kotak di bawah meja tivi.
Rania mengambil kotak tersebut, lalu menunjukan isinya.
"Yang mana?"
"Yang ini." Dimitri mengingat obat yang diminumnya semalam dan tadi pagi.
"Ck!" Rania berdecak. "Pantesan buang airnya nggak berhenti, yang diminum paracetamol pak, bukan obat diare."
"Oh ya?"
"Niiihh... baca!" dia menarik dan menunjukan obat yang sebelumnya ditunjuk Dimitri.
"Astaga!!!" pria itu memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.
Rania tertawa terbahak-bahak.
"Pak, pak... kabina-bina teuing bapak mah! (keterlaluan bapak mah.)"
Dimitri menatapnya tanpa berkedip.
"Saya bikinin obat yang bagus deh." ucap Rania kemudian.
"Apa?"
"Tadi saya nemu ini di jalan." gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku hoodie nya.
Beberapa lembar daun berwarna hijau yang dia temukan di sepanjang trotoar.
"Apa itu?"
"Daun jambu klutuk."
"Untuk apa?"
"Obat sakit perut." Rania kembali ke dapur.
***
Dimitri meringis saat gadis itu menyodorkan setengah gelas air berwarna hijau buram, hasil dari racikan daun jambu yang dibawanya tadi.
"Kamu serius ini bisa diminum?"
Rania mengangguk.
"Bagaimana kalau saya keracunan?"
"Nggak akan. Ini beneran obat. Saya suka dibikinin ini sama Mama kalau sakit perut, dan langsung sembuh."
"Saya nggak yakin itu akan berpengaruh. Perut saya lain dari orang lain." Dimitri mencoba menghindar.
"Dicoba dulu." Rani lebih mendekat.
"Ngak mau, nanti saya jadi lebih parah bagaimana?"
"Nggak akan ish,... ini biar diarenya sembuh. asli, percaya deh sama saya."
"Nggak Ran, nggak mau." Dimitri menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya. Dia tampak seperti balita yang sedang dipaksa minum obat oleh ibunya.
"Ish, ... udah dewasa juga." gadis itu lebih mendekat lagi kemudian dia mengulurkan tangannya. Meraup belakang kepala Dimitri, kemudian menempelkan permukaan gelas di tangannya pada mulut pria itu.
Rania bahkan naik ke sofa dan hampir menduduki pangkuan Dimitri.
"Minum nggak? atau aku paksa?" ucap Rania, dan dia menundukan tubuhnya. Sehingga jarak diantara mereka terkikis dengan posisi Rania diatas pangkuan pria itu.
"Ngg... " pemandangan dari bawah sini sungguh mengagumkan, dan Dimitri enggan berkedip karenanya. Dia takut gadis itu akan menghilang jika saja dia melakukannya.
"Pak? minum!" Rania menekan permukaan gelas pada mulutnya lebih keras lagi, yang akhirnya membuat Dimitri menyerah.
Dia membuka mulutnya, dan dengan perlahan menyesap air seduhan daun jambu racikan gadis diatas pangkuannya.
"Nah, ... nurut gitu kan manis? dari tadi kek?" Rania melepaskan cengkeraman tangannya dari belakang kepala Dimitri, lalu turun dari pangkuannya.
Membawa gelas dan mangkuk kotor kedapur lalu membersihkannya. Sementara pria yang masih duduk di sofa tengah menenangkan diri dan sesuatu yang terbangun karenanya.
Stranaya... Milaya... batinnya.
***
Sudah dua jam lamanya Dimitri tak lagi bolak-balik kedalam kamar mandi. Pria itu bahkan tertidur dengan pulasnya di sofa, dengan bantal yang menyangga kepalanya, dan selimut tebal yang menutupi tubuh tingginya. Dia tampak seperti bayi yang tak terganggu.
Sementara Rania duduk dilantai tak jauh dari sofa tempatnya tertidur. Gadis itu menatap wajahnya yang tenang.
Dia tampak manis kalau tertidur seperti ini. batinnya bermonolog.
Eh?
Rania menggelengkan kepala.
Dasar anak manja! gumamnya, dan diapun bangkit.
Rania memastikan pria itu dalam keadaan benar-benar nyaman. Dia membenahi letak selimutnya, letak bantalnya, dia bahkan meletakan segelas air putih di meja agar jika bangun karena haus nanti, Dimitri tak perlu mengambil ke dapur.
"Pak, saya pulang dulu ya? nanti kalau jodoh ketemu lagi." dia berbisik lalu terkikik. Kemudian segera keluar dari unit tersebut tanpa berpamitan kepada si penghuninya secara langsung. Sengaja, dia merasa tak tega untuk membangunkannya.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...
aduuuuuhhh... si oneng... 😆😆😆
udahlah, kirim like komen sama hadiah plus vote kalau masih ada. biar rangking makin naik
lope lope sa Bandungeun 😘😘