All About You

All About You
Seleksi Kedua



🌹


🌹


Mobil yang dikendarai Dimitri masuk ke area komplek dimana rumah Angga berada, yang sore itu tampak ramai karena memang jam pulang orang-orang bekerja dan menyelesaiakan aktifitas mereka.


Rania membuka kaca mobil saat melewati beberapa orang yang dia kenali, yang berkumpul di pinggir jalan menikmati suasana sore yang ramai itu. Lalu menyapa mereka seramah mungkin.


"Baik sekali,... kamu menyapa ibu-ibu itu." Dimitri mengusap puncak kepala istrinya.


"Sengaja mau pamer." katanya, yang kemudian menoleh ke belakang saat mobil mereka sudah melewati kumpulan orang-orang itu.


"Pamer apa?"


"Pameran suami." Rania tertawa.


"Ada-ada saja kamu ini."


"Jadi pengen tahu, setelah aku nikah apalagi ya yang mereka gosipin?"


"Gosip?" Dimitri membelokan mobilnya ke pekarangan rumah mertuanya.


"Iya, waktu masih jomblo, ribut melulu karena aku belum pernah bawa cowok ke rumah, ditambah akunya malah balapan. Katanya jadi makin sulit dapat jodoh. Masa udah 20 tahun nggak punya pacar. Pas mau nikah di sangkanya aku hamil duluan karena tahu-tahu nikah aja, sama bule yang baru beberapa kali apel kerumah." perempuan itu menjelaskan.


Tawa Dimitri pecah seketika.


"Ribet amat deh hidup mereka ngurusin orang lain, hadeh... "


Mobil berhenti di depan rumah, tepat saat Angga keluar.


"Baru sampai, muka papamu sudah kelihatan kusut." ucap Dimitri saat melihat mertuanya yang berdiri di teras dengan kunci Inggris ditangan, persis seperti orang tua yang marah karena seorang pemuda terlambat mengantar anak gadisnya pulang.


"Nggak usah dianggap. Bayangin aja kamu lagi lihat kanebo kering."


Dimitri tergelak.


"Duh, ... aku hoream turunnya juga." keluh Rania.


"Hah? apa?" Dimitri hampir saja membuka pintu saat Rania malah merebahkan punggungnya pada sandaran.


"Aku males turunnya." ulang Rania.


"Kenapa?"


Rania tak menjawab, namun dia hanya melirik ke arah suaminya yang menatap sambil mengulum senyum. Ya, dia mengerti maksudnya. Percintaan mereka semalam masih menyisakan rasa lelah dan perasaan aneh lainnya bagi Rania yang memang belum terbiasa dengan kegiatan tersebut.


"Jadi bagaimana? mau turun atau tidak?" ujar Dimitri.


"Turunlah," perempuan itu bangkit dan membuka pintu mobil. Dimitri melakukan hal yang sama, lalu turun dan dengan cepat berjalan memutar ke sisi lainnya, dan membantu Rania membukakan pintu.


"Kalian baru pulang." Angga mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin, walau rasa tak suka jelas memang masih mendominasi hatinya. Namun percakapan dengan Maharani semalam sedikit mengurangi kekesalannya.


"Rania itu udah nikah, udah jadi milik suaminya. Apapun yang mereka lakukan adalah hak dan kewajiban keduanya dalam menjalani rumah tangga. Mau pergi kemanapun dan melakukan apapun sudah pada porsinya. Kita hanya tinggal mendoakan yang terbaik, selebihnya biarkan mereka menjalaninya berdua. Jangan jadi orang tua yang dzalim karena mencampuri urusan rumah tangga anak." dan istrinya itu memang benar.


"Setidaknya, jangan tunjukan ketidak sukaan kamu terhadap Dimitri secara terang-terangan. Mau bagaimanapun dia sudah jadi bagian dari keluarga ini. Suka tidak suka dia sudah ada dalam hidupnya Rania." perempuan itu memang selalu sebijak itu.


"Iya." jawab Rania yang tangannya bergelayut pada lengan Dimitri.


"Ya sudah, sana masuk. Kebetulan mama masak banyak hari ini. Kayaknya dia tahu bakalan ada yang datang hari ini." ucap Angga.


"Oke, kebetulan udah lapar." dia bergegas menarik Dimitri masuk kedalam rumah.


***


"Kakak tahu aja deh kalau kita lagi bikin yang spesial." Rega memulai percakapan saat mereka sudah berkumpul di ruang makan.


"Iya dong. Ini, disini emang ada radarnya." Rania menunjuk hidungnya sendiri.


"Asli." remaja itu tertawa.


"Oh iya, jadi lupa. Gimana seleksi timnasnya? lancar?" tanya Rania.


"Lancar kak. Lolos ke seleksi tahap kedua."


"Duh, berapa kali seleksi emang?"


"Tiga kali."


"Banyak amat? kenapa nggak satu kali aja sih kan gampang."


"Nggak ada yang instan kak. Mi instan aja harus di rebus dulu baru bisa dimakan. Ya kan kak?" Rega beralih kepada Dimitri yang menyimak percakapan mereka dalam diam.


Dan pria itu mengangguk sambil tersenyum.


"Lagian ini seleksi timnas, bukan untuk tarkam. Jelas prosesnya panjang lah. Peserta dari seluruh Indonesia, asli beneran ketat." Rega menjelskan.


"Haaahh, ... ripuh kamu Ga!"


"Ya sama aja kayak waktu kakak seleksi buat balapan kan? nggak cuma dari kita aja."


"Iya juga sih. Tapi kakak nggak ada tahap-tahapan gitu ah."


"Ya kan itu balapan. Kali disamain sama sepak bola."


"Kapan seleksi keduanya?" Dimitri menyela percakapan.


"Sabtu ini kak."


"Sabtu ini?" Angga bereaksi.


"Iya pah."


"Kok kamu nggak bilang papa kalau seleksi keduanya sabtu ini?"


"Emangnya kenapa?"


"Jum'at kan papa sama kakak harus berangkat ke Jeres. Jadi nggak bisa antar kamu. Nggak bisa kalau nggak pergi."


"Oh ya? Mama gimana?" Rega beralih kepada ibunya.


"Pagi mama antar Adel sama Amel. Ada acara di sanggar. Seleksi kamu sore kan? kayaknya mama bisa. Begitu selesai dari sanggar mama langsung pulang untuk antar kamu."


"Nggak repot emang? kan nggak tahu acara sanggarnya selesai jam berapa."


"Bisa lah. Mama pulang dulu untuk antar kamu, nanti."


"Terus aku sama Amel gimana?"


"Nanti mama balik lagi jemput kalian, terus ke lapangan lagi."


"Nggak usah antar kalau gitu mah. Sendiri juga bisa. Yang lain juga ada kok yang nggak di dampingi orang tua, ... biasa aja." ucap Rega, dengan nada sedikit kecewa, dan membuat semua orang terdiam.


"Kalau begitu, kakak saja yang antar kamu." Dimitri tiba-tiba berucap.


"Apa?" Rania bereaksi.


"Mama pasti repot kalau harus bolak-balik dari sanggar ke lapangan. Kasihan juga kalau Adel dan Amel ditinggal, iya kan? jadi lebih baik kita bagi tugas saja, mama antar Adel dan Amel, biar kakak yang dampingi kamu ikut seleksi. Beres kan?"


"Beneran?" Rega dengan wajah sumringah.


"Iya."


"Kakak nggak sibuk?"


"Nggak. Kan hari Sabtu, ada kerjaan sedikit bisa kakak kerjakan setelah antar kamu."


"Wah, ... boleh lah kalau nggak repot."


"Nggak."


"Nggak anter kak Rania juga?"


"Nggak bisa pergi."


"Kenapa?"


"Mm ... tidak apa-apa. Kakak kamu kan mau balapan, bukan mau liburan. Biar konsentrasi juga balapannya."


"Oh, ... gitu ya? ya udah. Nanti perginya agak siangan. Seleksinya mulai lewat tengah hari kok."


"Oke. Nanti kakak jemput kesini."


Remaja itupun kembali ceria, dan mereka melanjutkan acara makannya dengan gembira. Sementata Agga sesekali melirik kepada menantunya di sela kegiatan makannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka memutuskan untuk menginap malam itu, setelah menyelesaikan makan dan berbincang, juga Dimitri yang bermain bola dengan Rega sebentar, mereka beranjak ke peraduan saat malam sudah hampir larut.


Dimitri menyerahkan sehelai handuk kepada Rania, lalu duduk di tepi ranjang. Membiarkan perempuan itu untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah membilasnya pada saat mandi tadi.


"Kamu beneran mau antar Ega ikut seleksi nanti Sabtu?" Rania memulai percakapan.


"Yakin."


"Nggak sibuk?"


"Kan hari Sabtu."


"Nggak mau ikut aku juga?"


"Ke Jeres?"


"Hu'um."


"Nanti bukannya balapan, malah balapan yang lain." Dimitri tergelak.


"Nggak nonton aku dong?"


"Nonton, di tivi."


"Waktu masih pacaran bela-belain nyusul?"


"Situasinya beda sekarang Zai. Apalagi Rega sepertinya juga butuh dukungan. Sementara papamu benar-benar tidak bisa meninggalkan kamu kan? kasihan juga mama kamu kalau harus bolak-balik, jadi opsi paling tepat, ya aku yang menemani Rega. Adil kan?"


"Hmm ... iya juga sih."


" Lagipula Nanti konsentrasi kamu malah kacau kalau aku juga ikut. Aku tidak akan bisa membiarkan kamu diam walau hanya sebentar." dia tertawa lagi.


"Ah, ... benar juga ya." Raniapun ikut tertawa.


"Makannya."


"Tapi nanti paling nggak dua minggu sekali aku pergi balapan kan? nggak apa-apa?" Rania mencondongkan tubuhnya.


"Tidak. Kan aku sudah tahu dari awal."


"Oke."


"Paling aku akan merasa sangat rindu, dan kalau sempat aku akan menyusul lagi."


Rania memeluk pundak suaminya dari belakang.


"Sudah malam, cepat tidur." Dimitri memutar tubuh.


"Hum?"


"Bukannya besok harus latihan?"


"Iya."


"Makanya, ayo tidur?" pria itu naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana. Tempat tidur milik Rania yang tidak terlalu besar. Begitu kontras dengan postur tubuhnya yang tinggi.


"Kenapa? sini tidur." pria itu menepuk sisi kosong di sampingnya, "Masih muat kalau hanya tidur." dia dengan seringaian khasnya.


Rania masih terdiam.


"Kita tidak akan melakukannya malam ini, walaupun aku mau." Dimitri pun terkekeh.


"Oh, ... ya udah." Rania merebahkan tubuhnya tepat di dekat suaminya, dengan tangannya yang sudah terulur, siap untuk memeluknya. Dia lantas menyurukan kepalanya di dada pria itu.


"Kamu akan mengalami kesulitan latihan besok kalau kita melakukannya lagi malam ini." Dimitri terkekeh pelan.


"Hmm ...


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Calmdown dulu gaess, calmdown. 🤭🤭


kirim like, komen, sama hadiahnya dulu yang banyak. oke? mau nginep dulu di rumah mertua ah, ... 🤣🤣🤣