All About You

All About You
Reuni #2



🌹


🌹


"Enak aja mau rebutin laki gue, mereka pikir dia barang apa? macem-macem sama gue, mati mereka!" Rania menggerutu dalam perjalanannya kembali dari toilet. Menemukan suaminya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang, termasuk beberapa teman perempuan yang tampaknya berusaha menggoda. Hal tersebut terlihat dari tatapan mata dan bahasa tubuh mereka.


Dan bagaimana dia bisa melihat itu semua? sepertinya nalurinya sebagai seorang perempuan mulai bekerja.


"Dunia ini emang udah rusak! udah tahu cowok datang sama bininya masih aja mau godain." dia kembali menggerutu.


"Sayang, ..." Rania menyelinap diantara Dimitri dan teman perempuannya yang duduk di sampingnya yang tampak begitu akrab. Bukan, tapi perempuan itu yang sedang mencoba mengakrabkan diri, kemudian Rania duduk di pangkuan pria itu dengan tangan yang dia lingkarkan di pundaknya.


Yang tentu saja membuat Dimitri merasa terkejut karena sikap perempuan itu kepadanya.


"Hey, umm ... sudah selesai?" Dimitri salah tingkah.


"Udah," katanya, dan dia mulai bersikap manja.


"Oke, ...


"Kita pulang sekarang bisa?" pintanya, dengan senyum imut-imut dan wajah sepolos mungkin. Dia sedang belajar akting sekarang ini.


"Pulang?" Dimitri melihat jam tangannya. "Baru jam sembilan?"


"Aku tahu ... tapi ... kamu bener, orang-orang nggak sebaik kelihatannya." Rania berbisik.


"What?"


"Tadi di toilet aku habis menghajar orang."


"Why?"


"Habisnya mereka kurang ajar, masa mau deketin kamu, padahal tahu udah nikah? dan datang sama aku juga. Istri kamu." dia menekan kata istri seraya mengeratkan pelukan pada leher suaminya, bersikap seposesif mungkin disaat tiga perempuan tadi juga melintas dibelakang suaminya.


Rania menajamkan tatapannya, mengintimidasi. Membuat ketiga perempuan itu buru-buru menjauh.


Dimitri menatapnya lekat-lekat.


"Jadi, ayo kita pulang? tempat ini berbahaya buat kamu, banyak singa laparnya." ucap Rania lagi, yang kemudian melirik ke sekelilingnya. Dia sedang bersikap waspada sekarang ini. Mencoba menjaga suaminya dan mempertahankan miliknya.


Dimitri kemudian tertawa.


"Umm ..." Rania kembali melihat sekeliling ketika beberapa orang mulai salah tingkah karena kelakuannya.


Bodo amat! Batinnya.


"Kacang polongnya belum disiram." dia berbisik lagi.


"Ap-apa?" tiba-tiba wajah Dimitri memerah dan terasa panas.


"Kacang polongnya, ... belum disiram." Rania berbisik di telinganya.


"Mmm ...


Semua orang tampak mengerutkan dahi.


"Nanti kemalaman, nyiram polongnya cuma sebentar. Kalau dari sekarang bisa ...


"Oke, ayo pulang." pria itu menurunkan Rania dari pangkuannya dan dia segera bangkit. Sungguh peristiwa langka jika perempuan itu membahas masalah ini, dan dirinya tidak boleh menyia-nyiakannya sedikitpun.


"Pulang? acara intinya saja bahkan baru mau dimulai, Dim?" Reno bereaksi.


"Tapi aku ... harus ...


"Apa? sesekali lah, besok atau minggu depan kita tidak akan berkumpul lagi seperti ini. Entah kapan lagi."


"Oh, ... aku harus ...


"Ini darurat, biji kacang polong harus disiram."


"Biji kacang polong?" Reno membeo. "Bisnis kamu merambah ke pertanian juga?" pria itu bertanya.


"Ee ... begitulah." Dimitri sekenanya.


"Dimana?"


"Dirumah." jawab Rania.


"Dirumah baru?"


"Iya." jawab Rania lagi.


Reno terdiam sebentar.


"Baiklah, kami harus pulang. Tanamanku sudah menunggu." ucap Dimitri kemudian.


"Tidak bisa tunggu? acara puncaknya dimulai sebentar lagi."


"Apa sih? sepertinya aku sudah bertemu dengan semua orang. Bahkan yang tidak aku kenal pun aku temui?"


"Iya, tapi tinggal satu lagi acaranya."


Dimitri terdiam sebentar.


"Ayolah, hargai teman-teman yang lain." lanjut Reno.


"Nggak jadi siram benih polongnya?" Rania menyela.


"Mmm ... ya sudah, maaf Reno, kami harus pulang." akhirnya Dimitri memutuskan. Kemudian dia berpamitam kepada teman-teman yang lain.


Mereka berdua melewati mini stage, dan Rania memalingkan pandangan ketika dia melihat wajah yang sepertinya dia kenal.


"Eh, tunggu." mereka berhenti berjalan.


"Apa lagi? bukannya kamu mau pulang?"


"Itu bukannya temen kamu yang waktu itu ya?" tunjuk Rania ke arah panggung.


"Hah? mana?"


"Itu, ... kayak yang waktu itu ketemu di Prancis?"


"Hum?" Dimitri menatap orang-orang di panggung yang tengah melakukan persiapan.


"Siapa ya namanya?" Rania mencoba mengingat.


"Irina!!" perempuan itu berteriak. Yang segera saja membuat gadis asing berambut pirang diatas panggung menoleh kepadanya.


Deg!!


Rania malah melambaikan tangan sambil tersenyum kepadanya.


"Beneran kan itu Irina?" tanya nya kepada Dimitri.


Pria itu ingin menjawab bukan, tapi nyatanya itu memang dia. Teman bersenang-senangnya dari masa lalu.


Ah, astaga!! kenapa juga dia ada disini?


"Kalian kenal dengan DJ Irina Kornikova? dia asal Rusia juga, Dim." Reno muncul setelahnya.


"Iya, dia temennya ..." Rania hampir kembali buka suara ketika disaat yang bersamaan Dimitri menariknya menjauh.


"Ish, ... kenapa tarik-tarik? aku mau temuin dia." Rania menyentakan tangannya.


"Untuk apa?"


"Mau ketemu aja."


"Iya untuk apa? tidak ada gunanya."


Bersamaan dengan itu lampu utama ballrom dipadamkan, sehingga suasana menjadi remang-remang. Hanya lampu kecil berwarna-warni yang menjadi penerang di kegelapan, lalu suara musik mulai menggema.


Keduanya berhenti berjalan, dan Dimitri tahu siapa yang memutar musik menghentak seperti ini. Tiada lain adalah Irina.


"Wah, ... dia keren." Rania bereaksi ketika melihat gadis itu mulai beraksi di panggung.


Meracik musik biasa menjadi terdengar lebih berirama dengan semua peralatan elektriknya. Belum lagi gayanya yang cukup menarik perhatian. Pakaian mini yang cukup terbuka yang memang selalu menjadi andalannya, menampilkan lekuk tubuhnya yang indah.


Semua orang bersorak dan segera berkerumun di depan panggung. Menyimak pertunjukan hiburan tersebut dengan riang gembira. Mereka mulai bergoyang mengikuti irama yang Irina mainkan.


"Zai, katanya mau pulang?" Dimitri mengingatkan.


"Tunggu, aku mau lihat dia dulu. Dia keren."


"Umm, ..." Dimitri menatap gadis itu yang sepertinya juga tengah menatap ke arah mereka.


"Mantan temen bobo kamu keren, Yang."


"Astaga!" Dimitri menepuk kepalanya. Dia merasa sebal jika diingatkan soal itu.


"Dia cantik, juga seksi. Pantesan kamu dulu sama dia." Rania menoleh kepadanya.


"Iya, dulu."


"Sekarang?"


"Nggak."


"Masa?"


"Jangan mulai, Zai. Nanti kita bertengkar."


Rania malah tertawa, kemudian merapatkan tubuhnya kepada Dimitri.


"Hal semacam itu nggak akan bikin kita berantem."


"Masa?"


"Ngapain mempermasalahkan hal nggak penting? kalau macam-macam, aku nggak akan banyak omong."


"Benarkah?"


"Hu'um." Rania menganggukan kepala.


"Terus mau apa?"


"Aku hajar kamu sekalian."


"Ish, ... kamu mengerikan."


"Aku nggak berani, Ma'am."


"Pastilah." kemudian mereka berdua tertawa.


Irina menatap dua sejoli itu yang berdiri tepat di depannya. Mereka berada di kerumunan tapi seolah tak ada siapapun di dunia. Membuatnya merasa sebal, dan hampir saja membuyarkan konsentrasinya di panggung. Namun gadis itu kembali pada apa yang dilakukannya walau suasana hatinya mulai terganggu.


Bagaimanapun, pria di depannya itu pernah mengisi hari-harinya. Walau tak pernah terjalin apapun diantara mereka, dirinya tak bisa memungkiri jika Dimitri memiliki tempat tersendiri di hatinya. Sehingga dia rela terbang melintasi benua untuk meyakinkan hati.


Namun kejadian beberapa bulan yang lalu membuatnya tersadar jika pria itu tak menganggapnya berarti. Dia memang Dimitri Alexei yang tak pernah memiliki perasaan kepada siapapun. Kecuali kepada seorang gadis yang namanya selalu dia sebut saat mereka bercinta. Hal yang cukup memalukan baginya. Mereka bercinta, tapi orang lain yang dia sebut, dan itu menyebalkan.


Ah, betapa bodohnya ini. Mengapa pula mereka harus bertemu lagi?


Seharusnya tawaran kerja ini tidak aku terima. batin Irina. Dan dia bersumpah jika tahu akan bertemu pria itu tidak mungkin dirinya menerima tawaran menghibur komunitas ini.


"Ayo pulang, ..." Dimitri berbicara di telinga Rania, lalu kembali menariknya ke arah pintu keluar.


"Eh, tunggu." pria itu berhenti, sambil meraba saku celana dan kemejanya.


"Hape aku sepertinya ketinggalan." katanya.


"Kamu duluan ya, aku mau ambil hapeku dulu."


"Oke." Rania menurut, sementara Dimitri kembali ke dalam sana.


Plakk!


Seseorang menampar bokongnya dari belakang, membuat Rania menghentikan langkah.


"Apaan?"


"Kamu bintang iklan itu ya? kenapa ada disini? sudah kekurangan job?" seorang pria kira-kira seumuran Dimitri bicara sambil tertawa di belakangnya.


"Atau tersesat? mau bergabung?" tawarnya kemudian.


Rania mencoba untuk setenang mungkin walau dadanya langsung bergemuruh mendengar ucapan pria tersebut.


Biasanya dia akan langsung mnghajar siapapun yang berani menyentuhnya tanpa permisi. Tapi ini buka teritorialnya, ini dunia suaminya. Tidak mungkin dirinya berbuat bar-bar dan mempermalukan pria itu di kalangan teman-temannya.


"Hey, ayolah ... "


"Nggak, terimakasih." Rania berniat pergi.


"Hey, kamu pembalap itu kan? yang menikah dengan Dimitri?" pria lainnya menimpali.


"Benarkah? si anak mami itu?" pria tadi kemudian tertawa.


"Jadi benar ya? bagus juga dia menikah dengan gadis sepertimu."


"Hah?"


"Semakin kelihatan manjanya." mereka kemudian tertawa.


"Jangan sembarangan kalau nggak benar-benar kenal orang." Rania menjawab, kemudian bermaksud pergi dari dana.


"Alah, ... kalau bukan karena uangnya yang banyak kamu tidak mungkin mau dengan dia. Selain karena dia pandai merayu perempuan, juga karena uangnya yang banyak. Siapa yang bisa menolak itu? biar dia suka main perempuan juga, semuanya akan termaafkan karena dia kaya."


Rania mengetatkan rahangya.


"Bukankah itu membosankan?"


"Jadi, ayo kita bersenang-senang? sumimu juga sepertinya sedang bersenang-senang di dalam sana, itu sebabnya dia kembali dan membiarkanmu senidirian." pria itu menunjuk ke tempat Dimitri tengah bercakap-cakap dengan beberapa orang, termasuk diantaranya teman perempuan. Dia tampak tertawa terbahak-bahak di depan sana.


"Tidak apa-apa, hal ini biasa di dunia kami. Kamu tahu, biarkan suamimu bersenang-senang, agar kita juga bisa bersenang-senang." katanya lagi, yang kemudian merangkul pundak Rania.


Perempuan itu menoleh kemudian memicingkan mata.


"Come on."


"Nggak, terimakasih." Rania melepaskan diri, kemudian memutar tubuh. Berniat melanjutkan langkahnya.


"Dasar sok suci. Sok jual mahal, padahal dirinya sendiri jual diri. Kedoknya balapan dan model iklan, dibeli orang berduit tetap mau." pria itu berujar.


Rania berhenti, lalu dia berbalik lagi.


"Apa kamu bilang?" tanya Rania kepadanya.


Pria itu hampir saja membuka mulutnya ketika tinju Rania menghantam wajahnya secepat kilat.


Ditambah injakan di kaki, disusul serangan lutut perempuan itu di dagunya ketika dia membungkuk untuk memegangi kakinya. Hingga akhirnya membuat dia terjungkal ke lantai.


"Orang berpendidikan seperti kamu kenapa nggak bisa menjaga mulut? kamu pikir semua orang sama seperti yang ada di pikiran kamu?" perempuan itu menendang perutnya hingga pria itu mengaduh kesakitan.


Perhatian sebagian besar orang tentu saja beralih pada perkelahian tak imbang itu. Sementara para perempuan menjerit histeris melihat Rania yang menghajar pria berbadan tinggi yang sudah terkapar dilantai.


Dua rekan pria tersebut maju untuk menghentikan perempuan itu sebelum akhirnya Dimitri muncul dan menariknya.


"Zai, kau kenapa?" dia meraup tubuh mungil Rania yang sedang kalap.


"Hentikan Zai!" Dimitripun hampir saja kewalahan.


"Lepasin lah! dia udah hina-hina aku!" Rania meronta sambil berteriak. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman suaminya.


"Stop!"


"Kalau pendidikan tinggi nggak bikin dia bisa menghargai orang, aku tunjukin bagaimana dia seharusnya menghargai orang." katanya lagi, berusaha sekuat tenaga untuk mencapai pria itu yang sudah ditarik oleh rekan-rekannya.


"Jangan Zai! sudah, biarkan saja dia." dengan susah payah Dimitri menariknya keluar dengan mengangkatnya walau perempuan itu terus meronta.


"Kamu ih, lepasin!"


"Jangan begini, Zai!"


"Kamu mau biarin dia hina-hina kamu?"


"Sudah, ... kamu sedang hamil, ingat?" dia berbisik.


"Tapi dia udah ...


"Dia memang seperti itu." Dimitri memasukan Rania kedalam mobilnya.


"Tapi dia udah hina kita!"


"Jangan diambil hati, dia orangnya memang begitu."


"Jangan diambil hati?"


"Jangan membuat aku malu, Zai. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan kekerasan."


"Apa?"


"Jangan membuat aku malu." ulang Dimitri.


Rania terdiam.


Jangan membuat malu katanya?


"Tunggulah disini, aku akan meminta maaf kepada mereka. Aku tidak mau urusannya jadi panjang."


Rania terperangah.


Namun pria itu tetap kembali ke dalam hotel.


Rania mendengus sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Dia merasa kesal juga marah. Kenapa tindakanya membela diri malah disebut sebagai hal memalukan oleh pria itu?


Dia kemudian turun, lalu menendang pintu mobil Dimitri hingga alarmnya berbunyi nyaring. Dia tak habis pikir dengan keadaan ini karena Akalnya tak bisa menerima hal seperti ini.


Rania mengacak rambutnya sambil menggeram, kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Kalian ini sembarangan sekali? tidak bisa menunggu apa?"


"Aku pikir gadis itu akan mudah dipengaruhi,"


"Bodoh!"


"Tidak bisakah kalian melakukannya dengan benar? malah memancing emosi!"


Mereka kemudian tertawa.


"Apa kalian lihat tadi, bagaimana gadis itu bereaksi? aku pikir akan menangis dan berlari, tapi nyatanya malah menghajarku, aduuuhh ..."


"Kau bodoh!"


"Aku tidak percaya Dimitri mendapatkan gadis se bar-bar itu, dia norak sekali. Selain anak mami ternyata dia tidak pandai mencari pasangan! dari mana dia menemukan perempuan sekasr itu ...


Dimitri melayangkan pukulan setelah mendengar semua yang mereka ucapkan. Termasuk kepada Reno yang juga ada diantara mereka.


"Bodoh, kau kira sedang berhadapan dengan siapa? yang kau hina itu istriku!" katanya seranya mendendang meja yang berada di tengah mereka hingga minuman dan benda lain yang berada diatasnya berhamburan dilantai.


"Kau pikir aku masih Dimitri yang dulu, yang mau saja mengalah setiap kali kau ejek huh?" Dimitri mencengkeram kerah kemeja pria yang telah dihajar habis-habisan oleh Rania. Yang dia kenali sebagai seorang perundung di masa sekolahnya. Bahkan dirinyapun tak luput dari perundungan saat menempuh pendidikan di sekolah yang sama.


"Istriku benar, kalau pendidikan tinggi tak bisa membuatmu mampu menghargai orang lain, maka mungkin pukulan bisa merubahmu." kembali, beberapa kali pukulan dia layangkan ke wajahnya. Hingga Reno dan beberapa orang lainnya menahan Dimitri untuk menghentikannya.


"Sudah, Dim. Dia hanya bercanda, maafkan."


"Bercanda katamu?" Dimitri berbalik.


"Sudahlah, ...


"Yang kalian hina itu istriku, bodoh!" Dimitri mencengkeram kerah kemeja Reno, kemudian menghempaskannya hingga dia terhuyung ke belakang.


Kemudian dia beranjak dari tempat itu. Namun sebelumnya dia berhenti diambang pintu dan menoleh ke belakang dimana teman-teman semasa sekolah menengahnya berada.


"Perjanjian kerjasama aku batalkan. Aku tidak sudi bekerja dengan orang sepertimu." katanya, kemudian melenggang keluar.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


Anu😯