All About You

All About You
Istirahat



🌹


🌹


Rania tak dapat menolak ketika dia diminta sekali lagi melewati lintasan untuk melakukan selebrasi setelah turun dari podium. Bersama juara dua dan tiga, mereka kembali melintasi sirkuit, namun kali ini mereka menjalankan kendaraan beroda duanya pelan-pelan.


Mereka melambaikan sebelah tangan kepada para penonton yang terus berteriak dan bersorak. Seolah ikut merasakan kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan.


Pembalap Argentina sebagai juara kedua, diikuti pembalap dari Jerman di posisi ketiga, mereka melaju beriringan. Ketiganya bahkan saling mengucapkan selamat dan berkali-kali berjabat tangan, sama-sama merasa senang dengan euforia hari itu. Tidak ada persaingan, ataupun permusuhan. Yang ada hanyalah sama-sama menerima hasil akhir, juga mengakui kemampuan masing-masing.


"Rania! Rania! Rania!" mereka terus meneriakan namanya, dan poster dengan tulisan angka 21 berwarna merah dan hitam diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.


Perempuan itu berhenti begitu mencapai garis finish, kemudian melakukan selebrasi lainnya. Ketika dia menggeber mesin Ducatinya sambil berputar di tempat. Sehingga menimbulkan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi di udara.


Sorakan penonton kembali bergemuruh, mambuat perempuan itu semakin bersemangat melanjutkan selebrasinya lebih lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri berjalan tergesa, dia tak bisa menunggu perempuan itu lebih lama lagi setelah semua selebrasi yang dilaluinya. Atas kemenangannya hari itu, tentu saja Rania mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi dari seluruh dunia.


Mereka sama-sama berhenti saat jarak hanya tinggal sekitar dua meter lagi. Sama-sama saling memindai keadaan masing-masing seolah keduanya sudah berpisah begitu lama. Lalu di detik berikutnya Dimitri kembali melanjutkam langkah, dan dengan cepat menarik perempuan itu ke pelukannya.


"Kamu membuatku ketakutan!" katanya, dan dia memeluknya dengan erat. Sementara Rania hanya terdiam.


"Apa babynya oke?" hal lain yang kini dia khawatirkan selain Rania. Dia melepaskan perempuan itu, kemudian menatap wajahnya.


"Oke." jawab Rania dengan senyumannya.


"Baiklah ... aku senang mendengarnya."


"Kamu nggak senang aku jadi juara?"


"Senang, tapi lebih senang karena tahu kalian baik-baik saja." katanya, dan dia kembali memeluk Rania begitu erat.


"Ayo kita pergi, sebelum mereka menculikmu lagi." pria itu dengan tergesa menariknya dari lorong pitstop, bermaksud membawanya keluar dari area sirkuit.


"Eh, ... tunggu!" Rania berhenti berjalan.


"Apalagi? nanti papamu dan yang lainnya datang."


"Sebentar. Kamu bawa hape? punyaku ketinggalan di hotel."


"Ada. untuk apa?" dia merogoh ponselnya di saku celananya.


"Pinjem sebentar." Rania merebutnya tanpa peringatan, kemudian berbelok arah menuju kerumunan di sudut lain.


"Zai!!" Dimitri mengikutinya berjalan ke arah sana.


Kerumunan tersebut sedikit terbuka ketika beberapa diantara mereka yang sebagian besarnya merupakan para pencari berita tengah mewawancarai sang legenda balap motor dunia, siapa lagi kalau bukan The Doctor itu sendiri, Valentino Rossi yang sengaja menyepatkan diri hadir untuk menonton perhelatan akbar tersebut.


"Permisi, mau minta foto sebentar boleh?" Rania dengan kepolosan dan keluguannya. Dan momen tersebut tentu saja tertangkap kamera wartawan.


Seorang penerjemah menyampaikan maksudnya kepada staf yang tentu saja langsung disetujui oleh orang yang dituju.


Beberapa kali gambar diambil, tak hanya oleh kamera ponsel milik Dimitri, melainkan juga oleh kamera wartawan yang saat itu hadir. Tak luput juga dari jepretan kamera para penggemar yang kebetulan lewat saat itu.


Sedikit berbasa-basi dan percakapan ringan diantara mereka menambah momen tersebut menjadi lebih istimewa lagi. Apalagi ditambah pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan. Yang sayangnya harus berakhir karena pria itu harus segera pergi meninggalkan Mandalika.


"Senang sekali bisa bertemu denganmu Rania. Lain kali jika kamu balapan di Itali jangan lupa mampir." katanya dalam bahasa inggris yang lumayan Rania fahami. Sambil menjabat tangannya sesaat.


Dan Rania hanya menganggukan kepalanya, sebelum akhirnya pria itu memeluknya sebentar.


"Te-thank you." katanya, kemudian mereka berpisah.


"Apa itu tadi?" Dimitri segera menghampirinya setelah rombongan itu meninggalkan area sirkuit.


"Eh? aku lupa." Rania menepuk kepalanya. Bisa-bisanya dia melupakan suaminya pada saat seperti itu.


"Ck! tentu saja. Bertemu idola heh? senangnnya!!" dia mencibir, sementara Rania bungkam.


"Cepat kita kembali ke hotel. Sebelum semua orang merebutmu lagi dari aku." dia kembali menariknya pergi. Dan tak ads yang dilakukan oleh Rania selain mengikuti langkah tergesa pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dimitri mendengus kasar, sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang dia temukan di kamar mandi.


Melihat kelakuan Rania yang tak ubahnya seperti anak kecil yang telah menemukan mainan baru.


Dia terus menatap ponselnya yang di dalamnya terdapat beberapa foto idolanya yang tadi sore diambilnya dengan ponsel Dimitri sebelum kabur meninggalkan sirkuit. Yang segera saja dia pindahkan ke ponsel miliknya sendiri begitu mereka tiba di hotel.


Rania berguling-guling diatas tempat tidur, sambil tertawa, dengan kedua kakinya yang menendang-nendang di udara. Rasa bahagianya tak terkira. Bukan saja karena hari itu dia jadi juara, tapi juga karena kejadian yang tak pernah dia impikan sama-sekali.


Pertemuannya dengan legenda hidup, sekaligus idolanya memang membuat kebahagiaannya bertambah.


"Apa istimewanya orang tua ini!" Dimitri merebut ponsel lalu menatap layarnya yang sejak tadi Rania tatap dengan raut bahagia. Yang membuatnya merasa kesal setengah mati.


Lalu dia menjatuhkan ponsel tersebut kr belakang kepala Rania.


"Tua-tua juga dia keren tahu!" perempuan itu bereaksi.


"Dulu. Sekarang dia sudah tua."


"Nggak apa-apa ye, yang penting dia keren."


"Dih?"


"Lihat, aku menikahi perempuan luar biasa sepertimu." katanya.


Rania hampir saja menjawabnya.


"Dan yang paling keren dari itu adalah sebentar lagi aku akan segera menjadi ayah dari dua anak hebat ini." dia menyentuh perut Rania kemudian mengusap-usapnya dengan lembut.


"Ih, ... kamu mulai gombalin aku."


Dimitri tertawa.


"Curiga mau modus?" Rania melihat keluar jendela, langit mulai meredup dengan semburat jingga keemasan ketika matahari perlahan tenggelam.


"Yah, ... ketinggalan lihat sunset." Rania bangkit dari tempat tidur, kemudian berjalan ke arah jendela.


"Besok masih ada." Dimitri mengikutinya.


"Besok kita udah pulang."


"Pulang setelah sunset kalau kamu mau." dia pun mendekat ke jendela.


"Hum?" Rania menoleh.


"Disini indah bukan?" pria itu pun menatap keluar jendela, dimana cahaya mulai berganti dengan lampu-lampu kecil di pinggir pantai.


"Iya."


"Eh, ... yang lainnya masih pesta di bawah ya?" ucap Rania kemudian.


"Mungkin."


"Ayo kita kesana?"


"Untuk apa?"


"Ya ikut pesta lah."


"Tidak boleh."


"Kenapa nggak boleh?"


"Kamu harus istrirahat."


"Belum ngantuk."


"Istirahat bukan cuma tidur."


"Lah terus ngapain?"


"Ya diam saja, istirahat."


"Disini?"


"Iya."


"Ah, ... diam disini cuma berduaan sama aja bohong." Rania kembali ke tempat tidur.


"Apanya yang bohong?"


"Diam disini, ... sama kamu."


Dimitri tersenyum, dan dia mengikutinya kembali ke tempat tidur.


"Istirhatlah, mau tidur ataupun tidak." katanya seraya merebakan tubuh tingginya di dekat Rania.


"Hum?"


"Aku lelah, apa kamu tidak lelah? mengendarai motor sebanyak 27 putaran apa tidak berpengaruh kepadamu? apalagi keadaanmu sedang hamil seperti ini?"


Rania terdiam.


"Karena aku sangat lelah, padahal cuma meninton. Tapi karena terlalu menengangkan jadinya membuat aku lelah." suaranya memelan, kemudian di menit berikutnya pria itu sudah memejamkan mata.


"Eh?" Rania melihatnya lebih dekat.


"Apa kamu mau melakukan hal lain? kalau mau aku tidak akan tidur dulu."


"Nggak, nggak. Tidur aja, aku juga mau tidur." Rania menjauh.


"Baiklah."


🌹


🌹


🌹


Besambung ...