All About You

All About You
Percakapan Orang Tua



🌹


🌹


"Tidur kenapa sih? bolak-balik mulu dari tadi?" protes Maharani kepada suaminya yang sudah dua jam membolak balikan tubuhnya. Pria itu tampaknya tak bisa memejamkan mata setelah putri mereka mengatakan akan ada kunjungan dari Satria.


"Aku nggak bisa tidur, kepikiran melulu omongannya Rania." Angga membalikan tubuhnya menghadapi Maharani.


"Ck! Nggak usah dipikirin, cuma kunjungan biasa kan?" perempuan itu memaksa untuk membuka matanya, walau rasa kantuk menyerang tanpa ampun.


"Tetep aja aku bingung."


"Kenapa harus bingung?"


"Ini pertama kali lho, rumah kita dikunjungi sama... apa ya aku nyebutnya?"


"Calon besan?" Maharani tertawa. Rasanya lucu sekali memikirkan hal ini.


"Pede amat nyebut calon besan?" Angga berbalik lagi hingga posisinya terlentang. Dia tak bisa membayangkan akan bagaimana jadinya jika hal itu benar saja terjadi.


"Si oneng ada yang lamar, terus nanti dia nikah. Terus dibawa pergi sama suaminya." suaranya tercekat. Dia merasa seperti ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya. Dan netranya tiba-tiba saja terasa memanas.


"Anak kita akan pergi." katanya dengan suara parau.


"Bukankah semua anak akan pergi kalau mereka sudah dewasa? siklusnya begitu, bukan? dan itu memang sudah biasa."


"Kamu nggak ngerasa sedih gitu? anak yang kita urus dari kecil, kita sayang kita jaga baik-baik. Bahkan nyamuk aja nggak ada yang bisa hinggap, terus tiba-tiba aja setelah mereka dewasa ada yang bawa pergi. Orang asing yang nggak kita kenal, yang nggak kita tahu gimana wataknya. Apa dia baik, apa dia akan menyayangi anak kita kayak kita yang sayang mereka. Apa dia akan memperlakukan anak kita dengan baik, Atau ...


"Semua orang akan menemuka nasibnya sendiri. Kita nggak bisa menerka-nerka akan gimana nantinya. Kalau kamu tanya aku sedih atau nggak karena suatu hari nanti akan ditinggalin sama anak-anak, jawabnya ya sedih lah. Apalagi aku, yang mengandung selama sembilan bulan, terus melahirkan mereka. Ngurus mereka dari bayi. Pipis nya, eeknya, nangis sama ketawanya seharian sama aku, segalanya aku urusin. Dan kamu tanya apa aku sedih? jelas sedih."


"Tapi apa kita harus menahan mereka disini? nggak mungkin kan? kita harus rela. Bagaimanapun kita harus melepaskan mereka agar berjalan sendiri."


"Kamu tahu nggak, kalau apa yang kita alami sekarang mungkin adalah hal yang kita lakukan dulu?"


"Hum?" Angga menjengit.


"Kayak kamu dulu, yang tiba-tiba menikahi aku di saat darurat." Maharani mengingatkan.


Dan ya, bayangan itu hadir kembali ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya, kemudian melalui banyak hal sehingga menyatukan keduanya menjadi pasangan yang terikat status pernikahan di usia yang sama-sama masih sangat muda. Dan ada banyak hal yang mengiringi perjalanan mereka hingga bisa seperti sekarang ini.


"Apa mungkin ini yang dirasakan orang tua kamu waktu aku membawamu pergi?" Angga berujar.


"Konteksnya beda, seperti yang kamu tahu kalau keadaan aku waktu itu beda dengan kita sekarang. Tapi mungkin kebanyakan orang tua akan merasakan hal yang seperti kamu rasakan sekarang. Nggak rela anak gadisnya dimiliki orang lain. Kaya aku juga yang mungkin nanti akan merasa nggak rela kalau Rega pergi dengan seseorang."


"Aku lupa kalau anakku bukan cuma Rania. Aku lupa kalau disini juga ada Rega, Amel sama Adel." katanya, ketika dia menyadari sesuatu. "Apa selama ini aku udah bersikap nggak adil sama adik-adiknya Rania?"


"Nggak tahu, pikir aja sendiri." Maharani tertawa kecil.


"Aku udah agak berat sebelah ya? dengan terlalu fokus sama Rania, dan sedikit mengabaikan adik-adiknya?"


"Mmm... begitulah."


"Selama ini kamu ngerasa gitu?"


"Kalau harus jujur, iya. Kamu selalu fokus sama Rania, dan membiarkan aku mengurus adik-adiknya sendirian. Semuanya Rania, Rania terus. Seolah-olah cuma dia anak kamu satu-satunya."


"Kenapa kamu nggak protes?"


"Untuk apa? kamu kan nggak bisa dikasih tahu, susah dibilangin. Juga sulit di protes. Apalagi kalau soal Rania, Bisa-bisa kita berantem terus kalau ngurusin Rania. Semuanya kamu yang menentukan. Dan berhasil bukan? Sementara adik-adiknya jelas lebih butuh aku dari pada Rania."


"Kok berasa kamu lagi nyindir aku ya?"


"Ah, kamu baperan." Maharani terkekeh.


"Tapi kamu mampu mengurus mereka bertiga, mengatur semuanya hingga anak-anak bisa melakukan banyak hal. Kamu bahkan bisa menyalurkan bakat mereka. Dan semuanya terorganisir dengan baik."


"Aku memilih melakukan hal baik dari pada memusingkan hal ssmacam itu. Nggak sepadan aja, masa-masa keemasan anak aku harus diganggu sama pertengkaran orang tua mereka karena kakaknya."


"Iya, Sedangkan aku,... ngurus satu anak aja pusingnya minta ampun. Si oneng baru rada kalem sekarang aja setelah punya pacar."


Maharani tersenyum.


"Ish, ... keselnya kalau ingat itu ah!" geram Angga seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan sampai ke tidak sukaan kamu kepada seseorang mempengaruhi pandangan kamu kepadanya. Kita nggak tahu gimana perjuangan mereka untuk menjadi lebih baik. Mungkin lebih berat dari apa yang kita lakukan."


"Kamu nggak tahu sih gimana si Dimitri."


"Emang kamu tahu?"


"Udah aku bilang, aku tuh hafal tipe-tipe cowok kayak dia."


"Iyalah, satu spesies, pasti hafal."


"Hmm... Reputasinya udah sampai duluan ke telinga aku."


"Kabar dari Andra ya?"


"Bukan. Mana mungkin Andra buka aib anak bosnya, nggak mungkin lah. Aku selidiki sendiri pas ngerasa curiga sama gerak-geriknya dia. Dan persis seperti dugaan aku." Angga mengingat ketika beberapa kali dia memergoki sponsor mereka itu keluar masuk klub yang cukup terkenal di Bandung, pada awal-awal mereka saling mengenal. Kemudian beberapa info yang dia dapatkan tentang putra pemilik Nikolai Grup itu. Termasuk kehidupan pribadi dan sepak terjangnya dalam pergaulan. Yang tiba-tiba saja mengingatkannya pada kelakuannya dulu. Dan hal itu membuatnya membenci dirinya sendiri.


"Iya, kayak yang aku bilang, satu spesies sama kamu." perempuan itu tertawa.


Angga kembali mencebik.


"Nggak rela aja, anak kita kalau misalnya jatuh ke tangan dia, duh."


"Nggak boleh gitu. Siapa tahu kita lebih buruk dari dia."


"Nyindir aku ya? sebejat-bejatnya aku dulu, tetap aja punya keinginan kalau anak kita itu akan mendapatkan orang baik, jangan yang kayak aku."


"Tapi kita nggak bisa kayak gitu. Semuanya udah ada yang ngatur, dan kita nggak bisa milih harus begini, harus begitu. Semua menemukan jalannya sendiri."


"Kamu kayaknya udah terpengaruh nih sama si Dimi. Sejak pulang dari Jakarta belain dia terus. " Angga bersungut-sungut.


"Ye, ... baper. Bapak-bapak kok baperan? Aku cuma berusaha jadi orang yang objektif. Jangan karena sesuatu hal jadi bikin kita benci seseorang tanpa alasan yang jelas."


"Aku nggak benci Dimitri."


"Sikap dan cara bicara kamu menunjukan kalau kamu benci sama dia."


"Cuma nggak suka Ran."


"Sama aja."


"Beda lah."


"Tetep aja."


"Jadi kamu setuju kalau Rania sama Dimitri?"


"Aku nyerahin semua keputusan sana Rania. Dia udah dewasa, polos-polos gitu juga dia pasti tahu mesti gimana. Kalau kita terus yang nentuin nasibnya, gimana dia mau mandiri?" Maharani memiringkan tubuhnya ke arah lain.


"Kalau misal Om Satria berniat nikahin mereka gimana?" Angga mencondongkan tubuhnya ke arah istrinya.


"Ya bagus."


"Kok bagus?"


"Itu artinya mereka punya niat bagus. Tahu anaknya suka sama anak kita, langsung di urusin. Mereka lebih tahu gimana anaknya kali? Lagian lebih aman juga lah kalau mereka nikah."


"Aman?"


"Kita nggak akan was-was mereka akan melakukan yang aneh-aneh."


" Ng...


"Kayak nggak pernah muda aja." perempuan itu hampir saja memejamkan matanya. "Kalau dulu kita separah itu, gimana anak-anak jaman sekarang ya? aku kok ngeri. Apalagi kayak yang kamu bilang soal pergaulan Dimitri, yang juga satu spesies sama kamu."


Tubuh Angga tiba-tiba saja menegang.


"Kalau aku milih mereka nikah ajalah, apalagi kalau Dimitrinya serius, tambah orang tuanya juga welcome sama anak kita. Apa lagi? tinggal kita aja yang relain dia. Hidup Rania juga nggak akan susah-susah amat."


"Yakin?"


"Kelihatannya, tapi nggak tahu juga sih."


"Hhh ...


"Jangan terlalu diambil pusing, mendingan bobo aja, siap-siap buat besok ketemu calon besan." Maharani tertawa sambil memejamkan mata.


"Dih, Dia ngarep."


"Siapa yag nggak, orang tua manapun akan berharap anak mereka dapat laki-laki kayak Dimitri,. Lihat keluarganya, sikap mereka, dan lagi ...


"Ujung-ujungnya pasti duit."


"Ya apalagi?"


"Dasar matre!"


"Realistis. Semua orang butuh itu."


"Kamu pikir anak kita itu barang, yang bisa dibandingkan dengan duit atau barang lain yang harganya bisa diukur dengan uang? Rania itu anak kita, dia lebih mahal dari apapun yang ada di dunia. Terlepas dari gimana watak da keadaannya dia, nggak ada satu benda pun yang bisa dibandingkan sama dia."


"Iya, papa. Maksud aku nggak gitu, sensi amat kalau masalahnya menyangkut Rania?"


"Habis kamu kayaknya setuju banget Rania sama Dimitri, karena dia anaknya Om Satria. Yang semua orang udah tahu gimana keluarga mereka.?"


"Ah, ... terserah kamu lah. Susah kalau bahas Rania sama kamu. Bawaannya sensitif."


"Dih?"


"Udah cepet tidur. Aku ngantuk."


"Ini nggak akan ada ritual apa gitu sebelum tidur?" Angga menyentuh bahu Maharani yang hampir terlelap lagi.


"Apaan?" perempuan itu melebarkan matanya.


"Ritual... biar aku juga ngantuk."


"Nggak mau ah, aku capek."


"Aku aja yang kerja, kamu diem."


"Nggak mau, nanti kamu minta macam-macam."


"Ngga akan. udah aku bilang kamu diem."


"Nggak mauuuuu ..." tapi tak urung juga ritual panas itu terjadi. Dan seperti yang sudah-sudah, keduanya sama-sama berpacu saat benar-benar terbawa suasana. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersamaan.


🌹


🌹


🌹


Bersambumg ...


Hadeh, ... malah emak bapaknya dulu yang pengantenan. 😂😂