All About You

All About You
Mandalika, I'm Comming



🌹


🌹


"Kondisi Rania sangat unik, hanya terjadi beberapa kasus saja pada ribuan kehamilan." dokter Reyhan menyelesaikan pemeriksaan.


"Apa itu artinya aman bagi Rania untuk tetap ikut balapan?" Dimitri bertanya.


"Aman." pria berkacamata itu duduk di kursinya.


"Yakin? kandungannya baru mau dua bulan lho." Angga menyahut.


"Hasil observasi setelah tiga kali latihan menunjukan jika kondisinya memungkinkan dia untuk mengikuti balapan, dan tidak ada masalah dengan itu." Reyhan bangkit dan mendekati monitor kemudian kembali menunjukan foto hasil usg beberapa saat yang lalu.


"Apa resiko paling kecil dari ini?" Satria ikut bereaksi setelah cukup lama menyimak percakapan tersebut.


"Kalau dia hati-hati hampir tidak ada resiko."


"Kandungannya normal, letak janinnya aman, seperti orang hamil pada umumnya." dia menunjuk layar di depannya. "Tapi mungkin karena dia terbiasa mengendarai motor jadi tubuhnya sudah terlatih berada dalam kondisi dan posisi itu untuk waktu yang cukup lama." lanjut Reyhan dengan meyakinkan.


Para ayah dan calon ayah satunya lagi terdiam.


"Kalian yakin akan membiarkan Rania balapan lagi?" Angga dengan nada frustasi.


"Kalau Rania sendiri yakin, apalagi kondisinya memungkinkan, lalu apa yang patut kita khawatirkan?" Satria menjawab.


Angga menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian menoleh ke arah putrinya yang terdiam.


"Papa cuma khawatir kamu kenapa-kenapa." katanya. "Kalau terjadi sesuatu sama biji polong, ... eh ... cucu papa gimana? papa nggak akan bisa maafin diri papa sendiri."


Rania kemudian beralih kepada suaminya.


"Nggak usah deh kalau gitu." katanya yang mulai merasa ragu.


"Bukankah ini yang paling kamu inginkan?" Dimitri berucap.


"Tapi kalau nggak ada yang percaya aku bisa ngelakuinnya percuma."


"Hum?"


"Kamu tahu, kekuatan aku berasal dari kepercayaan orang lain. Tapi kalau gini kenyataannya, mana bisa aku ngelakuinnya? belum apa-apa kekuatan aku udah hilang. Kayak waktu kamu nggak terlalu percaya pas aku balapan di Argentina."


Dimitri mengerutkan dahi.


"Ketidak percayaan sama ijin kamu yang setengah-setengah bikin aku kekurangan percaya diri, makanya aku kecelakaan. Ya biarpun emang ada unsur kesengajaan juga sih. Tapi biasanya kalau kepercaan itu penuh mau gimana keadaannya juga aku tetep bisa lewatin itu lho."


"Aku dukung kamu, Zai. Aku percaya kamu." suaminya menjawab.


"Tapi papa nggak. Dan itu akan sulit. Mentornya aja nggak percaya aku, mana bisa aku balapan?" Rania bangkit dai ranjang pemeriksaan.


"Udahlah, nggak usah dilanjutin. Cari aman aja, daripada aku kecelakaan lagi, nanti malah lebih parah. Kita pulang aja yuk." katanya, dan dia berjalan mendahului tiga pria di belakangnya.


"Bagaimana?" Sofia bangkit denga antusias, setelah selama satu jam duduk di ruang tunggu bersama Maharani.


"Sehat, nggak usah khawatir." jawab Rania dengan senyum yang mengembang ceria.


"Oh, ... syukurlah."


"Terus balapannya?" sahut Maharni dari belakang setelah melihat raut murumg suaminya yang beriringan keluar dari ruang pemeriksaan.


"Nggak jadi."


"Kanapa?"


"Ngga kenapa-kenapa."


"Katanya sehat, baik-baik saja kan?"


"Iya."


"Terus, kenapa nggak jadi?" sang ibu bertanya.


"Nggak mau ambil resiko, takutnya ada apa-apa."


"Dim, ... bukanya kemarin kamu bilang bisa?"


"I-iya mom, tapi ...


"Udah, nggak usah di bahas lagi. Cuma satu kali doang, sementara aku udah juara di beberapa balapan kan? mau apa lagi?" Rania mencoba berbesar hati, karena baginya dukungan sang ayah lebih penting dari siapapun.


Karena pria itulah yang mendampinginya sejak awal. Mendukungnya dari titik nol hingga dirinya tiba di puncak. Mana mungkin dia bisa melupkan hal itu? Dan kekhawatiran Angga memang sangat beralasan


"Ayo kita pulang? aku udah lapar. Mbak Lina pasti udah siapin makanan. Tadi aku udah pesenin dia untuk masak yang banyak."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan acara makan itu segera berubah menjadi ajang kumpul keluarga. Rumah besar milik Dimitri seketika berubah menjadi ramai karena kehadiran para orang tua dan adik-adiknya Rania.


"Ega mulai pertandingannya kapan?" Rania memulai percakapan.


"Awal bulan kak." jawab sang adik dengan semangat. Dia merasa senang karena semua orang terus menyemangatinya sejak mereka tahu bahwa dirinya lolos seleksi timnas dan tengah mengikuti pelatihan.


"Wow, cepat juga ya?" sahut Dimitri.


"Lumayan kak, hehe."


"Piala AFF?" Satria menyela.


"Iya."


"Keren. Lawan mana?"


"Laga pertamanya lawan Thailand."


"Wow, negara Thailand terkenal dengan timnya yang kuat."


"Iya, memang."


"Tapi negara kita juga punya tim yang bagus. Pasti bisa menghadapi mereka, bukan?"


"Iya pak, semoga." percakapan dua orang berbeda usia itu cukup hangat, membuat semua yang berada di rumah itu terlihat antusias.


"Oh iya, Amel dan Adel katanya hoby seni ya?" Sofia ikut berbicara, menyapa dua anak kembar yang sibuk dengan makanan mereka.


"Seni apa?"


"Aku melukis, kalau Adel ngedance."


"Dance? modern dance?"


"Iya." Adel menganggukan kepala.


"Wow, ... kalian keren. Adik-adiknya Rania banyak kegiatannya ya?"


"Begitulah, menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat itu bagus." Maharani menjawab.


"Setuju. Jadi mereka tidak pernah pergi main?"


"Main, tapi mereka sukanya di rumah. Mereka tidak terlalu suka keluar."


"Sama seperti Darren dan Darryl. Mereka selalu asyik di belakang rumah. Entah itu main perang-perangan atau menjadi Robin Hood." Sofia tertawa pelan. "Ah, jadi kangen mereka. Sayang, nanti kita ke Moscow ya?" dia beralih kepada suaminya.


"Baik."


Kemudian percakapan itu berlangsung hangat seperti biasanya. Mereka membahas segala hal diiringi canda tawa yang menyenangkan.


Kecuali Angga yang tampak tak banyak bicara hari itu. Dia sesekali memperhatikan putrinya yang juga ikut berbincang-bincang dengan wajahnya yang ceria.


Namun entah mengapa keceriaan Rania malah membuatnya merasa sedih. Dirinya tahu jika putrinya itu tengah menyembunyikan kekecewaan karena keinginannya tak dapat dia penuhi. Dia sangat mengenali sifatnya yang biasanya ekpresif. Namun kali ini Rania mampu menyembunyikannya dengan baik. Dia menahan hal yang biasanya dia ekspresikan dengan spontan, tapi itu malah membuatnya sedikit sedih.


"Iya kan pah?" suara Maharani membuyarkan lamunannya.


"Hah, apa?" Angga terperangah.


"Waktu itu kita hampir kehilangan Rania karena nggak tahu kalau sedang hamil." Maharani mengingatkan.


"Oh, ... iya. Waktu kamu pingsan di kamar mandi dalam keadaan berdarah-darah." jawab Angga, dan ingatan itu benar-benar jelas.


"Aku kira kita akan kehilangan dia ... waktu itu terasa mengerikan bukan? mengira akan kehilangan Rania membuat aku ketakutan setengah mati." pria itu terkekeh, namun membuat keadaan di ruang makan tersebut menjadi hening.


Kini mereka mengerti mengapa Angga begitu keras menentang putrinya untuk kembali ke lintasan apalagi dalam keadaan mengandung seperti sekarang ini.


Mereka semua terdiam.


"Mm ... tapi dia kuat bukan? buktinya selamat, dan hidup sampai dewasa." Dimitri memecah kebisuan. Dia merangkul pundak istrinya sambil tersenyum kepadanya.


"Ya, dia memang sangat kuat." Angga mengamini. "Dan keras kepala." katanya.


"Well, ... soal itu aku sangat setuju." ucap Dimitri lagi yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.


***


"Kenapa nggak nginep aja sih sekalian?" Rania merengek ketika mertua dan kedua orang tuanya berpamitan.


"Maunya begitu, tapi mama lupa malam ini ada janji dengan terapist." jawab Sofia yang memeluk anak dan menantunya. "Lain kali saja ya?"


"Terapist apa?"


"Perawatan rutin." jawab sang mertua.


"Oh, ..."


"Adik-adik kamu juga besok ada kegiatan, Rega harus kembali ke asrama malam ini dan si kembar besok ada lomba." Angga dan Maharani mendekat.


"Oke." Rania dengan berat hati, rasanya dia masih merindukan mereka semua.


"Baik-baik ya kak, jangan yang aneh-aneh." Maharani berpesan.


"Ya Ma."


"Yang sabar ya Dim, kalau dia berulah." perempuan itu tertawa.


Dimitri menjawabnya dengan anggukan sambil tertawa.


"Kalau begitu papa dan mama tinggal ya?" keduanya kembali berpamitan.


"Iya pah."


"Dah kak." dan ketiga adiknya melakukan hal yang sama.


"Kalian baik-baik ya? jangan nakal." Rania menjawab.


"Nggak ih, siapa yang nakal? orang yang nakalnya udah nggak tinggal di rumah." jawab Amel sekenanya.


"Apa?"


"Bye kak." adik-adiknya segera masuk kedalam mobil sambil tertawa.


"Kalian ya!!" sementara kakak mereka menggeram gemas.


Mesin mobil sudah dihidupkan, dan mereka bersiap untuk pergi. Sementara dua orang tuan rumah masih menunggu di teras. Rania bahkan tak ingin memalingkan pandangan dari mobil suv milik sang ayah hingga mesin beroda empat itu mulai bergerak perlahan ke arah pintu gerbang yang sudah terbuka sejak tadi.


Namun benda tersebut tiba-tiba saja berhenti, dan kaca di bagian pengemudi perlahan terbuka. Angga tampak menyembulkan kepalanya, lalu menoleh.


"Hey, bersiap-siaplah dari sekarang, besok sore kita berangkat ke Mandalika 'kan?" pria itu berteriak.


"Ap-apa?" Rania sedikit terhenyak.


"Kita akhiri musim balapan tahun ini dengan manis. Apa kamu bisa?" teriak Angga lagi.


"Mmm .."


"Kargo dan semua perlengkapan udah Galang kirim ke Mandalika, tinggal kita dan tim yang harus menyusul besok sore." ucap Angga lagi yang tersenyum kemudian kembali menutup kaca mobilnya dan segera pergi mengikuti mobil Satria.


"Keren papa!" Maharani mengusap pundak suaminya dengan bangga.


"Aku nggak tega lihat dia pura-pura ceria kayak gitu." jawab Angga yang merasa hatinya lega tak seperti sebelumnya.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...