
🌹
🌹
"Titip Rania ya Mbu," pamit Angga ketika di waktu yang bersamaan sebuah motor bebek yang dia kenal memasuki pekarangan villa.
"Aden mau pulang sekarang?"
"Iya, kelamaan pergi bisa kacau bengkel saya." Angga mengenakan helmnya.
"Padahal Ambu mau masak sama neng Rania sekarang." perempuan tua itu mengangkat tas belanjaan berisi macam-macam sayuran dan lauk yang akan dia olah, persis seperti pesanan Rania semalam.
"Oh ya? emang dia bisa masak?" Angga terkekeh.
"Dih, ngece. Pan ini mau belajar." Rania menyahut.
"Serius?"
"Iya lah,"
"Bagus oneng, jangan main layangan sama kelereng melulu, sebentar lagi mau jadi emak-emak harus bisa bikin makanan juga." Angga mengacak puncak kepala putrinya.
"Ya kan ini mau."
Angga tersenyum.
"Ya udah, papa pulang ya? ingat, jangan ngambek lagi."
"Ish, ... udah di bilangim nggak juga, masih aja? lama-lama papa kayak Ara." protes Rania.
"Kali kamu masih ada rencana ngambek sampai berapa season gitu?"
"Emangnya sinetron?"
Angga kemudian tertawa.
"Jangan kebanyakan main," pria itu melirik ke arah Gaza yang memarkirkan motornya di dekat garasi.
"Iya."
"Iya iya tapi main terus?"
"Ya kalau nggak ada yang ngajakin mah nggak bakalan."
"Tetep aja jangan. Tu lagi bocah-bocah, pada main ke sini terus?" pria itu menoleh ke area belakang di mana anak-anak kembali datang untuk bermain, seperti biasa.
"Nggak apa-apa lah, nanti juga kalau aku pulang mereka nggak akan ke sini lagi. Sementara biarin aja, biar villa nya nggak sepi. Aku seneng kalau tempat ini jadi rame."
"Kapan mau pulang? sekarang aja bareng papa?" tawar Angga.
"Nanti aja kalau Dimitri pulang," ucap Rania.
"Serius?"
"Iya, biar dia langsung jemput ke sini."
Angga tersenyum.
"Gitu dong, jangan ngambek terus." sang ayah pun berujar.
"Hu'um, ... aku mikir lagi, kayaknya yang papa bilang itu ada benernya juga. Aku udah kelamaan pergi."
"Emang bener, oneng!"
"Iya, ...
"Ya udah, kalau gini papa berasa tenang mau pulang juga."
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Papa pulang sekarang ya?"
"Iya."
"Baik-baik di sini, sampai Dimitri jemput kamu."
"Iya."
"Jangan keluyuran, apa lagi sama cowok lain, nanti ada fitnah." bisik pria itu sambil kembali melirik ke arah Gaza yang kini ikut bergabung dengan anak-anak di belakang.
"Nggak ih, apaan?"
"Ya kali, ada yang ngajakin."
"Nggal lah."
Dan Angga pun benar-benar pergi setelah memastikan semuanya akan baik-baik saja.
🌹
🌹
"Anak jaman sekarangmah pada males, padahal udah gampang." Mimih memasukkan beberapa macam bumbu ke dalam blender.
"Nyalain, Neng." katanya.
"Bumbu tinggal giling pakai mesin, atau tinggal beli juga di warung yang udah jadi. Coba kayak Ambu dulu, mesti ngulek pakai cobek biar masaknya sebanyak apa juga." katanya yang tengah membersihkan ayam di bak cuci.
"Emang, abis ribet sih. Mending beli aja, tinggal makan." jawab Rania dengan entengnya.
"Kebiasaan jelek neng."
"Baiklah, ... selain kita nggak capek, juga bantu naikin ekonomi orang lain."
"Sesekali nggak apa-apa, tapi jangan setiap waktu juga. Dan alangkah lebih baik kalau kita juga bisa membuatnya sendiri, neng."
"Kan nggak bisa."
"Ya belajar."
"Kan susah."
"Lama-lama juga jadi gampang kalau udah terbiasa."
"Aku bisanya rakit mesin."
"Karena biasanya itu dari kecil."
"Apa aku bisa belajar lagi yang lain?"
"Kalau nggak bisa gimana?"
"Pasti bisa."
Rania terdiam lagi.
"Minimal bisa, nggak harus ahli. Karena yang ahli itu cuma di hotel atau restoran."
"Kan ini mau belajar, Mbu?"
"Iya, dan itu bagus." puji Mimih kepadanya, yang meembuat Rania sedikit tersenyum.
"Nah, karena bumbunya udah siap, kita masak ayamnya neng."
"Oke."
Dan Rania melakukan apa yang di perintahakan. Memasukkan bumbu ke dalam wajan panas, kemudian diikuti ayam yang tadi sudah di bersihkan. Menambah bumbu dan penyedap lainnya, lalu mengaduknya seperti yang perempuan tua itu contohkan.
Begitu juga dengan bahan-baha lainnya yang dia potong, kemudian di bersihkan hingga akhirnya siap di masak juga.
"Sebentar, Dimitri nelfon." ucap Rania ketika ponselnya berbunyi, dan kontak Dimitri yang menghubungi.
Dia menggeser tombol hijau dan menekan tanda kamera sehingga mode panggilan berubah menjadi video call.
"Hey?" Rania segera menyapa tanpa menghentika kegiatannya, sementara ponsel dia sandarkan pada toples di atas meja.
"Hey, ..." pria di seberang dengan raut wajah sumringah. Sebenarnya dia tak menyangka jika Rania akan segera menjawab panggilannya. Dimitri mengira perempuan itu masih marah kepadanya.
"Kerjanya udah beres?" Rania bertanya.
"Belum." jawab Dimitri.
"Terus kenapa malah nelfon?"
"Sedang istirahat makan siang." Dimitri menunjukkan meja dengan hidangan yang baru saja dia lahap.
"Makan siang?" Rania melirik jam dinding, " Disini udah mau ashar, kamu baru makan siang?" dia beralih pada layar ponselnya.
"Di sini baru lewat tengah hari Zai. Perbedaan waktunya tiga jam." pria itu terkekeh.
"Oh iya?"
"Hmm ...
"Oke. Makannya udah?" Rania kembali pada pekerjaannya.
"Sudah."
"Syukurlah."
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Masak."
"Masak?" Dimitri membeo.
"Belajar." Rania menoleh pada layar ponsel kemudian tersenyum, yang merupakan senyum paling manis yang Dimitri lihat sejak terakhir kali mereka bertemu sebelum dirinya twrbang ke Dubai.
"Kamu belajar masak?"
"Dikit, yang gampang aja. Buat aku sendiri, kalau buat orang lainmah belum bisa."
Dimitri terdiam.
"Oh iya, kamu kapan pulang? masih lama ya?" Rania kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin besok. Hari ini masih di sini, dan nanti malam aku harus menghadiri acara di Burj Khalifa."
"Burj Khalifa?"
"Ya."
"Oke, aku tunggu kamu sampai pulang deh." Rania terlihat mematikan kompor, kemudian menghadap ke layar ponsel, lalu dia terdiam sebentar.
"Nanti dari bandara langsung jemput aku ke sini bisa nggak?" katanya kemudian yang membuat pria di seberang seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Halooo, kamu denger aku nggak?" Rania melambaikan tangannya.
"Umm, ... pulang?" Dimitri mengulang kata-katanya.
"Iya."
"Aku jemput?"
"Iya, kalau bisa. Tapi kalau misalnya nggak bisa juga nggak ...
"Aku bisa. Tunggu saja, mungkin besok setelah selesai pekerjaan aku akan langsung pulang, aku akan langsung menjemputmu ke villa." Dimitri tampak bersemangat.
"Beneran?"
"Iya, aku akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat." jawab Dimitri.
"Nggak usah buru-buru, nanti ada yang salah. Santai aja, aku nggak akan kemana-mana kok." Rania mendekatkan wajahnya pada layar ponsel sehingga dia dapat melihat wajah suaminya dengan lebih jelas.
"Yang?" dia kembali melambai, dan membuat Dimitri mengerjap seketika.
"Mmm , ... ya?" pria itu tergagap.
"Nggak usah buru-buru. Santai aja." ulang Rania.
"Baiklah, ...
"Aku nunggu kamu di sini ya?"
"Iya, ... baik." Dimitri menganggukkan kepala.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
selamat berbuka puasa ðŸ¤ðŸ¤