
🌹
🌹
Para staff menatap heran ketika Dimitri memasuki gedung kantor tempat mereka bekerja. Pasalnya baru tiga hari dari sejak pernikahan, pria itu sudah menutuskan untuk kembali bekerja. Tanpa libur panjang, ataupun bulan madu seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
"Selamat pagi." Dimitri berjalan melewati mereka.
"Pagi pak." jawab para karyawan.
Lalu pria itu masuk kedalam lift yang kemudian melesat membawanya ke lantai paling atas gedung tersebut. Meninggalkan para karyawan dengan bisik-bisik asumsi mereka.
"Seharusnya bapak sedang menikmati bulan madu di Labuan Bajo sekarang ini." Aline menyambut kedatangan atasannya itu di depan ruang kerja.
"Jangan membahas soal itu." ucap Dimitri sebelum masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa? ada masalah pak?" Aline menahan senyum.
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Baiklah, mau langsung bekerja?" tanya perempuan berusia 30 tahun itu.
"Kamu pikir kenapa aku masuk kerja pagi-pagi begini kalau bukan untuk bekerja?"
"Saya kira bapak hanya mau menghabiskan waktu luang saja?" Aline tergelak. "Cuti bapak masih lama lho, dan jadwal sudah saya kosongkan untuk satu minggu ini."
"Atur lagi." Dimitri duduk di kursi kebesarannya.
"Bapak yakin?"
"Ya Aline."
"Baiklah." kemudian perempuan itu memberikan beberapa dokumen yang sudah dia simpan. "Ada beberapa yang harus di tanda tangani, dan ada proposal pengajuan yang baru akan saya periksa."
"Oke." pria itu mengenakan kaca mata bacanya.
"Aku kerjakan dulu yang ini. Apa ada petemuan yang harus aku hadiri minggu ini?"
"Tidak pak, semuanya saya mundurlah ke minggu depan. Sepertinya tidak bisa saya majukan."
"Tidak apa-apa. Bagus juga, pekerjaanku menjadi sedikit lebih santai bukan?"
"Ya pak."
"Baiklah."
"Saya permisi pak? mau menjadwal ulang yang lainnya."
"Silahkan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rania terbangun saat matahari sudah bersinar terik. Namun tirai apartemen masih tertutup rapat.
Ruangan itu sangat sepi, seperti tak ada lagi penghuni lain selain dirinya.
"Dim?" dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit. Mencari keberadaan suaminya yang belum nampak seperti tiga hari belakangan.
"Dim, kamu dimana?" dia berkeliling mencari ke setiap ruangan. Namun tak ditemukannya pria itu. Lalu Rania memutuskan untuk kembali kedalam kamar, dan menemuka secarik kertas diatas nakas di dekat ponselnya.
Telfon aku kalau kamu sudah bangun. Aku sudah mulai bekerja hari ini. Tulisan itu terlihat sangat rapi, bahkan hampir seperti kaligrafi.
"Ah, ... suami hari pertama bekerja, dan gue bangun hampir tengah hari." Rania mengusap wajahnya, kasar. Lalu dia meraih ponselnya untuk melakukan panggilan telfon.
"Ya Zai?"
"Hei, ... aku baru bangun, maaf." ucap Rania.
"Sudah aku duga, dari tadi aku tunggu kamu menelfon." terdengar kekehan dari seberang sana.
"Kenapa kamu nggak bangunin aku? kan jadinya aku nggak tahu kalau kamu hari ini mulai kerja?"
"Nggak apa-apa, memang dadakan. Tadi kamu kelihatan nyenyak, aku nggak tega."
"Hmmm... aku pikir masih libur."
"Tadinya, tapi aku nggak tahu harus Ngapain kalau lama-lama libur, jadinya memilih bekerja sajalah."
"Terus aku Ngapain? disini sepi, nggak kenal siapa-siapa,"
"Memang itu fungsinya apartemen, agar hidup sepi seperti menyendiri."
"Dih, nggak seru."
"Hmm... kamu sudah makan?"
"Belum, kan aku baru bangun."
"Pasti belum mandi juga?"
"Cuci muka juga belum."
Tawa Dimitri terdengar lagi.
"Aku nyari-nyari kamu nggak ada."
"Iya, tunggulah. Hanya beberapa jam lagi, aku pasti pulang cepat sore ini."
"Oke."
"Aku kerja lagi ya?"
"Baik."
"Aku akan tutup telfonnya oke?"
"Oke."
"Ya teba lyublyu ( aku mencintaimu )." katanya, lalu dia mematikan sambungan.
"Hah? apa itu barusan?" Rania menatap layar ponsel sambil mengerutkan dahi.
Dia segera membersihkan diri, dan dengan cepat menyelesaikannya karena merasa perutnya sudah keroncongan minta diisi. Baru pertama kali dalam hidupnya dia melewatkan sarapan pagi karena bangun kesiangan.
Biasanya makanan sudah tersedia di meja makan begitu dia turun dari kamarnya. Dan langsung makan tanpa tahu siapa yang memasak dan kegiatan dirumahnya dimulai jam berapa. Tidak pernah terpikirkan sama sekali dirinya akan mengalami hal seperti ini. Ditinggalkan sendirian di sebuah apartemen oleh suaminya, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu.
"Ngapain dulu nih?" dia berdiri di depan kulkas, lau membuka benda tersebut yang isinya penuh tertata begitu rapi.
Berbagai jenis camilan, bahan makanan, juga minuman kaleng yang berjajar rapi. Seperti belum pernah tersentuh oleh siapapun.
Ponselnya berbunyi lagi, tanda pesan masuk.
Kalau mau makan pesan saja, atau suruh pegawai apartemen untuk pergi membelikan.
Pesan dari Dimitri.
Sejak mereka tinggal bersama memang dia tak pernah mengerjakan apapun. Tidak pekerjaan rumah, atau membuat makanan. Akan selalu ada seseorang yang datang dengan membawa makanan, dan dua hari yang lalu malah ada yang bekerja membereskan unit apartemen mereka.
Lagipula, Rania memang tidak terbiasa melakukannya. Karena pekerjaan apapun dirumahnya di kerjakan oleh Maharani. Setidaknya itu yang dia ketahui selama ini.
Ah, ... tiba-tiba saja dia merasa rindu keluarganya. Adik-adiknya yang selalu menimbulkan keributan di pagi hari, omelan ibunya setiap kali dia turun dari kamarnya, yang tak pernah mengerjakan apapun dan langsung makan, kemudian pergi. Namun selalu mendapat pembelaan dari ayahnya.
Dia merasa seperti anak kecil yang terpisah dari keluarganya.
***
"Kamu dari mana?" Maharani menyambut kedatangan putrinya diambang pintu. Yang baru saja tiba dengan mengendarai motor hitam milik Dimitri.
"Nggak dari mana-mana." Rania mematikan mesin lalu turun. Melepaskan helm, kemudian menghampiri sang ibu.
"Sendirian?"
"Iyalah, Kalau bonceng orang pasti ada." jawab Rania.
"Dimitri?"
"Udah mulai kerja lagi."
"Duh? Baru tiga hari nikah udah kerja aja?"
"Iya, Gitulah."
"Udah makan?" mereka masuk kedalam rumah.
Rania tersenyum.
"Ditanya malah senyum-senyum? udah makan belum?"
"Belum, makanya aku dateng kesini."
"Astaga! Dimitri nggak ngasih kamu makan?"
"Bukan gitu."
"Terus?"
"Akunya bangun kesiangan."
"Apa?"
"Hehe, malah nggak tahu kalau hari ini dia mulai kerja lagi. Aku barusan bangun dia udah nggak ada."
"Barusan bangun?" Maharani melirik jam dinding yang sudah menunjukan hampir jam sebelas siang.
"Iya, aku kesiangan."
"Jam seginimah bukan kesiangan, oneng! tapi kebablasan."
Rania hanya tertawa.
"Mama lagi masak? wangi bener?" dia mencium wangi masakan dari arah dapur.
"Buka mama, tapi Ega." jawab sang ibu.
"Hah?" mereka berjalan ke dapur, dan benar saja, adik laki-lakinya itu tengah sibuk di depan kompor menyala dengan alat masak dan bahan yang akan dia olah.
"Ega masak?" Rania mendekatinya.
"Yaelah, tahu aja orang lagi bikin makanan?" jawab sang adik sekenanya.
"Yang sopan! gini-gini kakak kamu loh." ucap Rania.
"Habisnya, tahu aja. Pasti mau numpang makan?" cibir Rega.
"Ya nggak tahu, tapi bagian terakhirnya itu kamu bener." gadis itu tertawa.
"Dih, ... emangnya kak Dimi nggak ngasih kakak makan apa, sampai-sampai mau numpang makan disini segala?"
"Sembarangan?"
"Ya soalnya, baru berapa hari pergi udah balik lagi kesini?"
"Yeee ... emangnya nggak boleh?"
"Nggak boleh dong, apalagi sendirian. Bisa timbul fitnah."
"Apaan?"
"Kak Dimi tahu nggak kalau kakak datang kesini?"
"Nggak."
"Apalagi itu."
"Maksudnya?"
"Kakak nggak ngerti ya, kalau perempuan udah nikah itu apa-apa harus sepengetahuan suami?"
"Tahu."
"Terus kenapa, kak Dimi nggak kakak kasih tahu?"
"Lah, cuma kesini doang?"
"Tetep aja kak." Rega memulai kegiatan masaknya.
"Sejak kapan dia jadi suka ceramah?" Rania duduk di kursi makan seperti halnya Maharani.
"Sejak sekarang." jawab ibunya, santai.
"Terus sejak kapan juga dia masak? hari ini nggak sekolah?"
"Dih?"
Maharani tertawa. "Memangnya kamu pikir selama ini yang kita makan itu siapa yang masak?"
"Siapa?"
"Ya akulah, ..." sela Rega.
"Masa?"
"Dia nggak percaya?" gumam sang adik.
"Mana percaya, kegiatan kamu sesibuk itu? sekolah pagi, latihan sepak bola, belum lagi banyak tugas? mana ada waktu untuk belajar masak? riweuh kamu! ( repot kamu!)
"Ya nggak lah, asal bisa Ngatur waktunya. Makanya kalau bangun tuh pagi-pagi, biar tahu apa aja yang di kerjain orang-orang."
"Pedes bener ngomongnya? kayak sambel goang level 30!"
"Ya emang kakak harus di pedesin biar ngerti."
"Dih?"
"Sudah, kalian berdebat terus. Kalau Ega udah selesai, kita makan sama-sama.
***
"Beneran, masakan Ega enak banget." mereka makan bersama.
"Pastinya," sang adik dengan bangga.
"Nggak nyangka deh kamu bisa masak."
"Nggak akan lah, mana mau kakak merhatiin hal kayak gini?"
Rania mencebik.
"Si kembar kemana? kok nggak kelihatan?"
"Mereka ada kegiatan di sanggar."
"Sanggar? mama masukin sanggar?"
"Iya, biar hobbynya terarah."
"Bagus sih, mereka pinter. Nggak kayak aku, duh." gadis itu lalu tertawa.
"Setiap orang punya kemampuan yang berbeda. Buka soal bodoh atau pinter, tapi ini soal kemauan yang keras. Kayak kamu yang ngeyel sama balapan."
"Hmm...
"Sekarang gimana?" Maharani kemudian bertanya.
"Apanya?"
"Kamu."
"Maksud mama?"
"Kamu sama Dimitri?"
Rania mengerutka dahi.
"Kalian udah ada kemajuan apa aja? udah berantem?" perempuan itu tertawa.
"Berantem apaan? nggak ada masalah, apa yang mau dibikin berantem. Lagian, nikah baru tiga hari masa udah berantem?"
"Ya siapa tahu? namanya juga rumah tangga, kadang berantem, kadang akur, kadang akurnya di kasur."
"Udahan ah, ... makannya." Rega segera menyelesaikan kegiatan makannya, ketika merasa pembicaraan ini sedikit membuatnya merasa canggung. Kemudian dia segera naik ke kamarnya.
"Aku emang selalu akur kalau di kasur." Rania dengan polosnya.
"Itu bagus. Apa kamu bisa melakukannya?" Maharani menahan senyum. Konyol sekali mereka membicarakan hal seperti ini. Yang merupakan pertama kalinya mereka berbincang serius, karena anak sulungnya ini biasanya hanya akan banyak berbicara dengan Angga.
"Melakukan apa?"
"Itu."
"Itu apa?"
"Ck! masa nggak ngerti, kan udah nikah."
Rania terdiam, dia mencerna kalimat yang keluar dari mulut ibunya.
"Pasti sudah bisa." Maharani terawa sambil menutup mulutnya.
Sedangkan Rania masih terdiam.
"Masa belum? jangan bilang kalian belum melakukanya?" ucap Maharani lagi. Merasa konyol sendiri akhirnya.
"Yang itu ya? hubungan suami istri?"
"Sssttt!" sang ibu menutup mulutnya. "Nggak usah di jelasin juga, takutnya Ega denger."
"Iya, maksud mama yang itu?" ulang Rania, seraya menjauhkan tanga sang ibu dari mulutnya.
Maharani mengangguk.
"Hehe, ..." gadis itu malah tertawa.
"Kok ketawa?"
"Mama pasti bakalan ketawa kalau tahu ceritanya?"
"Cerita apa?"
"Malam pengantin aku." Rania berbisik.
"Malam pengantin?" Maharani ikut berbisik.
"Hu'um."
"Memangnya kenapa?"
.
"Itunya nggak jadi."
"Apanya?"
"Itunya."
Maharani kini yang terdiam.
"Akunya keburu datang bulan." gadis itu tertawa dengan kencang. "Selamat-selamat." dia mengurut dada, lalu tertawa lagi.
"Apa?"
"Tapi Jangan bilang-bilang, cukup mama aja yang tahu." katanya, masih terus tertawa, merasa hal ini sangat lucu menurutnya. Dan mengingat ekspresi Dimitri malam itu malah membuatnya tertawa semakin kencang.
Maharani menepuk kepalanya dengan keras, dia tak menyangka putrinya ini akan bersikap sepolos itu.
"Astaga!"
🌹
🌹
Rania mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Tampak Dimitri masih sibuk dengan laptopnya walau malam telah larut. Dia seperti berusaha menyibukkan diri beberapa hari ini. Apalagi setelah kembali bekerja, selalu ada saja pekerjaan yang dia bawa kerumah.
"Ehm, ..." Rania berdeham, lalu membuka pintu ruang ganti lebar-lebar. Kemudian keluar dengan mengenakan pakaian tidur yang menurutnya masih lebih baik dari pada yang lainnya, yang katanya dipilihkan mertuanya sendiri.
Dih, baju tidur apaan? kain transparan yang kekecilan dan kurang bahan begitu? gimana bisa tidur kalau pakai baju kayak gitu? bisa masuk angin. gerutunya, setiap kali memilih pakaian tidurnya.
"Kerjaan kamu masih banyak ya?" dia naik ke tempat tidur, dimana suaminya masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Lumayan." Dimitri memfokuskan pikiran pada pekerjaannya, walau ekor matanya sempat menangkap pemandangan yang cukup menggoda imannya yang lebih kecil dari pada biji kuaci.
Rania yang mengenakan celana pendek dengan tanktop berbahan kain shifon berwarna ungu tua. Belum lagi aroma lembut yang menguar kala istrinya itu mendekatinya untuk melihat apa yang sedang dia kerjakan.
Ah, ... godaan lainnya lagi yang harus dia hadapi hampir lima hari ini.
Lima hari.
Duh, kenapa rasanya lama sekali? pikirannya jadi berkelana.
"Mama kamu tadi ngirim paket lagi." ucap Rania.
"Oh ya? apa?"
"Banyak. Ada kosmetik, sama baju."
"Baju lagi?"
"Hu'um. Padahal udah banyak, lagian jarang aku pakai. Akunya kan nggak kemana-mana."
"Baju apa Memangnya?"
"Baju sehari-hari, kayak yang dikasih waktu pemotretan itu lho. Yang warna warnanya lucu."
"Oh, ... nggak apa-apa, jadi kita nggak usah belanja lagi untuk baju kamu."
"Tapi aku nggak pede pakenya."
"Kenapa?"
"Warnanya cerah-cerah."
"Cobalah sesekali, siapa tahu cocok."
"Iya sih. Terus ada itu juga."
"Apa?"
"Baju yang tipis-tipis itu."
"Hum?" Dimitri menoleh.
"Udah aku bilangin jangan kirim itu lagi, udah kebanyakan. Yang kemarin aja belum kepake, masa udah kirim lagi? tapi mama bilang, nggak apa-apa, mumpung banyak yang bagus."
"Mm...
"Bagus apaan, baju kurang bahan gitu yakan? gimana mau aku pake? bisa masuk angin kali." Rania tertawa membayangkan dirinya sendiri jika semua pakaian mini pemberian mertuanya itu dia kenakan. "Hiih, serem." katanya sambil bergidik.
Dimitri menelan ludahnya dengan susah payah, dia juga membayangkan hal yang sama, tapi dalam versi lain.
"Kamu masih datang bulan?" segera saja dia bertanya.
"Masih." Rania menjawab.
Hhhh, ... pengantin baru yang mengenaskan! batinnya, dan dia berusaha kembali memfokuskan dirinya lagi.
"Kalau masih banyak kerjaannya, aku tidur duluan ya? ngantuk." Rania menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut. Cuaca malam itu memang terasa lebih dingin dari biasanya.
"Hmm... sudah selesai." Dimitri menyimpan file yang sudah dia kerjakan. Lalu membereskan kekacauan sisa pekerjaannya.
Dia kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuh tingginya, disamping Rania yang sudah terlelap. Gadis itu memang bisa tidur dengan cepat, hanya dengan menempelkan kepalanya pada bantal, dia tak memerlukan waktu yang cukup lama untuk tertidur.
Hh ... Zai, kenapa lama sekali? aku sudah tidak tahan! dia mengusap kepala Rania dengan lembut.
Ingin memaksa, tapi tidak bisa. Dan tidak tega juga untuk melakukannya. Sebrengs*k-brengs*knya dia, tapi tidak pernah melakukan pemaksaan kepada perempuan manapun yang pernah dia tiduri. Mereka selalu melakukannya dalam keadaan suka sama suka. Apalagi ini, perempuan yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Apalagi jika mengingat beberapa kejadian yang membuat gadis yang tengah terlelap itu menghajarnya. Bisa babak belur dirinya jika melakukan pemaksaan seperti itu.
Baiklah Zai, sepertinya aku masih harus bersabar ya? Dimitri mencoba untuk memejamkan mata.
Namun lagi-lagi dia dikejutkan oleh pergerakan gadis itu yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Rania bahkan meletakan sebelah kakinya diatas kaki Dimitri, persis seperti malam-malam sebelumnya, yang selalu sukses membuat pria itu tersiksa hampir semalaman..
Benar-benar pengantin baru yang mengenaskan. batinnya lagi, dan dia mati-matian menahan diri.
🌹
🌹
🌹
Bersambung...