All About You

All About You
Permohonan Amara



🌹


🌹


"Kayaknya aku harus minta maaf deh?" Amara meletakan minuman yang di bawanya dari dalam rumah. Sementara Galang meletakan ponselnya setelah menerima panggilan tugas dari Andra.


"Menurut kamu begitu?" ucap pemuda tersebut.


"Iya. Yang kakak bilang waktu itu kayaknya bener." dia duduk tak jauh dari Galang.


"Bukan kayaknya, tapi memang bener."


"Hmm ...


"Kalau kamu emang beneran sadar yang kamu lakukan itu salah, sebaiknya memang minta maaf sekarang."


"Iya, apa lagi kak Ranianya sampai sekarang masih belum mau pulang juga, duh."


"Kamu mau ke sana?" tawar Galang.


"Kakak bisa antar?"


"Bisa."


"Nggak ada kerjaan?"


"Kerjanya nanti malem."


"Kok malem?"


"Ngga tahu, dapat tugasnya dari om Andra kayak gitu. Mereka baru sampai di Dubai kan? baru mau ada pertemuan."


"Kakak jadi kerja di Nikolai Grup?"


"Jadi lah."


"Kirain nggak beneran di ambil?"


"Sayang, kesempatan nggak datang dua kali."


"Kan masih kuliah?"


"Sambil kuliah, dari pada aku kebanyakan nongkrong sama touring yang ngabisin duit? ya mending sambil kerja."


Amara mengerucutkan mulutnya.


"Nggak usah di gitu-gituin mulutnya, tar aku tergoda. Mana ini di rumah kamu lagi?" protes Galang yang kemudian meneguk air minum yang di suguhkan gadis itu untuknya.


"Kalau mau pergi sebaiknya dari sekarang, biar kita bisa pulang pergi dan nggak harus nginep di sana karena kemalaman." pemuda itu memasukan ponselnya pada saku jaketnya.


"Oke, tar aku ijin dulu."


"Perlu aku yang minta ijin?"


"Nggak usah. Aku aja, semalam udah ngobrol masalah ini kok." Amara pun beranjak.


🌹


🌹


"Kayak si Galang?" mereka melihat keluar jendela ketika mendengar suara mesin motor yang memasuki pekarangan dan berhenti di depan teras.


"Lah, beneran tuh anak." ucap Angga saat dia mengenali motor cross hijau dan pemuda itu yang membuka helmnya.


Yaelah, ... kena ceramah dobel-dobel nih gue. batin Rania yang berdiri di dekat jendela.


Angga kemudian keluar dari villa untuk menyambut kedatangan sahabat dari putrinya tersebut.


"Om ke sini juga?" Galang meletakan helm di stang motor kemudian menyisir rambut hitamnya dengan jari-jarinya.


"Hmm ... kamu juga ngapain ke sini?" Angga balik bertanya.


"Cuma ..." Galang menoleh pada gadis di belakangnya yang turun seraya melepaskan helmnya juga.


Angga mengerutkan dahi, kemudian menoleh ke arah Rania yang masih berdiri di dekat jendela dalam villanya.


"Masuk deh, kebetulan Rania belum ada yang ngajakin main layangan." ucap Angga yang berjalan mendahului dua orang tersebut.


"Main layangan?" Galang mengulang kalimatnya.


"Hmm ...


"Hey Ran?" sapa Galang pada sahabatnya ketika mereka tiba di dalam ruangan yang cukup luas tersebut.


Rania hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Iya om." Galang menjawab. "Sekalian ngantar Ara juga."


"Ngantar mau ke mana?"


"Mau ketemu Rania."


Perempuan yang di maksud pun mendongak ke arah mereka.


***


"Aku ... minta maaf." Amara akhirnya buka suara, setelah beberapa saat berbasa-basi dan Galang memastikan keadaannya sudah membaik, akhirnya gadis itu memberanikan diri.


Rania beralih menatapnya.


"Kalau apa yang aku lakukan udah menyinggung kakak. Sumpah, aku nggak bermaksud." katanya.


Dua pria di sisi lain saling pandang.


"Jadi aku mohon, kakak memaafkan aku, juga memaafkan kak Dim. Ini salah faham."


Rania bergeming.


"Kalau kakak mengira di antara kami ada sesuatu, kakak salah. Aku dan kak Dim tumbuh bersama, dan itu membuat aku jadi terbiasa dengan semua yang berhubungan dengannya."


"Aku sama Galang juga tumbuh bersama, dari kecil kemana pun kami sama-sama. Tapi ngak ada tuh kejadian kayak kamu sama Dimitri. Apalagi sampai rahasia-rahasiaan. Galang datang ke rumah pun pas Dimitri lagi ada, dan dia tahu kami ngapain aja." Rania pun akhirnya berbicara.


"Udah aku bilang kan, buka soal ketemunya, atau soal pecakapannya. Atau dengan siapa dia bertemu. Tapi cara dia menutupi hal itu malah bikin aku curiga, dan benar kan di antara kalian pernah ada apa-apa?"


"Tapi udah lama kak, dan kami ...


"Bukan masalah dulu atau sekarang, udah lama atau masih baru. Tapi masalahnya ada hal yang nggak seharusnya kamu lakukan karena keadaan udah beda tapi tetap kamu lakukan. Seolah kamu sengaja mau menunjukkan sesuatu. Kalau jadi aku apa yang akan kamu lakukan?"


Amara menggigit bibirnya keras-keras.


"Udah lah, jangan di bahas lagi. Aku udah anggap masalah ini selesai."


"Tapi kakak masih marah?"


"Aku nggak marah, ...


"Buktinya kakak nggak ikut kak Dim pulang?"


"Emang harus di buktiin dengan cara kayak gitu ya?" Rania membalikkan kata-katanya.


Sedangkan Amara terdiam.


"Aku pikir hak aku untuk ikut pulang atau tetap tinggal, karena rasa nyaman nggak akan ada orang lain yang bisa merasakan. Untuk saat ini aku nyaman di sini, dan kalian ngak usah ribet ngurusin aku."


"Bukan masalah ribetnya, Ran. Hanya saja keadaan kamu yang kayak gini bikin semua orang khawatir." tukas Galang, mencoba menengahi.


"Aku baik-baik aja, nggak lihat apa? kalian aja yang berlebihan. Aku sama Dimitri juga udah baikan, cuma akunya aja yang nggak mau pulang dulu. Dan dia nggak masalah dengan itu. Kalaupun ada masalah ya terserah dia lah, untuk sekarang aku nggak mau ambil pusing."


"Aku nggak marah sama kamu Ara, beneran. Sama mantan teman tidurnya aja aku biasa. Itu hak dia punya masa lalu sama siapa pun. Termasuk sama kamu. Masa lalu milik kalian, apa pun itu bentuknya, tapi ingat, sekarang dia dengan aku. Masa kini dan masa depannya dengan aku. Apa pun yang dia lakukan sekarang hak aku, meskipun kamu sangat mengenalnya dulu, bukan berarti kamu punya hak untuk menunjukkannya di depan aku. Kalau aja waktu itu kamu bisa jaga mulut dan jaga sikap dengan nggak mendikte aku tentang apa yang harus dan nggak harus aku lakukan, atau apa yang dia suka atau nggak, mungkin keadaannya nggak akan kayak gini. Mungkin kita bisa jadi teman baik. Se nggaknya itu yang aku mau."


Amara tak berniat untuk membantah, meskipun hal itu jelas ingin dia lakukan. Namun kata-kata Galang di sepanjang perjalanan mereka cukup menguatkannya untuk menahan diri sekuat hati. Mendengarkan Rania mengoceh dan mengungkapkan apa yang dia rasa. Dan mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Rania itu kalau marah karena satu masalah meledaknya hanya sekali, habis itu udah. Dia hanya perlu mengekspersikan kemarahannya, dan kaburnya dia karena nggak bisa melakukan itu semua. Dia memilih menghindar, dan itu bahaya. Bisa membuat dia marah berlama-lama. Jadi nggak usah jawab kalau nanti dia ngomel. Karena habis itu dia akan pulih dengan cepat." begitulah ucapan Galang sebelum mereka tiba di depan villa.


"Jadi yang kamu lakukan ini untuk apa sih? untuk bikin semua orang memuji setelah mereka menyudutkan, atau membuat kamu di pandang baik, atau apa? aku nggak ngerti."


"Ran." Galang mencoba untuk meredam emosi yang terlihat mulai menguar.


"Aku hanya merasa perlu melakukannya kak. Aku tahu, mungkin hal ini membuat sebuah hubungan menjadi kacau, dan aku minta maaf soal itu." sela Amara.


Rania menatap wajah gadis itu yang juga tengah menatap ke arahnya.


"Jadi aku mohon kakak untuk pulang, se nggaknya aku tahu dengan begitu kakak udah memaafkan aku, dan membebaskan aku dari rasa bersalah ini." gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan lakukan karena sudah memaafkan kak Dim, tapi pulanglah karena kakak sudah memaafkan aku." katanya lagi, dan dia mulai sesenggukkan.


Kini Rania yang terdiam.


🌹


🌹


🌹


Bersambung ...


kira-kira si oneng terenyuh dengan ucapannya Ara? udah nangis-nangis gitu lho


jan lupa like komen sama hadiahnya biar semangatnya tetep membara, oke genks??