
🌹
🌹
Dimitri mengerjap pelan saat dia tak merasakan keberadaan teman tidur yang hampir satu minggu ini selalu memeluknya dengan erat. Dia kelelahan, dan akhirnya tertidur saat menunggu kepulangan Rania yang katanya akan tiba sangat larut.
Pria itu bangkit dan mencari keberadaannya, namun tak dia temukan. Helmnya bahkan tak ada di tempat penyimpanannya semua, dan itu artinya Rania belum kembali.
Dimitri melirik jam dinding yang berdetak terdengar memekakan telinga. Hampir jam dua pagi, dan istrinya tak ada di tempat seharusnya.
Dia mendengus keras.
Dimitri meraih ponsel diatas nakas dan memeriksa jika saja ada ada pesan yang masuk darinya.
"Dim, aku kayaknya nggak bisa pulang, ternyata satu pertemuan dari pihak sparepart dimundurin sampai besok. Kalau aku pulang tanggung, besok harus balik lagi." pesan dari Rania sekitar empat jam yang lalu.
Pria itu memejamkan mata sambil mengetatkan rahang.
Masalah! gumamnya.
"Begitu selesai besok aku langsung pulang ya?" dia membaca pesan lainnya.
"Aku nginep disini." pesan lainnya diikuti gambar sebuah hotel di sekitaran Sentul.
"Jangan kangen." pesan terakhir diikuti emot berkedip.
"Omong kosong, bukan kangennya yang jadi masalah!" dia menggeram, kemudian meraih kunci mobilnya dan segera melesat ke tempat dimana kendaraan beroda empatnya terparkir.
🌹
🌹
Rania tak dapat memejamkan mata, dia merasakan meninggalkan sesuatu, tapi tak ingat apa. Seperti ada yang hilang dari dirinya, tapi juga entah apa. Yang dia lakukan hanya bolak balik di tempat tidurnya dan berharap rasa kantuk akan segera datang. Hingga akhirnya secara perlahan dia memejamkan mata juga pada hampir subuh.
Namun setelah beberapa saat dia merasakan sebuah tangan merayap memeluknya, lalu tubuh yang hangat merapat kepadanya. Membuatnya membuka mata dengan cepat, dan segera menoleh.
Tampak wajah Dimitri tersuruk di tengkuknya, dan dia hampir memejamkan mata.
"Hei?" pria itu dengan senyum khasnya.
***
Dimitri tiba saat waktu telah hampir pagi, dan udara terasa dingin membekukan. Di depan sebuah hotel tak jauh dari sirkuit Sentul. Keadaan begitu sepi, tak terlihat siapapun berlalu lalang di area hotel tersebut.
Hanya seorang sekuriti dan seorang resepsionis berjaga di depan. Segera saja, dia menanyakan keberadaan Rania, lengkap dengan foto dan keterangan identitas lainnya.
Setelah meyakinkan dengan benar, jika dirinya adalah suami dari perempuan tersebut, akhirnya sekuriti dan pegawai memperbolehkannya untuk masuk.
Dan disanalah dia, yang terlelap dalam tidurnya yang tampak begitu nyenyak. Meringkuk dibawah selimut tebal seperti bayi.
Segera saja dia naik ke tempat tidur yang sama, dan menenggelamkan dirinya di belakang gadis itu.
"Kamu kesini?" Rania dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hmmm, kamu bilang mau pulang, tapi ternyata nggak?"
"Kan udah aku kasih tahu."
"Tapi aku nggak bisa, nggak ada yang memeluk aku waktu tidur, dan itu rasanya aneh." Dimitri terkekeh.
"Hmmmm... " Rania menjengit.
"Dan aku rindu ini." Dimitri menarik wajah Rania, dan segera meraup bibir menggodanya, kemudian menyesapnya seperti yang selalu dilakukannya. Memagutnya seprti mereka baru pertama kali melakukannya, dan merasai belahan lembut itu sepenuh hati.
Lidahnya menerobos kedalam mulut Rania, merasai setiap incinya sehingga tak ada yang dia lewati sedikitpun. Dadanya sudah meletup-letup, seiring napasnya yang mulai menderu. Hasrat yang kuat segera menguasai seluruh indera di tubuhnya. Naga ajaibnya bahkan sudah menegang sejak pertama kali mereka berdekatan.
"Emmmph... " Rania mengerang saat tangan pria itu mulai menjelajah tubuhnya, merayap di punggungnya, mengusap perutnya, lalu meremat buah dadanya.
"Ah, ..." kepalanya terdongak keatas saat ciuman Dimitri turun menelusuri lehernya, mengecupi dan menghirupnya seperti dia merupakan aroma paling memabukan di dunia, dan dia sangat menyukainya.
Sentuhan Dimitri turun ke bawah perutnya, dan menemukan pusat tubuhnya yang tanpa penghalang lain seperti hari-hari sebelumnya. Hanya celana panjang, yang dia sentuh.
Dimitri menatap wajah gadis dibawahnya. Pikirannya menerka-nerka, namun dia tak ingin bertanya. Kemudian dia menyelusupkan tangannnya kedalam area itu, dan benar saja, tak ada hal lain selain celana dal*am yang dikenakan Rania.
"Kamu sudah selesai?" akhirnya Dimitri bertanya.
Rania menganggukan kepala.
Pria itu menahan napas sejenak, lalu sebuah senyum terbit di bibirnya, dan wajahnya berubah sumringah.
"Kapan?" dia setengah berbisik.
"Pa-pagi, ...
"Pagi?"
Rania mengangguk lagi. "Kemarin." katanya.
Dimitri merasakan jantungnya bertalu-talu dan dadanya bergemuruh. Sebuah jalan besar seperti baru saja dibuka lebar baginya sekarang. Napasnya bahkan mulai berpacu cepat.
"Apa boleh aku melakukannya sekarang?" Dia menyurukan wajahnya di ceruk leher Rania.
"Please, aku ingin melakukannya sekarang." katanya, lalu dia mengangkat kepalanya lagi.
Rania terdiam.
"Bolehkah?" ucap Dimitri lagi.
Gadis itu mengangguk pelan.
Senyuman kembali muncul di bibir Dimitri, lalu tanpa menunggu lama dia menarik lepas celanya yang membungkus erat bagian bawah tubuh Rania hingga hanya menyisakan segitiga mini berwarna putih.
Lalu hal yang sama dia lakukan pada kaus ketatnya, dan terpampanglah dua gundukan indah itu dibalik bra dengan warna senada.
Dimitri menelan ludahnya dengan keras, dan jakunnya terlihat naik turun dengan cepat.
Ini sangat menegangkan, seperti dia baru pertama kali melakukannya. Padahal entah sudah berapa puluh gadis yang dia tiduri sejak remaja, tanpa ikatan, tanpa status, dan tanpa kelanjutan. Namun tak ada satupun dari mereka yang membuatnya merasa seperti ini.
Dia kemudian menarik dua kain yang tersisa, yang menutupi pusat tubuh Rania, dan gadis itu membiarkan dia melepaskannya tanpa perlawanan. Dan terpampanglah semua yang ada pada dirinya, yang sebentar lagi akan menjadi miliknya seutuhnya.
Dada yang ranum, tubuh yang segar, dan titik itu, ... yang selalu ada dalam khayalannya setiap malam sejak mereka menikah.
Namun Rania segera merapatkan paha, dan menyilangkan kedua tanga di dada. Dia merasa malu ditatap seperti itu oleh suaminya. Ini pertama kali dirinya tampil di depan pria itu tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh polosnya.
"Tidak usah." Dimitri menahan kedua pahanya, lalu kembali melebarkannya, sehingga titik itu kembali terlihat oleh pandangannya.
"Aku malu." rengek Rania.
"Nggak usah malu, kita kan sudah menikah?" ucap Dimitri, yang kemudian menanggalkan semua pakaiannya hingga ke yang paling kecil sekalipun.
Rania menahan napas saat pemandangan itu terpampang nyata. Tubuh Dimitri tidak sekekar model di majalah ataupun artis di televisi, namun dalam porsi yang pas dengan tingginya. Tapi dia memiliki daya tarik luar biasa yang membuatnya merasakan sesuatu.
Apalagi saat pandangannya menemukan alat tempurnya yang sudah sangat menegang, Rania menahan napasnya lebih keras lagi.
"Wanna touch it?" katanya, dan dia menyeringai. Lalu meraih tangan Rania dan menuntunnya untuk meyentuh naga ajaibnya yang sudah tegak berdiri.
"Mm... " gadis itu menahan tangannya, berusaha untuk membuatnya tak sampai menyentuh benda itu.
"Its oke, nggak akan menggigit." dia masih sempat berkelakar dalam suasana setegang itu.
"Hah?"
"Nggak mau... " Rania menyentakan tangannya hingga terlepas, dan Dimitri malah tertawa.
"Im ready, but Are you ready?" Dimitri Kemudian menurunkan tangannya sendiri untuk kembali menyentuh pusat tubuh gadis itu, yang sebentar lagi akan dia rebut kegadisannya.
"Mmm ..." Rania menggumam saat sentuhannya tiba, dan dia merasakan sesuatu bangkit dari dalam dirinya saat jemari pria itu menyeruak kedalam pusat tubuhnya. Lalu bermain-main sebentar disana.
"Oh, ..." tanpa sadar dia mendes*ah dengan mata terpejam erat dan kepala mendongak ke belakang. Saraf-saraf di tubuhnya bergelenyar dengan hebat.
Dimitri kembali menyeringai, dia merasa telah menguasai segala yang ada pada gadis itu.
Dia kemudian menarik kembali jemarinya dari area itu, dan Rania membelalakan matanya dengan napas yang tersengal-sengal, frustasi.
"Nah, mungkin ini akan sedikit sakit." ucap Dimitri seraya mengarahkan alat tempurnya pada milik Rania.
Dia hampir saja mendorong benda tersebut agar masuk. Tapi berhenti karena teringat sesuatu. .
"Kenapa?"
"Aku lupa nggak bawa pengaman." katanya.
"Pengaman?" Rania mengerutkan dahi.
"Eh, lupa. Kamu kan istri aku, kenapa harus pakai pengaman?" dia tergelak.
Lalu Dimitri kembali pada niat awalnya, namun gadis itu tiba-tiba menahan perutnya.
"Now What??" Dimitri mulai frustasi.
"Kayaknya itu kamu kegedean, apa akan muat disini?" Rania dengan wajahnya yang memucat. Merasa ngeri dengan ukuran benda itu. Tidak salah memang jika Dimitri menamainya naga ajaib.
Pria itu lagi-lagi tertawa, namun dengan nada frustasi karena hasratnya sudah hampir meledak.
"Kamu akan bisa menerimanya, Zai." katanya.
"Masa?"
"Iya."
"Kalau nggak gimana?"
"Pasti bisa."
"Mm...
"Oke? let me in." ucap Dimitri lagi, memohon.
Kemudian dia kembali mendorong benda tersebut hingga hampir masuk, namun lagi-lagi Rania menghentikannya.
"Apa lagi??" Dimitri menggeram, dan dia semakin frustasi.
"Bakalan sakit nggak? tadi kamu bilang mungkin sedikit sakit, tapi dengan ukurannya yang sebesar itu bisa saja...
Dimitri sudah tidak sabar lagi, tanpa aba-aba dia segera mendorong naga ajaibnya ke pusat tubuh Rania. Sedikit sulit saat dia merasa seperti menabrak sesuatu ketika benda itu sudah masuk setengahnya. Namun dia terus mendorongnya tanpa ampun. Dan...
"Ah!!!" pekik gadis itu saat merasa sesuatu di dalam tubuhnya seperti terkoyak diikuti rasa sakit dan perih yang kemudian hadir setelahnya. Dia kembali menahan napas dengan mulut yang terbuka.
"Sorry Zai." Dimitri sedikit terkekeh, kemudian menundukan tubuh untuk menempelkan kening mereka berdua saat alat tempurnya sudah masuk seluruhnya.
"Breath!" bisiknya, lalu dia mengecupi wajah gadis itu.
Napas Rania tersengal-sengal, dan dadanya naik turun dengan cepat.
"Relax Zai." katanya lagi, namun dia masih menyesuaikan diri. Memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membiasakan diri. Walau rasa tak sabar segera menguasainya saat naga ajaibnya berhasil menembus pertahanan Rania yang belum terjamah siapapun.
Rasa bahagia dan haru memenuhi hatinya, kini dia telah memiliki Ranianya sentuhnya.
"Mine, you are mine!" bisiknya lagi, dan dia mulai menggerakan pinggulnya perlahan.
"Ah!! sakit!" Rania merintih, rasa sakit dan perih segera menjalar di pangkal pahanya saat pria diatasnya bergerak menarik dan mendorong alat tempurnya di bawah sana.
"It's oke, hanya sebentar." Dimitri mengecupi keningnya dengan penuh perasaan.
"Ngga mau, sakit!" pekik perempuan itu, dan dia menjejakan sebelah kakinya ke paha Dimitri, berusaha agar pria itu melepaskan diri.
"No! diamlah. Rasanya akan semakin sakit kalau kamu begitu." Dimitri menahan kakinya. "Just relax, Dan biarkan aku melaukannya dengan benar." katanya, dengan perasaan cemas yang teramat besar.
"Tapi sakit!" rengek Rania lagi.
"I know, I'm sorry. Tapi hanya sebentar. Tenanglah, aku nggak bohong." katanya, saat Rania menatap wajahnya lekat-lekat.
Kemudian Dimitri kembali menunduk, kini dia meraih bibirnya yang merekah dan nenyesapnya lagi. Lalu ciumannya turun ke rahang, mengecup telinga, kemudian menelusuri leher jenjangnya.
Dia tan berhenti saat kembali menemukan buah dadanya yang menantang. Puncaknya sudah sangat mengeras tanda tubuh Rania merespon setiap sentuhannya dengan sangat baik.
Gadis itu mulai mendes*h lagi. Hisapan Dimitri pada puncak dadanya membuatnya hilang akal. Merubah banyak perasaan di dalam dirinya yang semula menguasainya.
Dan Rasa sakit itu perlahan menghilang seiring sentuhan yang semakin membuatnya melayang-layang. Dia bahkan mulai terbiasa dengan hentakan dibawah sana.
Hentakan yang awalnya pelan, namun lama-kelamaan temponya bertambah cepat.
"Dim?" erang Rania, denga kedua tangan meremat pundak kokoh pria itu.
"Yes baby?" jawab Dimitri di sela hentakannya. Dia hampir tak mampu mengendalikan diri saat naga ajaibnya beraksi di dalam ruang yang sangat sempit nan menggigit, yang hanya dirinya saja yang memilikinya.
"Masih sakit?" katanya setelah beberapa lama diikuti dengan seringaian khasnya.
"Mmmhh ..." Rania mengerang. "Aku... mau pipis." katanya, dan dia mendorong dada pria itu.
"Pipis lah." Dimitri tersenyum, mungkin maksud Rania bukan begitu, melainkan hal yang lebih dari itu.
"Tapi, ... ah... aku nggak tahan." ucap gadis itu lagi saat sesuatu berkumpul di bawah perutnya.
"It's oke, lepaskan saja." Dimitri memacu tubuhnya lebih cepat. Dia memahami apa yang Rania rasakan.
"Tapi Dim...
"Lepaskan saja sekaranga Zai, lepaskan. Biarkan semuanya terlepas." suara pria itu terdengar mengeram, dan dia semakin cepat menghentak.
Rania mendesis, lalu tubuhnya melengking saat bagian terdalam tubuhnya terasa diobrak-abrik begitu hebat, dan semakin membuatnya kehilangan akal. Dia bahkan hampir menjerit saat sesuatu meledak di dalam dirinya, dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuh diatasnya dengan posesif.
Rania mendapatkan pelepasan pertamanya.
Sementara Dimitri terus memacu tubuhnya semakin cepat. Denyutan hebat di bawah saat Rania tiba pada klim*ksnya membuatnya benar-benar kehilangan kendali.
"Ya, Zai... baby... " pria itu meracau saat segala hal telah tiba di ujung. Hentakannya semakin tak terkendali, dan di detik berikutnya dia membenamkan alat tempurnya begitu keras bersamaan dengan menyamburnya sari pati dari dalam tubuhnya hingga memenuhi rahim gadis itu.
🌹
🌹
🌹
Bersambung ...
vote?
hadiah?
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤